Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Jelas sosok pangeran


__ADS_3

Hai para pembaca cerita receh ini!!


Hallo semuanya,


Semoga kalian semua baik baik saja dan sehat selalu. Terimakasih saya ucapkan karena sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


tolong tinggalkan jejak ya berupa like,,👍👍


komentar,💬💬💬


dan vote ya 🤗🤗


Maaf author bawel dan banyak maunya. Hihihi 🤭🤭🤭


Laut biru,di bajak Jack Sparrow


I love you, and see you tomorrow


Sunyi dan hening suasana saat ini, dimana Agus mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Usaha Luna untuk membujuknya makan rupanya tak membuahkan hasil. Makana yang telah di masak Luna masih utuh dan tertata rapi di tempatnya.


Luna yang merasa tidak enak hati juga sebenarnya kehilangan nafsu makan karena baru saja menyaksikan kecelakaan dengan banyak darah di depan matanya. Mengingat hal itu membuat Luna mual, bahkan untuk sekedar menelan air pun Luna merasa mual.


Tetapi Luna menahannya dan menunjukkan kalau dia tidak merasa mual di hadapan Agus. Luna memiliki phobia tersendiri terhadap darah, dia akan langsung lemas, berkeringat dingin, dan merasakan mual dan yang paling parah dia bisa pingsan seketika melihat darah.


Di depan Agus, Luna berusaha baik baik saja demi menjaga perasaan Agus yang mungkin akan tersinggung mengingat yang menjadi korban dan berdarah-darah adalah adik kandung Agus.


Rasa mual masih menguasai dirinya, Luna benar benar merasa tidak nyaman. Dia berusaha mencari hal lain untuk mengalihkan ingatannya dari kejadian yang terlanjur di rekamnya di dalam kepala.


Luna pergi keluar membeli satu pack permen rasa asam Jawa untuk menghilangkan rasa mual yang amat sangat. Setelah kembali dari toko yang berada di sekitar rumah yang di tempatinya, Luna berhenti sebentar di halaman rumah dan menengok ke jendela kamar yang di tempati Agus.Tidqk terlihat ada tanda kehidupan di sana. Gordeyn kamar Agus tertutup rapat, corak warna hitam pekat menambah tidak mampu cahaya matahari untuk menembusnya.


Luna menghela nafas lagi dan kemudian menuju ke taman belakang rumah tepat di bawah pohon tabebuya kuning. Luna menggelar sebuah karpet kecil dan membawa bantal, suasana cukup teduh dan sejuk dengan matahari yang tertutup awan juga semilir angin yang berhembus.


Luna mulai berbaring seorang diri, di sesapnya permen tamarin yang baru saja di belinya. Luna memandangi bunga bunga yang berwarna kuning tepat berada di atas kepalanya. Perlahan angin berhembus membelai Luna, memberi kesejukan dan ketenangan membuat Luna terlelap dan jatuh kedalam mimpi.


Di dalam mimpinya,


Awan biru dengan pantai yang memiliki indah pasir halus berwarna putih susu. Sangat putih pasir pantai itu hingga menyilaukan mata. Luna menapaki pasir dengan kaki telanjang, pasir itu terasa lembut dan dingin, membuatnya merasa nyaman.


Tetapi seketika keadaan berubah, langit gelap dan awan mulai menggulung - gulung laksana ombak di laut. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa mampu di jelaskan. Hanya seperti mata yang berkedip, suasana seketika berubah.


Seperti akan terjadi badai besar, Luna kebingungan dan hilang arah. Bahkan sekarang dia sudah berpindah tidak berada di pantai lagi,melainkan di sebuah ruang yang gelap lagi pengap. Tetapi Luna tidak sendiri, terdengar rintih suara lelaki menangis.

__ADS_1


Luna sangat mengenal suara itu, tetapi lagi lagi wajah dari pemilik suara tidak terlihat karena gelapnya ruangan. Luna hanya mengikuti sumber suara, remang remang tiba tiba seperti ada cahaya lilin yang menerangi keduanya.


Wajah sedih itu, sangat mirip dengan Agus tetapi bukan Agus. Sosok laki laki itu jauh lebih muda dibandingkan dengan Agus. Seperti remaja yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama. Luna semakin mendekat dan mencoba menenangkan anak laki-laki itu meski tanpa suara. Hanya dengan tatapan mata keduanya berkomunikasi.


Seolah saling menguatkan dan menenangkan keduanya saling berpegangan tangan dan duduk di sudut ruangan. Suasana kembali berganti saat tiba tiba tetesan air jatuh mengenai wajah Luna. Gemuruh petir saling bersahutan dan membuat Luna terkejut dan meloncat dari tidurnya.


" Luna!" Teriak Agus dengan kencangnya dan kemudian berlari menghampiri Luna dan menarik Luna tanpa ampun.


" Kamu sudah gila, Huh? Mau mati kamu?Mau tambah aku menjadi semakin terpuruk lagi?" Agus terus mengoceh sedang Luna hanya berdiri terdiam melihat dimana tempatnya tertidur tadi masih berasap dan menyisakan bekas tanah yang hangus terbakar.


" Hey, Hey! Bodoh! Kalau mau mati jangan di rumahku!" Agus masih saja meluapkan emosinya. Pasalnya baru saja Luna nyaris tersambar petir tepat di depan mata Agus.


