
Reyhan dan Rara masuk ke dalam mobil, keduanya baru saja mengantarkan Lishi ke bandara.
"Kasian banget yah kak, kak Lishi," ucap Rara melihat lurus ke depan.
Reyhan melihat ke arah sang adik, lalu melihat lurus ke depan sana juga. Reyhan juga berpikiran sama seperti sang adik, merasa kasian pada gadis itu.
"Udah, semoga saja dia menemukan pria yang lebih baik dari sebelumnya," ucap Reyhan.
"Amin, semoga aja yah kak," ucap Rara dan Reyhan hanya mengangguk saja.
Reyhan lalu menyalakan mobilnya dan keluar dari area bandara, dalam perjalanan pulang ponsel milik Rara berdering pertanda kalau ada telpon masuk.
"Kak Angga nelpon," ucap Rara.
"Angkat aja dek," ucap Reyhan melihat ke arah sang adik, lalu fokus lagi dengan mengemudi.
"Hallo kak," ucap Rara setelah panggilan telpon terhubung.
"Udah balik belum dari bandara?" tanya Angga di seberang sana.
"Ini udah dalam perjalanan pulang kak," ucap Rara.
"Kaka kamu mana, tadi waktu kaka lagi vidio call sama dia, tiba-tiba kaka kamu narik cewek masuk ke dalam kamar," ucap Angga dari balik telpon.
"Apa, kak Angga serius?" tanya Rara kaget dan langsung melihat sang kaka.
Reyhan juga melihat ke arah sang adik, Reyhan berpikir kalau sedang terjadi masalah serius.
"Iya kaka serius, kaka liat sendiri tadi," ucap Angga lagi dari seberang sana.
"Wah parah ini," ucap Rara.
"Ada apa dek?" tanya Reyhan.
"Kaka serius nyulik kak Lishi ke kamar tadi siang?" tanya Rara menatap sang kaka curiga.
"Sial si Angga pake cara ngadu lagi sama Rara," ucap Reyhan dalam hati.
"Bukan itu salah paham dek, sialan loh Nga," umpat Reyhan dengan kesal.
Di sebrang sana Angga hanya tertawa mendengar umpatan sang sahabat, sedangkan Rara hanya diam dan menatap sang kaka dengan curiga.
"Kenapa kamu liatin kaka gitu?" tanya Reyhan.
"Kaka suka sama kak Lishi?" tanya Rara.
"Kamu ini ngomong apa sih dek, jangan ngaco deh," ucap Reyhan berusaha menghindari tatapan sang adik.
"Udah lah kak, jujur aja sama aku kalau kaka suka gak papa kok, lagian kak Lishi juga orangnya baik kok," ucap Rara.
Reyhan melihat ke arah sang adik, tampa berkata apa-apa. Mobil terus melaju dengan cepat di jalan yang tidak terlalu ramai itu.
Setibanya di di apartemen, Reyhan langsung memikirkan mobilnya di tempat biasa.
"Kak, aku duluan yah," ucap Rara.
"Iya, nanti calon laki loh ngambek lagi," ucap Reyhan menyindir Angga di seberang sana.
Rara turun duluan dari mobil dan langsung masuk ke dalam lift. Sedangkan Reyhan masi berada di dalam mobil dan melihat bangunan tinggi yang ada di depan sana.
Reyhan mengingat nasi goreng buatan Lishi tadi siang, dan sekarang gadis itu sudah kembali lagi ke Indonesia.
"Tunggu aku kembali ke indonesia juga," ucap Reyhan dalam hati.
Reyhan lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam lift, tiba di depan pintu unit Reyhan langsung menekan pin pintu apartemen.
Reyhan melihat sang adik yang tak terlihat di mana-mana, pertanda kalau Rara sudah berada di dalam kamar.
Di dalam kamar Rara sedang serius mengobrol bersama Angga di telpon, Angga menceritakan semua pada Rara tentang Sasmita yang terus menerus mendekatinya. Rara yang mendengar itu juga menjadi kesal sendiri.
