
Reyhan mengetuk pintu kamar sang adik, saat ini hanya tinggal mereka berdua saja. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah kembali ke indonesia.
Clekk...
"Kak, ada apa?" tanya Rara.
"Temani kaka makan di luar yuk," ajak Reyhan.
Rara mengernyit kan keningnya melihat sang kaka, tak biasanya Reyhan mengajaknya seperti itu.
"Hey, dengar kaka gak sih, kok malah ngelamun sih?" tanya Reyhan.
"Eh, iya kak kalau gitu aku ganti baju dulu yah kak," ucap Rara.
"Iya, kaka tunggu di depan yah," ucap Reyhan.
"Iya kak," ucap Rara lalu kembali menutup pintu lagi.
Reyhan menunggu sang adik di ruang tamu, sambil menunggu Rara Reyhan sedang bertukar chet bersama dengan Angga sang sahabat.
"Kak, ayo aku udah siap," ucap Rara.
"Ayo," ajak Reyhan juga.
Kaka beradik itu keluar dari dalam unit apartemen yang mereka tinggalkan, Reyhan melihat unit sebelah yang pintunya sedikit terbuka.
"Lepas, tolong," Reyhan bisa mendengar teriakan dari dalam unit sebelah.
"Dek, tunggu itu kaya suara orang minta tolong," ucap Reyhan.
"Masa sih kak, kok aku gak dengar yah," ucap Rara saat ini mereka sedang berada di depan lift.
Tolong...
Teriak seorang wanita lagi, Reyhan melihat ke arah sang adik sambil mengangkat tangan.
"Tuh, kamu dengar kan dek," ucap Reyhan.
"Iya kak, suaranya asal dari unit itu, ayo kita liat kak," ucap Rara.
Reyhan dan Rara berjalan cepat ke arah unit sebelah, dan karena pintu nya terbuka Reyhan dan Rara bisa mendengar suara teriakan seorang wanita.
"Tolong lepaskan saya, tolong..." teriak wanita itu terus.
Reyhan dan Rara memaksa masuk dan melihat seorang wanita sudah setengah bajunya sobek, Reyhan langsung menarik seorang pria yang sedang menindih wanita itu.
Bukk...
Satu pukulan mendarat di pipi pria itu yang tak lain adalah Romeo, sedangkan seorang wanita ketakutan dan memeluk kedua lututnya di pojok tembok.
Bukk...
"Beraninya loh sama perempuan," ucap Reyhan lalu kembali meninju Romeo lagi.
"Kak, udah cukup kaka bisa berurusan sama hukum kak, udah yah," ucap Rara memegang tangan sang kaka yang akan meninju wajah Romeo lagi.
Romeo lalu berdiri dan kabur dengan cepat, melihat Reyhan yang sudah tidak memukulnya lagi. Reyhan mengepalkan tangannya melihat pria itu pergi keluar dari pintu.
Lalu Reyhan berbalik dan melihat kondisi wanita itu yang tak lain adalah Lishi, Lishi yang sudah setengah pakaian yang sobek itu hanya menunduk dan malu melihat Reyhan.
Reyhan mengeluarkan jaket nya yang ia pakai, dan hanya menyisakan kaos putih polos saja.
"Dek, kamu bantu dia dan bawa ke apartemen kita," ucap Reyhan memberikan jaketnya pada Rara.
"Iya kak," ucap Rara mengambil jaket yang di berikan oleh sang kaka.
"Kak, ayo aku bantu yah," ucap Rara.
Lishi melihat Rara dengan mata lebih air mata. Lishi memakai jaket yang di berikan oleh Reyhan tadi.
"Ayo ke apartemen kita di sebelah," ucap Rara mengajak Lishi.
Reyhan sudah keluar duluan dan masuk ke dalam unit apartemen mereka, meninggalkan Rara dan Lishi yang berjalan di belakang.
"Ayo kak pelan-pelan aja," ucap Rara.
