Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Hari Pernikahan Ilham & Feli


__ADS_3

Hari pernikahan Ilham dan Feli pun tiba, kedua pasangan pengantin itu terlihat begitu bahagia di atas pelaminan, dengan Feli yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, dan Ilham yang mengenakan seragam Bhayangkara nya.


Angga dan anggota yang lain melihat sang sahabat yang saat ini sudah menjadi seorang suami, Angga melambai tangan ke arah Ilham.


Ilham melihat para sahabat yang sedang berdiri di bawa pelaminan, senyum terbit di bibir Ilham kalah melihat Angga.


Karena sang kekasih jauh, jadi Angga hanya bisa datang ke acara pernikahan Feli dan Ilham sendirian saja, tampa adanya pasangan.


"Nga, ngasi selamat buat Ilham yuk," ajak salah satu teman Angga.


"Ayo," ucap Angga juga.


Angga dan teman-temannya sesama Anggota pun naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada Feli dan Ilham.


"Wih yang udah nikah, selamat bro, semoga bahagia terus," ucap salah satu anggota sahabat Ilham.


"Makasih yah, kalian udah mau datang," ucap Ilham.


"Iya sama-sama," ucap sahabat Ilham dan Angga.


"Selamat yah buat kalian berdua, doa terbaik buat pernikahan kalian Ham, Fel, ucap Angga memeluk sang sahabat, Feli yang sedang berdiri di samping Ilham hanya tersenyum saja.


"Iya makasih yah Nga, semoga loh dan Rara cepat nyusul juga," ucap Ilham melepaskan pelukannya dan Angga.


"Iya makasih yah," ucap Angga sambil menepuk pundak sang sahabat.


"Fel, selamat yah, loh harus bisa bikin sahabat gue ini bucin," ucap Angga sambil tersenyum melihat ke arah Angga.


"Gak usah di bilang Nga, sekarang aja udah bucin kok," ucap Feli melirik pria yang baru saja menjadi suaminya itu.


"Rasain loh," ucap Angga melihat Ilham.


Angga mendekati kedua orang tuanya Ilham, untuk menyalami punggung tangan mereka.


"Nak Angga," ucap mama Ilham.


"Iya tante, om," ucap Angga dengan sopan.


"Terimakasih nak Angga sudah mau datang," ucap papa Ilham mengusap kepala Angga dengan sayang.


Karena kedua orang tua Ilham sudah menganggap Angga seperti putra sendiri, layaknya seperti Ilham. Karena mereka sudah bersahabat dari duduk di bangku SMA.


Angga lalu turun dari atas pelaminan, dan berjalan mencari meja yang masi kosong, Angga melihat kedua orang tua Rara yang sedang duduk di salah satu meja.


Angga mendekati kedua orang tua Rara, dari meja yang di duduki oleh papa Andi, pria paru baya itu sudah bisa melihat calon mantunya berjalan mendekat.


"Om, tante," sapa Angga dan langsung menyalami punggung tangan papa Andi dan mama Lara bergantian.


"Nga, kamu sendiri mama sama papa gak ikut?" tanya papa Andi melihat Angga duduk di kursi yang ada di dekat mereka.


"Gak om, papa lagi sibuk di kantor mama juga lagi berkunjung ke rumah Alisa," ucap Angga sambil tersenyum.


"Yah, om tinggal maksa mama nya Rara buat ikut, takut nanti ada yang mengira om ini duda," ucap papa Andi sambil tersenyum sambil melirik sang istri.


"Mama gak akan biarin janda buat dekatin papa," ucap mama Lara sambil tersenyum menatap wajah sang suami.


Angga juga ikut tersenyum melihat kedua orang tuanya Rara, apa lagi melihat papa Andi yang begitu jahil menggoda sang istri.


Suasana pesta pernikahan Ilham dan Feli berjalan begitu meriah, apa lagi dengan di hadiri para anggota polisi juga.


Saat ini pengantin baru itu akan bersiap lempar bunga, dan Angga juga anggota lain sudah berdiri di bawa pelaminan.


"Satu, dua, tiga," ucap Ilham dan Feli, kemudian melempar bunga yang mereka pegang itu.


