
Mama Lara dan juga Rara saat ini sudah berada di dalam mobil, tujuan kedua nya saat ini adalah pusat perbelanjaan.
"Ma, mama udah nelpon papa belum kalau kita mau jalan?" Tanya Rara melihat sang mama.
"Gak sayang, nanti papa kamu banyak ngatur, gak boleh ini lah, gak boleh itu lah, kamu tau lah papa kamu," ucap mam Lara.
"Nanti mama di bilang istri durhaka loh," ucap Rara melirik sang mama.
"Mana ada istri durhaka sayang, yang ada anak durhaka setau mama," ucap mama Lara.
Mobil terus membelah jalan ibu kota Jakarta, pak sopir yang sedang mengemudi mobil hanya menjadi pendengar setia anak dan ibu saja.
Mobil yang di naikin oleh mama Lara dan juga Rara berhenti tepat di depan pintu mall. Rara dan mama Lara langsung saja turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan sambil bergandengan tangan.
Mama Lara dan juga Rara naik ke lantai paling atas, untuk mencari-cari keperluan mereka.
"Sayang masuk situ yuk," ucap mama Lara menunjuk tokoh tas branded langganannya.
"Ayo ma," ucap Rara juga.
Keduanya pun masuk ke dalam tokoh itu, macam-macam tas tertata dengan rapi di atas kaca-kaca tebal.
"Mama pasti udah lama kan gak masuk ke sini?" Tanya Rara melirik sang mama yang sedang fokus melihat-lihat tas.
"Iya, habis papa kamu gak izinin mama kelaur belanja sih," ucap mama Lara mengingat kelakuan suaminya yang selalu banyak alasan.
"Gimana mau di izinin mama kan kalau belanja suka lupa waktu," ucap Rara mencibir.
"Yah namanya juga belanja sayang, pasti lama lah. Papa kamu aja tuh yang cemburuan," ucap mama Lara.
"Mbak, liat yang itu dong marnah maroon," ucap mama Lara menunjuk salah satu tas di balik kaca.
"Baik bu, sebentar yah saya ambilkan duku," ucap pelayan tokoh dengan ramah.
Rara Masi melihat-lihat tas yang lain, belum ada yang memikat hatinya saat ini, semua tas yang ada di situ biasa-biasa saja.
"Ini Bu tasnya," ucap pelayan tokoh memberikan tas itu pada mama Lara.
"Makasih yah," ucap mama Lara.
"Sayang yang ini bagus gak, mama suka sama modelnya," ucap mama Lara memanggil putrinya yang agak jauh darinya.
"Mana ma?" Tanya Rara mendekat ke arah sang mama.
"Ini, bagus gak?" Tanya mama Lara.
"Bagus sih, mama mau yang ini?" Tanya Rara.
"Iya, mama mau yang ini aja, kamu udah nemu gak tasnya?" Tanya mama Lara.
"Gak ma, Rara gak suka sama modelnya, lagian Rara juga punya tas branded lain kan di rumah," ucap Rara.
"Jadi gak beli nih, cuma mama aja," ucap mama Lara.
"Iya ma, ayo kita bayar terus lanjut jalan-jalan lagi," ucap Rara mengajak sang mama menuju kasir.
Mama Lara memberikan tasnya pada penjaga kasir, lalu mama Lara mengeluarkan dompet dan mengambil kartu berwarna hitam.
"Total harganya 26.500.000 Bu," ucap penjaga kasir.
"Ini," ucap mama Lara memberikan kartu itu.
Karyawan tokoh pun menggesek kartu itu, dan belanja pun lunas, mama Lara dan Rara lalu kelaur dari tokoh tas branded itu.
Keduanya kembali melanjutkan jalan-jalan mereka, Masi banyak tokoh yang harus mereka masuki sekarang.
Di lain tempat, tepatnya di Johan Group. Papa Andi sedang mengobrol bersama sang putra, tiba-tiba ponsel milik papa Andi bergetar.
