Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Gaun Untuk Rara


__ADS_3

Setelah kejadian yang menimpah Rara pada tempo hari, kini semuanya sudah kembali seperti biasa lagi.


Sasmita sudah berada di dalam penjara sekarang, tapi dari beberapa orang mengatakan ada baiknya Sasmita di periksa kesehatannya, karena di dalam penjara wanita itu melukai tahanan lain.


Angga berjalan masuk ke dalam ruangannya, Ilham yang memang sudah berada di sana pun terkekeh melihat sahabatnya itu.


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Angga.


"Tidak ada apa-apa hanya ingin tertawa saja," ucap Ilham masih di selah tawanya.


"Gimana dengan rencana kamu, ada semuanya sudah siap?" Tanya Ilham.


"Udah," ucap Angga.


"Sorry yah gue sama istri gue gak bisa datang bantuin loh, kan loh tau gimana kondisi istri gue sekarang," ucap Ilham.


"Gak papa, Reyhan udah bantuin gue kok," ucap Angga.


"Semoga lancar men," ucap Ilham menepuk lengan Angga. Angga hanya mengangguk saja.


****


Rara dan mbak Dian sedang mengobrol di ruangan kerja Rara, seharian ini Angga tidak menghubungi Rara dan Rara memilih untuk menghabiskan waktu dengan atasannya itu.


Tawa terdengar dari kedua wanita itu, di mana mbak Dian menceritakan tentang kejadian lucu bertemu dengan klien.


"Lucu banget sih mbak," ucap Rara sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Iya Ra, sampai mbak tuh gak tahan pengen cepat kabar dari dia, eh dianya malah bikin ulah di sana," ucap mbak Dian sambil tertawa juga.


Puas mengobrol bersama mbak Dian, Rara kembali kembali ke ruangannya lagi. Rara melihat ponselnya yang tidak ada pesan atau telpon dari Angga.


"Nyebelin banget sih, gak banget aku yang nelpon dulu," ucap Rara dengan kesal melihat benda segi empat itu.


Rara lalu meletakan benda itu dan memilih menggambar saja, beberapa kertas hancur tak berbentuk karena gambarnya tak ada yang bagus. Suasana hati Rara saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Jam pulang kantor tinggal menunggu beberapa jam lagi, Rara memasukan ponselnya ke dalam tas lalu bersiap pulang.


****


"Gimana udah siap belum?" Tanya Reyhan melihat Angga.


"Udah Han, tapi gue takut banget kalau nanti Rara marah," ucap Angga.


"Marah kenapa?" Tanya Reyhan melihat sahabatnya itu.


"Seharian ini kan gue gak hubungin dia, takutnya dia nanti berfikir yang enggak-enggak lagi sama gue," ucap Angga.


"Udah loh tenang aja, kan nanti malam bakalan ketemu, Rara juga nanti bakalan ngerti kok," ucap Reyhan menepuk punggung sahabatnya itu.


"Ayo kita masuk," ajak Reyhan. Saat ini ia dan Angga sedang berada di tokoh gaun di salah satu mall.


Kedua pria tampan itu menjadi pusat perhatian, apa lagi saat ini Angga Masi mengunakan seragam polisi dan Reyhan rapi dengan jas kantornya.


Angga dan Reyhan masuk ke dalam tokoh gaun, dan me lihta-lihat semua gaun indah yang berada di tokoh itu.


"Semuanya bagus, pasti cocok di pakai sama adik gue," ucap Reyhan melihat semua gaun itu.


Pandangan Angga jatuh lada gaun berwarna maroon, Angga meminta pegawai tokoh untuk mengambil gaun itu.


"Rey, ini cocok gak buat Rara?" Tanya Angga.


"Bagus, pasti adik gue senang," ucap Reyhan melihat gaun yang di pegang oleh Angga.


"Kalau gitu saya ambil yang ini saja, tolong di kemas dengan sangat rapih yah," ucap Angga pada pekerja tokoh.


