
Feli menuruni tangga, di ruang tamu Feli bisa mendengar percakapan Ilham dan kedua orang tuanya.
"Sayang, yah ampun kamu cantik banget sih," puji mama Feli berdiri mendekati sang putri.
"Mama bisa aja," ucap Feli menunduk malu, karena di tatap tak berkedip oleh Ilham sang kekasih.
"Sayang, nak Ilham udah nungguin kamu dari tadi loh," ucap pak Surya tersenyum melihat sang putri.
"Maaf yah udah bikin kamu nunggu lama," ucap Feli tersenyum manis ke arah Ilham.
"Gak papa kok, aku juga maklum kalau wanita dadan kan lama," ucap Ilham sambil tertawa melihat wajah cantik Feli.
"Kita pergi sekarang?" tanya Ilham pada Feli.
"Boleh," ucap Feli melihat ke arah kedua orang tuanya.
"Ma, pa aku sama Ilham pamit dulu yah," ucap Feli menyalami punggung tangan kedua orang taunya bergantian.
"Iya om, tante saya dan Feli ijin pamit dulu," ucap Ilham yang juga menyalami punggung tangan kedua orang tua Feli bergantian.
"Iya sayang, kalian hati-hati yah," ucap mama Feli menatap sang putri dan juga calon mantunya.
Feli mengandeng lengan Ilham keluar dari ruang tamu, mama Feli dan pak Surya tersenyum melihat itu.
Ilham membukakan pintu untu Feli, lalu Ilham memutari mobil dan masuk duduk di kursi kemudi.
Ilham melihat Feli yang sedang kesusahan memakai sabuk pengaman, Ilham langsung membantu sang kekasih dan hal itu membuat Feli kaget, karena saat ini posisi Ilham sedang berhadapan dekat dengan nya. Membuat keduanya saling tatap cukup lama.
"Cantik," ucap Ilham sambil tersenyum menatap sang kekasih.
"Jangan lama-lama liatnya, nanti kita telat lagi," ucap Feli mengingatkan Ilham, dan Ilham kaget lalu menjauhkan dirinya ke tempat semula.
"Maaf, habis kamu cantik banget sih malam ini, bikin aku gak bisa fokus," ucap Ilham melihat ke arah Feli, dan membuat Feli salah tingkah dengan tatapan Ilham.
Ilham lalu menjalankan mobilnya, dan fokus menyetir. Feli yang duduk di kursi samping menatap ke arah Ilham yang malam ini terlihat begitu berbeda dari biasanya.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Feli melihat Ilham.
"Nanti kamu juga tau, aku punya kejutan buat kamu," ucap Ilham menatap Feli yang juga melihat ke arah Ilham.
Mobil yang di kendarai oleh Ilham menyusuri jalan yang cukup padat itu, untung saja malam ini tidak terlalu macet, sehingga mobil yang di kendarai oleh Ilham tiba di salah satu restoran.
Ilham melihat mobil sang sahabat sudah tiba lebih dulu, Ilham langsung mengirim pesan untuk Angga.
Angga yang masi berada di dalam mobil pun membaca pesan yang masuk dari Ilham.
Angga melihat ke arah mobil Ilham yang tak jauh dari mobilnya terparkir, Ilham terlihat turun duluan dan membukakan pintu untuk Feli sang kekasih.
Angga juga ikut turun dari dalam mobilnya, dan mendekati Ilham dan juga Feli.
"Hay Nga, udah nunggu lama?" tanya Ilham mendekati sang sahabat.
"Gak juga kok, gue baru sampai lima menit yang lalu," ucap Angga menatap Ilham dan juga Feli.
"Hay Nga," sapa Feli dengan rama sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hay," sapa Angga juga dengan ramah.
"Kita masuk sekarang," ajak Ilham melihat Angga dan Feli bergantian.
