Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Nasehat Reyhan


__ADS_3

Sudah tiga hari Angga tidak menghubungi sang kekasih, bukan karena tidak mau bertukar kabar dengan Rara, hanya saja Angga masi kecewa dengan sang kekasih yang berusaha menyembunyikan semuanya.


Rara keluar dari dalam kamar dan mencari keberadaan sang kaka, Rara melihat sang kaka sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv, tapi di selah itu Reyhan juga sedang bertukar pesan dengan Angga.


Reyhan melihat sang adik yang berjalan ke ruang tengah dengan tak semangat. Reyhan tau apa yang membuat sang adik seperti itu.


"Kenapa?" tanya Reyhan melihat sang adik yang baru saja duduk di sofa.


"Kak Angga marah sama aku kak, udah tiga hari kak Angga gak nelpon aku, jangankan nelpon chet aja gak," ucap Rara cemberut.


"Mungkin Angga masi kecewa sama kamu, makanya jangan ada yang di sembunyikan dari Angga, apa lagi kan kalian sedang LDR sekarang," ucap Reyhan melihat sang adik.


"Habis aku gak mau bikin kak Angga kuatir kak," ucap Rara menatap sang kaka.


"Iya kak ngerti dek, tapi ada baik nya kamu harus selalu jujur sama Angga, biar gimana pun Angga itu adalah calon suami kamu loh," ucap Reyhan meyakinkan sang adik.


Rara hanya diam saja mendengar nasehat dari sang kaka, apa yang di katakan oleh Reyhan ada benarnya juga.


Tapi bukan berarti Angga tidak menanyakan kabar Rara pada Reyhan, biarpun sedang marah pada Rara, Angga terus menanyakan keadaan sang ke kasih setiap saat pada Reyhan.


"Kamu gak ke kampus, udah jam 10 loh ini?" tanya Reyhan sambil melihat jam yang menggantung dinding ruang tengah.


"Nanti siang kak, mata kuliah di undur sama dosen," ucap Rara melihat ke arah layar tv.


"Kaka sudah mencari tau tentang pria yang mencoba mencelakai kamu kemarin," ucap Reyhan. Membuat Rara melihat ke arah sang kaka.


"Siapa kak, aku gak pernah punya musuh di kampus selama masuk kuliah," ucap Rara menatap sang kaka, menanti jawaban.


"Dia adalah pria yang dulunya kekasih Lishi, dia meminta orang untuk menyakiti kamu. Karena dulu kita sudah menggagalkan rencananya untuk menyakiti Lishi," ucap Reyhan.


Membuat Rara tak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang kaka, Reyhan melihat sang adik yang hanya diam saja.


"Kamu tidak perlu kuatir, kaka akan selalu menjaga kamu. Kaka yang akan selalu ada di dekat kamu," ucap Reyhan melihat sang adik dengan sayang.


"Tapi kenapa harus aku kak?" tanya Rara.


"Karena pria itu ingin kaka sakit nanti kalau liat kamu terluka, dia ingin balas semua itu pada kaka, tapi lewat kamu," ucap Reyhan menatap sang adik.


"Kaka harus hati-hati juga, aku gak mau kaka nanti kenapa-kenapa," ucap Rara memeluk sang kaka dengan sayang.


"Kaka cuma gak mau adik kaka nanti terluka, karena itu kaka akan menjaga kamu selama di sini," ucap Reyhan mengusap punggung sang adik dengan sayang.


Reyhan melepaskan pelukan mereka, lalu melihat sang adik yang sedang bersedih. Reyhan tersenyum mengusap wajah Rara dengan pelan.


"Sana telpon calon suami kamu, minta maaf sama dia," ucap Reyhan sambil tersenyum menatap sang adik.


"Kak Angga gak mau angkat telpon aku kak," ucap Rara kesal.


"Nanti kaka yang chet dia," ucap Reyhan.