"Baik pak, biasa tolong tunggu sebentar yah," ucap pekerja itu.


Angga hanya menganggu, dan ia mengajak Reyhan duduk di sofa tunggu yang ada di sana.


"Om baik," panggil anak kecil yang berada di gandengan seorang wanita.


Reyhan dan Angga melihat ke arah bocah kecil itu yang melepaskan genggaman tangannya dari sang mami.


Bocah kecil itu mendekati Reyhan dan Angga.


"Om baik ngapain di sini sama om polisi?" Tanya bocah kecil itu yang tak lain adalah Akas.


"Om lagi beli gaun," ucap Reyhan.


"Akas sini sayang," panggil Lishi.


"Aku mau nunggu sama om baik yah mi, mami liat aja gaunnya," ucap Akas tersenyum melihat Lishi.


"Gak baik gitu sayang, ayo sini," ucap Lishi.


Akas melihat wajah Reyhan, sedangkan Angga hanya melihat interaksi bocah kecil itu dan Reyhan.


"Gak papa dia biar sama gue aja," ucap Reyhan Tampa melihat ke arah Lishi.


"Tuh kan om baik aja gak apa-apa mi," ucap Akas.


"Jangan nakal yah, tunggu sampai mami selesai beli gaunnya," ucap Lishi.

__ADS_1


"Oke mi," ucap Akas.


Angga melirik ke arah Reyhan, bocah kecil itu begitu dekat dengan Reyhan.


"Kamu cuma sama mami kamu aja?" Tanya Reyhan mengajak bocah kecil itu mengobrol.


"Iya om, aku kalau jalan selalu sama mami," ucap Akas mendongak melihat wajah Reyhan.


"Papi kamu kemana, kenapa gak ikut?" Tanya Reyhan lagi.


"Ayah di rumah, lagi jagain adik bayi," ucap Akas.


Reyhan mengernyit kening heran, karena mendengar perkataan Akas. Sedangkan Angga pergi untuk membayar gaun yang ia pilih tadi.


"Kamu punya adik bayi?" Tanya Reyhan.


"Iya om, adik aku masih kecil," ucap Akas.


Hati Reyhan bertambah galau mendengar pengakuan bocah kecil itu, harapannya sudah benar-benar hancur sekarang.


"Om mami aku cantik kan?" Tanya Akas.


Reyhan melihat ke arah Lishi, Reyhan akui Lishi memang cantik dan kecantikan itulah yang membaut Reyhan jatuh hati. Tapi setelah mengetahui kalau Lishi sudah punya anak, Reyhan pun bertekad akan melupakan gadis itu.


Reyhan melihat Lishi yang sedang memegang gaun ****, membaut Reyhan tersenyum kecut.


"Udah punya anak aja masih mau make baju ****," ucap Reyhan.


Lishi melihat ke arah Reyhan dengan tajam, mulut Reyhan sukses membuat Lishi kesal setengah mati.


Sedangkan Reyhan hanya tersenyum samar, lalu mendekati Lishi.


"Lain kali kalau mau jalan, suaminya itu di bawa, biar pria lain gak ngira kamu janda," ucap Reyhan sambil tersenyum mengejek Lishi.


"Jaga mulut anda yah," ucap Lishi dengan tatapan tajam ke arah Reyhan.


"Kenapa, memang kenyataan kan," ucap Reyhan.


Angga melihat Reyhan Yanga Edang mengobrol bersama Lishi. Entah apa yang di obrolin keduanya.


Reyhan lalu berjongkok dang melihat Akas, Reyhan tersenyum pada bocah kecil itu.


"Hay om pulang dulu yah, kamu jagain mami kamu, nanti ada yang godain lagi," ucap Reyhan melihat ke arah Lishi sambil tersenyum.


"Oke om, aku bakalan jagain mami, dan aku gak akan biarin orang lain menggoda mami," ucap Akas dengan semangat.


"Anak pintar," ucap Reyhan sambil mengusap rambut Akas.