"Kaka harus tetap jaga jarak sama dia, jangan sampai nanti dia ngambil kesempatan," ucap Rara dengan suara kesal.
"Iya sayang, kaka selalu mengajak Ilham setiap berpergian, dan Ilham selalu siap menemani kaka," ucap Angga.
"Bagus lah kalau gitu, aku gak mau aja kaka dekat-dekat dengan mantan lagi," ucap Rara.
"Cemburu yah?" tanya Angga dari seberang sana.
"Iya lah, kalau gak cemburu aku gak cinta sama kaka," ucap Rara.
"Iya-iya, maaf calon istri," ucap Angga sambil tersenyum geli.
Tokk...
Tokk...
Rara melihat ke arah pintu yang di ketuk, Rara sudah menduga kalau itu pasti kaka nya.
"Masuk aja kak," ucap Rara.
Clekk...
"Dek kamu mau makan apa, kaka mau pesan makanan nih," ucap Reyhan dari ambang pintu.
"Samain aja sama kaka," ucap Rara.
"Yah sudah," ucap Reyhan kembali menutup pintu kamar sang adik.
"Sayang mama nitip salam sama kamu, katanya dia udah kangen pengen ketemu calon mantunya," ucap Angga.
"Aku juga kangen sama mama Sofia kak, salam balik aku juga yah baut mama," ucap Rara.
"Iya sayang nanti kaka sampaikan yah," ucap Angga.
Hanya itulah yang bisa di lakukan oleh Angga dan Rara sekarang, berkomunikasi lewat telpon atau gak chetan. Tapi tidak membuat hubungan keduanya goyah, malahan mereka semakin terlihat romantis dan kompak walau hanya menjalani hubungan LDR.
Intinya keduanya saling percaya saja, Angga percaya pada Rara dan Rara percaya pada calon suaminya itu. Meskipun Angga selalu di ganggu oleh Sasmita, tapi di dalam hati Angga cuma ada Rara saja.
Setelah mengobrol hampir dua jam, Rara dan Angga pun menyudahi telponan mereka, karena makanan yang di pesan oleh Reyhan juga sudah datang.
Rara keluar dari kamar dan melihat sang kaka sedang mengatur makanan dia tas meja, Rara langsung duduk di kursi yang ada di dekat sang kaka.
"Kak, tadi kak Lishi masak yah?" tanya Rara.
__ADS_1
Reyhan melihat sang adik, lalu mengangguk kecil.
"Masak nasi goreng aja kok," ucap Reyhan.
"Oh, enak gak kak nasi goreng buatan kak Lishi?" tanya Rara kepo.
"Kepo deh, ayo makan dulu nanti keburu dingin lagi," ucap Reyhan.
"Ish, kaka aku kan cuma nanya aja," ucap Rara cemberut.
"Jangan cemberut gitu, gak lama lagi bakalan jadi nyonya Wilantara loh," ucap Reyhan sambil tersenyum geli.
"Yah-yah, nanti siapa yang akan menjadi nyonya Johan," ucap Rara sambil tersenyum juga mengambil nasi dan lauk ke dalam piring nya.
"Ayo kita makan," ucap Reyhan.
Kaka beradik itu pun makan bersama, sesekali Rara mengambilkan lauk buat sang kaka yang duduk di dekatnya.
Reyhan memutuskan untuk menemani sang adik di Italia sampai sang adik lulus kuliah, Reyhan kuatir kalau harus meninggalkan sanga dik sendiri di negara orang.
****
Seorang pria sedang menatap selembar foto seorang gadis cantik, senyum licik terbit di bibir pria itu.
"Kalian sudah mengacaukan rencana ku, kalian harus menerima akibatnya," ucap pria itu meremas foto seorang gadis cantik itu sampai tak berbentuk.
Pria itu menelpon seseorang yang berada di seberang sana.
