Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Ruangan Kerja Rara


__ADS_3

Rara sudah mulai bekerja di butik mbak Dian, Sahri ini gadis itu terlihat begitu senang karena di anter oleh sang calon suami.


"Aduh yang senyum-senyum sendiri pas tiba, ayo ada apa nih?" Tanya mbak Dian yang juga baru saja tiba di butik.


"Mbak Dian, aku jadi kaget loh," ucap Rara tersenyum melihat atasannya itu.


"Habis kamu sih kaya melamun gitu, jadi gak tau deh mbak tiba," ucap mbak Dian.


"Eh tadi itu pacar kamu yah yah?" Tanya mbak Dian kepo.


"Iya mbak, namanya Angga," ucap Rara.


"Tapi kok aku gak asing yah sama wajahnya dia, kaya pernah sering liat gitu," ucap mbak Dian saat ini ia dan Rara masih berada di parkiran butik.


"Dia kan polisi mbak, mungkin saja mbak sering liat di saat sedang bertugas razia mbak," ucap Rara.


"Iya kamu benar Ra, aku baru ingat kalau dia sering razia di jalan xx, aku aja dulu pernah di berhentiin sama dia," ucap mbak Dian.


"Tapi gak sampai di tilang kan mbak?" Tanya Rara sambil tersenyum.


"Gak lah Ra, mobil ku kan surat-surat nya lengkap," ucap mbak Dian.


"Ayo kita masuk aja mbak, udah siang udah mau jam 8 pagi," ucap Rara.


Mbak Dian dan Rara berjalan masuk ke dalam butik, para karyawan sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Pagi mbak Dian, mbak Rara," sapa para karyawan dengan sopan.


"Pagi semua," ucap Rara dan mbak Dian bersama.


Mbak Dian membawa Rara ke ruangan kerjanya yang tak jauh dari ruangan kerja mbak Dian.


"Ra, ini ruangan kerja kamu, semoga kamu betah yah. Kita juga udah natain semua yang ada di dalam," ucap mbak Dian.


"Makasih banyak mbak, udah ngerepotin saya jadi gak enak," ucap Rara.


"Udah gak papa kok, ayo kita masuk liat dulu," ucap mbak Dian dan langsung membuka pintu ruangan itu.


Clekk....


Dengan nuansa ruangan yang berbeda, membuat Rara yang melihatnya begitu senang, Rara melihat ke arah mbak Dian yang berisi di belakangnya.


"Saya suka dengan ruangannya mbak, ini bagus," ucap Rara senang.


"Syukurlah kalau kamu senang Ra, kalau gitu selamat bekerja yah, mbak keruangan kerja mbak dulu," ucap mbak Dian.


"Baik mbak, selamat bekerja," ucap Rara.


Mbak Dian keluar dari ruangan kerja Rara, Rara duduk di kursi kerjanya yang empuk itu, lalu meletakan tas nya di meja samping.


Hari yang menyenangkan untuk Rara.


****


Angga tiba di kantor dan langsung di hadang oleh sang sahabat Ilham, membaut Angga melihat Ilham dengan kesal.


"Kenapa loh?" Tanya Angga.


"Hehehe, gue pengen ngundang loh, nanti di rumah ada acara kecil-kecilan. Jangan lupa datang yah," ucap Ilham.


"Acara apa, gue boleh ajak calon istri gue gak?" Tanya Angga.


"Boleh banget dong, malahan nanti juga ada Reyhan gua mau ngundang dia juga, gak tau deh apa dai mau bawa pacar atau gak," ucap Ilham.


"Mungkin dia datang sendiri, bedah lah sama gue datang bawa calon istri," ucap Angga.


"Ck, sombong banget sih mengang-mentang udah gak LDR lagi," ucap Ilham kesal melihat Angga.


"Udah ayo kita apel pagi dulu," ucap Angga.


Kedua pria berseragam polisi itu pun ikut apel pagi bersama anggota-anggota polisi yang lainnya juga.