"Iya om, dada om baik," ucap Akas sambil melambaikan tangannya.


Reyhan dan Angga kelaur dari toko gaun itu, Angga melihat Reyhan yang tak biasa saat kelaur dari sana.


"Loh kenal sama wanita tadi?" Tanya Angga.


"Iya, gue sama Rara pernah nolongin dia waktu di Itali dulu, dan gue langsung jatuh hati sama dia, tapi kenyataan yang baru gue tau kalau dia udah bersuami dan punya anak dua," ucap Reyhan sambil tersenyum kecut.


Angga melihat Reyhan, lalu kembali melihat ke dalam tokoh gaun itu lagi.


Tiba di lobby mall, Angga dan Ilham masuk ke dalam mobil dan mobil pun kelaur dari lobby mall.


****


Pulang kerja Rara kaget mendapatkan kotak besar yang terletak di atas ranjang nya, dengan penasaran Rara mendekati ranjangnya itu.


Rara memegang kotak besar itu, lalu membuatkannya, Rara kaget melihat gaun berwarna maroon yang berada di dalam kotak itu. Dengan gerakan pelan, Rara mengambil gaun itu.


"Ini gaun siapa?" Tanya Rara seorang diri.


Clekk...


Mama Lara masuk sambil tersenyum melihat putrinya, Rara berbalik dan melihat mama nya.


"Ma, ini gaun siapa?" Tanya Rara.


"Ini gaun buat kamu, nak Angga tadi yang ngasih," ucap mama Lara tersenyum.


Rara Masi heran, kenapa Angga memberinya gaun semewah ini. Rara melihat gaun itu lagi.


"Nanti malam jam 7 nak Angga akan jemput kamu, dan kamu harus dandan yang cantik oke," ucap mama Lara.


"Tadi kak Angga datang ke sini ma?" Tanya Rara.


"Iya, dia sendiri yang nganter gaun ini ke kamar kamu sayang," ucap mama Lara.


Mengingat seharian ini Angga tidak mengabarinya, membaut wajah Rara cemberut. Membaut Mama Lara menatap putrinya heran.


"Ada apa heemm?" Tanya mama Lara memegang tangan putrinya.


"Gak papa kok ma, aku mandi dulu yah ma udah gerah," ucap Rara.


"Iya, jangan lupa nanti malam dandan yang cantik," ucap mama Lara.


"Iya ma," ucap Rara masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Mama Lara kelaur dari kamar Rara.


"Apa sih maksudnya, ngirim gaun tapi gak ngabarin seharian ini," ucap Rara dengan kesal.


Hampir setengah jam, Rara kelaur dari kamar mandi dengan handuk kimono yang ia pakai.


Rara melirik gaun yang ada di atas ranjang, Rara masih penasaran dengan gaun itu, kenapa ia harus memakainya sebentar malam.


****


Rendi sedang menunggu berkas yang di tandatangani oleh bosnya itu, sudah jam 5 sore tapi kedua pria itu masih berada di kantor.


"Ren, apa kau punya kenalan seorang wanita?" Tanya Reyhan tiba-tiba.


"Kenalan wanita, ada pa bos?" Tanya Rendi.


"Saya sedang mencari teman kencan, apa kau punya teman wanita?" Tanya Reyhan lagi.


"Punya bos banyak, bos mau yang seperti apa?" Tanya Rendi.


"Cantik, **** juga boleh," ucap Reyhan sambil tersenyum, ia akan membuktikan soda Lishi kalau ia juga bisa memilik kekasih.


"Oke, nanti saya atur waktu untuk bertemu bos," ucap Rendi.


"Iya, tapi wanita baik-baik yah," ucap Reyhan.


"Siap boa," ucap Rendi.


"Ini sudah selesai, nanti kau langsung pulang saja yah," ucap Reyhan dan Rendi hanya mengangguk dengan hormat.


Rendi lalu kelaur dari ruangan kerja Reyhan, sambil menggeleng kepala Rendi heran dengan bos nya yang tiba-tiba minta di cariakan wanita.