"Pesan dari siapa sih," ucap papa Andi.
"Siapa pa?" Tanya Reyhan melihat sang papa.
"Gak tau nak, papa liat dulu," ucap papa Andi membuka ponselnya dan melihat isi pesan.
Pemberitahuan uang keluar dari kartu xxx senilai sekian, papa Andi diam tak berkedip melihat isi pesan yang baru saja masuk itu.
"Ada apa pa?" Tanya Reyhan lagi.
"Mama kamu sama adik kamu, menghamburkan uang di mall," ucap papa Andi lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Reyhan tersenyum melihat sang papa, mulai lagi deh kelakuan mama dan adiknya itu buang-buang duit di mall.
Rara dan mama Lara kembali berkeliling di mall yang besar itu, tas belanjaan sudah banyak berada di tangan mereka, tapi mereka belum juga berhenti berbelanja. Bahkan sekarang uang yang mereka habiskan sudah hampir 100 juta.
"Ma, udah cukup yah, nanti kita bisa kena hukum nih sama papa," ucap Rara melihat sang mama.
"Gak bakalan, papa kamu tuh takut sama mama," ucap mama Lara.
Rara menghela nafas nya pelan, kalau sudah berkata seperti itu, nyonya Johan lah yang berkuasa sekarang.
"Ayo kita cari makan dulu, mama udah laper nih," ucap mama Lara mengajak putrinya masuk ke salah satu restoran.
__ADS_1
"Ayo ma, makan di situ aja yah," ucap Rara menunjuk restoran paforit nya dulu saat masih sekolah.
Mama Lara dan Rara masuk ke dalam restoran itu, Rara meletakan semua belanjaannya di atas kursi kosong. Mama Lara memangil pelayan yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Mbak pesan, spaghetti dua sama minumnya lemon teh yah," ucap mama Lara.
"Baik bu, tunggu sebentar yah," ucap pelayan itu setelah mencatat menu pesanan mama Lara.
"Ma, kak Reyhan ngecat aku," ucap Rara melihat sang mama.
"Bilang apa Kaka kamu?" Tanya mama Lara.
"Katanya Kaka kita lagi di tungguin papa depan pintu utama," ucap Rara melihat sang mama lagi.
"Aduh papa marah ma," ucap Rara lagi melihat sang mama setelah membaca pesanan dari sang Kaka.
"Gak papa, biar nanti jadi urusan mama," ucap mama Lara.
Rara meletakan ponselnya di atas meja, lalu Rara melihat ke penjuru restoran yang lumayan ramai, Rara ingat tempat yang selalu menjadi favorit ia dan kedua sahabatnya.
****
Pikk...
Pikk...
Reyhan melihat ke arah mobil yang baru saja terparkir, seorang pria turun sambil membawakan sesuatu.
"Bawa apa loh?" Tanya Reyhan melihat ke arah pria yang baru sampai itu.
"Kue buat calon istri gue," ucap pria itu yang tidak lain adalah Angga.
Angga meletakan kuenya di atas meja, saat ini Reyhan sedang duduk di teras utama, sambil menunggu mama Lara dan sang adik.
Reyhan membuka kue nya dan mengambil satu, memasukan ke dalam mulut dan mengunyah nya.
"Duduk dulu, kita tunggu calon istri loh belum pulang," ucap Reyhan melihat Angga.
"Ngemall dari tadi sore belum pulang juga?" Tanya Angga duduk di kursi yang ada di Reyhan.
"Iya, tapi bentar lagi pulang kok, lagi makan katanya tadi," ucap Reyhan kembali memakan kuenya.
"Eh ngomong-ngomong kuenya enak, nyokap loh yang bikin?" Tanya Reyhan melihat sang sahabat.
"Iya, jangan di habisin itu buat Rara," ucap Angga memperingati sang sahabat.
