
Mobil yang di kendarai oleh Rendi memasuki lobby kantor Diamon Group, Reyhan melepas kacamata yang menggantung di hidung mancungnya.
Rendi dan Reyhan lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantor, Rendi menekan tombol lift, lift pun terbuka.
Reyhan dan Rendi masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka menuju lantai 18 di mana ruangan meeting berada.
Ting...
Pintu lift terbuka, Reyhan dan Rendi keluar dari dalam lift, dan langsung di sambut oleh Kaka laki-laki Lishi.
"Selamat datang di kantor Diamon Group pak Reyhan," ucap Adam Kaka laki-laki Lishi.
"Iya," ucap Reyhan biasa saja, karena Reyhan tau siap pria itu.
Adam, Reyhan dan Rendi masuk ke ruangan meeting, Adam mempersilahkan Reyhan dan Rendi duduk.
Clekk...
Lishi dan sekertaris nya Lia masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di depan Reyhan dan Rendi, Reyhan hanya diam saja memasang wajah dinginnya.
"Baik kita mulai rapatnya," ucap Adam.
Lishi membuka lap top nya, sedangkan Reyhan hanya melihat sekilas ke arah Lishi.
"Sok gak kenal banget sih, padahal waktu gue anterin malam itu di jemput di depan rumah," ucap Reyhan dalam hati sambil melirik Adam.
"Ini mas," ucap Kisi memberikan lap topnya ke arah sang anak.
Adam memutar lap top nya agar lebih dekat, dan melihat presentasi yang sudah di siapkan oleh adiknya itu. Adam lalu melihat ke arah Reyhan.
"Baik sayang akan mulai mempersentsi kan meeting kita siang ini," ucap Adam.
Semua yang sudah hadir di situ hanya menganggu saja, dan Adam mulai meeting nya.
Kedua mata Reyhan tak bisa untuk tidak melihat Lishi, walaupun hanya sekejap saja tapi Reyhan harus melihat gadis yang sudah membuat nya uring-uringan itu.
"Jadi bagaimana pak Reyhan?" Tanya Adam.
"Saya setuju, ide yang pak Adam sampaikan tadi juga cukup menarik," ucap Reyhan.
"Terimakasih pak Reyhan, itu semua adalah berkat kerja keras orang terdekat saya," ucap Adam tersenyum melihat adiknya Lishi.
Membuat Reyhan melihat itu dengan kesal, apa lagi Shila membalas senyum sang Kaka dengan tak kalah manisnya. Membuat Reyhan di buat semakin kesal saja.
Selesai meeting, semuanya pun meninggalkan ruangan itu, Rendi dan Reyhan keluar terlebih dahulu setelah berjabat tangan dengan Adam dan yang lain.
"Ren, kita ke kafe dekat sini duku yah," ucap Reyhan.
"Baik pak," ucap Rendi.
Rendi dan Reyhan berdiri di depan lift, dan tak lama kemudian lift terbuka dan keluar lah bocah kecil yang berseragam TK, sambil menyeret tas punggungnya di lantai.
Reyhan mengernyit kening heran melihat bocah kecil itu, jelas Reyhan tau siapa bocah kecil itu.
"Hay om baik, om sedang apa di kantor mami aku?" Tanya bocah kecil itu mendongak melihat Reyhan yang lebih dewasa.
"Om baru selesai meeting, kau baru pulang sekolah yah, ini kan sudah telat," ucap Reyhan yang melihat jam sudah hampir pukul tiga sore.
"Gak, aku habis jalan-jalan sama pak sopir, terus kembali lagi deh ke kantor mami," ucap Akas.
"Boy," panggil Adam melihat putranya sudah kembali.
"Ayah," panggil Akas dan langsung berhamburan memeluk sang ayah.
"Gimana jalan-jalannya hari ini, seru gak," ucap Adan mencium putranya itu.
"Seduh banget yah, ayah mami mana kok gak keliatan sih?" Tanya Akas.
"Mami ada di ruangannya sama Tante Lia, sana kamu liat aja," ucap Adan menurunkan putranya itu.
"Om baik, aku mau liat mami aku dulu yah," ucap Akas melihat Reyhan.
"Iya," ucap Reyhan.
Bocah kecil itu lalu pergi mencari keberadaan sang mami, Reyhan melihat punggung kecil yang akan menghilang dari balik pintu.
