Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Razia


__ADS_3

Mobil Reyhan berhenti tepat di depan gerbang rumah Lishi, Lishi melihat Reyhan yang seolah enggan melihatnya.


"Makasih udah nganterin aku sampai sini, aku turun dulu," ucap Lishi melihat Reyhan.


Tapi Reyhan tidak berkata apa-apa, ia membiarkan Lishi turun dari dalam mobil.


Lishi berjalan masuk dan membuka pintu gerbang, bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka, seorang pria mengahampiri Lishi dan itu semua di liat oleh Reyhan dari dalam mobil.


Reyhan lalu menjalankan mobilnya lagi, meninggalkan area situ.


"Dek, kamu kok pulang telat sih, siapa yang nganterin kamu," tanya Kaka Laki-laki Lishi yang tak lain adalah ayah kandung Akas.


"Teman kak, tapi dia udah pulang barusan cuma nganter aja," ucap Lishi.


"Teman apa cowok nih," goda sang Kaka.


"Gak kak cuma teman aja kok," ucap Lishi tersenyum.


"Yah sudah ayo masuk," ucap sang Kaka.


Lishi lalu masuk bersama sang Kaka, Lishi berbalik belakang dan mobil Reyhan tidak ada di depan sana.


"Kamu akan semakin salah paham sama aku," ucap Lishi dalam hati.


Karena sudah larut malam, Lishi langsung menaiki tangga menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.


Selesai mandi Lishi nanti akan melihat ponakan tersyangnya itu, yang di kira semua orang ada alah anaknya.


****


Tepat pukul 12 malam Reyhan tiba di rumah, entah habis dari mana lagi Reyhan habis mengantar Lishi pulang.


Reyhan masuk ke dalam rumah, dan semua ruangan sudah gelap. Reyhan sudah menduga kalau penghuni rumah saat ini sudah tertidur pules.


Reyhan naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Hari ini terasa sangat melelahkan menurut Reyhan, apa lagi suasana hatinya yang sedang galau.


****


Malam berganti siang, Rara saat ini sudah siap dengan setelan kerjaannya. Rara masuk ke ruang makan dan melihat ke dua orang tuanya sudah menunggu di sana.


"Ma, Kaka mana kok gak ikut sarapan?" Tanya Rara melihat jam sudah jam 7 lewat.


"Kaka kamu udah berangkat ke kantor tadi pagi-pagi sayang, ayo kita mulai sarapan aja," ucap mama Lara.


Rara pun duduk di kursi yang biasa ia duduki itu, Rara Masi memikirkan sang Kaka yang tidak seperti biasanya.


Rara, Papa Anda dan mama Lara sarapan seperti biasa, meskipun tidak ada Reyhan bersama mereka tapi suasana di meja makan tetap ramai seperti biasanya.


****


Di lain tempat, tepatnya di ruang makan keluarga Wilantara. Angga begitu menikmati sarapan yang di baut kan oleh sang mama.


"Jadi Rara udah malai kerja nak?" Tanya papa Lukman melihat putranya itu.


"Iya pa, mau nyari pengalaman dulu katanya," ucap Angga melihat kedua orang tuanya.


"Bagus itu, nanti kan pada saat Rara mau buka usaha sendiri dia udah berpengalaman," ucap mama Sofia.


"Iya ma," ucap Angga sambil tersenyum.


Angga mempercepat untuk menghabiskan sarapannya, ia harus menjemput sang kekasih dan mengantarkan Rara ke tempat kerjanya.


"Hati-hati sayang," ucap mama Sofia.


"Ia ma," ucap Angga lalu pamit.


Angga masuk ke dalam mobil dan menuju rumah Rara.


25 menit kemudian, Angga sudah tiba di halaman rumah sang kekasih. Rara yang juga sudah siap pamit pada kedua orang tua nya.


"Sayang foto dulu dong," ucap Angga.


"Foto, kok tumben nih ngajak foto?" Tanya Rara curiga.


"Yah biar orang tau kalau kamu itu pacar aku sayang," ucap Angga.


"Yah ampun jadi Kaka cemburu nih?" Tanya Rara sambil tersenyum geli.


"Udah jangan banyak ngomong, ayo foto bareng," ajak Angga.


"Iya-iya," ucap Rara.