"Masi banyak kok tuh, gue makan dua lagi deh gak bakalan habis," ucap Reyhan mengambil dua potong keu lagi dari dalam kotak.
"Nga, kita masuk yuk ngobrol di dalam," ucap Reyhan berdiri dari duduknya.
Angga mengikuti Reyhan masuk ke dalam, sambil membawa kue yang ia bawa.
"Om Andi ke mana Rey?" Tanya Angga.
"Lagi di ruang kerja, ayo kita ke kamar gue aja yah," ucap Reyhan.
Angga memberikan kuenya pada bibi, lalu kedua pria itu naik ke lantai dua di mana kamar Reyhan berada.
Clekk...
Reyhan dan Angga masuk ke dalam kamar Reyhan, Angga langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king size milik Reyhan.
"Loh udah mulai kerja Rey?" Tanya Angga berbaring melihat Reyhan.
"Iya, gue udah mulai mimpin perusahaan tadi," ucap Reyhan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.
"Gimana, betah gak?" Tanya Angga.
"Lumayan, baru kerja aja udah bikin gue senang," ucap Reyhan mengingat pertemuannya dan Lishi tadi di kantor.
"Ada apa nih, tumben," ucap Angga menatap Reyhan dengan curiga.
"Gue lagi senang sekarang," ucap Reyhan sambil terkekeh geli.
"Cewek mana nih yang bikin Reyhan Johan bisa senyum-senyum sendiri," ucap Angga bangun dari baringnya.
"Ada deh, nanti loh juga tau," ucap Reyhan.
"Cih, gitu aja main rahasiaan sama gue," ucap Angga dengan kesal.
"Hehehe, sabar gini-gini gue Kaka ipar loh," ucap Reyhan.
"Nga diam, itu kayaknya mobil nya mama sama Rara," ucap Reyhan mendengar deru mobil.
"Kalau gitu gue kelaur dulu, mau liat Rara," ucap Angga beranjak dari ranjang.
"Tungguin gue," ucap Reyhan yang juga ikut keluar dari kamar.
Kedua pria itu turun ke lantai bawa, dan benar saja Rara dan mama Lara masuk sambil membawa banyak barang belanjaan mereka hari ini. Angga dan Reyhan berhenti di tengah tangga melihat ke lantai bawa, kemudian Reyhan melihat ke arah sang sahabat.
"Liat tuh adik gue kalau belanja, suka lupa diri loh yakin mau nikahin dia?" Tanya Reyhan melihat Angga.
__ADS_1
"Gue tuh cinta sama dia, gak perduli sama dia mau belanja sebanyak apa, nanti kan gue kerja juga buat dia," ucap Angga sambil tersenyum sinis ke arah sahabatnya itu.
"Gaya loh," ucap Reyhan lalu mereka lanjut menuruni anak tangga.
"Baru pulang ma, dek?" Tanya Reyhan setelah tiba di lantai bawa.
"Kak Angga, Kaka di sini kok gak bilang sama aku sih," ucap Rara langsung mendekati Angga.
"Di tanyain malah deketin Angga," ucap Reyhan sambil menggeleng kepala.
"Tadinya mau kasih kejutan, eh malah belum peluang," ucap Angga.
"Maaf kejebak macet di jalan tadi, coba tanya mama deh kalau gak percaya," ucap Rara menunjuk ke arah sang mama.
"Gak papa, aku percaya kok sama calon istri aku," ucap Angga mencubit kedua pipi Rara dengan gemes.
"Sayang papa mana?" Tanya mama Lara pada Reyhan.
"Papa lagi di ruang kerja, ngambek karena mama ngabisin uang banyak hari ini," ucap Reyhan.
"Ngambek, tumben biasnya papa kau gak gitu kok, mama liat papa dulu deh," ucap mama Lara pergi ke ruangan kerja sang suami.
"Sayang, aku bawain kue tadi," ucap Angga.