Rara pun beranjak dan masuk ke dalam kamar, Reyhan mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada Angga, dan Angga langsung mengiyakan apa yang di katakan oleh Reyhan.


Reyhan kembali melanjutkan menonton tv, karena film yang ia tonton sekarang adalah film kesukaannya.


****


"Kali ini rencana kita gak boleh gagal, kita harus bikin gadis itu hancur kali ini," ucap pria itu yang tak lain adalah Romeo.


"Baik bos, apa bos juga ikut nanti?" tanya sang anak buah.


"Iya, saya ingin melihat langsung bagaimana nanti gadis itu hancur," ucap Romeo sambil tersenyum licik melihat ke luar jendela kamar.


"Baik, siang nanti gadis itu akan ke kampus bos," ucap anak buah Romeo.


"Kita berangkat sekarang, kita bisa menunggu di dekat apartemen mereka," ucap Romeo yang mendapat anggukan kepala oleh anak buah itu.


"Baik bos, mari," ucap anak buah Romeo memberikan jalan untuk sang bos.


Setibanya di lantai bawa, anak buah Romeo juga membukakan pintu untuk sang bos, dan mobil pun meninggalkan apartemen yang di tinggalkan oleh Romeo.


Mobil pun tiba di dekat unit Apartemen yang di tinggalkan oleh Rara dan Reyhan, anak buah Romeo memikirkan mobilnya agak jauh dari parkiran apartemen itu.


"Mereka sudah keluar bos," ucap anak buah Romeo menunjuk ke arah mobil Reyhan.


"Baik, kita ikutin mereka, tapi pelan-pelan saja jangan sampai mereka curiga," ucap Romeo.


"Baik bos," ucap anak buah Romeo lalu menjalankan mobil itu untuk mengikuti mobil yang di kendarai oleh Reyhan.


Saat di jalan yang sepi nanti, Romeo dan anak buahnya akan menabrak mobil yang di kendarai oleh Reyhan. Dengan begitu Reyhan dan sang adik akan hancur bersama.


Reyhan mengendarai mobilnya cukup cepat, karena takut nanti sang adik akan telat sampai kampus.

__ADS_1


Lewat kaca spion depan, Reyhan bisa melihat mobil hitam yang sedang mengikuti mereka sedari tadi. Reyhan bukan orang awan yang tidak mengetahui semua itu.


Reyhan sengaja melewati jalan sepi, ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh mobil itu, dan benar saja mereka mengikuti mobil yang di kendarai oleh Reyhan.


Reyhan terus melihat ke arah belakang, dan mobil itu semakin cepat mengikuti mereka, Reyhan bisa melihat kalau mobil itu akan menabrak mobil mereka.


"Dek, pegangan yang kuat yah," ucap Reyhan melihat ke arah sang adik.


"Baik kak," ucap Rara melihat sang kaka.


Reyhan menambak kecepatan mobilnya, melihat mobil hitam di belakang semakin cepat, Reyhan melihat jalan kecil yang berada di depan sana. Reyhan langsung membanting stir ke samping dan membuat mobil hitam itu melaju cepat ke depan dan menabrak bata pohon besar.


Kecelakaan bukan menimpah Rayhan dan Rara, tapi mala menimpah mobil yang di naikin oleh Romeo dan anak buahnya.


"Dek kamu gak papa kan?" tanya Reyhan melihat sang adik.


"Aku gak papa kok kak," ucap Rara melihat mobil yang sedang menabrak batang pohon itu.


Asap keluar dari dalam mobil itu, dan petugas polisi pun datang ke lokasi kejadian untuk melihat kecelakaan itu.


Reyhan dan Rara melihat Romeo dan anak buahnya di keluarkan dari dalam mobil dan di bawa masuk ke dalam ambulance. Keduanya terlihat terluka parah, akibat benturan keras.


"Mau ke kampus apa mau pulang aja?" tanya Reyhan melihat sang adik.


