Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Butik


__ADS_3

Rara dan mbak Dian memasuki ruang VVIP yang sudah di pesan oleh klien mereka, kedua wanita cantik itu menjadi pusat perhatian di dalam restoran itu.


"Hallo pak Nurdin, maaf sudah membuat bapak menunggu lama," ucap mbak Dian bersalaman dengan kliennya itu.


"Tidak apa Bu Dian, saya juga baru saja tiba," ucap pak Nurdin.


"Kenalin ini Rara desainer baru di butik saya," ucap mbak Dian.


"Nurdin," ucap pak Nurdin.


"Rara," ucap Rara.


"Silahkan duduk Bu Dian, Bu Rara," ucap pak Nurdin sambil tersenyum.


"Iya pak terimakasih," ucap Rara dan mbak Dian.


Pelayan terlihat mengantar menu makan siang untuk mereka, dengan hati-hati pelayan menatanya di meja dengan hati-hati.


"Silahkan pak, Bu," ucap pelayan itu sebelum berlalu dari hadapan mereka.


"Jadi Bu Rara lulusan luar negri?" Tanya pak Nurdin.


"Betul pak," ucap Rara.


"Hebat yah, karya desainer Bu Rara begitu bagus dan saya suka," ucap pak Nurdin.


"Wah terimakasih banyak pak Nurdin," ucap Rara sambil mengangguk.


"Ayo kita mulai saja makan siangnya, nanti keburu dingin lagi, meeting kita lanjutkan nanti saja," ucap pak Nurdin.


Rara, mbak Dian dan pak Nurdin pun menikmati makan siang mereka, di selah menikmati menu makan siang, mereka bertiga juga saling bertukar cerita.


****


Angga dan Ilham berada di pos bersama rekan-rekan anggota yang lain, tiba-tiba hate yang ada di tangan Ilham berbunyi.


"Lapor komandan, di depan telah terjadi kecelakaan," ucap rekan anggota lain.


"Kita harus melihat kecelakaan yang abru saja terjadi di depan," ucap Ilham.


Angga, Ilham dan anggota yang lain pun pergi melihat kecelakaan yang terjadi, seorang pengendara sepeda motor menabrak mobil yang sedang melaju kencang.


Angga dan Ilham melihat korban yang sedang tergeletak di jalan, beberapa anggota polisi sudah membantu korban yang lain di dalam mobil.


Hanya satu yang terluka parah, yah itu si pengendara motor. Tak berselang lama ambulance datang dan langsung membawa para korban.


Menurut saksi yang melihat kecelakaan itu terjadi karena sang pengemudi motor sedang melaju kencang, sampai tidak melihat ada mobil yang sedang berada di depan.


"Semoga saja tidak ada korban sampai meninggal dunia," ucap Ilham.


"Iya, semoga saja," ucap Angga juga.


Semua korban sudah di larikan ke rumah sakit, ada beberapa anggota juga yang sudah ikut ke rumah sakit.


Angga dan Ilham kembali lagi ke pos, setelah Jaka sudah tidak terlihat macet lagi.


Angga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah menunjukan jam makan siang, Angga dan yang lain lalu pergi untuk makan siang, Angga dan Ilham mencari restoran yang ada di dekat sana saja.


"Nga loh juga ngerasa gak sih kalau Reyhan sekarang lagi lain, maksud gue gak kaya biasanya," ucap Ilham melihat Angga.


"Iya, gue juga ngerasa gitu, tapi gue belum nanya sih sama dia sekarang," ucap Angga fokus dengan kemudi.


"Kenapa tuh anak, Galau kali yah," ucap Ilham.


Mobil yang di kendarai oleh Angga berhenti di parkiran salah satu restoran, kedua pria yang berseragam polisi turun dari dalam mobil, dan berjalan masuk ke dalam restoran itu.


Banyak kaum hawa yang melihat keduanya dengan tatapan tertarik, tapi tidak dengan Angga dan juga Ilham, mereka sudah memiliki wanita spesial di hati mereka.


"Gila polisinya ganteng banget," ucap salah satu cewek yang duduk di salah satu meja.


"Iya, jadi pengen deh punya pacar polisi biar keren gitu," ucap cewek yang satunya lagi.


"Aduh, jangan mimpi deh loh berdua, gampang-gampang gitu gak mungkin kan gak punya cewek," ucap salah satu temannya.


"Gak papa kita kan cuma bilang aja," ucap cewek yang satunya juga.


Angga dan Ilham memesan menu makan siang mereka.


"Ham, gue ke toilet bentar yah," ucap Angga.


"Iya jangan lama-lama," ucap Ilham.


"Iya," ucap Angga beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju toilet.


Ilham duduk sendiri, tiba-tiba seorang wanita **** datang mendekati Ilham, membuat Ilham kaget dengan keberadaan wanita itu.


"Hay, sendirian aja," ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Ilham tersenyum kecut, Ilham mengutuk sang sahabat yang tak juga datang dari toilet.


"Hay nama gue Lika," ucap wanita itu dengan pedenya mengajak Ilham berkenalan.