Tangan Agus gemetar dengan badan yang basah kuyup Agus terlihat takut, cemas, dan juga khawatir, semuanya tercampur menjadi satu. Bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar, terlintas wajah anak laki-laki di dalam mimpi Luna berubah menjadi Agus dan itu nampak jelas dan nyata. Hal itulah yang membuat Luna tidak bisa mencerna semuanya seketika dengan waktu yang bersamaan dan kini dia hanya bisa diam tak bergeming.


Agus masih saja dan terus saja mengomel tanpa henti. Luna tiba-tiba menangis terisak dan merangkul Agus dengan mengaitkan lengannya di leher Agus.


" Kamu kenapa?Kamu kenapa?" Agus menjadi panik di dalam pikiran Agus mungkin Luna terguncang karena nyaris saja nyawanya melayang terkena Sambaran petir.


" Sudahlah tenanglah, tenang ya. Kamu aman sekarang." Agus membelai dan memeluk Luna untuk menenangkannya.


Lama aku mencari, ternyata itu kamu. Laki laki itu kamu. Terimakasih Tuhan, kau mempertemukan aku meski KAU hampir saja mencambuk ku dengan petir-MU. Batin Luna senang sekaligus takut, tubuhnya bergetar dan menggigil kedinginan.


Agus yang merasa dirinya ikut basah merasa tidak nyaman dan kemudian melepaskan pelukan Luna. Tidak sadar jika saat ini Luna mengenakan kemeja putih dengan bra berwarna merah. Semuanya terlihat jelas di mata Agus hingga Agus yang malu dengan sendirinya membalikkan badannya.


Melihat Luna yang seperti itu, rambut basah, baju putih menerawang tembus kedalam sampai menjiplak bentuk payudaranya, membuat Agus merasakan desiran hebat di dalam dirinya. Agus memukul mukul kepalanya merutuki dirinya sendiri. Kenapa baginya mudah sekali terpancing gairah dengan Luna?


" Dia kenapa? Atau aku ada salah?" Luna bergumam dan meninggalkan teras belakang rumah kembali masuk ke dalam kamarnya.


" Kenapa ya?" Luna terus bertanya kepada dirinya sendiri akan sikap Agus yang tiba-tiba berubah drastis dan menghindarinya.


Luna berhenti di depan cermin dan melihat gambar dirinya.


" Astaga! A.... Betapa malunya aku. Mau di taruh mana mukaku?" Luna memukul-mukul kepalanya perlahan, tanda jika dirinya sangat malu dengan hal yang baru saja terjadi.


" Aku memeluknya, dan dia melihat ini? Astaga, sudah habislah aku. Aku tidak punya muka lagi untuk menemuinya. Aku harus bagaimana?" Luna merutuki dirinya sendiri.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


" Na?" Agus memanggil Luna.


Agus hanya kembali ingin memastikan jika Luna baik baik saja. Hujan teramat deras dan petir terus saja saling bersahutan seperti cemeti yang mencambuk sesuatu.


" Iya, ada apa?" Tanya Luna lirih dengan perasaan malu yang luar biasa.


" Kamu sudah ganti baju?" Tanya Agus dari balik pintu.


" Sudah." Jawab Luna yang hanya berdiri dan memegang handle pintu.


Tiba tiba lampu rumah mati dan hujan berlangsung lumayan lama sedari tadi sore hingga kini magrib sudah lewat masih saja hujan walaupun dengan intensitas yang berbeda dan berulang ulang.


" A......!" Teriak Luna kencang.


Luna menjerit saat lampu mati, membuat Agus kelabakan dan dengan seketika membuka pintu kamar Luna dengan mudahnya. Agus menggapai Luna dan menggenggam tangannya. Agus membawa Luna untuk duduk di sofa.


" Are you Okay?" Tanya Agus spontan.


" Oh, Okay." Jawab Luna dengan ketakutan tanpa sadar tangan Luna meremas remas tangan Agus.


Agus yang menyadari hal itu tahu jika Luna melakukannya karena takut akan gelap. Kilatan petir kembali menyambar dan kali ini memberikan kilasan visual wajah Agus yang sangat sama dengan yang ada di mimpinya.


" Aku yakin itu kamu." Kata Luna lirih tetapi jelas di telinga Agus.


" Hah, siapa? siapa? apa ada hal lain disini? Ada apa, jangan menakutiku." Agus ketakutan karena dia mengira jika Luna sedang melihat makhluk lain yang ada di sebelahnya.


" Kamu, bukan siapa-siapa. Tapi kamu." Luna melihat Agus dengan tajam dan seksama tanpa berkedip dan justru semakin membuat Agus ketakutan dan mengira jika Luna sedang kerasukan.


Ini orang jangan jangan kerasukan demit lagi. Gue harus gimana? Mana gue ga bisa ngobatin yang beginian lagi. Batin Agus dengan wajah yang cemas dan ketakutan.


Luna hendak memeluk Agus karena bahagia telah menemukan seseorang yang lama di carinya, tetapi Agus justru menghadangnya dengan menahan Luna dan menangkalnya dengan meletakkan tangannya di dahi Luna seperti sedang menanyai mahluk halus.


" Siapa kamu?" Agus memberanikan diri meski dengan suara yang bergetar dan gugup.


" Aku Luna?" Jawab luna polos.


" Tidak mungkin, kamu pasti bohong dan ingin menguasai tubuh ini." Kata Agus seperti seorang dukun yang ahli mengusir roh jahat.


Entah bagaimana tapi hal itu malah membuat ide gila muncul di otak Luna.


Apakah yang akan di lakukan luna?

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2