"Hallo, gue punya kerjaan buat loh," ucap pria itu.
"....."
"Nanti gue kirim foto gadis itu, dan bikin dia hancur sehancur-hancur nya," ucap pria itu.
"....."
Pria itu lalu mematikan sambungan telponnya, pria itu tersenyum jahat melihat ke arah foto gadis cantik yang sudah tak berbentuk itu.
Dratt...
"Hallo beby, ada apa kau menelpon ku?" tanya pria itu mengangkat telpon.
"Kau tidak kangen padaku, kenapa kau tidak menelpon ku seharian ini heemmm?" tanya sorang wanita dari seberang sana.
"Bukan seperti itu beby, aku hanya sibuk saka," ucap pria itu sambil tersenyum.
"Kalau begitu apa bisa kau datang ke apartemen ku sekarang," ucap wanita itu dari seberang telpon.
"Tentu saja beby, apa sih yang gak buat kamu," ucap pria itu dengan senang hati.
"Oke, kalau gitu aku tunggu yah, jangan lama-lama," ucap wanita itu dengan suara genit nya.
"Kau selalu bisa yah menggoda ku," ucap pria itu.
Setelah panggilan telpon terputus, pria itu pun langsung bergegas pergi dari apartemen miliknya. Ia ingin menemui wanita yang tadi menelponnya di apartemen miliknya wanita itu.
****
Sasmita terlihat mengambil sesuatu dari seorang pria, keduanya bertemu di dalam mobil milik Sasmita.
"Loh tenang aja, ini gak bakalan mati kok," ucap pria bertopi itu.
"Oke, ini bayarannya," ucap Sasmita memberikan amplop berwarna coklat itu, amplop yang berisikan uang.
Pria bertopi itu membuka isi amplopnya, dan melihat lembar uang pecahan seratus ribu banyak banget.
"Makasih atas kerja sama jangan sungkan kalau butuh barangnya lagi," ucap pria bertopi itu.
Pria bertopi itu lalu melihat situasi di luar sana, lalu ia turun dan merapikan topinya lagi.
Sasmita melihat sesuatu yang di berikan oleh pria tadi, senyum licik terbit di bibir Sasmita melihat ke luar jendela mobil.
"Sudah aku katakan bukan, aku akan melakukan apapun untuk bisa membuat Angga kembali ke dalam hidup ku, karena Angga cuma kan jadi milikku saja," ucap Sasmita.
Sasmita lalu menjalankan mobilnya meninggalkan area itu, suami Sasmita juga tak ia perduli kan yang sedari tadi terus menelpon.
"Sial, kemana sih wanita itu, di telpon gak mau angkat," ucap suami Sasmita mita di seberang sana mengumpat kesal.
Sedangkan Sasmita mengendarai mobilnya ke salah satu tempat, di mana ia sudah janjian bersama temannya.
Pikk...
Pikk...
Sasmita membunyikan klakson mobilnya, terlihat seorang wanita melambaikan tangannya dari luar.
"Ayo masuk," ajak Sasmita menurunkan kaca mobilnya.
Wanita itu masuk ke dalam mobil Sasmita, lalu mobil yang di kendarai kedua Sasmita pun berjalan lagi meninggalkan area itu.
"Loh udah siapin obatnya Sas?" tanya wanita itu.
"Udah dong, nanti loh tinggal jalankan aja rencana yang udah kita siapkan," ucap Sasmita.
"Gila loh, ini bukan orang bisa yang mau kita jebak Sas," ucap wanita itu teman Sasmita.
"Loh tenang aja, gue bakal lakuin apapun buat dapatin dia lagi," ucap Sasmita dengan pedenya.
Teman Sasmita itu hanya menggeleng kepala saja, padahal Sasmita sudah bersuami tapi sekarang mau ngejar mantannya lagi.
Mobil yang di kendarai oleh Sasmita memasuki lobby hotel xx, di sinilah mereka akan menjalankan rencana mereka untuk menjebak Angga.