"Ilham mendapat ide, ia mengambil ponselnya dan membuka galeri foto, Ilham memperlihatkan foto keluarganya.


"Ini, loh liat baik-baik, ini istri gue dan ini anak gue, dan sekarang istri gue lagi hamil anak kedua kami," ucap Ilham dengan tegas.


Dengan menahan kesal wanita itu beranjak dari duduknya, baru kali ini ada cowok yang nolak dia kaya gitu.

__ADS_1


"Ilham tersenyum senang karena berhasil mengusir wanita itu, wanita yang Ilham pikir lebih cantik istrinya Feli.


Ilham melihat Angga yang baru saja datang.


"Lama banget sih loh, ngapain aja si toilet," ucap Ilham menatap sahabatnya itu.


"Buang air lah, terus ngapain lagi," ucap Angga santai.


"Loh gak tau kalau tadi gue hampir saja di goda sama wanita-wanita ****," ucap Ilham.


"Terus gimana loh bisa lepas dari dia?" Tanya Angga.


"Yah pakai akal lah, masa gue harus diam aja sih," ucap Ilham.


Tak berselang lama pesanan mereka datang, Ilham dan Angga langsung saja menyantap menu makan siang mereka.


Tampa perduli dengan lara pengunjung resto yang lain melihat mereka sedari tadi, resiko jadi cowok tampan pasti akan menjadi pusat perhatian para wanita.


****


Rendi saat ini sudah siap dengan berkas yang akan mereka bawa, pukul 2 siang nanti ia dan sang bos akan pergi meeting di luar.


Di dalam ruangannya Reyhan sedang duduk sambil melihat bangunan-bangunan tinggi yang ada di depan sana, pikiran Reyhan saat ini masih kacau, apa lagi nanti Reyhan akan bertemu dengan Lishi lagi saat rapat di kantor Diamon Group.


Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar, entah kenapa ingatan tentang bocah kecil yang memangil Lishi mami selaku saja teringat di kepala Reyhan.


Tokk...


Tokkk...


"Masuk," ucap Reyhan.


Clekk...


"Nak, kau kenapa?" Tanya papa Andi melihat putranya itu.


"Gak pa, aku gak papa kok," ucap Reyhan berdiri dan duduk di sofa bersama sang papa.


"Akhir-akhir ini papa perhatikan kau berbeda nak, ada apa?" Tanya papa Andi.


"Ada hal yang sedang ku pikirkan pa," ucap Reyhan melihat sang papa.


"Apa soal cewek?" Tanya papa Andi.


"Iya pa, tapi udahlah gak papa juga," ucap Reyhan memaksa tersenyum.


"Berjuanglah kalau itu gadis baik yang kau cintai," ucap papa Andi memberikan dukungan untuk sang putra.


"Iya pa makasih," ucap Reyhan.


Papa Andi melihat putranya yang kembali melamun lagi, papa Andiandi hanya menggeleng kepala melihat putranya itu.


"Kalau gitu papa ke ruangan dulu, jam berapa kamu sama Rendi pergi rapat?" Tanya papa Andi sebelum beranjak.


"Setengah jam lagi pa," ucap Reyhan.


"Baik," ucap papa Andi lalu kelaur dari ruangan putranya itu.


Reyhan meminta Rendi untuk datang ke ruangannya, karena ada pekerjaan yang mau ia sampaikan pada sekertaris.


****


Tera terlihat sedang menggambar sebuah gaun, gaun yang terlihat begitu elegan.


Ting...


Rara melihat ke arah ponselnya yang abru saja berdenting, pertanda kalau pesan masuk.


Senyum terbit di bibir Rara, melihat pesan yang masuk dari sang kekasih Angga, Rara membaca isi pesan dari Angga.


"Hay cantik, sedang apa sekarang?" Isi pesan Angga.


Dengan tersenyum Rara membalas pesan dari Angga.


"Lagi buat gambar, kalau pak polisi sedang apa?" Isi pesan Rara.


Pesan terkirim, Rara meletakan lagi ponselnya di atas meja, dan melanjutkan gambarnya lagi.


Ting...


Rara melihat lagi pesan dari Angga.


"Sedang mikirin kamu, habis aku kangen sekarang," isi pesan Angga.


Rara hanya tersenyum melihat isi pesan konyol dari Angga, Rara membalas pesan itu lalu kembali melanjutkan gambarnya lagi.


****


Mobil Sasmita baru saja terparkir di depan butik di mana Rara bekerja sekarang, Sasmita melihat penampilannya terlebih dahulu. Kemudian wanita itu turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam butik.


"Selamat siang mbak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang karyawan.


"Saya mau cari gaun, tapi yang limited edition ada gak?" Tanya Sasmita dengan gaya eleganya.


"Ada mbak, mari ikut saya," ucap karyawan butik.


Sasmita mengikuti karyawan butik ke salah satu ruangan, di mana gaun-gaun mahar berjajar di sana. Membuat siapa saja terkagum-kagum melihatnya.

__ADS_1


"Ini mbak," ucap karyawan butik.