****


Reyhan sedang duduk bersama papa Andi di ruangan kerja Reyhan, papa Andi melihat putranya yang sedang melihat berkas yang ia bawa itu.


"Rey, apa kamu udah nemuh sekertaris buat kamu?" Tanya papa Andi.


"Belum pa, Reyhan masih nyari dulu," ucap Reyhan melihat papanya.


"Mau sekertaris wanita apa pria?" Tanya papa Andi.


Reyhan meletakan berkasnya dia tas meja, lalu melihat ke arah sang papa lagi.


"Aku maunya sekertaris aku pria pa, aku gak mau wanita," ucap Reyhan.


"Kalau kau mau papa punya teman, anaknya baru selesai sarjana juga, nanti papa bisa minta dia buat jadi sekertaris kamu," ucap papa Andi.


"Boleh juga pa," ucap Reyhan.


"Nanti papa telpon teman papa yah," ucap papa Andi.


"Iya pa," ucap Reyhan.


Setelah tidak ada lagi yang di bicarakan, papa Andi kembali lagi ke dalam ruangannya, meninggalkan Reyhan yang kembali bekerja.


Reyhan memang harus memilik sekertaris, karena pekerjaannya sudah lebih banyak dan tidak mungkin Reyhan bekerja seorang diri. Belum lagi mengurus ini dan itu.


Ting...

__ADS_1


Reyhan mengambil ponselnya yang baru saja berdenging, pertanda kalau notif pesan baru saja masuk.


"Ilham, kenapa dia Chet gue yah," ucap Reyhan dan langsung membuka isi Chet dari Ilham.


Reyhan mengiyakan undangan sahabatnya itu, apa lagi mereka sudah jarang berkumpul dan bersama sekarang.


Reyhan kembali melanjutkan pekerjaannya, karena hari ini berkas-berkas begitu menumpuk sampai ia harus mengerjakannya sendiri.


****


Di lain tempat Rara sedang asik bertukar pesan dengan sang kekasih Angga, sejam lagi adalah jam makan siang.


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini sayang?" Isi pesan Angga.


"Lancar sayang, hari ini aku senang banget deh," isi pesan dari Rara.


"Apa yang bikin calon istriku ini senang heemm?" Isi pesan Angga bertanya.


"Nanti aku ceritakan lagi sayang, kalau di ceritakan di Chet, bisa-bisa kita gak bisa makan siang lagi," isi pesan dari Rara.


"Eheheh, kamu benar juga," isi pesan Angga.


Tokk...


Tokk...


"Masuk," ucap Rara.


Clekk...


"Mbak Dian," ucap Rara melihat ke arah pintu.


"Ra, makan di restoran depan yuk, jam makan siang udah tiba," ucap mbak Dian.


"Boleh mbak, ayo," ucap Rara juga.


"Kamu gak ada janji makannsiang bareng pacar kamu kan?" Tanya Mbak Dian.


"Gak kok mbak, hari ini pacar saya lagi sibuk di kantor," ucap Rara.


"Yah sudah, mbak tunggu di depan yah," ucap mbak Dian.


"Iya mbak," ucap Rara.


Rara memasukan ponselnya ke dalam tas, setelah membalas pesan dari Angga, lalu Rara kelaur dari ruangannya itu.


"Hay mbak Rara," sapa karyawan butik.


"Hay, gak istirahat makan siang," tanya Rara.


"Udah mbak, gantian sama yang lain," ucap karyawan itu.


Rara berjalan menghampiri mbak Dian yang sedang menunggu di depan pintu butik,


"Ayo mbak," ucap Rara.


Rara dan mbak Dian berjalan menuju restoran itu, menyebrangi jalan dan amsuk kedalam restoran itu.


"Ra, duduk di situ aja yuk," ucap mbak Dian.


"Ayo mbak," ucap Rara juga.


Rara dan mbak Dian duduk di meja kosong dekat jendela, dari sana mbak Dian dan Rara bisa melihat pemandangan di luar restoran itu.


"Resto nya unik yah mbak," ucap Rara.


