Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Ingin bercerai.


__ADS_3

Levan berdiri di belakang Agus, wajahnya sudah memerah menahan amarah dengan tangan yang mengepal dan giginya gemertak. Bukan hal sulit bagi Levan untuk menghajar Agus di tempat. Tatapi, tentu saja dia mengurungkan niatnya dan menilik kebelakang, status Agus sekarang juga adalah Kakak iparnya.


" Levan?" Gumam Agus dengan wajah terkejut.


" Jelaskan padaku sekarang juga. Perjanjian apa yang telah kalian jalankan?" Desak Levan dengan wajah yang garang.


" Emm..." Luna gelisah dan meremas remas ujung bajunya. Wajahnya puas dan mulutnya serasa Kelu. Ketakutannya menjadi nyata. Walaupun posisi Levan adalah adiknya, tetapi sikap tegas dan protektif Levan amatlah tinggi.


Agus menyambar dan menjelaskan semuanya dengan santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya. Apalagi ketakutan, sangatlah jauh dari raut wajahnya kini.


" Kak, untuk apa Kakak melakukan semua ini?" Desak Levan yang masih ingin mendalami motif Kakaknya melakukan perjanjian.


" Van, sayang. Kakak mohon kamu jangan marah sama Kakak ya." Kata Luna dengan suara terbata-bata dan matanya berkaca-kaca.


Levan tidak menjawab dan Agus hanya diam menyimak apa yang sedang terjadi antara kakak beradik itu.


" Kakak melakukannya karena Kakak sangat ingin menjadikanmu seorang dokter. Kakak menganggap ini adalah peluang baik bagi Kakak untuk mendapatkan uang lebih untuk bisa membiayai sekolahmu lagi di bidang kedokteran." Kata Luna dengan air mata yang bercucuran karena takut akan kesalahannya sendiri.


" Kak! aku tidak pernah meminta hal seperti ini!" Bentak Levan sambil menggebrak meja.


" Hei! jaga sikapmu kepada istriku!" Ucap Agus dengan suara datar tetapi tatapannya sangat mematikan.


" Diamlah, jangan bertengkar!" Seru Luna yang kemudian memilih pergi menuju ke belakang resto dan duduk menyendiri di bawah pohon.


" Kamu memang sekarang kakak iparku. Tapi mengenai urusan ini, kamu adalah orang luar. Ini masalahku dan Kakakku." Kata Levan.


" Benar aku orang luar, tetapi setidaknya kamu juga harus bisa menghargai pengorbanan Kakakmu." Kata Agus tegas.


" Pengorbanan katamu? Tau apa kamu tentang pengorbanan jika kamu sendiri adalah manusia yang tega mengambil keuntungan dari manusia yang terhimpit masalah." Kata levan dengan lantang.


Pengunjung mulai berdatangan karena memang jam sarapan sudah mendekat. Levan dan Agus pergi menyusul ke belakang resto.


Di belakang resto, Luna menangis sendiri. Sudah tentu kakinya lemas saat ini melihat perdebatan antara adik dan suaminya sendiri. Luna hanya bisa menangis sedih, hatinya sakit dan kecewa mendapati respon dari Levan.


"Bukankah seharusnya dia mengucap terimakasih? tetapi mengapa dia justru menolak dan memarahiku. Apakah pengorbananku ini tidak berarti? Lalu demi apa aku menjalani semua ini." Gumam Luna dalam kekecewaan yang nyata. Tangisnya tak terbendung.


" Kak, aku mohon segera batalkan perjanjian kalian saat ini juga." Kata Levan tiba-tiba.


" Tidak bisa." Jawab Luna menolak.

__ADS_1


" Kenapa? jangan kau gadaikan masadepanmu untuk bersanding dengan orang yang tidak mencintaimu." Kata levan dengan sengaja menyindir Agus.


" Hei jaga ucapanmu boy! Tau apa kamu tentang perasaan orang lain?" Agus berdecak kesal dan berkacak pinggang.


" Aku sudah menerima pembayaran lunas darinya." Kata Luna tanpa menatap dua pria yang berdiri di depannya.


" Kembalikan saja. Mudahkan?" Ucap Levan.


" Tidak bisa Van. Aku akan terkena denda 2 kali lipat jika membatalkan kerjasama sepihak dan di tambah denda lagi jika kurang dari satu tahun kabur dari perjanjian ini." Ujar Luna.


" Kenapa harus takut, itu semua hanya perjanjian abal-abal buatan dia sendiri kan?" Tanya Levan yang semakin geram setelah mendengar penuturan Luna.


