
Aakkkhhh...
"Sial, kali ini boleh gagal tapi nanti gue gak akan kasih ampun," ucap pria itu dengan tatapan marah melihat ke arah cermin.
"Maafkan saya, hampir sedikit lagi tapi seorang pria datang dan menyelamatkan mereka," ucap pria yang berusaha mencelakai Rara dan Keni.
"Gue mau perempuan yang bernama Rara itu harus hancur, itu sebagai balasan karena sudah ikut campur urusan gue," ucap pria itu menatap pria yang ia suruh dengan senyum licik.
"Baik, saya akan menjalankan rencana lagi," ucap pria suruhan itu menatap sang bos dengan yakin.
"Iya saya tunggu kabar dari kamu," ucap pria itu menatap tajam ke arah luar jendela.
Pria suruhan itu lalu pergi dari hadapan sang bos, sedangkan sang bos hanya diam sambil menahan amara karena rencana mereka kali ini gagal.
****
Reyhan membantu sang adik keluar dari mobil, dan menuntun Rara masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana unit apartemen mereka berada.
Ting...
Reyhan dan Rara keluar dari dalam lift dan masuk ke dalam unit apartemen mereka, Reyhan membantu sang adik duduk di sofa yang ada di ruangan tengah.
"Kaka ambilkan minum dulu dek," ucap Reyhan sambil mengatur anak rambut sang adik.
"Iya kak," ucap Rara menatap sang kaka.
Reyhan lalu beranjak dari duduknya, pergi ke dapur untuk mengambilkan air puti untuk sang adik. Tak berselang lama Reyhan kembali dengan membawa segelas air puti.
Rara melihat sang kaka yang memberikan gelas berisikan air puti, Rara mengambil nya lalu meminumnya.
Reyhan kembali duduk di dekat sang adik yang sedang minum air, Rara lalu melegakan gelasnya di atas meja depan mereka, kemudian Rara melihat sang kaka.
"Kak, makasih udah nolongin Rara dan Keni tadi, kita gak tau kalau kaka gak cepat datang," ucap Rara sambil menatap sang kaka dengan wajah sendu.
"Iya, udah jadi kewajiban kaka buat lindungi adik nya bukan," ucap Reyhan sambil tersenyum mengacak rambut sang adik dengan sayang.
Rara memeluk sang kaka dengan erat, dan Reyhan membalas pelukan sang adik. Reyhan begitu menyayangi adik nya itu, sampai ia tidak meninggalkan Rara sendiri di negara orang.
Reyhan melepaskan pelukan mereka, lalu menatap wajah sang adik sambil tersenyum.
"Sekarang mandi yah, kaka juga mau mandi, nanti kita pesan makan online aja," ucap Reyhan tersenyum menatap sang adik.
Rara lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar, Reyhan melihat punggung sang adik yang menghilang dari balik pintu kamarnya.
Reyhan menghela nafas kasar, lalu ia juga beranjak dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
****
Angga sudah memblokir nomor ponsel Sasmita, Angga sudah tidak mau lagi berhubungan dengan wanita itu.
Angga tiba di rumah dan langsung di sambut oleh sang mama, Angga menyalami punggung tangan sang mama.
"Ma, papa belum pulang yah?" tanya Angga, karena tidak melihat keberadaan sang papa di ruang tengah.
"Belum sayang, mungkin bentar lagi papa pulang," ucap mama Sita kembali duduk di sofa.
Angga juga ikut duduk di sofa bersama sang mama, mama Sofia bisa melihat kegelisahan yang ada di wajah sang putra saat ini.
"Sayang kamu kenapa, apa ada masalah?" tanya mama Sofia melihat sang putra.
__ADS_1
"Gak kok ma, Angga cuma capek aja," ucap Angga berusaha tersenyum melihat sang mama.
"Yah sudah kamu mandi dulu, biar badan seger habis mandi," ucap mama Sofia.
"Iya ma, Angga ke kamar dulu yah," ucap Angga beranjak dari duduknya sambil melihat sang mama.
"Iya sayang," ucap mama Sofia sambil mengangguk kepalanya.
Angga naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada.
Clekk...
Angga masuk ke dalam kamar dan langsung menghempaskan tubuh kekarnya di atas ranjang king size miliknya, Angga memijit-mijit keningnya yang dengan pelan.
Angga mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Reyhan, lalu Angga masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lama Angga keluar dengan handuk yang melilit di pinggang ramping nya, dan juga handuk kecil yang sedang mengeringkan rambutnya.
Angga mengambil ponselnya yang terus berdering, nama Ilham yang sedang tertera di layar ponsel.
Tampa menunggu lama Angga langsung menggeser tombol hijau, suara Ilham terdengar di seberang sana.
"Hallo Nga, loh udah nyampe rumah?" tanya Ilham dari seberang sana.
"Iya, ada apa Ham?" tanya Angga dengan sebelah tangannya masi memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basa.
"Temani gue yah malam ini, gue mau kasih kejutan baut Feli," ucap Ilham dari seberang sana dengan serius.
"Kejutan apa?" tanya Angga meletakan handuk kecil yang ia pegang ke atas ranjang.
"Gue pengen ngasi kejutan mau ngelamar Feli malam ini, loh bisa kan bantuin gue?" tanya Ilham dari balik telepon, berharap Angga mau membantunya.
"Oke nanti gue kirim lokasi nya," ucap Ilham.