"Iya, ini udah jadi restoran langanan aku loh dari semenjak buka butik di depan," ucap mbak Dian.


"Mbak," sapa mbak Dian memanggil pelayan.


"Iya mbak, mau pesan apa?" Tanya pelayan itu dengan sopan.


"Saya pesan yang biasa yah," ucap mbak Dian.


"Kalau mbak?" Tanya pelayan pada Rara.


"Samakan saja seperti punya mbak Dian," ucap Rara.


"Oke baik mbak," ucap pelayan itu mencatat pesanan mbak Dian dan Rara.


"Mbak Dian, gak kepikiran buat nikah?" Tanya Rara.


"Yah ampun Ra, kamu ini ngomong soal nikah sama aku, mau nikah sama siapa aku aja gak punya pacar sekarang," ucap mbak Dian sambil tertawa.


"Ha, masa sih mbak, mba kan cantik, punya usaha sendiri masa gak punya pacar sih mbak," ucap Rara.


"Gak tau kenapa Ra, semenjak di sakitin dulu aku udah gak percaya yang namanya cinta lagi," ucap mbak Dian melihat Rara dengan tatapan terluka.


Rara bisa mengerti hal itu, Rara tersenyum untuk memberikan semangat buat atasannya itu.


"Mbak Dian harus semangat, kalau dulu mbak Dian sakit hati karena di sakitin sama cowok, sekarang mbak Dian haru bangkit, mbak Dian harus bersyukur karena sudah lepas dari pria yang tidak baik itu, banyak pria yang baik di luar sana mbak, aku yakin itu," ucap Rara menggengam tangan mbak Dian di atas meja.


"Makasih Ra, kamu bukan hanya jadi bawahan aku, tapi juga jadi teman curhat buat aku," ucap mbak Dian sambil tersenyum.


"Iya mbak, sama-sama," ucap Rara.


"Permisi mbak, ini pesanan nya," ucap pelayan meletakan pesanan mbak Dian dan Rara di atas meja.


"Makasih mbak," ucap mbak Dian dan Rara.

__ADS_1


"Sama-sama, silahkan di nikmati menu makan siangnya mbak," ucap pelayan itu lalu pergi dari hadapan Rara dan mbak Dian.


"Selamat makan siang," ucap mbak Dian.


Keduanya pun menikmati makan siang mereka, sambil sesekali mengobrol di selah menikmati menu makan siang mereka.


****


Siang ini Lishi harus menjemput ponakannya pulang sekolah, Akas selalu saja merengek ingin minta di jemput oleh maminya.


Dan saat ini Lishi sudah berada di depan gerbang sekolah ponakannya itu, Lishi masih menunggu Akas yang belum keluar.


Lishi melihat jam yang melingkar di lengan putihnya itu, masih beberapa menit lagi ponakannya itu baru kelaur.


Lishi melihat penjual es cendol yang ada di depan gerbang sekolah, Lishi turun dari mobil dan mendekati penjual cendol itu.


"Bang cendolnya satu yah," ucap Lishi dan seorang pria yang juga baru sampai di belakang Lishi.


Abang penjual cendol melihat Lishi dan pria yang ada di belakang Lishi.


"Wah mbak sama mas nya kompak yah, kalau kata orang nih kaya gini nama nya tuh jodoh," ucap Abah penjual cendol.


Lishi melihat ke belakang, dan melihat pria yang juga ingin membeli cendol itu.


Deng...


Kedua mata Lishi dan pria itu bertemu dan saling tatap, pria itu juga kaget melihat wanita yang ada di depannya itu.


Abang penjual melihat Lishi dan pria itu yang tidak lain adalah Reyhan.


"Neng, mas jadi beli gak nih cendol nya?" Tanya Abang penjual cendol. Membuat Lishi dan Reyhan tersadar dan menyudahi saling tatap mereka.


"Iya bang jadi," ucap Lishi dan Reyhan bersama lagi.


