
Keni yang sedang mengemudi mobil melihat kegelisahan Rara, Rara melihat ke arah Keni yang masi fokus menyetir.
"Ra, loh kenapa Ra?" tanya Keni.
"Ken ada mobil hitam yang lagi ngikutin kita," ucap Rara melihat ke arah belakang.
Keni melihat melalui kaca spion, benar saja mobil hitam itu terus mengikuti mereka sedari tadi.
"Siap-siap Ra kita ngebut," ucap Keni.
Dan benar saja Keni menambah kecepatan mobilnya, mobil hitam yang mengikuti Rara dan Keni pun juga mengejar mobil sport di depan sana.
Saat ini mereka masi berada di jalan sepi, jarang ada kendaraan lain yang melintas, bahkan tidak ada sama sekali.
"Siapa sih mereka, kurang kerjaan aja," ucap Keni yang masi melihat kaca spion.
"Ken, gue takut banget Ken, udah dari beberapa hari lalu mobil itu terus ngikutin aku Ken," ucap Rara.
"Loh punya musuh di sini Ra, tapi gak mungkin sih," ucap Ken melihat Rara.
"Gue sama sekali gak pernah buat masalah sama orang Ken," ucap Rara sudah mulai berkeringat dingin.
Rara masi sempatnya mengirim pesan pada sang kaka, tentang keberadaan ia dan Keni saat ini.
Mobil sport milik Keni melaju cepat di jalan yang sepi itu, daun-daun yang berada di jalan raya pun ikut terbang karena kecepatan mobil yang di kemudikan oleh Keni.
"Ken mereka semakin dekat Ken," ucap Rara.
"Tenang Ra, gue gak akan biarin mereka ngejar mobil kita," ucap Keni.
Mobil di belakang mencoba menyenggol mobil sport yang di naikin oleh Keni dan Rara, tapi gagal karena Keni selalu unggul di depan.
"Sial, jago banget sih tuh cewek bawa mobilnya," ucap pria yang ada di mobil hitam itu.
Keni terus melakukan mobilnya sambil melihat ke arah kaca spion, Keni tidak akan membiarkan mobil itu menghalangi mobil mereka.
****
Di apartemen Reyhan yang baru selesai olahraga melihat ponselnya ada banyak panggilan tak terjawab dari sang adik, Reyhan membuka pesan yang di kirim oleh sang adik.
"Astaga Rara dalam bahaya," ucap Reyhan dan langsung menyambar kunci mobil dan keluar dari unit apartemen.
Reyhan masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai bawa, Reyhan yang saat ini masi mengunakan baju olahraga pun sudah tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang berada di luar sana.
Reyhan masuk ke dalam mobil dan langsung menuju lokasi di mana Rara dan Keni saat ini beda, untung saja Rara mengirim pesan pada sang kaka.
Reyhan mencoba menelpon sang adik, dan sambungan telpon terhubung.
"Hallo dek, kamu baik-baik aja kan?" tanya Reyhan dengan suara kuatir.
"Hallo kak, kak tolongin aku sama Keni kak, mobil itu berusaha mengejar mobil kita kak," ucap Rara dari seberang telpon.
"Iya dek, ini kaka lagi menuju ke sana," ucap Reyhan.
__ADS_1
"Iya kak," ucap Rara lalu mematikan sambungan telponnya.
Reyhan menambah kecepatan laju mobilnya, Rey tidak mau sang adik kenapa-kenapa dan terluka.
****
Mobil hitam yang di belakang sedikit lagi akan menyamakan mobil sport milik Keni, tapi lagi-lagi Keni selalu bisa lebih di depan.
"Ayo ken cepat sedikit," ucap Rara.
Keni menambah kecepatan laju mobilnya dan bersamaan mobil box yang baru masuk jalan sepi itu.
"Ken awas ada mobil di depan," ucap Rara.
"Aaaakkkhhh..." teriak Rara dan Keni bersama, Keni membanting stir dan mobil masuk ke dalam hutan yang ada di pinggir jalan itu.
Untung saja Keni mengerem mendadak dan mobil mereka tidak menabrak batang pohon besar, Rara yang ketakutan masi memejamkan kedua matanya.
"Ra, loh gak papa kan," panggil Keni memegang pundak Rara.
"Gue gak papa kok Ken," ucap Rara pelan.
Keni masi ngos-ngosan melihat ke arah Rara, Keni melihat si pengendara mobil hitam itu turun dari dalam mobil, dan mendekati mobil Keni dan Rara.
Pria bertopi hitam dan memakai masker juga kacamata hitam, Keni dan Rara melihat pria itu yang mendekati mobil mereka.
