Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Rumah Ilham


__ADS_3

Mama Lara dan papa Andi melihat Rara yang baru saja menghampiri mereka di ruang tengah.


"Sayang kamu mau ke mana?" Tanya mama Lara melihat putrinya.


"Mau ke rumahnya kak Ilham ma, temannya kak Angga. Katanya ada undangan gitu acara kecil-kecilan," ucap Rara duduk di sofa dekat mama Lara.


"Oh, gitu," ucap mama Lara.


"Kaka mana ma, Kaka kayaknya juga ikut deh kan kak Ilham sahabatnya Kaka," ucap Rara.


"Kaka kamu belum pulang kantor, padahal ini udah jam 7 malam.


"Kenapa sih pada ngomongin aku," ucap Reyhan dari ruang tamu.


"Sayang kamu kok baru pulang sih, udah jam berapa ini," ucap mama Lara melihat sang putra.


"Iya, ada banyak kerja yang harus aku selesaikan ma, makanya pulang telat," ucap Reyhan duduk di salah atu sofa.


"Nak, jangan terlalu memaksakan diri, kan bisa di lanjutin besok lagi," ucap papa Andi.


Reyhan terlihat membuang nafas dengan kasar, entah kenapa hari ini giliran Reyhan begitu kacau. Apa lagi setelah tadi bertemu dengan Lishi, dan anak kecil memanggil Lishi dengan kata mami.


"Kaka lagi ada masalah yah?" Tanya Rara yang melihat wajah tak biasa sang Kaka.


"Kaka gak papa kok dek, Kaka ke kamar dulu mau siap-siap ke rumah Ilham," ucap Reyhan beranjak dari duduknya.


"Aku sama kak Angga duluan yah kak," ucap Rara.


"Iya kalian duluan saja," ucap Reyhan menaiki tangga.


"Pa, kenapa sih dia?" Tanya mama Lara melihat sang suami.


"Papa juga gak tau ma, tadi di kantor biasa aja kok," ucap papa Andi.


"Permisi non, ada den Angga," ucap bibi.


"Iya Bi," ucap Rara.


"Hay om, Tante, sayang," ucap Angga menyalami punggung tangan kedua orang tua Rara.


"Hay nak," ucap mama Lara.


"Udah siap?" Tanya Angga melihat Rara.


"Udah kok, dari tadi lagi Kaka aja yang lama," ucap Rara.


Angga melihat jam yang melingkar di pergelangan kekarnya, lalu melihat Rara sambil tersenyum.


"Gak telat kok, kan memang bilangnya tadi mau di jemput jam 7 lewat dikit," ucap Angga.


"Kalian ini,sudah sana pergi, nanti telat lagi," ucap mama Lara.


"Iya ma, ini udah mau pamit kok," ucap Rara.


"Loh nak Angga gak di bikinin minum dulu?" Tanya papa Andi.


"Gak usah om, nanti calon istri saya ngambek kalau lama perginya," ucap Angga tersenyum.


"Apaan sih, udah ayo kita pergi," ucap Rara.


Angga dan Rara lalu pamit pada kedua orang tua Rara, pasangan kekasih itu kelaur dari dalam rumah besar Rara.


Tiba di depan, Rara menghentikan langkahnya dan melihat Angga.


"Ada apa?" Tanya Angga.


"Kita naik motor sayang?" Tanya Rara melihat Angga.


"Iya, biar kita makin romantis gitu," ucap Angga sambil tersenyum.


"Ayo, atau kamu gak mau naik motor yah?" Tanya Angga yang melihat Rara hanya diam saja.


"Gak kok kak aku suka, ayo," ucap Rara menarik tangga Angga mendekati motor besar milik Angga.


Angga memakaikan helem untuk Rara, lalu Angga juga memakai helem besar untuknya.


"Ayo naik," ajak Angga.


"Hati-hati, nanti kena besi yang itu," ucap Angga memperingati Rara.


"Udah siap?" Tanya Angga.