Rara membawa Lishi masuk ke dalam unit apartemen mereka, Rara mendudukkan Lishi di ruang tamu dengan pelan.
Reyhan tidak ada, entah ke mana pria itu perginya. Rara juga ikut duduk di dekat Lishi yang masi menangis.
"Kak, udah gak usah takut lagi yah," ucap Rara mengelus lengan Lishi.
"Makasih yah, kalian udah mau nolongin aku, aku gak tau lagi kalau gak ada kalian," ucap Lishi.
"Iya kak sama-sama, udah jadi kewajiban kita kan saling menolong," ucap Rara sambil tersenyum.
"Iya kenalin nama aku Rara, nama kaka Siapa?" tanya Rara.
"Aku Lishi," ucap Lishi.
"Kak Lishi," ucap Rara sambil tersenyum.
"Kak Reyhan ke mana yah, kok gak ada sih," ucap Rara.
Lishi juga melihat ke segala arah, untuk melihat Reyhan yang sudah tidak terlihat lagi.
Sedangkan di dalam kamarnya, Reyhan sedang mengepalkan kedua tangannya dan sambil melihat ke luar jendela, Reyhan melihat bangunan-bangunan tinggi di luar sana.
__ADS_1
Entah kenapa Reyhan merana marah melihat Lishi di perlakukan seperti itu, oleh pria yang tak lain adalah pacarnya sendiri.
Tokk...
"Kak, kaka ada di dalam gak," ucap Rara dari balik pintu.
"Iya dek, bentar lagi kaka keluar," ucap Reyhan.
Setelah itu sudah tidak terdengar suara ketukan pintu lagi, Rara sudah kembali duduk di dekat Lishi.
Cleek...
Reyhan keluar dari dalam kamar dan langsung duduk di sofa yang ada di depan Rara dan Lishi. Reyhan menatap Lishi dengan tatapan tak biasa, membuat Lishi salah tingkah dan menunduk karena terus di tatap oleh Reyhan.
"Kak kita jadi makan di luar?" tanya Rara.
"Gak, kaka udah pesan online saja," ucap Reyhan dengan suara dingin.
"Oke, kak Lishi pake baju aku aja yah, kebetulan aku juga banyak baju baru yang belum kepake," ucap Rara.
"Apa gak papa?" tanya Lishi.
"Gak papa kak, santai saja ayo ikut aku ke kamar," ajak Rara menarik tangan Lishi.
Sedangkan Reyhan hanya diam saja, melihat Lishi dan Rara masuk ke dalam Rara.
"Ini kamar aku kak, ayo duduk," ajak Rara duduk di sofa.
"Kamu cuma tinggal berdua sama kaka kamu?" tanya Lishi.
"Iya kak, tapi kemarin sama papa dan mama, tapi mereka udah pulang lagi ke indo," ucap Rara membuka lemari baju.
"Ini kaka pilih aja, mau baju yang mana," ucap Rara mengeluarkan bajunya dan meletakan di atas ranjang.
"Makasih yah Ra," ucap Lishi.
"Iya kak sama-sama," ucap Rara.
Ting...
Ponsel milik Rara berbunyi, Rara mengambil ponselnya dan melihat pesan dari sang kaka.
"Kaka kenapa sih chet aku segala, kan aku di dalam kamar aja," ucap Rara dalam hati.
Rara melihat Lishi yang sudah berganti pakaian, Rara lalu mengajak Lishi keluar. Karena Reyhan sudah menunggu mereka di meja makan, rupanya makanan yang di pesan okeh Reyhan sudah datang.
Rara dan Lishi keluar dari kamar dan langsung pergi ke dapur, di mana ruang makan berada.
"Ayo kak," ajak Rara.
Lishi hanya mengangguk saja dan duduk di kursi yang ada di dekat Rara, Rara menawarkan banyak menu makanan untuk Lishi.