"Itu putranya pak Adam?" Tanya Rendi.
"Iya pak, Akas itu putra pertama saya," ucap Adam sambil tersenyum.
Reyhan, Rendi dan Adam masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai bawa.
Di dalam ruangan kerja Lishi, Akan langsung berlari mendekati sang mami.
__ADS_1
"Mami," panggil Akas.
"Hay, udah balik yah habis jalan-jalan, ketemu gak sama ayah di depan?" Tanya Lishi dan langsung membawa bocah kecil itu ke atas pangkuannya.
"Iya mi, aku ketemu sama ayah dan om baik di depan lift," ucap Aksa.
Lishi tau siapa om baik yang di maksud oleh Akas.
"Akas duduk di sana suku yah sayang, mami mau lanjut kerja dulu," ucap Lishi.
"Oke mi," ucap Akas turun dari pangkuan Lishi dan bermain di sofa.
Lishi pun melanjutkan pekerjaannya, satu jam lagi ia dan Akas akan pulang ke rumah, karena sudah mendekati jam pulang kantor juga.
****
Reyhan dan Rendi sedang duduk di kafe yang tak jauh dari kantor Diamon Group, kedua pria tampan itu sedang menikmati kopi yang di sore hari.
Rendi melihat bos nya yang hanya diam saja.
"Hay Rey," sapa seorang Wanita.
"Riska," ucap Reyhan.
"Hay loh masih ingat gue," ucap wanita yang bernama Riska itu.
"Masih lah, mana mungkin gue lupa," ucap Reyhan.
"Udah jadi bos nih sekarang?" Tanya Riska duduk di kursi kosong yang ada di dekat Reyhan.
"Iya, loh liat dong penampilan gue sekarang," ucap Reyhan.
"Cih sombong," ucap Riska sambil tersenyum.
"Kenali ini sekertaris gue, nama nya Rendi," ucap Reyhan.
"Hay, Riska," ucap Riska mengulurkan tangannya.
"Rendi," ucap Rendi.
"Loh habis dari mana, tumben ada di sini?" Tanya Reyhan.
"Gue habis ketemu teman tadi," ucap Riska.
"Eh si Angga sama si Ilham gimana kabar mereka?" Tanya Riska.
"Ilham udah nikah, udah punya anak juga, kalau Angga lagi pacaran sama adek gue," ucap Reyhan.
"Angga sama Rara, kok bisa sih?" Tanya Riska tak percaya, karena mereka teman dari SMA.
"Yah namanya juga jodoh, kan gak ada yang tau Ria," ucap Reyhan.
"Iya juga sih," ucap Riska sambil tersenyum.
Reyhan, Rendi dan Riska mengobrol cukup lama, sampai jam sudah menunjukan pukul 4 sore.
****
Sudah jam 4 sore, tapi Rara belum juga selesai dengan pekerjaannya. Mbak Dian amsuk ke dalam ruangan kerja Rara.
Clekk...
"Ra, pulang yuk udah sore, nanti di lanjutin besok aja," ucap mbak Dian.
"Iya mbak, ini juga udah mau siap-saip kok," ucap Rara.
"Permisi Bu Rara, di luar ada pacar ibu sudah menunggu," ucap karyawan butik dari ambang pintu.
"Yah, padahal gue baru aja mau ajak kamu pulang bareng, eh malah udah di jemput sama pak polisi," ucap mbak Dian sambil tersenyum geli.
Dan benar saja setelah Rara dan mbak Dian keluar dari dalam butik, Angga sudah menunggu Rara di depan mobil.
Senyum terbit di bibir Angga, melihat Rara yang sedang bejalan kelaur dari butik bersama mbak Dian.
"Sayang maaf udah bikin kamu nunggu lama," ucap Rara mendekati Angga.
"Gak papa ko, aku baru aja sampai," ucap Angga.
"Mbak Dian, kita duluan yah," ucap Rara.
"Iya Ra," ucap mbak Dian tersenyum melihat pasangan itu.
Angga membuka kan pintu untuk Rara, lalu Angga masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Angga membantu Rara memakaikan sabuk pengaman, dan saat ini wajah keduanya begitu dekat. Kalau sedang tidak di tempat terbuka, sudah di pastikan Angga akan mencium sang kekasih saat ini juga.
