Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Lishi Ke Kantor Reyhan


__ADS_3

"Wih yang senyum-senyum sendiri, ada apa nih?" Tanya Ilham duduk di kursi depan Angga.


"Han, gue semalam habis ngelamar Rara," ucap Angga tersenyum senang.


"Jadi udah lamaran nih, tinggal nunggu nikah dong," ucap Ilham mengambil sepotong kue yang ada di atas meja kerja Angga.


"Iya," ucap Angga.


"Gue ikut senang bro," ucap Ilaham kembali mengambil sepotong kue lagi.


"Jangan di habisin, itu kue pemberian calon istri gue," ucap Angga menatap Ilham dengan tajam.


"Yah elah, baru dia doang juga, jangan pelit-pelit sama sahabat sendiri bro," ucap Ilham sambil mengunyah kue.


"Bukan pelit, tapi loh udah makan banyak," ucap Angga.


"Ck, nambah satu lagi yah," ucap Ilham.


"Emang loh gak makan dari rumah?" Tanya Angga.


"Makan lah, masa gak ada istri yang masakin," ucap Ilham.


"Eh Nga, loh serius mau ngundurin diri?" Tanya Ilham dengan serius melihat sahabatnya itu.


"Iya, gue gak bisa menekuni dua profesi Ham, apa lagi tangung jawab di kantor juga begitu besar," ucap Angga.


"Gue kayaknya juga, perusahaan istri gue gak ada yang mimpin sekarang, cuma orang kepercayaan saja," ucap Ilham.


"Loh mau ngundurin diri juga?" Tanya Angga.


"Iya gue udah ngomongin ini sama Feli," ucap Ilham.


"Dari abdi negara beralih profesi sebagai CEO," ucap Angga melihat sahabatnya itu.


"Iya keren juga," ucap Ilham.


Angga dan Ilham sudah memutuskan untuk mengundurkan diri, dari pekerjaan yang sekarang yah itu sebagai polisi.


****


Karyawan butik sedang mengetuk pintu ruangan kerja Rara, setelah mendapat sahutan dari dalam ia pun mendorong pintu itu.


"Permisi Bu Rara, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bu Rara," ucap karyawan butik.


"Oh, iya tolong bilangin saya akan segera menemuinya," ucap Rara sambil tersenyum.


"Baik Bu Rara," ucap karyawan butik itu, lalu kembali menutup pintu ruangan kerja Rara.


Rara berdiri dari duduknya, lalu berjalan keluar dari ruangannya. Rara melihat seorang wanita yang tak asing baginya.

__ADS_1


"Keni," panggil Rara.


Wanita yang di panggil itu berbalik belakang dan tersenyum senang melihat sahabatnya itu. Dengan cepat wanita itu berlari dan memeluk Rara.


"Ra, gue kangen banget sama loh," ucap Keni memeluk Rara dengan erat.


"Sama Ken, gue juga kangen banget," ucap Rara dengan tak kalah senangnya.


"Gue punya kabar bagus buat loh," ucap Ken melepaskan pelukannya dari Rara.


"Apa, loh udah mau nikah yah?" Tanya Rara sambil tersenyum geli.


"Bukan, loh sembarangan aja kalau ngomong, gue udah mau netap di sini," ucap Keni.


"Loh serius, emm kita harus nongkrong nih sepuasnya," ucap Rara.


"Iya, nanti loh kabarin aja kapan waktunya," ucap Keni saat ini kedua wanita itu sudah duduk di sofa.


"Oke pasti," ucap Rara.


Beberapa karyawan butik melihat Rara yang sedang mengobrol dengan sahabatnya itu, ada beberapa yang menebar senyum juga melihat keduanya.


****


Lishi kelaur dari lift dan berjalan menuju ruangan kerja Reyhan. Saat ini Lishi sedang berada di kantor Johan Group, ada pekerjaan penting yang harus ia bahas dengan Reyhan.


Tokkk...


Tidak ada sahutan dari dalam, Lishi mengetuk pintu lagi tapi lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam. Dengan kesal Lishi membuka pintu dan mendorong nya.


Clekk...


Lishi melihat Reyhan sedang mengobrol bersama seorang wanita cantik, dan wajah keduanya terlihat begitu dekat.