****
Sasmita terus saja mendatangi Angga ke kantor polisi, wanita itu sudah tak malu lagi menampakan wajahnya di sana.
Seperti saat ini, Sasmita baru saja tiba di kantor Polresta Kota. Sasmita melangkah masuk dan pergi ke ruangan Angga dan yang lain, karena sekarang ini memang jam makan siang.
Tokk...
Tokk...
"Permisi," ucap Sasmita dari depan pintu yang sudah terbuka.
Angga dan para anggota yang lain melihat ke adah pintu, di mana Sasmita sedang membawa kotak bekal makan siang untuk Angga.
"Wah ada tamu," ucap Ilham sambil tersenyum geli.
Angga hanya menatap Ilham dengan kesal, Ilham selalu saja menjahili nya saat-saat seperti ini.
"Kita duluan yah ke kantin," ucap salah satu anggota menepuk pundak Ilham.
"Yoi, nanti gue sama Angga nyusul yah," ucap Ilham.
Kalau sedang bukan jam kerja mereka memang seperti itu, kedua sahabat Angga dan Ilham sudah keluar dari ruangan itu, hanya tersisa Sasmita, Ilham dan Angga.
"Nga gue bawain kamu makan siang, ini makanan kesukaan kamu loh, dan aku masak sendiri," ucap Sasmita meletakan kotak bekalnya di at meja kerja Angga.
"Kenapa loh nganterin makan siang ke gue, seharusnya buat suami loh dong," ucap Angga.
"Nga, udah berapa kali gue bilang, gue sama suami gue udah mau pisah," ucap Sasmita.
"Terus, kenapa sekarang loh jadi deketin gue?" tanya Angga melihat Sasmita.
"Nga, gue tau gue salah, tapi tolong kasih gue kesempatan buat deketin loh lagi," ucap Sasmita memegang tangan Angga.
Tapi dengan cepat di tepis oleh Angga, Angga tidak mau di sentuh oleh wanita lain, karena di hati Angga cuma ada Rara seorang.
"Tolong jaga batasan loh, gue udah punya calon istri," ucap Angga pergi dari hadapan Sasmita.
Ilham yang berada di dekat mereka hanya diam saja, lalu Ilham mengejar Angga yang sudah keluar dari ruangan mereka.
Sasmita melihat kepergian Angga dan juga Ilham, Sasmita menahan air mata yang akan segera turun dari kedua matanya.
"Gue gak akan biarin siapapun dekat sama loh Nga, gak akan," ucap Sasmita dalam hati sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Sasmita Lalau keluar dari ruangan itu dengan cepat, ada beberapa polwan yang melihat Sasmita dengan heran, karena kedua mata Sasmita yang sebab.
__ADS_1
Angga dan Ilham tiba di kantin dan bergabung bersama anggota yang lain, salah satu anggota bertanya pada Angga soal wanita tadi.
"Angga, siapa cewek tadi?" tanya teman Angga.
"Teman lama," ucap Angga cuek.
"Udah gak usah di tanya lagi, pak Angga lagi kesal," ucap Ilham berbisik.
Angga meminta Ilham untuk memesan makan siang untuk mereka, tapi Angga sambil bertukar pesan dengan sang kekasih.
"Hari ini wanita itu datang lagi, dan membuat kaka gak mood," isi pesan Angga.
Ting...
"Jangan terlalu dekat dengan mantan, takutnya CLBK lagi," isi balasan pesan Rara.
"Gak sayang, di hati ini cuma ada kamu saja, gimana kuliah hari ini?" isi pesan Angga.
"Baik kak, kalau kerjaan kaka gimana?" isi pesan Rara.
"Baik juga sayangku," isi pesan Angga dengan emot cium.
Rara membalas dengan emot hati dan cium banyak banget, membaut Angga tersenyum sendiri melihat emot yang di krim oleh Rara.
"Nga, kok loh senyum-senyum sendiri sih," tanya Ilham.