Bunga jatuh ke genggaman tangan Angga, membuat Anggota lain bersorak senang melihat bunga itu. Begitu pun dengan Ilham dan Juga Feli.

__ADS_1


"Wah kayaknya loh nih yang bakalan nyusul nikah berikut nya Nga," ucap salah satu sahabat Angga.


"Amin, doain aja Bro," ucap Angga tersenyum, sambil memegang bunga yang ia tangkap tadi.


Mereka mengabadikan momen mereka berfoto bersama pengantin baru itu, apa lagi para sahabat Feli juga tak mau ketinggalan.


Ilham memang sengaja tidak mengundang Sasmita, karena Ilham tau bagaimana sifat dan kelakuan wanita itu.


****


Sasmita terlihat sedang tertawa sendiri di dalam apartemen miliknya, saat ini Sasmita sedang menertawakan dirinya yang tak berdaya.


"Sial banget sih hidup gue, hahhaa," ucap Sasmita sambil tertawa keras.


Akhir-akhir ini Sasmita terlihat sering tertawa sendiri, apa lagi sekarang suami dari Sasmita sudah jarang menemui wanita itu, karena kalau mereka bertemu, Sasmita selalu berkata ingin bercerai saja.


Tokk...


Tokk...


"Masuk aja, pintunya gak di kunci," ucap Sasmita dari dalam kamar.


Clekk...


Seorang wanita masuk dan melihat sisi kamar itu yang begitu berantakan, wanita yang tak lain adalah Sasa itu menggeleng kepala melihat isi kamar Sasmita.


"Ini kamar apa kapal pecah sih, berantakan banget," ucap Sasa masuk ke dalam kamar itu.


"Hahaha, loh jadi bawel juga yah lama-lama," ucap Sasmita sambil tertawa.


"Sas, loh kenapa sih ketawa mulu, loh baik-baik aja kan?" tanya Sasa melihat wajah Sasmita.


"Emang loh kira gue gila, ha?" tanya Sasmita melihat Sasa sambil tersenyum, membaut Sasa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu.


"Ngapain loh manggil gue ke sini, ada apaan?" tanya Sasa melihat Sasmita.


"Tumben loh bosan, biasanya loh gak gini," ucap Sasa.


"Hahaha, udah berapa kali gue bilang Sa, gue baik aja tau," ucap Sasmita.


"Wah ada yang gak beres nih dengan Sasmita, jangan bilang Sasmita sakit jiwa nih," ucap Sasa dalam hati, sambil melirik Sasmita.


"Kenapa loh jadi bengong, ayo kita pergi sekarang Sa," ajak Sasmita, membuyarkan lamunan Sasa.


"Iya-iya, ayo," ucap Sasa juga.


Kedua wanita itu keluar dari dalam apartemen Sasmita, Sasa hanya mengikut saja entah kemana Sasmita akan mengajaknya kali ini.


****


Rayhan melihat sang adik dan juga Keni sedang mengerjakan sesuatu di ruang tamu, keduanya terlihat begitu sibuk kali ini.


Rayhan berjalan ke ruang tamu dan duduk di sana, melihat kedua gadis yang sedang sibuk dengan kegiatan itu.


"Kalian lagi ngapain sih, kok sibuk banget?" tanya Reyhan yang sedang duduk di salah satu sofa.


"Kita lagi ngerjain tugas kak," ucap Rara tampa mengalihkan pandangannya dari kertas yang sedang ia gambar itu.


"Ribet banget sih jadi desainer, banyak banget yang harus di kerjakan," ucap Reyhan sambil melirik kedua gadis itu.


"Iya lah kak, namanya juga desainer," ucap Rara melihat sang kaka.


"Kenapa kamu liatin kaka gitu?" tanya Tuhan melihat sang adik.


"Gak ada apa-apa kok kak," ucap Rara kembali fokus lagi dengan gambarnya.

__ADS_1


"Ken, kamu juga lagi gambar?" tanya Rayhan melihat ke arah Keni.


"Iya kak," ucap Keni tampa mengalihkan pandangannya juga.


"Lagi gambar apa, kok beda sih sama punya Rara," ucap Reyhan.