"Loh udah hubungin Angga kan?" tanya wanita itu.
"Udah dan dia bakalan datang dan ini yang terakhir mau bertemu gue," ucap Sasmita.
"Dan loh merencanakan ini semua?" tanya teman Sasmita.
"Iya," ucap Sasmita sambil tersenyum.
Sasmita sudah memesan satu kamar, dan juga sudah menaruh kamera di salah satu sudut, kamera yang nantinya akan mengabadikan memon ia dan Angga bersama.
"Udah siap, ayo kita ke restoran hotel nanti Angga akan datang ke sini," ucap Sasmita mengajak sang sahabat.
__ADS_1
Sebelum duduk di salah satu meja kosong, Sasmita mendekati salah satu pelayan untuk berkerja sama, Sasmita memberikan beberapa lembar uang dan juga obat yang sudah ia siapkan itu.
"Kau harus mencampurkan ini ke dalam mangkuk dan letakan di meja depan pria yang berseragam polisi," ucap Sasmita.
"Baik bu," ucap pelayan itu dengan patuh.
"Bagus," ucap Sasmita lalu pergi duduk di dekat sang sahabat.
Kedua wanita itu mengobrol dengan riang, sambil tertawa dan bercanda menunggu kedatangan Angga.
Tak jauh dari kursi yang di duduki oleh Sasmita dan temannya, terlihat Feli sedang mengadakan meeting bersama dua rekan bisnisnya di hotel yang sama juga.
****
Angga menjemput Ilham di kantor untuk menemaninya pergi ke hotel di mana Sasmita mengajaknya bertemu, Angga mengunakan kemeja warna navy dan celana berwana hitam, karena Angga baru saja.dari perusahaan. Sedangkan Ilham mengunakan seragam polisi hanya saja memakai jaket hitam.
"Loh yakin mau ketemu dia di hotel, dia gak lagi merencanakan sesuatu kan," ucap Ilham, saat ini ia dan Angga berada di mobil menuju hotel xx.
"Ini yang terakhir gue ketemu Sasmita Ham, setelah ini gue udah gak mau lagi ketemu dia," ucap Angga yang sedang mengemudi kan mobilnya.
Mobil terus berlaju di jalan raya, Ilham dan Angga tak berselang lama tiba di depan hotel xx, kedua nya turun dari dalam mobil dan berjalan di lobby hotel.
"Di mana lih janjian sama wanita itu?" tanya Ilham melihat Angga.
"Di restoran hotel Ham," ucap Angga.
Kedua pria itu masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai 8, di mana restoran hotel.
Ting....
Angga dan Ilham keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah di mana restoran, Ilham dan Angga melihat Sasmita sedang duduk bersama seorang wanita yang sedang asik mengobrol.
"Ayo Ham," ajak Angga.
Ilham dan Angga pun mendekati meja yang di duduki oleh Sasmita dan temannya itu. Sasmita tersenyum melihat Angga dagang, tapi senyum pudar lagi saat melihat Angga datang bersama dengan Ilham.
"Kenapa sih, Angga pake ngajak Ilham segala," ucap Sasmita dalam hati.
"Gue sama Ilham gak telat kan?" tanya Angga.
"Iya gak kok, ayo silahkan duduk, kenalin ini Sasa teman aku," ucap Sasmita mengenalkan temannya itu.
"Angga, Ilham," ucap Angga dan Ilham tampa berjabat tangan.
"Sasa," ucap teman Sasmita dengan sok cantik.
"Wah ganteng juga nih cowok yang bernama Ilham, gak papa lah gue pepet," ucap Sasa dalam hati sambil tersenyum.
"Kita langsung pesan pesan makan siang aja yah, kebetulan udah laper nih," ucap Sasmita.
"Iya," ucap Angga.
Sasmita memanggil pelayan tadi yang sudah ia bayar, pelayan itu pun mendekati dan memberikan buku menu.