"Gak kok, cuma lagi baca pesan aja," ucap Angga.
"Pasti pesan dari Rara yah?" tanya Ilham.
"Iya, siapa lagi yang bisa bikin gue senyum-senyum sendiri," ucap Angga melihat Ilham sambil tertawa.
Pesanan Angga dan Ilham datang, kedua nya langsung menyantap makanan siang mereka, karena jam satu nanti Angga harus pergi ke kantor sang papa.
****
Papa Andi dan sang Asisten baru saja tiba di kantor Wilantara, kedatangan papa Andi langsung di sambut dengan baik oleh papa Lukman.
"Hay pak Lukman, apa kabar?" tanya papa Andi memeluk sahabat sekaligus rekan bisnis nya itu.
"Baik-baik pak Andi, wah kapan kembali dari Itali?" tanya papa Lukman.
"Minggu lalu pak," ucap papa Andi.
"Silahkan duduk pak Andi," ucap papa Lukman.
Papa Andi dan sang asisten pun duduk di sofa yang ada di ruangan papa Lukman, keduanya mengobrol dengan akrab soal pekerjaan dan juga masalah bisnis.
"Nanti Angga akan datang ke sini pak," ucap papa Lukman.
"Angga hebat pak Lukman, bisa membagi waktu dengan perusahaan juga, padahal dia kan seorang anggota polisi," ucap papa Andi sambil tersenyum.
"Yah mau gimana lagi pak Andi, putra saya pengennya masuk polisi sejak remaja," ucap papa Lukman sambil tersenyum juga.
"Gak papa pak Lukman, mungkin Angga menyukai profesinya sebagai polisi," ucap papa Andi.
"Yah bisa di bilang begitu pak," ucap papa Lukman.
Obrolan kedua pria paru baya itu terlihat begitu asik, apa lagi nanti mereka akan menjadi besan. Bisa di bilang sekarang ini mereka adalah calon besan.
****
Italia...
Reyhan baru saja keluar dari kamar, dan melihat Lishi yang sedang melihat foto keluarga Johan.
Saat ini di apartemen hanya Reyhan dan Lishi saja, karena Rara sedang keluar sebentar bersama dengan Keni.
Lishi melihat Reyhan dengan salah tingkah, apa lagi saat ini hanya mereka berdua di sana.
"Siapa pria yang kemarin?" tanya Reyhan membuka suara.
"Dia Romeo, pacar ku," ucap Liahi.
"Udah berani melecehkan kamu. Kamu masi bilang pacar kamu?" tanya Reyhan.
Liahi hanya menunduk, karena Reyhan menatap nya tak biasa, apa lagi saat ini hanya mereka berdua saja di apartemen.
Drett...
Ponsel milik Lishi berdering, dan itu adalah panggilan dari Romeo. Lishi engan mengangkatnya karena ia masi takut dengan kejadian kemarin.
"Kenapa gak di angkat?" tanya Ilham.
"Gak itu telpon dari Romeo," ucap Lishi.
"Loh datang ke sini cuma mau ketemu sama pacar loh itu?" tanya Reyhan.
"Iya," ucap Lishi.
"Gue sering lagi cowok loh di hotel xx sama cewek-cewek bule, gue gak mau mikirin di ngapain tapi itu yang gue liat," ucap Reyhan.
Dan berhasil membuat Liahi melihat ke arah Reyhan, keduanya saling tatap cukup lama. Lishi kaget mendengar apa yang di katakan oleh Reyhan barusan.
"Kalau loh gak percaya, entar malam loh ikut gue ke hotel xx, dan liat kelakuan cowok loh itu," ucap Reyhan lagi.
"Apa benar kamu seperti itu Romeo, tapi melihat kelakuan kamu kemarin yang mencoba memaksa aku, aku mulai sadar dengan sifat kamu," ucap Lishi dalam hati.
__ADS_1
Next...