__ADS_1


Selesai berpose, Angga membukakan pintu mobil untuk Rara, Angga masuk dan duduk di kursi kemudi, mobil pun menuju butik tempat kerja Rara.


****


Sasmita baru saja mendapat informasi dari orang suruhan nya, kalau Rara sedang bekerja di butik salah satu desainer terkenal di kota ini.


"Baik, kita mulai sekarang," ucap Sasmita sambil tersenyum licik.


Sasmita sudah punya rencana untuk mendekati Rara, Sasmita akan mendekati Rara dengan pelan-pelan.


"Jadi bos yang akan menjalankan semua rencana sendiri?" Tanya pria suruhan Sasmita.


"Iya, giliran kamu nanti akan saya infokan lagi, dan ini bayaran buat kamu," ucap Sasmita memberikan amplop berisi uang.


"Terimakasih bos, nanti infokan saya lagi kalau ada pekerjaan," ucap pria itu.


"Iya, kamu boleh pergi sekarang," ucap Sasmita.


Pria itu pergi dari hadapan Sasmita, mereka bertemu di kafe yang ada di depan apartemen yang di tinggalkan oleh wanita itu.


Sasmita tersenyum kecil, hari ini ia akan mulai melancarkan rencananya sekarang diri.


****


"Wah-wah yang selalu di anterin sama pacar," ucap karyawan butik menggoda Rara, Rara hanya menangapi para karyawan itu dengan tawa saja.


"Mbak Dian usah di dalam?" Tanya Rara.


"Udah mbak Rara, mbak Dian juga baru sampai," ucap karyawan butik.


Rara langsung berjalan menuju ruangan kerjanya, bebrapa karyawan terdengar sedang merumpi.


"Mbak Rara cocok yah sama pacarnya yang polisi itu," ucap salah satu karyawan butik.


"Iya lah, mbak Rara kan cantik dan juga desainer lulusan luar negri," ucap karyawan yang lain.


"Jadi pengen deh kaya mbak Rara, punya cowok polisi," ucap karyawan butik.


"Jangan mimpi deh, kita ini cuma karyawan biasa say," ucap salah satu karyawan butik sambil tersenyum.


"Iya-iya kita sadar diri ko," ucap karyawan yang lain.


Semuanya pun kembali bekerja lagi, urusan merumpi di sudahi dulu nanti kena teguran dari bos mereka.


Di dalam ruangannya, Rara membuka lap top yang ada di atas meja. Hari ini Rara dan Mbak Dian ada meeting bersama klien di luar, mungkin agak siang gitu karena jam nya di tentukan oleh pihak klien.


Rara melihat hasil Disainer yang kemarin, lalu membawanya ke ruangan atasannya mbak Dian.


Mbak Dian melihat hasil Disainer Rara dengan serius, lalu mbak Dian melihat ke arah Rara.


"Ini bagus Ra, saya belum pernah melihat gambar sebagus ini," ucap mbak Dian sambil tersenyum melihat Rara.


"Apa kalau saya ingin menambahkan sedikit bahan saja di gambar ini bisa mbak?" Tanya Rara.


"Maksud kamu gimana yah Ra, aku belum paham?" Tanya mbak Dian.


Rara lalu menjelaskan pada mbak Dian, dan mbak Dian setuju dengan pendapat baru Rara, karena mbak Dian percayakan semuanya pada Rara.


"Nanti siang kita pergi meeting bersama yah Ra," ucap mbak Dian.


"Iya mbak, kalau gitu saya kembali ke ruangan saya dulu mbak," ucap Rara yang mendapat anggukan dari mbak Dian.


****


Tokk...


Tokk...


"Masuk," ucap Reyhan dari dalam ruangannya.


Clekk...


"Permisi pak Reyhan, saya datang bersama pak Rendi yang akan menjadi sekertaris pak Reyhan," ucap HRD di depan pintu.


"Yah, suruh dia masuk," ucap Reyhan.


"Silahkan masuk pak Rendi," ucap HRD.


Seorang pria tinggi masuk, Reyhan melihat pria itu yang tak lain anak dari sahabat sang papa.


"Selamat siang pak Reyhan, kenalkan saya Rendi yang akan menjadi sekertaris bapak," ucap Rendi dengan sopan.

__ADS_1


"Silahkan duduk, Ren tidak usah terlalu formal biasa saja," ucap Reyhan.