"Silahkan mbak, mas," ucap pelayan itu dengan sopan.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Sasmita melihat ke arah Angga.
"Terserah aja," ucap Angga.
"Kalau loh Ham?" tanya Sasmita.
"Samain aja, gue pasti makan kok," ucap Ilham.
Pelayan yang sedang berdiri di dekat Sasmita melihat ke arah Ilham yang sedang memakai seragam polisi, meskipun itu Ilham memakai jaket hitam.
Sasmita mengatakan semua pesanan mereka, dan pelayan itu hanya menulisnya semua pesanan yang di katakan oleh Sasmita.
"Ada lagi mbak?" tanya pelayan itu.
"Tidak ada, hanya itu saja," ucap Sasmita.
"Baik, kalau begitu tunggu sebentar," ucap pelayan itu pergi berlalu dari hadapan semuanya.
Sasmita melihat ke arah Angga yang sedang mengobrol bersama Ilham, rupanya Sasmita melupakan sesuatu. Angga tidak memakan seragam dinasnya, dan hanya Ilham saja.
Dari meja yang tak jauh dari mereka, Feli melihat Ilham dan Angga sedang duduk bersama dua wanita, Feli baru saja selesai meeting bersama rekan bisnisnya di luar kantor sekalian makan siang.
Tak berselang lama.pelayan datang dan membawakan semua menu pesanan Sasmita tadi, Angga mengatakan pada Sasmita kalau semua urusan rumah tangganya dan sang suami harus di urus sendiri, karena Angga tidak dapat membantu.
"Gak papa Nga, maaf juga udah ngerpotin kamu kemarin-kemarin," ucap Sasmita sok polos dan Angga hanya mengangguk saja.
Pelayan itu meletakan minuman yang sudah di racik tepat di depan Ilham, bukan di depan Angga. Karena hanya Ilham lah yang memakai seragam dinas.
"Silahkan mbak, mas," ucap pelayan itu dengan sopan.
"Terimakasih," ucap Ilham.
"Iya sama-sama mas," ucap pelayan itu kemudian pergi dari hadapan mereka lagi.
Kedatangan Angga ke hotel itu karena ingin mengatakan tak bisa membantu Sasmita, dan meminta Sasmita untuk tidak menganggu nya lagi. Karena ini ini pertemuan terakhir mereka, Sasmita pun merencanakan semua ini.
Ilham meminum minuman yang ada di depannya itu, dan Sasmita baru ingat kalau dia melupakan sesuatu dari tadi.
"Sial gue lupa lagi kalau Angga gak pake dinas, pasti pelayan itu meletakan minuman nya buat Ilham," umpat Sasmita dalama hati.
"Sas, kok bengong sih ayo makan," ucap Sasa.
"Eh i-iya ayo silahkan makan semua," ucap Sasmita dengan gugup.
Sasa melihat kegugupan Sasmita, sedangkan Ilham dan Angga mulai memakan menu makan siang yang di pesan oleh Sasmita.
"Kok kepala gue mendadak pusing yah, ada apa ini," ucap Ilham dalam hati.
Ilham sudah merasakan badannya lain, tak seperti biasanya. Angga yang melihat Ilham berhenti makan pun langsung melihat ke arah Ilham.
"Ham, loh gak papa?" tanya Angga.
Ilham melihat ke arah Angga, dan Angga bisa melihat wajah Ilham yang sudah memerah, Ilham seperti menahan sesuatu.
"Ham, muka loh kenapa merah gini sih," ucap Angga dengan panik.
"Nga temanin gue ke toilet," ucap Ilham sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Ayo," ucap Ilham.
Ilham dan Angga pergi ke toilet, sedangkan Sasmita ingin menahan Angga, tapi Angga tak menghiraukan panggilan Sasmita. Angga lebih menghawatirkan kondisi sang sahabat saat ini, dengan cepat Angga mengikuti Ilham ke toilet.