
Angga memberikan selamat pada Ilham dan Feli yang baru saja selesai melaksanakan Nikah Dinas, Ilham dan Feli membalas uluran tangan sang sahabat sambil tersenyum.
"Selamat untuk kalian, semoga jadi keluarga bahagia," ucap Angga menatap kedua sahabatnya itu.
"Makasih bro, makasih Nga," ucap Ilham dan Feli bergantian.
"Semoga cepat nyusul yah," ucap Angga memeluk sang sahabat sambil menepuk-menepuk pundak Angga.
"Iya pasti itu," ucap Angga melepaskan pelukan dengan sang sahabat.
"Kalau gitu kita duluan yah," ucap Ilham karena harus kembali bersama Feli, masi banyak urusan untuk acara pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari lagi.
Angga melihat punggung Ilham dan Feli yang mulai menjauh itu, Angga turut bahagia untuk sang sahabat yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami.
Angga berjalan masuk ke dalam ruangan kerja, di mana anggota-anggota yang lain sedang berada di ruangan itu juga.
"Nga, Ilham udah balik?" tanya salah satu anggota yang tak lain adalah sahabatnya.
"Iya baru aja, kenapa memangnya?" tanya Angga menatap sahabatnya itu.
"Gak, ada yang pengen gue tanyain aja sama dia, tapi nanti gue hubungin dia lewat telpon aja," ucap sahabat mereka itu.
Angga hanya mengangguk saja, lalu duduk di kursi kerja nya. Dan mengerjakan laporan yang ada di lap top yang ada di depannya.
****
Italia....
Semenjak kejadian tempo hari, sekarang sudah tidak ada lagi yang menganggu Rara. Rara sudah bisa pergi ke kampus bersama sahabatnya lagi, tapi Reyhan masi terus menjaga sang adik.
Reyhan tidak tau dengan keadaan Romeo, entah masi hidup apakah sudah tiada, tapi Reyhan sangat bersyukur karena sekarang sudah tidak ada lagi bahaya yang mengejar adiknya itu.
Reyhan termenung di salah satu kafe yang biasa iya jadikan tempat bersantai, Reyhan melihat keluar jendela di mana kendaraan yang berlalu lalang begitu padat.
Reyhan melihat ke arah kursi yang dulu pernah di duduki oleh seorang gadis, gadis yang saat ini selalu menganggu pikirannya.
__ADS_1
Diam-diam ternyata Reyhan terus memikirkan Lishi, gadis yang kemarin di tolong olehnya dan sang adik.
"Hay bro, bengong aja lagi mikirin apa sih?" tanya salah satu sahabat Reyhan yang baru saja tiba, rupanya mereka sedang janjian bertemu di kafe itu.
"Emangnya gue keliatan lagi bengong yah?" tanya Reyhan sambil menyeruput kopi kesukaannya itu.
"Iya lah, loh kaya lagi ngelamun mikirin cewek tau gak," ucap sahabat Reyhan sambil terkekeh geli melihat Reyhan.
"Perasaan loh aja kali, gue gak lagi mikirin apa-apa kok," ucap Reyhan mengelak sambil meletakan gelas kopinya di atas meja.
"Mbak," panggil sahabat Reyhan pada pelayan yang baru saja mengantar pesanan di meja lain.
Pelayan itu mendekat dan tersenyum ramah pada Reyhan dan sahabatnya itu.
"Mau lesan apa mas?" tanya pelayan itu.
"Saya pesan capuccino yah," ucap sahabat Reyhan, dan pelayan mencatat nya di buku yang sudah mereka siapkan.
"Ada lagi mas?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Baik mas, di tunggu sebentar yah," ucap pelayan itu membungkuk dengan hormat, lalu pergi dari hadapan Reyhan dan sang sahabat.
"Tumben yang lain gak ikut, pada kemana?" tanya Reyhan melihat sang sahabat.
"Lagi sibuk katanya, gak tau sibuk ngapain mereka," ucap sahabat Reyhan.
"Rey, gimana dengan adek loh, udah baik-baik aja kan sekarang?" tanya sahabat Reyhan dengan serius.
"Iya sekarang udah aman, gue gak tau apa pria itu masi hidup apa sudah tiada," ucap Reyhan kembali meminum kopinya.
"Syukur deh kalau gitu, gue ikut senang dengar nya," ucap sahabat Reyhan.
Keduanya mengobrol sambil menunggu pesanan sahabat Reyhan, keduanya adalah teman kuliah yang sekarang sudah sarjana bersama beberapa bulan lalu.
****
__ADS_1
Angga yang kan bersiap pulang, langsung di hadang oleh Sasmita. Sasmita berdiri di depan Angga dengan mata bengkak sehabis nangis.
Angga mengernyit keningnya dengan heran, melihat wajah sebam Sasmita.
"Loh kenapa, ngapain ngalangin jalan gue?" tanya Angga menatap Sasmita dengan raut muka tak bersahabat.
"Nga, tolongin gue, suami gue mukul in gue tadi malem," ucap Sasmita sambil meneteskan air mata, dengan wajah yang di buat begitu sedih.
"Kalau mau ngelaporin suami kamu yah langsung masuk ke dalam aja, di dalam masi ada anggota kain kok, gue sedang buru-buru mau pulang," ucap Angga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Nga, kenapa loh jadi dingin gini sih sama gue, dulu loh gak gini amat, loh lembut sama gue, loh selaku baik sana gue Nga," ucap Sasmita masi memasang wajah sedih.
"Maaf tapi gue harus pergi, loh kalau ada masalah bisa langsung masuk dan membuat laporan di dalam sana," ucap Angga masuk ke dalam mobil, dan tidak menghiraukan panggilan Sasmita.
Angga menjalankan mobilnya keluar dari parkiran kantor, membiarkan Sasmita yang sedang berdiri di tempatnya.
Sasmita melihat mobil Angga yang semakin menjauh dan tak terlihat lagi, tiba-tiba raut wajah Sasmita berubah menjadi dingin dan marah.
"Gue gak akan lepasin loh Nga, gak akan pernah," ucap Sasmita dalam hati.
"Permisi mbak, ada apa yah?" tanya salah satu anggota yang sedang melihat Sasmita berdiri di luar kantor.
"Tidak ada apa-apa pak, saya permisi dulu," ucap Sasmita masuk ke dalam mobilnya.
Anggota polisi itu memandang Sasmita dengan aneh, lalu Anggota polisi itu berjalan masuk ke dalam kantor. Dan mobil Sasmita sudah keluar dari parkiran kantor polisi juga, Sasmita mengendarai mobilnya di jalan raya yang sedikit padat itu.
"Hahahhaa,,, Angga cuma bisa jadi milik gue, jadi milik gue, gak ada yang bisa mengantikan gue," ucap Sasmita sambil tertawa keras di dalam mobilnya itu.
Pikk...
"Ngapain aja sih nih mobil di dan, lama banget jalannya," ucap Sasmita seorang diri mengumpat kesal dalam mobil.
Sasmita tidak tau kalau jalan saat ini sudah sedikit padat, karena banyak kendaraan yang berada di luar sana.
Jam saat ini juga sedang menunjukan pukul lima sore tapi Sasmita tak henti-hentinya mengumpat dalam mobil.
__ADS_1
Next...