"Wah-wah, benar-benar berjodoh ini mah , jadi mau beli berapa nih?" Tanya Abang penjual cendol.


"Satu, satu," ucap Lishi dan Reyhan lagi.


"Oke deh," ucap Abang penjual cendol sambil tersenyum geli menyiapkan cendol untuk pembeli kompak itu.


"Ini neng, ini mas," ucap Abang penjual.


"Berapa bang?" Tanya Reyhan.


"10 ribu aja mas," ucap Abang penjual.


Reyhan mengeluarkan uang 50 ribu dari dalam dompetnya, lalu memberikan pada Abang penjual cendol itu.


"Sekalian aja sama yang itu yah bang, kembaliannya ambil saja," ucap Reyhan.


"Benar nih mas, wah makasih banyak yah," ucap Abang penjual.


Reyhan bersiap berbalik, sedangkan Lishi masih berdiri dengan diam melihat Reyhan.


"Mami," panggil bocah kecil yang sedang berdiri di dekat mobil Lishi.


Lishi tersenyum melihat ponakannya yang baru saja kelaur sekolah itu, sedangkan Reyhan masih mematung di tempat melihat bocah kecil itu dan Lishi bergantian.


"Mami, jadi dia sudah punya anak," ucap Reyhan dalam hati.


"Hay, baru pulang yah?" Tanya Lishi saat Akas sudah berlari mendekatinya.


"Iya mi, maaf yah udah baut mami nunggu lama," ucap Akas.


"Iya gak papa kok, apa sih yang gak buat sayangnya mami," ucap Lishi mengelus pipi ponakannya itu.


"Mami beli cendol yah, aku mau dong mi," ucap Akas.


"Ini saja, om belum minum kok," ucap Reyhan tiba-tiba memberikan cendolnya pada Akas.


"Ini benar om, wah makasih banyak yah om," ucap Akas mengambil cendol pemberian dari Reyhan.


Reyhan mengusap kepala Akas dengan lembut, lalu pergi dari hadapan Lishi dan Akas.


"Om, sekali lagi makasih yah," teriak Akas.


Reyhan hanya tersenyum saja, lalu kembali melanjutkan jalannya menuju mobilnya yang sedang terparkir itu, Lishi melihat pundak Reyhan yang mulai menjauh dan hilang di balik mobil.


"Ayo kita pulang sayang," ajak Lishi pada ponakannya itu.


"Ayo mi," ucap Akas.


Lishi dan Akas berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam, setelah Akas memaki sabuk pengaman, Lishi pun mengendari mobilnya.


Lishi melirik Akas yang sedang asik meminum cendol pemberian dari Reyhan, Lishi lalu kembali fokus untuk menyetir mobil.


"Mi, es cendolnya enak, om tadi siapa mi?" Tanya Akas sambil meminum cendolnya.


"Om baik, kan udah ngasi Akas cendol tadi," ucap Lishi sambil tersenyum melihat ponakannya itu.


"Jadi kalau ketemu lagi nanti, aku boleh panggil om baik dong sama om itu mi," ucap Akas melihat sang mami.


"Boleh dong sayang, kenapa gak," ucap Lishi yang sudah berharap kalau Akas pasati tidak akan bertemu Reyhan lagi.


"Yes aku punya om baik, aku harus bilang nih sama bunda sama ayah," ucap Akas dengan antusias kembali meminum es cendol nya.


Lishi hanya tersenyum melihat ponakannya itu, kalau orang menilai mungkin Lishi sudah memiliki anak sekarang, bagi yang tidak tau kalau sebernaya Akas adalah ponakan Lishi, anak dari Kaka laki-laki Lishi.


Tak berselang lama, mobil yang di kendarai oleh Lishi memasuki gerbang rumah mereka, setelah mengantar Akas pulang, Lishi harus kembali ke kantor lagi. Karena masih ada banyak pekerjaan di kantor menunggunya.

__ADS_1


Lishi mengantar Akas ke dalam rumah, lalu pamit lagi dan kembali ke kantor, karena jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.


Next...


__ADS_2