"Aku lagi gambar mobil sport kak, coba deh liat keren gak kak?" tanya Keni memperlihatkan gambarnya pada Reyhan.


"Wih, keren Ken, kenapa gak jadi pelukis aja sih Ken, ini keren loh," ucap Reyhan sambil menatap hambar Keni.


"Gak kak aku pengen jadi Desainer terkenal, ia gak Ra?" tanya Keni melihat Rara.


"Iya, kita pengen jadi desainer terkenal di seluruh dunia," ucap Rara juga tak mau kalah, membuat Reyhan hanya mengangguk-gangguk saja.


Keni dan Rara lalu kembali fokus dengan tugas mereka, sedangkan Reyhan sudah sibuk dengan ponsel miliknya, Rayhan terlihat sedang bertukar pesan dengan Angga sang sahabat.


Rayhan tidak bisa hadir di acara pernikahan Ilham dan sang istri, karena terhalang jarak yang begitu jauh. Tapi Reyhan tidak lupa mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.


****


Angga tiba di rumah dan langsung melihat sang adik yang sedang duduk di ruang tengah bersama sang suami, Angga melihat perut buncit sang adik.


"Abang," panggil Alisa begitu melihat sang kaka.


"Hay, bagaimana kabar ponakan nya abah dek?" tanya Angga duduk di sofa jangan di depan Alisa dan Bayu sang suami.


"Alhamdulillah bang baik," ucap Alisa tersenyum ke arah sang kaka sambil mengelus perut nya.


"Jangan terlalu capek dek, jaga kesehatan," ucap Angga menasehati sang adik.


"Iya kak, mas Bayu juga sering ngingetin aku kok," ucap Alisa melihat sang suami.


"Bagus kalau gitu, kaka ikut senang dengar nya dek," ucap Angga tersenyum pada sang adik dan adik iparnya itu.


"Aduh lagi pada ngumpul nih," ucap mama Sofia datang bersama papa Lukman.


"Iya ma, mama sama papa sih lama di kamar," ucap Alisa sambil melirik kedua orang tuanya.


"Papa kamu tuh, di suruh turun duluan mala gak mau," ucap mama Sofia sambil melirik sang suami.


"Gak romantis dong ma kalau papa turun duluan, kan bagusnya sama mama," ucap papa Lukman sambil menggoda sang istri.


Angga, Alisa dan juga Bayu tersenyum melihat papa Lukman dan mama Sofia, kedua pasangan suami dan istri itu terlihat begitu romantis kalau sedang berkumpul bersama anak-anak mereka.


"Abang gimana kabarnya Rara?" tanya Alisa melihat sang kaka.


"Baik dek," ucap Angga.


"Abang setia banget yah nungguin Rara, kalau di jadikan cerita nih kisahnya kaka bagusnya Cinta Sejati Abdi Negara," ucap Alisa sambil tersenyum melihat sang kaka.


"Kamu ini bisa aja," ucap Angga sambil tersenyum juga.


"Tapi benar loh, iya kan mas bagus gak judulnya," ucap Alisa menatap sang suami.


"Iya sayang, tapi kamu kan dokter bukan penulis cerita," ucap Bayu melihat sang istri.


"Beralih profesi untuk sementara bisa kali yah," ucap Alisa terkekeh geli melihat sang suami.


"Kamu ini ada-ada saja," ucap Bayu membawa sang istri ke dalam pelukannya. Membuat mama Sofia dan papa Lukman tertawa melihat kelakuan sang putri.


Obrolan keluarga itu terlihat begitu ramai, apa lagi dengan kelakuan papa Lukman yang begitu jahil menggoda sang istri, sampai membaut mama Sofia terkadang kesal dan tertawa dengan kelakuan sang suami.


Angga melihat ponsel yang berdering, lalu Angga pamit pada yang lain untuk mengangkat telpon yang ternyata dari Rara sang kekasih.


Kalau sedang mengobrol bersama dengan Rara, Angga paling tidak suka di ganggu sama sekali. Jadi Angga memutuskan untuk pergi ke kamar dan meninggalkan kedua orang tuanya dan juga adik dan adik iparnya itu di ruang keluarga.

__ADS_1


Next....


__ADS_2