"Hey buka pintunya, kalau gak gua pukul nih pake kayu," ucap pria bertopi itu.
"Ken gimana nih Ken, gue takut banget," ucap Rara.
"Buka pintunya wei," ucap Pria itu mencari sesuatu untuk bisa membuka pintu mobil itu.
Pria itu melihat batu yang sedang berada di batang pohon besar, pria itu mengambil batu itu dan akan menghancurkan kaca mobil Keni. Tapi tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang, sehingga membuat pria bertopi itu terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Kak Rey," ucap Rara dan Keni senang.
"Buka pintunya dek," ucap Reyhan mengetuk pintu mobil.
Rara dengan cepat keluar dari mobil dan langsung memeluk sang kaka dengan erat, Rara memeluk Reyhan sambil menangis.
"Maafkan kaka Dek," ucap Reyhan mengelus kepala sang adik.
"Aku takut kak," ucap Rara.
"Ada kaka di sini, jangan takut yah," ucap Rayhan.
"Ken, kamu gak papa kan?" tanya Reyhan.
"Aku gak papa kok kak," ucap Keni sambil tersenyum.
Reyhan melihat pria yang tak sadarkan diri itu, Reyhan membuka maskernya dan melihat wajah pria itu.
"Ini kan pria yang sering bersama laki-laki brengsek itu di hotel, kenapa dia ingin menyakiti Rara," ucap reyhan dama hati.
__ADS_1
"Kak ayo kita pergi dari sini," ucap Rara.
"Iya kak, sebelum pria ini bangun dan berbuat jahat lagi," ucap Keni melihat Reyhan.
"Iya, ayo kita pergi," ucap Reyhan.
Reyhan membuka kan pintu untuk Rara, dan Keni masuk pintu sebelah. Reyhan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Mobil Reyhan meninggalkan lokasi itu, sedangkan mobil Keni di bawa oleh orang bengkel karena mobil Keni mengalami lecet sedikit.
Reyhan masi memikirkan wajah pria bertopi itu, Reyhan yakin kalau semua ini pasti ada hubungannya dengan pria brengsek itu.
"Gue harus cari tau," ucap Reyhan dalam hati.
"Kak," panggil Rara.
"Iya dek," ucap Reyhan melihat ke arah spion depan.
"Nanti jangan bilang kak Angga yah, nanti kak Angga bisa kuatir," ucap Rara melihat sang kaka.
"Reyhan hanya menghela nafas nya dengan kasar, hal seperti ini tak bisa ia tutupi dari Angga, takut nanti Angga marah padanya kalau sampai tidak jujur.
Reyhan hanya tersenyum melihat sang adik, tanpa berkata apa-apa lagi, mobil terus melaju di jalan yang sedikit sepi itu. Reyhan akan mengantar Keni ke kediamannya, lalu ia dan sang adik pulang ke apartemen.
****
Di Indonesia, Angga yang mendengar musibah yang hampir membuat Rara celaka pun membuat Angga terlihat begitu kuatir sampai tak fokus bekerja.
Ilham yang sedang berada di meja sebelah Angga pun hanya menatap Angga dengan heran, karena tak biasanya Angga menjadi pendiam seperti itu.
"Loh kenapa sih?" tanya Ilham.
Angga melihat Ilham lalu kembali melihat berkas yang ada di atas meja, Ilham yang tak di hiraukan oleh Angga pun hanya memanyunkan bibirnya saja.
"Nga ada tamu di depan yang pengen ketemu loh," ucap salah satu anggota.
"Siapa?" tanya Angga.
"Itu cewek yang bisa kesini, rambut pendek," ucap anggota itu.
"Mungkin si Sasmita Nga, ayo kita liat," ucap Ilham ikut berdiri.
Angga dan Ilham berdiri dan pergi menemui Sasmita, dan benar saja Sasmita duduk di ruang tunggu yanga di depan.
"Ngapain loh datang ke sini lagi?" tanya Angga.
"Nga, ada yang mau gue omongin sama loh, tolong beri gue waktu Nga," ucap Sasmita.
"Udah cukup Sas, loh kita kasi kesempatan untuk berubah, karena kita masi punya rasa kasihan sama loh, dan jangan bikin kita marah dan gak bisa maafin loh," ucap Ilham melihat Sasmita dengan marah.
"Gue gak lagi ngomong sama loh Ham, gue lagi ngomong sama Angga," ucap Sasmita.
Ilham melihat Sasmita dengan marah, karena ulah wanita itu ia sampai membuat gadis yang ia cintai sakit, Angga berusaha untuk menenangkan Ilham yang sudah mulai emosi.
__ADS_1
Next...