__ADS_1
"Ayo jalan," ucap Rara yang mengerti arti tatapan Angga.
"Udah lama aku gak dapat cium sayang," ucap Angga sambil mengemudi mobil nya.
Rara dengan cepat mencuri kecupan di pipi sebelah kiri Angga, membuat Angga kaget dengan perlakuan sang kekasih.
Sedangkan Rara kembali duduk sambil menunduk malu, karena baru saja ia melakukan hal konyol mencium Angga.
Angga tersenyum geli melihat wajah memerah Rara, kalau sedang malu-malu gitu Rara terlihat cantik dan mengemaskan.
"Sayang mampir jalan-jalan bentar yah," ucap Angga.
"Iya," ucap Rara memeluk lengan Angga.
Keduanya terlihat begitu romantis saat sedang bersama.
Kedua pasangan kekasih itu saat ini sedang berjalan-jalan di taman kota sore hari, Angga masih mengenakan seragam polisinya. Sedangkan Angga Masi dengan setelan kerjaannya.
"Sayang tadi ketemu klien cowok yah?" Tanya Angga, saat ini mereka sudah jalan-jalan.
Angga memeluk lengan Angga dengan erat, sambil berjalan.
"Iya, tapi orangnya duda tampan sayang," ucap Rara.
"Apa duda tampan, kamu gak di goda kan sama dia?" Tanya Angga melihat Rara.
"Gak kok sayang," ucap Rara memegang kedua pipi Angga dengan gemes.
"Awas aja yah, kalau kamu dekat-dekat dengan pria lain," ucap Angga dengan nada cemburu.
"Cemburu yah?" Tanya Rara sambil tersenyum geli.
"Iya lah, aku memburu," ucap Angga.
"Wajah kamu tuh lucu banget sih," ucap Rara tertawa.
Melihat Rara yang sedang tertawa, Angga menarik pinggang Rara untuk mendekat ke arahnya, apa lagi saat ini kondisi taman sudah sedikit sepi. Karena hari sudah mulai sore.
Angga menatap wajah sang kekasih, membuat Rara tersenyum melihat Angga. Dengan pelan Angga mendekatkan wajahnya ke arah Rara, Rara yang mengerti maksud Angga pun langsung saja memejamkan kedua matanya.
"Kok nutup mata sih?" Tanya Angga.
Rara membuka kedua matanya dan melihat Angga yang begitu dekat dengannya, dan
Cup...
Rara mencium bibir Angga sekilas, lalu melepaskan ciumannya, tapi Angga kembali mencium Rara dengan lembut, sangat lembut.
"I love you," ucap Angga saat ciuman mereka terlepas.
"I love you too," ucap Rara sambil tersenyum manis.
Angga mengusap bibir Rara yang sedikit bengkak itu karena ulah nya, lalu Angga menarik Rara ke dalam pelukannya, Angga dan Rara berpelukan di bawa pohon dengan cahaya yang sudah remang-remang.
Angga melepaskan pelukan mereka, lalu kembali mengajak Rara jalan-jalan lagi.
Angga merangkul sang kekasih dengan begitu mesra, membuat Rara bisa leluasa memeluk pinggang ramping Angga dengan erat.
"Laper gak?" Tanya Angga.
"Aku pengen makan temen sayang," ucap Rara dengan suara pelan.
"Ayo kita cari dekat sini yah," ucap Angga yang mendapat anggukan dari Rara.
"Sayang itu kayaknya jual ramen deh," ucap Angga menunjuk ke arah depan.
"Kita ke sana yuk," ajak Rara.
Angga dan Rara menyebrangi jalan bersama, dengan Angga yang tidak melepas rangkulan di pundak sang kekasih.
Tiba di resto kecil itu, Angga langsung memesan dua ramen untuknya dan untuk Rara, mereka duduk di salah satu meja kosong menghadap jalan.
"Tempatnya unik yah," ucap Rara.
"Iya, bagus gak terlalu terang lampunya," ucap Angga.
"Permisi mas, mbak ini ramen nya," ucap pelayan resto itu.
"Makasih yah," ucap Rara yang mendapat anggukan dari pelayan itu.
Angga dan Rara lalu menikmati ramen bersama, sesekali Angga terlihat menyuapi sang kekasih dengan romantis.
Next...
__ADS_1