"Pulang aja kak, nanti aku ijin gak masuk hari ini," ucap Rara melihat sang kaka.


"Oke, kita pulang sekarang," ucap Reyhan kembali menjalankan mobilnya meninggalkan area situ.


Reyhan tidak tau, apa kah Romeo masi hidup apa sudah meninggal dalam kecelakaan itu.


****


Ilham melihat wajah Angga yang sedang berbinar, Ilham mengernyit keningnya heran melihat Angga.


"Kenapa loh kok keliatannya bahagia banget sih?" tanya Ilham menepuk pundak Angga.


"Gak loh, kepo aja," ucap Angga menatap sinis sang sahabat.


"Udah baikan sama Rara?" tanya Ilham curiga menatap sang sahabat.


"Iya," ucap Angga pergi meninggalkan Ilham sendiri.


"Lamaran loh buat Feli berjalan lancar kan?" tanya Angga duduk di kursi meja kerjanya.


"Iya, Alhamdulillah orang tua kita udah setuju dan tinggal nunggu hari H aja," ucap Ilham menatap Angga.


Setelah melamar Feli tempo hari di sebuah restoran, Ilham juga mengajak kedua orang tuanya untuk bertemu kedua orang tuanya Feli, untuk melamar Feli pada kedua orang tuanya.


"Gue ikut bahagia buat loh, gak nyangka gue kalau loh yang bakalan nikah duluan," ucap Angga sambil tersenyum.


"Iyu tandanya jodoh datang ke gue duluan men, tapi nanti kan loh sama Rara juga bakalan nikah," ucap Ilham.


"Iya, tapi lama masi nunggu dua tahun lagi, sampai Rara selesai sekolah," ucap Angga.


"Sabar aja, gue yakin loh setia sama Rara," ucap Ilham menatap Angga.


Dratt...


"Calon istri gue nelpon," ucap Ilham melihat layar ponselnya.


"Lebay loh," ucap Angga membuka berkas yang ada di atas.


"Hallo sayang ada apa?" tanya Ilham setelah panggilan telpon terhubung.


"Nanti gak usah jemput yah, aku pulang sama papa," ucap Feli dari sebrang sana.


"Oke, nanti ketemu di rumah yah," ucap Ilham sambil tersenyum.


"Iya, yah udah aku tutup telpon dulu yah, mau lanjut kerja," ucap Feli dari seberang telpon.


"Iya sayang, cium jauh dulu dong," ucap Ilham menggoda calon istri nya itu.


"Uummaccc, udah bay," ucap Feli tersenyum geli di seberang sana.


"Makasih yah sayang, by," ucap Ilham sambil terkekeh geli melihat wajah kesal Angga.


Angga melanjutkan pekerjaannya, tanpa menghiraukan sang sahabat yang sedang terkekeh melihat diri nya yang sedang kesal itu.


****


Lishi terlihat sedang menatap jaket yang terletak di atas ranjangnya, jaket milik Reyhan.

__ADS_1


"Kamu sengaja yah, tidak mengambil jaket kamu dan minta aku untuk membawanya, dan sekarang aku memikirkan kamu terus," ucap Lishi dalam hati masi menatap jaket hitam itu.


"Ngapain sih aku mikirin dia, mungkin saja dia gak mikirin aku kan sekarang," ucap Lishi seorang diri.


Lishi lalu beranjak dari duduknya, dan masuk ke dalam kamar mandi, Lishi harus membersihkan diri. Karena saat ini jam sudah menunjukan pukul lima sore.


Clekkk...


Kedua bola mata Akas melihat ke seluruh penjuru kamar sang aunty, tapi tidak melihat pemiliknya berada di dalam sana.


Akas masuk dengan pelan dan mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, Akas sangat yakin kalau aunty nya sedang membersihkan diri.