"Udah," ucap Rara melihat ke samping dan mendekatkan wajahnya ke dekat helem yang di pakai Angga.


"Kok gak jalan-jalan sih?" Tanya Rara.


"Yakin nih gak mau meluk?" Tanya Angga.


Rara yang baru sadar apa maksud Angga pung langsung memeluk perut Angga dengan erat, Angga tersenyum senang lalu menjalankan motornya keluar dari halaman rumah sang kekasih.


"Sayang naik motor teryata enak juga yah, apa lagi sama kamu," ucap Rara dengan suara keras.

__ADS_1


"Iya, kamu mau kita sekali-sekali keluar naik motor aja?" Tanya Angga.


"Boleh juga, akan terlihat lebih romantis nanti," ucap Rara tambah mengencangkan pelukannya untuk Angga.


Angga terus melaju kendaraan rada dua itu, sampai tiba di depan gerbang rumah sahabatnya Ilham.


"Malam den Angga," sapa pak satpam yang sedang berjaga.


"Malam pak," ucap Angga juga.


Rara mengeluarkan helem nya setelah turun dari atas motor, begitu pun dengan Angga. Keduanya lalu masuk ke dalam ruang Ilham.


Kedatangan Angga langsung di sambut oleh Ilham dan juga anak pertamanya dengan Feli, Rara juga kaget kalau yang menjadi istri Ilham adalah sepupu dari sahabatnya Amel.


"Feli," ucap Rara.


"Rara," ucap Feli juga.


"Jadi kamu yang nikah sama kak Ilham, kok aku bisa gak tau yah," ucap Rara langsung memeluk Feli dengan erat. Membuat Ilham dan juga Angga saling pandang.


"Eh nanti bakalan ada Amel juga loh yang datang, sama pacarnya Rio," ucap Feli.


"Wah pas banget dong nanti bakalan ketemu di sini," ucap Rara.


"Hay Ra," sapa Ilham sambil tersenyum.


"Hay kak, aduh jadi malu nih gue," ucap Rara melihat Angga.


"Malu kenapa sayang?" Tanya Angga melihat Rara dengan heran.


"Kalian lupa yah kalau dulu aku pernah ngasi nasi goreng, dan kata Kaka di makan sama kak Ilham," ucap Rara.


"Yang bikin loh minum air kran Sakin kepedesan," ucap Angga melihat Ilham sambil tertawa geli.


"Itu semua karena ulah calon istri loh," ucap Ilham dengan santai.


"Hay, yah ampun lucu banget sih anak kalian," ucap Rara mengelus pipi bocah kecil itu dengan lembut.


"Ayo sayang kenalan dong sama tante Rara," ucap Feli mengajak anaknya mengobrol.


"Ai ante(Hay Tante)" sapa bocah kecil yang baru berumur hampir tiga tahun itu.


"Aduh lucu banget," ucap Rara.


"Cepat nikah bro, nanti kalau loh berdua punya anak, kita jodohin," ucap Ilham.


"Bagus juga di jodohkan," ucap Angga sambil tersenyum.


****


Selesai membersihkan diri, Rayhan melihat pantulan dirinya di depan cermin, saat ini rambut Ilham masih terlihat acak dan basah, juga handuk putih yang melilit di pinggang ramping pria tampan itu.


Masih teringat terus tentang seorang bocah kecil yang memangil Lishi dengan kata mami, entah kenapa hati Reyhan terasa perih mendengarnya.


Reyhan lalu mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya yang basah, sambil membuka lemari bajunya dan mengambil celana jeans hitam juga kaos putih, Reyhan juga mengeluarkan jaket kulit dari dalam lemari.


Melihat jaket, Reyhan jadi ingat Jaket yang dulu ia pernah kasih ke Lishi. Dengan alasan Reyhan tidak mau mengambil jaket itu.


"Mungkin jaketnya juga udah di buang atau di bakar sama dia," ucap Reyhan dalam hati.