"Boleh, tapi kok ini sepi yah restorannya, apa gak ada pengunjung lain selain kita?" tanya Feli melihat ke dalam restoran yang memang sepi.
Ilham menatap Angga, sedangkan Angga hanya diam saja, lalu Ilham mengandeng tangan Feli masuk ke dalam.
"Ayo," ajak Ilham menatap Feli.
Feli, Ilham dan Angga masuk ke dalam restoran itu, Feli melihat banyak lampu-lampu yang hias yang berada di sudut-sudut restoran, Feli juga melihat tumpukan bunga yang tersusun rapi di salah satu meja.
"Ini semua apa?" tanya Feli menatap Ilham dengan bingung.
Ilham tersenyum melihat wajah bingung sang kekasih, sedangkan Angga sudah mengabadikan momen Ilham yang akan melamar sang kekasih.
Rupanya Ilham meminta Angga untuk datang, adalah untuk mengabadikan momen Ilham yang akan melamar Feli, dan di sinilah Angga sekarang sedang memegang kamera untuk merekam adegan lamaran Ilham pada Feli.
"Pertemuan kita memang terbilang singkat, dan mungkin pacaran kita juga terbilang baru, tapi setelah aku pikir-pikir aku ingin menjalani hubungan yang lebih serius sama kamu, aku tau mungkin ini terlalu cepat buat kamu dan buat kita, tapi aku udah bertekad untuk melamar kamu malam ini," ucap Ilham menatap Feli dan menggenggam kedua tangan Feli.
"Felisha Surya, maukah kau menikah dengan ku, dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti," ucap Ilham menatap Feli dengan serius.
Feli masi diam mematung, ia tak percaya kalau Feli sedang melamar nya sekarang, air mata menetes dari kedua mata cantik Feli. Membuat Ilham dengan cepat mengusapnya dengan lembut.
"Kenapa nangis?" tanya Ilham lembut.
"Aku cuma bahagia dan terharu aja, kamu nyiapin semua ini hanya untuk melamar aku," ucap Feli melihat kedua mata Ilham.
"Maaf mungkin ini lamaran yang tidak romantis sayang," ucap Ilham kembali mengusap air mata Feli.
Feli langsung memeluk Ilham dengan erat, Feli menangis di pelukan Ilham. Membaut Ilham menguap kepala Feli dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sesekali Ilham juga mencium rambut Feli.
"Iya, aku mau," ucap Feli sambil tersenyum bahagia.
"I Love you," ucap Ilham tepat di depan wajah Feli.
"I Love you too," ucap Feli dan langsung memeluk Ilham dengan erat.
Keduanya berpelukan cukup lama, Angga yang sedang mengabadikan momen sang sahabat juga ikut terharu, Angga ikut bahagia akhirnya lamaran untuk Feli dari Ilham berjalan lancar.
"Terimakasih karana kamu sudah sudah mau menerima lamaran ku," ucap Ilham menyematkan cincin cantik di jari manis Feli.
Feli tersenyum senang, lalu Ilham mencium punggung tangan Feli yang terdapat cincin lamaran.
Keduanya kembali berpelukan lagi, Feli dan Ilham terlihat begitu bahagia malam ini, hanya tinggal melamar Feli pada kedua orang tuanya saja.
Ilham mencium kening Feli cukup lama, lalu keduanya melihat ke arah Angga yang sedang mengabadikan momen mereka berdua.
"Nanti kalau gue ngelamar Rara loh berdua yang harus mengabadikan momen nya," ucap Angga mela Feli dan Ilham.
"Iya tenang aja, nanti kita yang akan jadi kamera men," ucap Ilham sambil tersenyum bersama Feli.
Ilham lalu mengajak Feli duduk di salah satu meja yang sudah di siapkan, pelayan restoran juga datang dan membawa banyak menu yang sudah di pesan oleh Ilham.
"Nga, ayo kita makan malam bareng, buat ngerayain acara lamaran kita," ucap Ilham melihat sang sahabat.