Akas naik ke atas ranjang dan melihat jaket hitam yang ada di atas ranjang. Tangan mungil bocah kecil itu pun mengambil jaket itu dan melihatnya.


"Ni jaket siapa yah, apa punya paman Meo," ucap Akas seorang diri.


Akas berbaring di ranjang sang aunty, meletakan jaket itu ke tempat semula, tapi sudah dalam keadaan tak berbentuk dari semula rapi.


Clekkk...


Akas melihat ke arah pintu kamar mandi yang barus saja terbuka itu, Lishi keluar dengan mengunakan handuk kimono.


"Akas, kamu di sini sayang?" tanya Lishi melihat ponakan nya itu.


"Iya aunty, aku di usir sama bunda ke kamar aunty," ucap Akas mengadu pada sang aunty.


"Akas pasti nakal kan, sampai bunda minta Akas ke kamar aunty?" tanya Lishi curiga menatap bocah kecil itu.


"Aku gak nakal aunty, aku cuma cium-cium adik yang lagi tidur aja," ucap Akas berbaring di ranjang besar itu.


"Tuh kan Akas nakal," ucap Lishi.


"Terserah deh orang mau bilang apa," ucap bocah kecil itu berguling-guling di ranjang besar itu. Membuat Lishi geleng-geleng kepala melihat ponakan nya itu.


"Aunty," panggil Akas.


"Iya sayang ada apa?" tanya Lishi melihat bocah kecil itu.


"Aku panggil aunty mami aja yah, kaya teman aku di sebelah," ucap Akas menatap sang aunty.


"Kenapa memangnya, aunty kan juga bagus di panggil," ucap Lishi mendekati sang ponakan dan duduk di sisi ranjang.


"Tapi aku pengen nya manggil mami aja, gak papa kan aunty?" tanya Akas dengan wajah polos nya.


"Terserah Akas aja," ucap Lishi mencium pipi gembul Akas dengan sayang.


"Asik, sekarang aku panggil Aunty mami yah, mami Ici," ucap Akas dengan wajah senang.


"Iya sayang," ucap Lishi mengusap kepala bocah kecil itu dengan sayang.


"Mami, ni jaketnya siapa? Punya paman Meo yah?" tanya Akas melihat sang mami.


"Bukan, ini punya teman mami yang di Italia," ucap Lishi melihat Akas.


"Aku kira ini punya paman Meo, kalau ia aku buang aja," ucap Akas berceloteh.


"Kamu tuh lucu banget sih, mami pengen nyubit kamu terus deh," ucap Lishi memeluk bocah kecil yang sudah ia anggap seperti anak itu.


"Jangan mi, nanti badannya Akas biru-biru lagi," ucap bocah kecil itu sambil terkikik geli melihat sang mami.


"Kamu mau tidur dama mami lagi?" tanya Lishi.


"Iya, aku mau tidur dama mami lagi malam ini, habis bunda sih ngusir Akas," ucap Akas cemberut.


"Gimana gak di usir, kamu sih bikin bunda marah," ucap Lishi sambil melipat jaket yang di berantakin oleh Akas.


"Kenapa sih mami gak pernah percaya sama Akas," ucap bocah kecil itu melihat sang mami.


"Karena Akas nakal," ucap Lishi sambil tersenyum geli melihat wajah manyun Akas.


Lishi lalu mengajak keponakannya itu keluar dari kamar, lalu turun ke lantai bawa dan melihat adik nya Akas yang masi bayi.


Beby kecil itu tertidur pules di atas ranjang, sedangkan sang bunda sedang merapikan box bayi.


Akas bersembunyi di balik sang mami, karena takut melihat sang bunda yang sedang marah padanya.


"Mami Akas takut sama bunda," ucap Akas dengan pelan.


"Udah jangan takut, ada mami di sini," ucap Lishi melihat kaka ipar nya itu sambil tersenyum geli.


Next...

__ADS_1


__ADS_2