"Baik pak," ucap Rendi duduk di kursi yang ada di depan Reyhan.


"Jadi kau baru saja sarjana?" Tanya Reyhan.


"Betul pak," ucap Rendi.


"Apa kau bisa mulai bekerja hari ini?" Tanya Reyhan meskipun mustahil kalau Rendi mau.


"Bisa pak, saya malahan lebih senang," ucap Rendi.


"Baik kalau begitu siang ini kita ada meeting di luar, kau harus pergi bersama saya," ucap Reyhan.


"Baik pak Reyhan," ucap Rendi.


Siang ini Reyhan ada meeting di luar bersama dengan Lishi, Reyhan tidak mau hanya dia saja yang datang, dan untung saja Rendi mau ia ajak bekerja mulia hari ini.


"Kau boleh keluar, meja kerja mu ad Adi ruangan sebelah Ren," ucap Reyhan.


"Baik pak Reyhan, terimakasih banyak kalau begitu saya permisi dulu," ucap Rendi.


"Iya," ucap Reyhan.


Reyhan melihat pundak Rendi yang menghilang dari balik pintu, Reyhan menghela nafas kasar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


****


Di lain tempat Rara dan mbak Dian masuk ke dalam mobil mbak Dian yang sedang terparkir di luar butik, Rara duduk di kursi yang ada di dekat mbak Dian yang akan mengemudi mobil.


"Ra, klien kita kali ini adalah seorang duda tampan loh," ucap mbak Dian melihat Rara.


"Mbak Dian sebelumnya pernah ketemu sama klien ini?" Tanya Rara.


"Belum sih, cuma dari berita yang beredar katanya dia duda tampan Ra," ucap mbak Dian.


"Buat saya yang paling tampan cuma mas Angga mbak," ucap Rara sambil tersenyum.


"Iya-iya deh yang punya pacar polisi," ucap mbak Dian.


"Mbak apa sih, gak juga kok," ucap Rara tersipu malu.


Mobil yang di Kendari oleh mbak Dian terus saja melaju di jalan yang sedikit padat itu, tempat mereka akan bertemu klien kali ini adalah di salah satu restoran.


"Wah Ra ada razia di depan," ucap mbak Dian melihat kumpulan para polisi lalu lintas.


"Berarti ad pacar kamu juga Ra," ucap mbak Dian lagi.


Dan benar saja, Angga sedang berbincang dengan salah satu anggota yang sedang berada di situ.


Mobil yang di kendarai oleh mbak Dian di stop oleh Ilham, mbak Dian membuka kaca mobil dan Ilham melihat Rara yang sedang berada di dalam mobil itu.


"Selamat siang mbak, bisa liat surat-surat kendaraannya," ucap Ilham sambil tersenyum.


"Bisa pak, tunggu sebentar yah," ucap Mbak Dian mengambil tas kecil yang berisikan kelengkapan surat kendaraannya.


"Ngapain di periksa sih kak, kan udah keliatan kalau mobil kita lengkap surat," ucap Rara sambil tersenyum di selah canda.


"Pak Angga, bisa tolong kemari sebentar," ucap Ilham memanggil Angga yang agak jauh dari nya.


"Ada apa?" Tanya Angga berjalan mendekati Ilham.


"Hay," sapa Rara membuat Angga kaget dengan keberadaan Rara yang ada alam mobil itu.


"Mau ke mana?" Tanya Angga berdiri di dekat jendela mobil.


"Mau ketemu Klian di luar, aku udah chet Kaka tapi gak di bales," ucap Angga.


"Maaf Kaka belum buka hp, dari tadi lagi tugas," ucap Angga mencubit hidung Rara.


"Ini pak surat-suratnya," ucap mbak Dian.


"Gak usah, kita tau kalau mobil kalian gak pernah kekurangan," ucap Angga melihat mbak Dian.


"Makasih pak Angga," ucap mbak Dian melihat papan nama Angga yang ada di dada sebelah.


Mbak Dian dan Rara lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju restoran, Restoran di mana mereka akan bertemu dengan klien.


Angga dan Ilham kembali bertugas, mbak Dian tak henti-hentinya menggoda Rara sepanjang jalan menuju restoran.


Next....

__ADS_1


__ADS_2