Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Jalan Berdua


__ADS_3

Angga mengendarai mobilnya menuju salah satu restoran, Rara yang sedang duduk di kursi samping melihat Angga yang sedang fokus menyetir mobil.


"Sayang, kamu gak pernah cukur kumis yah?" Tanya Rara yang baru memperhatikan wajah Angga.


"Gak papa sayang ini tuh bagus lagi, biar keliatan keren," ucap Angga melirik ke arah Angga.


"Keren apanya sih, aku gak suka sampe rumah langsung di hempaskan yah," ucap Rara menatap tajam Angga.


"Iya-iya sayang, udah gak usah ngambek dong, nanti cantiknya hilang lagi," ucap Angga mengenyam sebelah tangan Rara.


Tak berselang lama mobil yang di kendarai oleh Angga tiba di parkiran salah satu restoran, Angga dan Rara melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari dalam mobil.


"Ayo," ajak Angga mengandeng tangan calon istrinya itu.


Angga dan Rara masuk ke dalam restoran itu, sambil bergandengan tangan. Membuat pengunjung lain melihat kedatangan mereka, Angga yang memperlakukan Rara dengan begitu manis, membuat siapa saja yang melihatnya akan baper sendiri.


Bagaimana tidak Angga menarik kuris untuk Rara, kemudian Angga duduk di kursi yang ada di depan Dada.


"Misi kak, ini buku menunya," ucap salah satu pelayan.


Rara mengambil buku menu yang di berikan oleh pelayan, semua isi menunya begitu lezat di liat dari gambar saja.


"Mbak pesan ini dua, sama minumannya dua yah," ucap Rara menunjuk menu yang ada di buku.


"Baik kak," ucap pelayan itu mencatat pesanan Rara.


Sambil menunggu pesanan Rara dan Angga asik mengobrol, mengobrol soal Rara yang akan mulai bekerja di butik milik Dian sebagai desainer.


"Jadi kapan kamu mulai kerja?" Tanya Angga menatap sang kekasih.


"Minggu depan kak, aku mulai kerja di butik nya mbak Dian, kebetulan di sana gak ada desainer nya, cuma ada Bu Dian tapi Bu Dian suka dengan hasil gambar ku," ucap Rara tersenyum melihat Angga.


"Aku akan selalu dukung kamu, tapi ingat kamu gak boleh dekat-dekat dengan cowok lain," ucap Angga mulai posesif, padahal Rara belum bekerja.


"Gak lah, tapi mungkin kan nanti aku bakalan ada pertemuan kerja sama, gak mungkin kan semuanya perempuan sayang," ucap Rara.


"Iya tapi kamu jangan terlalu dekat dengan rekan kerja cowok, aku gak suka," ucap Angga resa cemburunya sudah mulai keliatan.


Rara tersenyum lalu menggenggam tangan Angga yang ada di atas meja, Rara mengatakan lewat genggaman tangan kalau ia pasti akan menjaga mata sama hatinya hanya untuk Angga saja.


"Permisi kak, ini pesanan Kaka," ucap pelayang yang tadi, meletakan dengan pelan menu pesanan di atas meja.


"Makasih yah," ucap Rara dengan tersenyum.


"Sama-sama kak, silahkan di nikmati kak," ucap pelayan itu, lalu pergi dari


hadapan Rara dan Angga.


"Ayo di makan," ucap Angga dan Rara hanya mengangguk saja.


Di selah menikmati sarapannya, pandangan Rara tak sengaja melihat orang yang ia kenal. Orang itu sedang duduk di salah satu meja bersama dengan bocah laki-laki yang sedang asik memakan es krim.


"Mi, nanti aku boleh nambah lagi gak?" Tanya bocah kecil itu yang tidak lain adalah Akas.


"Boleh dong, kan Akas baru makan satu cup es krim mini," ucap Lishi mengusap kepala ponakannya itu dengan sayang.


"Asik makasih yah mi, aku sayang mami," ucap Akas bersorak senang.


Lishi tersenyum geli melihat wajah mengemaskan Akas, Akas yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri, karena sejak kecil bocah itu selalu saja bersama dengan Lishi.


"Ayo di habisin es krim nya, mami udah pesan yang baru lagi loh," ucap Lishi berbisik pelan di dekat telinga Akas.


Bocah kecil itu hanya mengangguk saja, dan kembali memakan susah es krim nya sampai habis.


"Loh itu kan kak Lishi, kak Lishi sama siapa itu anak kecil," ucap Rara dalam hati, sambil melihat ke arah meja yang di duduki oleh Lishi dan Akas.


Angga yang duduk di depan Rara, melihat pandangan Rara yang melihat ke salah satu meja.


"Sayang kamu liat apa sih?" Tanya Angga melihat ke arah meja sebelah juga.


"Gak kak, aku cuma ngerasa pernah liat wanita itu aja, tapi mungkin aku salah orang, karena wanita yang aku kenal gak punya anak," ucap Rara melihat Angga.


