
Luna dan Agus mulai memasuki sebuah taman besar yang merupakan halaman depan sebuah rumah. Terlihat taman yang sejuk dan asri, jajaran pohon besar berbaris menyambut kedatangan Agus dan Luna.
Mata Luna terbelalak memandang semua apa yang ada di hadapannya. Luna tidak percaya jika rumah sebesar ini yang Agus berikan kepadanya selama masa kontrak.
Luna menelan ludah perlahan tanpa mata yang berkedip. Mobil Agus melaju perlahan hingga berhenti di bagian belakang rumah yang merupakan sebuah garasi. Rumah tampak sepi tanpa ada pembantu yang menyambut atau menyapa.
Mereka turun dari mobil dan Agus dengan sigap membantu menurunkan barang barang Luna juga termasuk Katty. Luna berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
Wah, aku hanya minta rumah yang biasa saja tetapi dia memberikanku istana. Stop! Bangunlah Luna, semua ini hanya sementara. Sisi baik yang mengingatkan pemilik raga.
"Cepatlah!" Agus mengeluhkan langkah Luna yang teramat lamban.
" Iya, iya." Luna berlari kecil menyusul Agus.
"Itu kamarmu!" Agus menunjuk ke salah satu kamar dengan wajah datarnya.
" Iya baiklah. Terimakasih." Kata Luna dengan tulus.
Luna kemudian berjalan memasuki kamar. Mulutnya menganga dan matanya membelalak lebar, rahangnya seperti akan jatuh karena terlalu lama menganga. Ini sangat berbeda jauh dari apartemen sederhananya. Ukuran kamar yang begitu luas dan juga lengkap dengan shower, walk in closet, closet dan semua furnitur yang bertema pedesaan dengan perpaduan warna coklat tanah dan putih membuat Luna benar benar mengagumi kamar barunya.
"Astaga, ini lebih mirip kamar di vila yang sering aku kunjungi dulu dengan Bunda." Luna mengingat kenangan masa kecilnya bersama sang bunda.
" Agus Dermawan, terimakasih!" Luna masih mengagumi isi kamar dan segala perlengkapannya.
Beberapa menit berlalu, Luna yang masih menikmati tambang emasnya itu terkejut karena tiba tiba Agus masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Luna sedang berada di atas ranjang mengepakkan lengannya seperti burung yang sedang terbang.
" Kamu sedang apa? Ayo kita makan, aku sudah masak mi instan." Agus mengajak Luna.
" Mi? pantas saja baunya enak sekali." Luna mengendus aroma sedap mi instan buatan Agus.
Luna kesusahan untuk beranjak bangun karena bengkak di kakinya yang belum mengempis dengan baik. Luna hanya berusaha menahan sakit dari efek bengkak di kakinya.
" Sini." Agus memapah Luna berjalan menuju ke ruang makan.
__ADS_1
Dalam beberapa menit, Luna menikmati ketampanan Agus yang berkarisma. Tepat dari Bagain sebelah kanan, wajah Agus terlihat maskulin.
Ya Allah, terimakasih sudah menurunkan malaikat penjaga untukku. Batin Luna berdoa dan bersyukur.
****
"Sa! Rosa!" Seru levan memanggil Rosa.
Rosa berbalik badan dan pergi begitu saja dari levan. Levan sadar betul jika Rosa sedang menghindarinya. Bahkan untuk melihat wajah Agus pun Rosa tidak mau. Agus tak tau apa penyebab seperti itu..
" Rosa!" Levan menahan tangan Rosa dan memutar balik badan Rosa setelah berhasil menggenggamnya.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini selalu menghindari aku?" Levan merasa Rosa semakin jauh.
" Tidak apa apa, itu bagus untuk kita. Untuk kamu." Rosa berkata dengan datar dan berjalan lagi.
" Sa," Levan merasakan ada bagian yang hilang dari dirinya ketika Rosa mulai menjauh.
Levan terdiam mematung menatap kepergian Rosa yang semakin lama semakin jauh di telan oleh jarak pandang yang memudar. Raut wajah Rosa tidak seceria dulu. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Huh, huh, huh!" Rosa terengah engah Bagun dari tidurnya.
" Levan, kenapa kamu? kenapa harus kamu? aku harap ini semua hanya bunga tidurku." Rosa menangis sedih sendirian.
