
Rara gurun ke lantai bawa dan melihat bibi sedang membuatkan sarapan pagi, Rara yang masi mengunakan baju rumah pun mendekat ke arah bibi.
"Bibi lagi bikin nasi goreng ya?" tanya Rara.
"Iya non, non mau masak lagi ya?" tanya bibi.
"Gak bi, aku mau minta nasi goreng yang bikin bibi aja" ucap Rara.
"Ooh iya non tunggu ya dikit lagi mateng kok" ucap bibi.
"Iya bi" ucap Rara.
Rara mengambil kotak yang ada di lemari, untung saja mama Lara punya banyak kota buat isi bekal.
Rara meletakan kotak itu di atas meja, lalu gadis itu kembali mendekati bibi. Rara melihat bibi memasukan garam, dan penyedap rasa yang lain.
"Non Rara mau rasa gak?" tanya bibi.
"Boleh bi, Rara coba dikit ya" ucap Rara.
"Iya non silahkan" ucap bibi.
Rara mengambil sendok dan memakan nasi goreng yang ia ambil mengunakan sendok, rara. mengangguk kepala sambil tersenyum.
"Enak bi" ucap Rara.
"Makasih non" ucap bibi.
"Bi aku mau dong belajar masak dari bibi" ucap Rara.
"Boleh non, nanti setiap pagi, sama malam hati non Rara kan udah di rumah jadi bisa liat-liat bibi masak" ucap bibi.
"Iya bi" ucap Rara, lalu mengambil kota yang ia sediakan di atas meja.
Rara mengambil nasi goreng dan menaruh di kotak bekal itu, Rara juga mengambil satu telur dadar buat di taru di samping nasi goreng.
"Pasti bang Angga gak akan kepedesan lagi deh" ucap Rara sambil tersenyum.
"Bi kalau gitu Rara siap-siap ke sekolah dulu ya" ucap Rara.
"Iya non" jawab bibi.
Rara kembali naik ke lantai dua di mana kamarnya berada, Rara juga membawa nasi goreng yang ia isi di kotak itu takut nanti ketahuan sang kakak lagi.
Rara meletakan kotak makan itu di atas meja nakas, lalu Rara masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
Selesai dengan rutinitas mandinya, Rara mengenakan seragam sekolah miliknya, Rara melihat jam yang masi menunjukan pukul 5 lewat 47 menit.
Rara memakai bedak tipis dan lip tin hampir tak terlihat, lalu gadis itu memakai sepatu miliknya. Setelah selesai, Rara memasukan kotak makan itu ke dalam tasnya, agar tidak ketahuan sang kaka.
Sebelum turun ke lantai bawa, Rara melihat kembali penampilannya di depan cermin, di rasa sudah pas barulah Rara keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Dek, udah siap?" tanya Reyhan yang baru saja keluar dari kamar.
"Iya kak" jawab Rara menuruni tangga.
"Gak masak lagi?" tanya Reyhan.
"Gak kak" jawab Rara.
Sedangkan Reyhan hanya mengulum senyum melihat sang adik, karena kalau ia tertawa keras takut sang adik marah padanya.
Semuanya sudah berkumpul di meja makan, mama Lara melihat semua menu sarapan.
"Sayang kamu gak masak lagi" tanya mama Lara.
"Gak ma" ucap Rara mengambil roti yang sudah ada slei kacangnya.
"Ayo kita mulai sarapan saja" ucap papa Andi.
Rara memakan rotinya dengan dima, sesekali gadis itu melihat ponsel miliknya yang ada di atas meja.
"Sayang kamu lusa jadi kembali ke itali gak?" tanya Mama Lara pada putranya.
"Iya ma, aku harus selesai tugas studi aku" ucap Reyhan.
"Kaka udah mau balik Itali lagi" tanya Rara.
"Iya dek" ucap Reyhan.
"Iya janji ya cepat pulang" ucap Rara.
"Iya kamu tuh manja banget sih" ucap Reyhan.
Rara dengan cepat menghabiskan sarapannya, lalu segera pamit. Karena Rara harus pergi mengantar sarapan ke kantor polisi.
☘☘☘☘
Angga mengendarai mobilnya di jalan raya, saat ini jalan masi belum terlalu macet karena masi pukul setengah 7 juga.
Angga membelikan mobilnya menuju kantor, dan tak sengaja melihat motor yang ia kenal, Angga melihat Rara memikirkan motornya di depan kantor.
Kemudian gadis itu turun dari motor dan membawa sesuatu, Rara terlihat menghampiri seorang polisi.
" Mau ngapain lagi sih tuh anak" ucap Angga seorang diri.
Mobil Angga memasuki parkiran kantor.
"Nih itu pak Angga udah datang dek" ucap salah seorang polisi.
Rara pun melihat ke arah yang di tunjuk oleh polisi itu, dan benar saja Angga baru saja keluar dari mobil.
"Kalau gitu aku langsung kasih bang Angga aja pak, makasih ya" ucap Rara.
__ADS_1
"Iya dek sama-sama" ucap polisi itu.
"Pagi bang Angga" ucap Rara mendekati Angga.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Angga dingin.
"Hehehe,,, ini aku mau ngasi sarapan buat bang Angga" ucap Rara sambil tersenyum.
"Saya gak butuh sarapan dari kamu, lebih baik kamu bawa aja kasi teman kamu" ucap Angga dingin.
"Gak bisa dong bang, ini itu khusus buat bang Angga tau" ucap Rara.
Angga hendak melangkah masuk, tapi di cegah lagi oleh Rara.
"Tunggu dong bang, kok buru-buru sih" tanya Rara.
"Saya ingatkan ya sama kamu, jangan pernah ganggu saya lagi, Karana saya gak suka di ganggu-ganggu seperti ini" ucap Angga, lalu melangkah masuk.
Sedangkan Rara hanya diam berdiri di tempatnya, kata-kata dingin pria itu tidak membuat Rara menyerah, bahkan ia akan kembali lagi nanti.
Ada beberapa polisi yang melihat keduanya, tapi mereka tak ambil pusing karena itu juga bukan urusan mereka.
"Hey, kamu kan yang kemarin ngasi sarapan ke Angga" tanya Ilham yang baru saja datang.
"Iya bang kenapa?" tanya Rara pura-pura gak tau.
"Kamu tau gak siapa yang makan nasi goreng kamu?" tanya Ilham.
"Bang Angga lah bang, kan aku kasi ke bang Angga" ucap Rara.
"Mana mau Angga makan pemberian orang, yang makan tuh aku, aku sampai minum air kran tau gak gara-gara kepedesan" ucap Ilham.
Rara menutup mulutnya, mendengar apa yang di katakan oleh Ilham.
"Ya udah sebagai gantinya ini aja ya bang, ini gak asin dan gak pedas kok" ucap Rara memberikan kotak makan yang ia pegang.
"Ini apa?" tanya Ilham.
"Nasi goreng bang" ucap Rara.
Belum sempat Ilham mengatakan, Rara sudah pamit dengan cepat karena ia sudah telat berangkat ke sekolah.
"Hey ini gimana" tanya Ilham.
"Ambil buat abang aja, bang Angga gak mau" ucap Rara naik ke atas motornya lalu pergi dari sana.
"Aneh tuh cewek," ucap Ilham melihat kotak makan yang ada di tangannya.
Ilham pun membawa kota itu masuk ke dalam, nanti bakalan ia cicipi di dalam ruangan, kalau enak ya di makan kalau asin dan pedas lagi ya gak di makan kaya kemarin.
Next...
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen sama Vote ya guys...