Sasmita melihat-lihat, tapi tidak ada yang masuk ke hatinya, padahal semua gaun yang ada di situ bagus dan cantik-cantik.


"Apa di sini ada desainer, saya ingin di buatkan saja kalau gitu," ucap Sasmita banyak alasan.


"Ada mbak, kalau gitu mbak iku saya yah, saya panggil dulu orangnya," ucap karyawan butik.


"Oke," ucap Sasmita.


Karyawan butik itu pergi memanggil Rara di ruangannya, Rara yang sedang bertukar pesan dengan Angga mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk," ucap Rara Daris dalam.


Clekk...


"Permisi Bu Rara, ada pembeli yang mau bertemu dengan ibu," ucap karyawan butik.


"Baik," ucap Rara beranjak dari duduknya, dan berjalan kelaur dari ruangannya.


"Ini Bu orangnya," ucap karyawan butik.


"Oh, iya makasih yah," ucap Rara.


"Iya Bu Rara," ucap karyawan butik.


Rara tersenyum ke arah Sasmita, sedangkan Sasmita melihat penampilan Rara dari ujung kaki sampai kepala, Sasmita akui Rara memang lebih cantik terlihat langsung dari pada di foto.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya Rara duduk di salah satu sofa.


"Iya, saya mau minta di buatkan gaun," ucap Sasmita.


"Apa mbak sudah melihat gaun-gaun yang ada di sini," ucap Rara.


"Sudah tapi tidak ada yang masuk ke hati saya, jadi saya mau di buatkan saja," ucap Sasmita.


"Baik, mbak mau saya buatkan model yang bagaimana?" Tanya Rara melihat Sasmita.


Sasmita pun menjelaskan gaun yang ia inginkan, Rara hanya mendengar dan mengangguk kepala saja, karena Rara seorang desainer jadi sudah jadi hal mudah buat Rara.


"Mbak tunggu sebentar yah, saya ambil pengukur dulu," ucap Rara.


"Iya," ucap Sasmita.


"Kalau bukan karena rencana akan menyingkirkan kamu, saya juga gak sudi berlama-lama di sini," ucap Sasmita dalam hati, melihat Rara yang masuk ke dalam ruangannya.


Tak berselang lama Rara datang dan langsung mengukur badan Sasmita, Rara menulis semua ukurannya di buku, jadi tidak akan salah nanti.


"Sudah, nanti akan saya buatkan gaunnya mbak, mungkin besok atau lusa sudah jadi," ucap Rara.


"Okeh, kalau gitu saya minta nomor ponsel kamu boleh kan, nanti kamu bisa hubungi saya kalau udah jadi gaunnya," ucap Sasmita.


"Oh tentu saja boleh, sini hp nya mbak," ucap Rara menulis nomor ponsel di hp Sasmita.


"Oke makasih yah," ucap Sasmita.


"Iya mbak, sama-sama," ucap Rara sambil tersenyum manis.


"Kalau gitu saya pamit dulu," ucap Sasmita.


"Iya mbak," ucap Arara dengan sopan.


Sasmita keluar dari butik itu, Rara melihat punggung yang masih bisa terlihat dari kaca transparan butik, Rara lalu mengambil buku dan pengukur dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.


Rara melihat ada pesan dari Angga yang belum sempat ia balas, Rara membalas pesan itu lalu mulai membuat gaun pesanan Sasmita.


Di luar butik Sasmita menjalankan mobilnya kelaur dari parkiran butik sambil tersenyum senang, karena sekarang rencananya setengah sudah berhasil.


"Tinggal tunggu tanggal mainnya saja, Angga akan kembali menjadi milik gue, hanya milik gue," ucap Sasmita seorang diri.


Mobil Sasmita terus melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu saat ini sedang menuju ke apartemen temannya di jalan xx.


Mbak Dian masuk ke dalam ruangan Rara, Mbak Dian melihat Rara begitu sibuk dengan gambarnya.


"Ra, sibuk banget sih?" Tanya mbak Dian.


"Eh mbak, iya ada yang minta di baut kan gaun," ucap Rara sambil tersenyum.


"Ada pelanggan?" Tanya mbak Dian.


"Iya mbak, minta di buatkan gaun baru," ucap Rara.


"Siapa Ra?" Tanya mbak Dian.


"Aku juga gak tau namanya mbak, cuma orangnya cantik, bukan orang biasa juga sih kalau di liat dari penampilannya," ucap Rara sambil membuat gambar.


"Yah sudah, kau lanjut kerja dulu, aku mau ke depan yah," ucap mbak Dian.


"Iya mbak," ucap Rara.


Niat ingin mengobrol bersama Rara, malah mbak Dian urungkan karena melihat Rara sedang fokus bekerja saat ini.


Mbak Dian keluar dari ruangan Rara dan pergi ke depan, bertanya pada karyawan butik nya soal pembeli yang memesan gaun pada Rara, dan karyawan butik menjelaskan pada bos mereka tentang pembeli yang ingin di buatkan gaun baru saja oleh Rara.


Mbak Dian merasa heran, baru kali ini ada pembeli yang seperti itu di butiknya.


Next....

__ADS_1


__ADS_2