Rupanya Isak tangisnya terdengar oleh sang Ayah yang masih menyaksikan pertandingan sepak bola. Ayah kemudian mengetuk pintu kamar Rosa memastikan jika putrinya baik baik saja.
" Sa!"
" Kamu bangun?" Seru Ayah Rosa dari depan pintu kamar.
Rosa menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh ayahnya. Tidak mau kekhawatiran terjadi kepada sang Ayah, Rosa kemudian menangis dalam bekapan bantal dan selimut tebal yang meredam suara tangisnya. Tidak mendengar jawaban dan merasa semua baik baik saja, Ayah kemudian kembali fokus dengan pertandingan sepak bolanya.
Malam berkahir dengan kesedihan bagi Rosa hingga pagi menjelang. Entah apa yang di mimpikannya, tetapi semalaman dia tak bisa tidur karena mimpi itu. Hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi berangkat ke kampus. Akibat mimpi buruk itu mempengaruhi semangatnya hari ini.
Rosa tidak bergairah untuk melakukan apapun. Hanya berada di atas ranjang tanpa mandi dan makan. Mama Elena dan Ayah Pandu sudah sibuk bekerja, sehingga tidak ada siapapun yang akan menegurnya jika dia tidak berangkat ke kampus.
__ADS_1
" Non Cantik, ini sarapannya Non!" Seru mbak Sri dari depan pintu kamar Rosa.
" Taruh di depan pintu saja mbok. "Jawab Rosa malas.
Hanya mbak Sri satu satunya teman berbagi Rosa jika di rumah. Dulu Mbak Sri adalah baby sitter Rosa, hingga sekarang Rosa sudah remaja masih saja mbak Sri mengabdi di kediaman keluarga Dermawan.
" Non Cantik, kalau ada masalah cerita sama mbak non. Jangan di pendam sendiri." Ucap mbak Sri sopan.
" Masuklah mbak." Seru Rosa dengan suara datar.
Mbak Sri masuk dengan pinggan berisi sarapan untuk Rosa. Mbak Sri terkejut sekali melihat Rosa yang berantakan. Lingkaran hitam di wajah gadis cantik itu sangat tegas. Rambutnya kusut tidak tertata.
"Nona kenapa?" Tanya Mbak Sri penuh perhatian.
" Aku.." Rosa tercekat.
" Katakanlah Non, untuk membuatmu lebih lega." kata Mbak Sri.
" Mbak, aku selalu memimpikan menemani seseorang yang cacat." Kata Rosa dengan kesedihannya.
" Non, tidak semua mimpi itu berarti sama dengan maksud mimpi itu sendiri." Kata Mbak Sri memberikan penjelasan.
" Tapi, mimpi ini terasa sangat nyata bagi aku mbak." Rosa dengan wajah ekspresif menjelaskan apa yang di rasakannya.
" Tenanglah non, semua akan baik-baik saja." Mbak Sri menenangkan Rosa.
Rosa terdiam dan memikirkan ucapan mbak Sri. Wanita di hadapannya inilah yang selalu berada di pihak Rosa dalam keadaan benar atau salah. Bagi mbak Sri Rosa adalah putrinya. Mbak Sri bercerai dengan suaminya lantaran tidak bisa memberikan keturunan dan betapa bahagianya dia ketika Mama Elena menunjuknya sebagai pengasuh Rosa walaupun di saat itu usia mbak Sri masih sangat muda. Kedekatan mereka sangat dekat seperti ibu dan anak walaupun selisih usia mereka hanya 22 tahun.
"Mbak, jangan bilang kalau aku menangis ya. Apalagi Ayah, jangan sampai dia tahu. Aku takut mbok, aku takut akan di larikan keluar negri jika Ayah tau perihal mimpiku ini." Kata Rosa yang memohon dengan Isak tangis yang belum berhenti.
" Iya non Cantik, mbak Sri janji. Sekarang makan ya." Mbak Sri membujuk Rosa.
Rosa menggeleng dan semakin deras menitikan air matanya.
Ada apa sebenarnya dengan Rosa? Mengapa hanya sebuah mimpi bisa membuatnya sedih sampai tidak bisa untuk beristirahat memejamkan mata?
__ADS_1
~ Bersambung ~