Selesai berganti pakaian dan sudah terlihat rapi, Reyhan pun langsung kelaur dari dalam kamar, karena ia sudah sangat telat datang ke rumah Ilham.


Pamit pada kedua orang tuanya dan Reyhan langsung masuk ke dalam mobil, dan mobil pun menuju kediaman rumah Ilham sang sahabat.


****


Amel dan Rio sudah datang dan suasana di rumah Ilham dan Feli begitu ramai saat ini. Hanya menunggu kedatangan Reyhan saja.


"Ra, udah mulai kerja?" Tanya Amel yang duduk di dekat sahabatnya itu.


"Iya, aku kerja di butik nya mbak Dian," ucap Rara sambil tersenyum.


"Wah desainer nih bos," ucap Amel menjahili Rara.


"Loh apaan sih, baru juga gue mau kerja," ucap Rara.


"Hehehe, gaji desainer kan emang gede Ra, jangan loh kira gue gak tau yah," ucap Amel sambil terkekeh geli.


"Sok tau loh," ucap Rara.


"Wih baru datang, kita udah nunggu dari tadi loh," ucap Ilham melihat Reyhan yang baru saja masuk.


"Sorry, gue pulang dari kantor telat men," ucap Reyhan.


"Gak papa santai aja," ucap Ilham bertos dengan sahabatnya itu.


Rara melihat wajah sang Kaka yang tak sesemangat biasanya, dan Angga juga bisa melihat itu dari raut wajah sahabatnya.


"Karena sekarang udah pada ngumpul, kita langsung makan malam aja yuk. Nanti makan malamnya udah keburu dingin lagi," ucap Feli.


"Iya ayo," ucap Ilham juga.

__ADS_1


"Nih sebernaya acara makan malam apa sih?" Tanya Angga.


"Acara anniversary gue sama istri gue," ucap Ilham mendekati sang istri dan langsung mencium kening sang istri.


"Loh berdua anniversary yah, wah selamat dong bro kalau gitu," ucap Reyhan.


"Makasih men, gue sama istri udah senang kok kalian mau datang," ucap Ilham duduk di kursi meja makan.


Semuanya mulai melayani diri masing-masing, tapi Feli, Rara dan Amel melayani pasangan masing-masing, berbeda dengan Reyhan yang hanya sendiri saja.


Suasana meja makan di kediaman Ilham dan Feli begitu ramai, apa lagi Angga dan Ilham yang tidak henti-hentinya membuli sang sahabat Reyhan.


Reyhan hanya biasa saja, ia malah banyak mencicipi semu masakan yang ada di atas meja, meskipun hatinya saat ini sedang kacau karena memikirkan Lishi.


****


Suara tenduman musik terdengar begitu memecahkan daun telinga, banyak pengunjung klub sedang bersenang-senang di dalam sana, salah satunya adalah seorang wanita yang sedang duduk di depan batender.


"Non kau sudah banyak minum, sebaiknya kau pulang saja," tegur batander itu.


"Kau diam saja, saya di sini membayar semua ini jadi kau tidak usah banyak bicara," ucap wanita itu yang tak lain adalah Sasmita.


Yah Sasmita selalu mendatangi klub malam kalau pikirannya sedang kacau, apa lagi memikirkan Angga yang sekarang sudah menjadi milik gadis lain.


"Hahaha, gue gak akan pernah lepasin loh gak, gak akan," ucap Sasmita sambil meracau tidak jelas.


Batander itu melihat Sasmita sambil menggeleng kepala.


"Sudah mabuk bukannya pulang malam tidur di situ, bikin susah orang saja," ucap Batander itu.


****


Selesai makan malam bersama, para sahabat itu kembali mengobrol lagi, Rara, Feli dan Amel mengobrol di ruang tengah sedangkan Ilham, Angga, Reyhan dan Rio mengobrol di ruang tamu.


"Bro loh udah mulai mimpin perusahaan keluarga?" Tanya Ilham melihat Reyhan.


"Iya Ham," ucap Reyhan.