"Ooh, gitu, di lanjutin aja makan nya, nanti keburu dingin lagi," ucap Angga menunjuk piring berisi menu makanan Rara.


"Iya sayang," ucap Rara.

__ADS_1


"Aku gak salah orang, itu beneran kak Lishi, tapi siapa anak itu? Apa kak Lishi udah nikah dan punya anak," Rara Masi bertanya-tanya dalam hati.


Selesai dari restoran, Angga mengajak Rara ke salah satu taman, Angga ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang kekasih saat hari-hari weekend seperti ini. Dan saat ini mereka sudah berjalan di jalan setapak yang ad Adi taman itu.


"Ramai banget yah," ucap Rara melihat pengunjung yang lain sedang bersama sanak saudara.


"Iya, ada keluarga kecil yang sedang menemani anak mereka bermain," ucap Angga melihat ke arah di mana kedua orang tua sedang mengajari anak mereka berjalan di salah satu rumput taman.


Senyum terbit di bibir Angga dan Rara, kelak nanti mereka juga akan memiliki anak seperti kedua orang tua itu.


"Sayang kita duduk di situ yuk," ajak Angga menunjuk salah satu bangku kosong.


Mereka pun berjalan ke arah salah satu bangku kosong itu, Rara dan Angga duduk di sana sambil melihat-lihat pengunjung taman yang sangat ramai.


"Kue basah, kue basah kak beli kue basah kak," ucap anak kecil yang sedang membawa tempat kue.


"Ini kue apa dek?" Tanya Rara.


"Nih kue basah kak, nama kue nya kue mekar," ucap anak kecil itu berdiri di samping Rara dan Angga.


"Berapa satu nya dek?" Tanya Angga melihat bocah kecil itu.


"Dua ribu aja kak,Nini enak loh ibu aku yang bikin," ucap anak kecil itu.


"Kaka coba satu boleh yah, tapi nanti Kaka bayar kok," ucap Rara.


"Boleh kak," ucap anak kecil itu membuka penutup tempat kue.


"Nih kak, coba aja," ucap anak kecil itu.


Rara mengambil satu kue dan memakannya, rasa manis bercampur rasa durian membuat Rara ketagihan dan ingin lagi.


"Enak, Kaka beli harga 20 ribu yah," ucap Rara.


"Benar kak, wah Alhamdulillah," ucap ank kecil itu.


Membuat Rara dan Angga tersenyum saling pandang, Anak kecil itu mengambil kuenya mengunakan penjepit khusus kue. Kemudian memasukan ke dalam tas plastik.


"Ini kak kue nya," ucap anak kecil itu.


"Ini uangnya yah dek, kamu masih sekolah gak?" Tanya Rara.


Rara dan Angga tersenyum melihat keteguhan anak kecil itu, melihat anak di sekeliling mereka sedang asik bermain, berbeda dengan anak kecil itu yang demi berjualan untuk membantu orang tua.


"Sekolah yang rajin yah, semoga nanti kau akan jadi orang sukses," ucap Angga mengusap kepala bocah kecil itu dengan pelan.


"Pasti kak, aku kan mau jadi prajurit Indonesia, aku mau jadi tentara kak," ucap anak kecil itu dengan antusias.


"Wih, keren itu semoga kamu nanti jadi abdi negara yah," ucap Angga.


"Amin kak," ucap anak kecil itu sambil tertawa.


"Kak beli kue dong," ucap anak kecil perempuan mendekati anak kecil itu.


"Iya, ayo sini," ucap anak kecil itu dengan senang, karena dagangannya laku banyak hari ini.


Salah satu mobil yang sedang terparkir tak jauh dari taman, seseorang di dalamnya melihat dengan tatapan marah dan cemburu.


"Kalian gak akan bahagia lama, karena aku akan merebut Angga lagi," ucap wanita itu yang tidak lain adalah Sasmita.


Sasmita sudah bercerai dengan suaminya dulu, dan sekarang ia sudah resmi menjadi janda. Dan Sasmita akan bertekad untuk merebut hati Angga lagi mulai sekarang.


Sasmita lalu kembali menjalankan mobilnya pergi dari sana, melihat Angga dan Rara yang begitu dekat, membuat Sasmita marah dan cemburu.


"Sayang udah sore, kita balik aja yuk," ucap Angga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ayo sayang," ucap Rara juga.


Rara dan Angga berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari taman, tiba-tiba seseorang datang dan mengambil tas milik Rara dengan cepat.


"Kak itu copet kak," ucap Rara menunjuk orang yang mengambil tasnya itu.


Angga dengan cepat mengejar copet itu, lalu menendangnya saat mereka sudah begitu dekat, pria yang mengambil tas milik Rara tersungkur ke aspal trotoar.


Angga langsung mendekati pria itu, dan berjaga-jaga jangan sampai ada benda tajam yang ia bawa.

__ADS_1


"Ampun bang, ini tas nya bang saya kembalikan," ucap copet itu dengan ketakutan.


"Kau belum tau berhadapan dengan siapa heemm," ucap Angga menjitak kepala pencopet itu.