"Kue, mana kuenya kak?" Tanya Rara dengan senang.
"Ada sama bibi di dapur," ucap Angga.
"Kalau gitu aku ganti baju dulu yah kak, tunggu bentar aja," ucap Rara memegang kedua tangan Angga.
"Iya," ucap Angga mengusap kepala Rara.
"Alai loh berdua," ucap Reyhan duduk di sofa.
Angga juga ikut duduk di sofa yang tak jauh dari Reyhan, sambil menunggu Rara turun kedua pria itu mengobrol soal aktivitas hari ini.
****
Lishi tersenyum melihat jaket yang ada di tangannya sekarang, jaket milik pria yang bari ini tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa sengaja.
Clekk...
"Mami," panggil Akas yang baru saja masuk ke dalam kamar sang mami.
Akas melihat sang mami yang sedang tersenyum sambil memegang jaket, Akas menggeleng kepala melihat tingkah orang dewasa itu.
"Mami lagi mikirin apa sih, kok senyum-senyum sendiri," ucap Akas Masi melihat sang mami.
"Dasar orang dewasa, suka aneh," ucap Akas lagi.
"Mi, mami," panggil Akas lagi.
"Yah malah gak dengar di panggil-panggil," ucap Akas lagi.
Akas naik ke atas rajang, lalu mengambil jaket yang sedang berada di tangan maminya itu, membuat Lishi kaget dengan apa yang di lakukan oleh Akas.
"Sayang kamu ngagetin mami aja deh," ucap Lishi melihat Akas yang sedang melihatnya.
"Habis nya mami sih, aku panggil-panggil cuma bengong aja," ucap Akas dengan wajah cemberut.
Lishi tersenyum melihat wajah lucu Akas, dengan rambut kribo membuat Akas bak boneka kecil yang begitu lucu.
"Ada apa Akas ke kamar mami?" Tanya Lishi mengatur rambut Akas yang sudah menutupi bagian jidatnya.
"Aku pengen makan telur dadar buatan mami," ucap Akas dengan bibir manyun.
"Duh lucu banget sih ponakan Tante," ucap Lishi mencubit pipi Akas dengan gemes.
"Ayo kita ke dapur, kita bikin telur dadar kesukaan Akas," ajak Lishi pada bocah kecil itu.
"Ayo," ucap Akas turun dari ranjang bersama sang mami.
"Mi, mami lagi mikirin siapa sih, kok dari tadi aku panggil-panggil gak dengar?" Tanya Akas, saat ini ia dan Lishi sedang menuruni anak tangga menuju lantai bawa.
"Gak, mami gak mikirin apa-apa kok, kamu ini sok tau deh," ucap Lishi mencubit pipi Akas.
"Orang dewasa suka sekali boongin anak kecil," ucap Akas dengan kesal.
"Siapa yang boongin kamu sih sayang, udah ayo kita bikin telur dadar kesukaan kamu," ucap Lishi membujuk ponakannya itu.
"Nah, Akas duduk di sini yah, mami mau buat telur nya dulu oke," ucap Lishi mendudukkan Akas di kursi meja makan.
"Bocah kecil itu duduk sambil melihat sang mami yang sibuk dengan telur yang ia ambil dari kulkas, Akas mengunakan kedua tangannya di letakan di dagu, sambil melihat sang mami.
"Duh perut aku udah bunyi lagi, mana telur nya belum masak," ucap Akas dalam hati.
"Sabar yah, telurnya Masi di baut mami," ucap Akas berbicara dengan perutnya.
Membuat Lishi melihat ke arah Akas yang sedang duduk di kursi meja makan, bocah kecil itu sambil berbicara dengan perutnya yang sudah keroncongan.
Padahal Akas baru saja selesai makan, tapi bocah kecil itu tidak puas kalau belum mencoba telur dadar buatan sang mami.
__ADS_1
Next...