Ilham melihat Angga yang juga melihat ke arah Ilham, di antara mereka berempat, hanya Reyhan yang jarang bercerita, itu pun kalau di tanya baru mau menjawab.


Reyhan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, ia lalu pamit duluan pada semua yang ada di sana.


Reyhan keluar dari rumah Ilham dan masuk ke dalam mobilnya, Reyhan mengendari mobilnya tak tentu arah. Dan itu bukan jalan pulang ke rumah.


Karena sudah sangat larut, Angga dan Rara juga pamit pulang, begitu pun dengan Amel dan Rio. Karena sekarang jam sudah menunjukan pukul.


"Sayang, kamu liat gak tadi perubahan wajah Reyhan," ucap Angga saat ini mereka sudah berada di motor Angga.


"Iya sayang, aku rasa kak Rey lagi ada masalah deh," ucap Angga.


"Nanti aku coba tanyakan pada Reyhan besok, ayo kita pulang udah telat ini," ucap Angga memakamkan helem untuk sang calon istri.


Motor ninja milik Angga lalu, keluar dari gerbang rumah sahabatnya itu. Angga akan mengantar Rara pulang ke rumah terlebih dahulu.


****


Reyhan terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba kedua mata Reyhan tak sengaja melihat seorang yang ia kenal sedang berbincang dengan seorang satpam.


"Diamon Group," ucap Reyhan dalam hati.


Reyhan memarkirkan mobilnya, melihat seseorang itu yang keluar dari gerbang kantor Diamon Group. Jelas Reyhan tau siapa orang itu.


Seorang gadis sedang menunggu taksi lewat di pinggiran jalan besar depan gedung Diamon Group, jam saat ini sudah menunjukan pukul 11 malam, dan sudah jarang taksi lewat selarut itu.


Sudah menunggu hampir setengah jam, tapi tetap aja tidak ada taksi yang mau lewat, mau menelpon sopir tapi hp sudah mati kehabisan batrei, mau bawah mobil pulang tapi gak tau kenapa mobilnya tiba-tiba mogok.


Reyhan yang masih berdiam di dalam mobil pun melihat jam yang sedang melingkar di pergelangan itu, Reyhan lalu menjalankan mobilnya lagi dan berhenti tepat di depan gadis itu.


Reyhan menurunkan kaca mobilnya dan melihat sekilas ke arah gadis itu.


"Ayo masuk, sudah tidak ada taksi di jam-jam begini," ucap Reyhan dengan suara dinginnya.


Gadis itu yang tidak lain adalah Lishi pun masuk dan duduk di kursi depan dekat Reyhan, Tampa berkata apa-apa Reyhan langsung menjalankan mobilnya setelah Lishi memakai sabuk pengaman.


Hening, tidak ada obrolan di antara kedua nya, Reyhan juga tidak seperti saat mereka bertemu di kantor tempo hari.


Mobil terus melaju dengan cepat di jalan yang sudah mulai sepi itu, Lishi sesekali melirik ke arah Reyhan, tapi tidak dengan pria yang sekarang memasang wajah dingin itu.


"Rumah loh di mana?" Tanya Reyhan Tampa menoleh ke arah Lishi.


"Di jalan xx, no 27," ucap Lishi melirik ke arah Reyhan, tapi Reyhan masih fokus dengan menyetir.


"Suami loh kemana, kenapa gak minta dia buat jemput loh," ucap Reyhan membuat Lishi dengan cepat melihat ke arah Reyhan.


"Aku..." Ucapan Lishi terhenti mendengar ucapan Reyhan.


"Tapi gak penting juga sih gue nanya ini sama loh, itu urusan rumah tangga loh," ucap Reyhan lagi dengan suara lebih dingin.


Lishi hanya bisa melihat Reyhan saja, mau menjelaskan tapi Reyhan seperti tidak mau mendengar kan nya, jadi Lishi memilih untuk diam saja.


Next....

__ADS_1


__ADS_2