"Iya bang ampun bang, biarkan saya pergi bang," ucap pencopet itu lagi meminta ampun.


"Kali ini kamu saya lepasin, kalau nanti saya ketemu kamu lagi dan masih kerja kedua gini dengan cara mencopet, saya akan menyeret kamu ke kantor polisi," ancam Angga.


"Maaf bang, gak lagi bang, tolong biarkan saya pergi bang," ucap pencopet itu lagi.


Angga mengambil tas dan membiarkan pencopet itu pergi sambil terbilit-belit, karena ia begitu takut di bawa ke kantor polisi.


"Sayang kamu gak papa kan?" Tanya Rara mendekati Angga sambil ngos-ngosan, karena Rara berlari cukup jauh mengejar Angga dan pencopet itu.


"Aku gak papa kok, ini tas kamu sayang," ucap Angga tersenyum memberikan tas milik Rara.


"Makasih yah, kamu larinya cepat banget, aku sampai ngos-ngosan tau," ucap Rara.


Angga tersenyum menarik pundak Rara dan memeluknya, mereka lalu kembali lagi ke mobil dengan Angga yang sedang memeluk pundak Rara.


Tiba di depan mobil, Angga membukakan pintu mobil untuk Rara. Angga lalu masuk juga ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Mobil meninggalkan taman yang masih terlihat begitu ramai, meskipun hari sudah mulai sore.


****


Aaakkkkhhh....


Teriak Sasmita menghancurkan semua barang-barang yang ada di dekatnya, ia begitu cemburu melihat Angga yang begitu dekat dengan Rara.


"Angga harus jadi milik gue lagi, harus jadi milik gue," ucap Sasmita seorang diri.


Setibanya di apartemen, Sasmita langsung membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya, ia begitu marah melihat Angga yang memperlakukan Rara dengan begitu manis, rupanya Sasmita sudah mengikuti Rara dan Angga dari restoran tadi.


"Loh gak akan hidup bahagia sama Angga gak akan Aaakhhh," teriak Sasmita lagi seperti orang kesetanan.


Sasmita lalu keluar dan pergi ke dapur, Sasmita mencari pisau yang biasa di gunakan untuk memasak, kemudian Sasmita membuka kulkas dan mengambil buah apel dari dalam sana.


Meletakan di atas meja, lalu menusuk apel itu mengunakan pisau, samai tak berbentuk lagi.


"Gue bakalan hancurin loh seperti buah ini, loh bakalan hancur gadis sialan," ucap Sasmita lagi sambil melihat apel yang sudah tak berbentuk itu.


****


Mobil Angga memasuki gerbang rumah besar keluarga Johan, hari sudah mulai gelap. Cahaya matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, dannakan berganti malam yang gelap.


Rara dan Angga lalu masuk ke dalam rumah, dan langsung di sambut oleh mama Lara dan papa Andi.


"Ma, pa," sapa Rara menyalami punggung tangan kedua orang tuanya, begitu pun dengan Angga.


"Kalian dari mana aja?" Tanya mama Lara.


"Kita cuma jalan-jalan aja ma di taman, makan di restoran cuma gitu aja," ucap Rara tersenyum melihat Angga.


"Kaka mana ma?" Tanya Rara tidak melihat keberadaaan sang Kaka.


"Kaka kamu tadi pergi, katanya mau ke apartemen temannya," ucap mama Lara, saat ini mereka semua sudah duduk di sofa yang ada di ruang tengah.


"Nak Angga mau minum apa, biar Tante minta bibi buatin?" Tanya mama Lara melihat calon mantunya itu.


"Gak usah Tan, Angga Masi kenyang juga tadi makan kue di taman sama Rara," ucap Angga tersenyum sopan.


"Pa, aku mulai Minggu depan kerja di butik milik mbak Dian," ucap Rara.


"Bagus dong sayang, hasil Disainer kamu juga papa suka, papa mau kamu kedepannya harus punya butik sendiri, biar papa yang akan kasih kamu uang buat usaha dulu," ucap papa Andi melihat putrinya.


Rara tersenyum melihat sang papa, kemudian Rara melihat ke arah Angga yang hanya diam saja.


"Makasih pa, tapi Rara udah ngomongin sama kak Angga kalau kita nanti akan bangun usaha butik bersama, dengan hasil kerja kita pa. Maksud Rara kita berdua pengen mandiri pa," ucap Angga melihat kedua orang tuanya takut salah ngomong.


Papa Andi tersenyum melihat calon mantunya itu, belum menikah tapi sudah punya pikiran untuk mandiri bersama, papa Andi menepuk pundak Angga dengan pelan sambil tersenyum.


"Papa bangga sama kalian berdua, papa akan mendukung apapun keputusan kalian, tapi jangan sungkan buat minta bantuan papa kalau lagi butuh yah," ucap papa Andi.


"Pasti pa, iya om," ucap Angga dan Rara bersama.

__ADS_1


Angga lalu pamit pulang, karena hari sudah semakin malam. Angga pamit pada Rara dan kedua calon mertuanya itu.


Next....


__ADS_2