Reyhan mengingat pertemuannya dengan Lishi tadi di tokoh gaun, apa lagi Akas mengatakan kalau ia punya adik bayi. Membaut suasana hati Reyhan jadi tambah kacau.


****


"Sayang, apa kau sudah menyiapkan semuanya?" Tanya mama Sofia melihat putranya itu.


"Udah ma, semua sudah siap aku minta bantuan Reyhan," ucap Angga.


"Bagus lah kalau gitu, mama ikut senang dengarnya," ucap mama Sofia sambil tersenyum.


"Papa mana ma?" Tanya Angga karena tidak menemukan sang papa.


"Lagi di ruang kerja, papa mu akhir-akhir ini selalu sibuk nak, mama kasian melihat papa kamu," ucap mama Sofia.


"Mama tenang aja, Angga udah siapin surat pengunduran diri Angga, Angga akan fokus di kantor nanti setelah menikah dengan Rara," ucap Angga.


"Apa kau yakin ingin melepaskan pekerjaan yang kamu inginkan selama ini," ucap Mama Sofia.


"Angga yakin ma, Angga mikirin baik-baik, gak mungkin Angga berbagi waktu dengan perusahaan. Apa lagi sekarang tanggung jawab Angga besar di kantor polisi, jadi Angga memilih melepaskan pekerjaan Angga sebagai anggota, dan memilih perusahaan," ucap Angga melihat sang mama.


"Terimakasih sayang, mama bangga sama kamu," ucap mama Sofia memeluk putrnaya itu.


Angga membalas perlukan sang mama dengan erat juga.


"Sekarang kamu siap-siap, kan harus jemput Rara jam tujuh," ucap mama Sofia melepaskan pelukannya dari Angga.


Angga melihat jam yang sudah menunjukan pukul 6 sore, Angga tersenyum melihat mama nya lalu naik ke lantai dua dan bersiap-siap.


Papa Lukman baru saja kelaur dari ruang kerjanya, dan melihat sang istri sedang mengusap air matanya.


"Ma, ada apa?" Tanya papa Lukman menyentuh pundak sang istri.


"Putra kita pa, putra kita akan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih memimpin perusahaan," ucap mama Sofia.


"Angga sudah membicarakan itu dengan papa ma, papa juga sedih tapi itu udah keputusan Angga, Angga juga tidak mungkin menjalani dua pekerjaan sekaligus apa lagi pekerjaan yang memiliki tangung jawab besar semua, jadi Angga harus melepas salah satunya," ucap papa Lukman.


"Iya pa," ucap mama Sofia.


"Udah jangan sedih, kan udah mau punya mantu baru," ucap papa Lukman menjahili sang istri.


"Ihh, papa, mama kan lagi sedih," ucap mama Sofia cemberut.


"Iya-iya maaf," ucap papa Lukman kembali memeluk sang istri.


Di dalam kamarnya Angga sedang melihat penampilannya di depan cermin, dengan jas hitam di padukan dengan dasi berwarna senada dengan gaun yang nanti akan di kenakan oleh Rara. Membuat penampilan Angga bertambah keren.


"Udah siap," ucap Angga.


Angga menyambar kunci mobil dan ponsel, lalu kelaur dari dalam kamar dan turun ke lantai bawa.


"Ma, pa aku pamit yah," ucap Angga mendekati kedua orang tuannya.


"Iya sayang," ucap mama Sofia.


"Doain aku yah ma, pa semoga semuanya lancar," ucap Angga sebelum pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


Angga kelaur dari dalam rumah setelah menyalami punggung tangan kedua orang tuanya, senyum tak pernah lepas dari bibir Angga, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan calon istri itu.


Angga masuk ke dalam mobil, dan mobil pun kelaur dari halaman rumah besar keluarga Wialntara. Mobil itu berjalan cepat menuju kediaman rumah sang calon istri.


Next...

__ADS_1


__ADS_2