Reyhan dan wanita itu melihat ke arah pintu, di mana Lishi berdiri sekarang.


"Maaf, saya tidak bermaksud untuk menganggu, saya permisi dulu," ucap Lishi bersiap akan keluar. Tapi perkataan Reyhan menghentikan langkahnya.


"Masuk," ucap Reyhan.


Lishi berbalik dan tersenyum kecut, menahan rasa sesak yang tiba-tiba ia rasakan saat melihat Reyhan bersama wanita lain.


"Kamu boleh pergi," ucap Reyhan dingin pada wanita yang duduk di dekatnya.


"Oke," ucap wanita itu dengan senyum menggoda.


Wanita itu keluar dan melewati Lishi sambil tersenyum, Lishi Masi berdiri di depan pintu.


"Mau masuk atau tetap berdiri di situ," ucap Reyhan membuat lamunan Lishi buyar.

__ADS_1


Lishi berjalan mendekati salah satu sofa, lalu duduk di sana. Reyhan melihat Lishi yang seolah enggan melihat wajahnya.


"Kedatangan saya kesini ingin membicarakan pekerjaan yang di kirim oleh pak Rendi melalui email tadi pagi," ucap Lishi.


"Yah, silahkan," ucap Reyhan sambil melihat Lishi.


"Lishi menghela nafas pelan, lalu mulai membahas pekerjaan. Reyhan mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Lishi.


"Kalau kau kerja, siapa yang menjaga bayi mu?" Tanya Reyhan tiba-tiba.


Lishi melihat Reyhan, pertanyaan Reyhan barusan membuat konsentrasi Lishi hilang.


"Kalau saya berkata tidak punya anak, apa kamu akan percaya?" Tanya Lishi dengan tatapan tajam dan serius.


Reyhan melihat tatapan itu, tapi dengan cepat Reyhan tersenyum membuat Lishi mengernyit keningnya heran melihat Reyhan.


"Kau sangat lucu, ibu macam apa kau tidak mau mengakui anak-anak mu," ucap Reyhan.


"Berbicara denganmu tidak ada gunanya, nanti kita bicarakan lagi pekerjaan ini, saya permisi dulu," ucap Lishi bersiap beranjak pergi, tapi tangannya langsung di cekal oleh Reyhan.


Deng...


Lishi kehilangan keseimbangan karena tangannya di tarik oleh Reyhan, dan Lishi jatuh tepat dia tas pangkuannya.


Keduanya saling tatap cukup lama, tatapan yang begitu sulit di artikan.


"Tidak baik istri orang duduk di pangkuan pria lain," ucap Lishi membuat lamunan Reyhan buyar dan dengan cepat melepaskan pelukannya dari pinggang Lishi.


Reyhan salah tingkah dengan kejadian barusan, Lishi kembali berdiri dan keluar dari dalam ruangan kerja Reyhan dengan menahan malu karena kejadian barusan.


Reyhan melihat pintu ruangannya yang baru saja tertutup itu, Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar. Berdekatan dengan Lishi selalu membuat hati Reyhan berdebar.


"Sadar Rey, dia udah jadi istri orang sekarang. Dan udah punya anak juga," ucap Reyhan dalam hati dan melihat ponsel Lishi yang ketinggalan di atas meja kaca.


Reyhan mengambil benda segi empat itu, lalu menekan tombol samping. Reyhan mengernyit heran melihat wallpaper nya, Lishi begitu cantik berpose dengan mengunakan jaket hitam milik Reyhan dan Reyhan tau betul kalau itu di bandara Italia.


Reyhan melihat ke arah pintu, dan mengingat perkataan Lishi tadi.


"Apa maksud dari perkataannya tadi," ucap Reyhan seorang diri.


Ponsel di tangan Reyhan bergetar dan nama Kaka tertera di layar ponsel.


Reyhan menggeser tombol hijau dan suara seorang pria terdengar Daris sebarang sana.


"Dek, apa kau sudah bertemu dengan Pak Reyhan, maaf hari ini Kaka tidak datang ke kantor, ponakan mu sedang rewel, biar nanti Kaka yang jemput Akas," ucap suara dari balik telpon.


Reyhan diam terpaku, masih mendengar suara di balik telpon. Reyhan kenal betul suara siapa itu.


Next...

__ADS_1


__ADS_2