Panggilan telpon pun terputus, Angga meletakan ponselnya di atas ranjang dan kembali melihat baju yang ada di dalam lemari.
Angga mengambil kaos puti dan celana Jean navy, Angga juga mengambil jaket kulit berwarna hitam dan meletakan di atas ranjang.
Ting...
Pesan masuk di ponsel Angga, dan itu adalah pesan dari Ilham yang mengirimkan lokasi di mana ia menyiapkan acara lamaran untuk Feli sang kekasih.
****
Senyum tak pernah pudar dari bibir Ilham, karena malam ini ia akan melamar Feli sang kekasih di salah satu restoran yang sudah ia siapkan.
"Nak, mau ke mana?" tanya mama Ilham yang melihat wajah senang sang pura.
"Ada urusan ma di luar," ucap Ilham sambil melihat penampilannya di depan cermin.
"Kok wajah kamu kaya senang gitu, ada apa sih, kamu sembunyikan sesuatu yah dari mama?" tanya mama Ilham menatap sang putra dengan curiga.
Ilham berbalik dan melihat sang mama sambil tersenyum bahagia, Ilham mendekati sang mama dan memeluknya dengan erat.
"Ma, malam ini Ilham mau ngelamar pacar Ilham," ucap Ilham masi dalam pelukan sang mama.
"Apa, kamu serius? Emang kamu punya pacar kok gak pernah di ajak ke rumah sih?" tanya mama Ilham melepaskan pelukan mereka dan menatap serius pada sang putra.
"Iya ma, Ilham serius bilang sama papa persiapkan diri buat ngelamar calon istri aku nanti yah," ucap Ilham mencium pipi sang mama.
__ADS_1
"Sayang kamu serius kan, kamu gak lagi ngerjain mama kan?" tanya mama Ilham masi belum percaya dengan apa yang di katakan oleh sang putra.
"Iya ma, Ilham serius," ucap Ilham meyakinkan sang mama dengan perkataannya barusan.
"Besok bawa calon mantu mama ke rumah, awas aja kalau kamu gak mau kenalin sama papa dan mama yah," ucap mama Ilham menatap sang putra.
"Iya ma, pasti itu," ucap Ilham memegang tangan sang mama.
Mama Ilham tersenyum melihat sang putra, sudah lama mama Ilham menanti sang putra agar mau membawa sang pacar ke rumah, tapi tak ada selama ini.
Nanti sekarang dan Ilham langsung mengatakan akan melamar pacarnya itu, membuat hati mama Ilham begitu senang mendengarnya.
****
Feli melihat penampilannya di depan cermin, Feli masi penasaran kenapa Ilham mengajaknya keluar malam ini dan berdandan cantik.
Di depan pintu rumah Feli, Ilham sedang mengetuk pintu dan di bukan okeh bibi.
"Eh den Ilham, ada apa yah den?" tanya bibi, karena bibi mengenali Ilham yang tak lain adalah tetangga sebelah.
"Feli nya ada bi?" tanya Ilham, membuat bibi bingung kenapa Ilham menanyakan anak majikannya itu.
"Ada den di kamar, mari masuk dulu den," ucap bibi dengan ramah mengajak Ilham masuk.
"Siapa bi?" tanya pak Serta dari dalam rumah.
"Hallo om," sapa Ilham dan langsung menyalami punggung tangan pak Surya.
"Eh calon mantu," ucap pak Surya tersenyum mengusap kepala Ilham.
Bibi kaget mendengar apa yang di katakan oleh majikannya barusan, berarti den Ilham adalah pacarnya non Feli pikir bibi.
Pak Surya mengajak Ilham duduk di ruang tamu, dan meminta bibi untuk membuatkan minum untuk calon mantu nya itu.
Tak berselang lama mama Feli datang dan melihat ada tamu pria yang sedang mengobrol bersama sang suami, mama Feli mengenali Ilham yang tak lain adalah tetangga sebelah rumah.
"Ma sini, kenalin nih calon mantu kita," ucap pak Surya dengan senang menatap sang istri yang baru datang.
"Hallo tante, saya Ilham," ucap Ilham juga menyalami punggung tangan mama Feli.
"Hay nak Ilham, pantes yah anak tante rajin pulang ke rumah," ucap mama Feli sambil tersenyum geli.
"Memangnya kenapa ma?" tanya pak Surya melihat sang istri yang duduk di dekatnya.
"Nak Ilham ini akan anak tetangga sebelah pa, anak nya bu Ana dan pak Sam," ucap mama Feli sambil tersenyum melihat sang suami.
"Maksud mama tetangga sebelah rumah kita ini?" tanya pak Surya yang masi belum percaya.
"Iya pa," ucap mama Feli mengangguk tanda mengiyakan.
"Kok papa baru tau yah, kalau nak Ilham ini anak nya pak Sam," ucap pak Surya masi kaget.
"Papa sih gak punya waktu di rumah, " ucap mama Feli merubah wajah menjadi kesal.
"Iya-iya papa minta maaf, tapi wajahnya jangan di gituin dong ma, malu sama calon mantu," bisik pak Surya di dekat telinga sang istri, takut Ilham dengar.
"Om, tante saya mau ijin mau mengajak Feli keluar malam ini," ucap Ilham dengan sopan melihat kedua krang tua Feli.
Mama Feli lalu memanggil bibi, untuk memanggil sang putri yang masi berada di kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Next...