__ADS_1
"Iya," ucap Angga ikut duduk di kursi yang ada di depan Feli dan Ilham.
"Kamu mau makan apa, biar aku ambilkan?" tanya Feli melihat Ilham, sedangkan Angga sudah mengambil makanan nya sendiri.
"Samain aja kaya punya kamu, aku pasti makan kok," ucap Ilham senang melihat sang calon istri.
Feli mengambilkan menu makanan untuk Ilham, menu yang sama seperti yang Feli ambilkan untuknya juga.
Ketiganya menikmati makan malam bersama, Angga ingin cepat menghabiskan makanannya dan ingin segera cepat pulang ke rumah.
"Nga gak nambah lagi?" tanya Feli melihat ke arah piring Angga yang sudah kosong.
"Udah cukup, gue haru buru-buru balik harus telponan sama calon istri," ucap Angga meletakan gelas kosong ke atas meja.
"Makasih yah Nga udah bantuin kita, salam gue buat Rara dan Reyhan," ucap Ilham menatap sang sahabat.
"Iya sama-sama," ucap Angga mengecek ponselnya.
"Kalau gitu gue cabut duluan yah, loh berdua gak papa kan?" tanya Angga menatap Ilham dan Feli bergantian.
"Iya gak papa kok, makasih yah Nga," ucap Feli.
Angga hanya menganggu lalu beranjak dari duduknya, Angga berjalan keluar dari restoran itu dan meninggalkan Ilham dan Feli.
Angga masuk ke dalam mobilnya, bersiap akan menyalakan mobil, tiba-tiba ponsel Angga berdering dan itu panggilan dari Reyhan. Tampa menunggu lama Angga langsung mengangkat telpon dari Reyhan.
"Hallo Rey, ada apa?" tanya Angga masi berada di dalam mobil.
"Nga ada yang mau gue bilang sama loh," ucap Reyhan dari seberang sana dengan suara serius.
"Apa Rey, kok kayaknya serius banget sih?" tanya Angga penasaran sambil tangan sebelahnya memang stir mobil. Tapi mobil masi belum jalan.
"Ada seseorang yang ingin mencelakai Rara Nga," ucap Reyhan.
"Apa, terus sekarang Rara mana, apa dia baik-baik saka Rey?" tanya Angga dengan kuatir.
"Sekarang Rara baik-baik saja Nga, tapi tadi Rara hampir celaka karena orang tak di kenal mengejar mobil yang di naikin Rara dan temannya," ucap Reyhan dari balik telpon lagi.
Angga terlihat menghela nafas nya dengan kasar, Angga melihat ke luar restoran, apa yang ia kuatirin selama ini terjadi juga.
"Nga, loh masi di situ kan?" tanya Reyhan dari balik telpon.
"Iya Rey," ucap Angga pelan.
"Loh tenang aja, gue akan selalu jagain Rara di sini, Nga," ucap Reyhan lagi.
"Iya Rey, makasih cuma kamu yang bisa aku andalkan saat jauh seperti ini dengan Rara," ucap Angga dengan pikiran kacau.
"Kalau gitu gue matiin telpon dulu yah, nanti gue kabarin loh lagi," ucap Reyhan dari balik telpon.
"Iya Rey, makasih yah udah ngasi tau gue," ucap Angga, lalu panggilan telpon dari Reyhan pun terputus.
Angga meletakan ponselnya di kursi kemudi, Angga melihat ke arah ponsel yang ia letakan barusan itu.
"Kenapa Rara gak ngasi tau gue kalau dia lagi dalam bahaya, kenapa Rara hanya diam saja dan gue tau dari Reyhan," ucap angga dalam hati.
__ADS_1
Angga lalu menyalakan mobil nya dan keluar dari parkiran restoran itu, Angga pulang ke rumah dan akan menghubungi Rara nanti setibanya di rumah.
Next...