Luna menggeleng.


" Apa ini! kenapa kamu menindasnya seperti ini sampai Kakakku tidak bisa berkutik?" Geram levan dengan mencengkeram kerah baju Agus.


" Aku tidak menindasnya. Santai lah boy!" Ucap Agus dengan tersenyum kecut.


" Kami memang punya perjanjian tapi hanya sekedar untuk hubungan pacar bohongan. Dan itu sudah selesai aku juga sudah melunasinya."


" Dan tanpa sengaja ada hal tidak terduga yang membuat Papa mendesak kami untuk menikah. Di pernikahan kami tidak ada perjanjian yang memberatkan dia. Semuanya adil dan dia juga sudah setuju. Jadi apa masalahmu?" Ungkap Agus dengan santainya.


" Bugh!" Levan meninju Agus tepat di sudut bibirnya hingga mengucur darah dari ujung bibirnya.


Levan sangat marah, karena dari ucapan Agus sangat kentara jika lelaki itu hanya memanfaatkan Luna. Entah apa yang mendasari perbuatan Agus tetapi levan sebagai laki-laki bisa melihat sesuatu yang lain dalam rencana Agus.


" Jangan Van! jangan dia suamiku." Kata Luna yang berlari seketika memeluk Agus yang nyaris mendapatkan bogem mentah dari adik iparnya.


" Kak... Argghh!" Levan mengerag kesal dan kemudian meninggalkan keduanya.


" Kuat sekali dia, apa yang dia makan pagi ini?" Gumam Agus dengan menahan rasa sakit di ujung bibirnya.


" Bangunlah, kamu tidak apa-apa?" Tanya Luna yang membantu Agus untuk duduk.


" Auh...!" Agus mengaduh dan memegangi perutnya.


" Apa perutmu juga sakit? Tapi tadi Levan hanya meninju bibirmu." Kata Luna heran.


" Lihat ini," Agus menyingkap bajunya dan memperlihatkan perutnya.

__ADS_1


" Kenapa ini?" Luna terkejut hingga mulutnya menganga lebar dan menutupnya dengan kedua tangannya.


" Hadiah dari Papa karena aku tidak bisa menjaga menantunya yang cantik dengan baik." Kata Agus jujur.


Agus mendapat pukulan di perutnya saat Papa pandu tanpa sengaja mengetahui surat perjanjian mereka.


Saat itu,


Flashback on.


" Pa, tolong bantu Mama bersihkan kamar Agus. Mama tidak sempat." Kata Mama Elena yang sedikit berteriak karena sedang sibuk membersihkan rumah.


" Punya anak juga perhitungan sekali. Membayar pembantu saja tidak mau." Gerutu Mama Elena sambil membersihkan dapur.


" Iya Ma!" Jawab Papa Pandu dengan segera meraih gagang sapu dan membersihkan kamar putranya.


Saat membersihkan lemari, tanpa sengaja surat perjanjian itu terjatuh dan pandu membacanya. Pandu yang menjadi geram seketika meminta Agus untuk segera pulang.


Sedari Luna tidak pernah pulang, Agus juga selalu menghindari pertemuan dengan orang tuanya. Agus tidak mau banyak pertanyaan yang muncul dan semakin membuatnya pusing.


Kali itu Agus pulang, dan perbincangan antara Ayah dan anak itu berlangsung sengit. Hingga terjadilah pemukulan itu. Mama Elena hanya bisa melerai keduanya dengan berpura-pura pingsan mendadak.


Cukup lumayan yang Agus dapatkan. Cukup ampuh hingga membuatnya merasa mual dan memuntahkan makanannya dalam dua hari kedepan. Dan itu terjadi tepat di hari sebelum Luna kembali pulang.


Flashback off.


" Maaf karena aku, kamu jadi seperti ini?" Ucap Luna penuh penyesalan.


" Hem." Jawab Agus dan kembali menutup perutnya.


" Papa dan Mama sudah mengetahui yang sebenarnya?" Tanya Luna memastikan.


" Iya." Jawab Agus.


" Lalu?"


" Lalu mereka ingin kita sebenar-benarnya menikah dan meresmikan hubungan kita." Ucap Agus.


" Aku tidak bisa. Lebih baik kita bercerai dan akhiri ini sekarang juga." Ucap Luna.

__ADS_1


" Apa maksudnya ini? Kamu ingin bercerai dariku?" Agus melotot tidak percaya.


__ADS_2