
Saat ini semuanya sudah berada di meja makan, Rara di minta mama Sofia untuk duduk di dekat sang putra. Awalnya Angga menolak, tapi karena paksaan dari sang mama akhirnya Angga mengalah.
"Sayang ayo di makan, jangan malu-malu anggap saja rumah sendiri ya" ucap mama Sofia.
"Iya tante terimakasih" ucap Rara sambil tersenyum.
Sedangkan Angga hanya diam saja, memakan makannya, tak menanggapi ocehan sang mama dan juga gadis bar-bar itu.
"Rara, udah klas tiga ya sayang?" tanya mama Sofia.
"Iya tante, tiga bulan lagi mau ujian" ucap Rara.
"Wah gak lama lagi akan lulus ya nak" ucap papa Lukman.
"Iya om" ucap Rara.
"Semenjak anak perempuan tante nikah dan ikut suami nya, tante jadi gak punya teman curhat lagi sayang" ucap mama Sofia memasang wajah sedih.
Membaut Angga mendengus kesal mendengar ekting sang mama, entah apa alasan mama Sofia mengundang Rara makan malam di rumah.
"Mama kan bisa curhat sama bibi" ucap Angga dingin.
Membaut mama Sofia hampir keseled mendengar perkataan sang putra, yang benar saja curhat sama bibi.
"Yah gak bisa lah sayang, bibi kan lagi sibuk kerja" ucap mama Sofia.
"Maksud nya mama tuh apa sih, apa mama mau ajak cewek ini buat jadi teman curhat dia, berarti gue bisa tiap hari dong ketemu nih cewek" ucap Angga dalam hati.
"Sayang kamu mau gak jadi teman curhat mama?" tanya mama Sofia.
"Mau banget tante" ucap Rara dengan senang hati.
Rara lalu melihat Angga yang hanya menatapnya dengan dingin, tapi Rara tidak menghiraukan tatapan dingin dari Angga, Rara malah kembali melahap makanan nya.
"Mama sangat senang sayang, kamu mau jadi teman curhat mama" ucap mama Sofia.
"Sekalian aja tan jadikan aku anak mantu tante, aku juga sangat siap kok" ucap Rara dalam hati.
Sedangkan papa Lukman hanya diam saja, lagian gak ada salahnya mengenal Rara lebih dekat, apa lagi gadis itu terlihat sanga baik dan sopan, dan juga anak dari teman bisnisnya.
"Angga kok diam aja, ngomong dong sama Rara, kasian loh udah dateng jauh-jauh ucap mama Sofia melihat sang putra.
"Lagi gak mood ma" ucap Angga.
__ADS_1
"Gak papa kok tan, mungkin bang angga juga kecapean kan seharian bekerja" ucap Rara.
"Sayang maafin sikap dingin anak tante ya" ucap mama Sofia.
"Iya tan, gak papa kok" ucap Rara.
Selesai makan, semaunya kembali lagi ke ruang tamu, Angga sudah hendak ingin pamit ke kamar, tapi mama Sofia melarang sang putra ke kamar. Dan memili duduk kembali bersama mereka di ruang tamu.
"Pa kalau di liat-liat Rara sama Angga cocok ya" ucap mama Sofia.
Membaut Angga menatap sang mama tak percaya, Angga menerka-nerka apa maksud sang mama mengatakan itu.
Sedangkan Rara hanya tersenyum melihat bang Angga, sedangkan Angga yang di tatap malah menatap Rara seperti ingin menerkam nya hidup-hidup.
"Sayang gak ada salahnya kan kalau kalian saling mengenal, apa lagi nak Rara orang nya baik, sudah menolong mama" ucap mama Sofia melihat sang putra.
"Ma, plis deh jangan mulai, Angga mau fokus sama kerjaan dulu" ucap Angga menatap sang mama.
"Tapi umur kamu udah mateng sayang, adik kamu saja udah nikah" ucap mama Sofia.
Tak tau lagi Angga harus mengatakan apa pada sang mama, sedangkan melihat sang papa hanya mengangkat ke dua bahunya, pertanda kalau sang papa tidak ikut campur.
Angga lalu duduk diam saja, terserah apa kata sang mama, karena berdebat pun percuma menurut Angga.
"Mama sama papa, kalau jam segini lagi ngobrol tan sambil nonton tv" ucap Rara.
"Salam tante sama om ya sayang, buat papa dan mama kamu" ucap mama Sofia.
"Iya tante pasti Rara sampein salam om sama tante" ucap Rara.
Rara lalu melihat ke arah Angga, tapi yang di lihat malah membuang muka, seolah tak maka melihat Rara.
"Aduh bang Angga kalau lagi cuek gitu tambah ganteng deh, aku makin love sama bang Angga" ucap Rara dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, Rara lalu pamit pada mama Sofia dan papa Lukman.
"Tante, om, Rara pamit ya udah telat juga" ucap Rara.
"Iya sayang makasih ya udah mau datang ke rumah tante" ucap mama Sofia.
"Iya tante sama-sama, Rara juga senang kok bisa main ke sini" ucap Rara sambil tersenyum.
Rara dan mama Sofia sudah saling bertukar nomor telpon juga, jadi gampang baut mama Sofia untuk menghubungi Rara.
__ADS_1
"Om, Rara pamit ya" ucap Rara.
"Makasih ya nak" ucap papa Lukman.
"Iya om sama-sama" ucap Rara.
Rara bersiap akan berlalu dari hadapan mereka, tapi di tahan sebentar oleh mama Sofia.
"Sebentar sayang, mama mau minta Angga buat anter kamu" ucap mama Sofia.
"Angga, sayang tolong anterin Rara ya, kasian anak gadis pulang sendiri malam-malam" ucap mama Sofia.
"Ma, ini belum terlalu telat ko, lagian kan dia bawa mobil sendiri" ucap Angga.
"Gak bisa sayang, mama kuatir, nanti kalau ada yang jahatin nak Rara gimana" ucap mama Sofia.
"Mau ya sayang" ucap mama Sofia.
"Oke, aku akan anterin dia" ucap Angga.
Mama Sofia tersenyum melihat Rara, lalu Angga pergi mengambil motor besar miliknya, ia akan mengikuti mobil Rara dari belakang.
"Loh gak bisa ya gak nyusain orang" ucap Angga dingin dan pelan hanya bisa di dengar oleh Rara.
Angga naik ke atas motor miliknya, sedangkan Rara masuk ke dalam mobil nya, lalu mobil itu keluar dari halaman rumah Angga.
Rara melihat Angga yang mengendarai mobil dari kaca spion mobil, sambil tersenyum Rara mengingat kalau mama Sofia sudah sangat sayang padanya.
Sesampainya di gerbang rumah Rara, Angga meng klakson mobil gadis itu, dan Rara pun berhenti dan turun dari dalam mobil.
"Makasih ya bang udah mau nganterin aku" ucap Rara sambil tersenyum manis.
"Loh gak usah geer gae nganterin loh karena mama, dan gue harap ini terakhir kalinya loh gangguin hidup gue" ucap Angga.
"Kalau aku gak akan dengerin bang Angga gimana" tanya Rara.
"Liatin aja apa yang bakalan gue bikin sama loh" ucap Angga.
"Terserah bang Angga, yang jelas aku gak akan berhenti gangguin bang Angga, karena aku suka sama bang Angga" ucap Rara keceplosan.
Angga menatap Rara sangat tajam, entah apa yang ada di pikiran Angga saat ini, mendengar pengakuan dari Rara.
Next...
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen sama Vote ya guys...