
Pulang dari kantor, Angga langsung menuju rumah sang kekasih. Apa lagi lewat Chet, Rara mengatakan kalau ia sedang membuat kue bersama sang mama.
Mobil Angga memasuki gerbang rumah keluarga besar Johan, kedatangan Angga langsung di sambut oleh Reyhan sang sahabat.
"Hay bro, tumben banget nih pak polisi langsung ke sini?" Tanya Reyhan menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Mau ketemu calon istri," ucap Angga sambil terkekeh geli.
"Yah-yah, yang bentar lagi mau nikah," ucap Reyhan mencibir.
"Makanya cepat cari cewek dong, jangan diam aja," ucap Angga saat ini ia dan Reyhan berjalan masuk ke dalam.
Angga melihat Reyhan menghela nafas dengan pelan, Angga tak mengerti isi hati sahabatnya saat ini, tapi Angga cuma bisa mendoakan yang terbaik buat sahabatnya itu.
"Kak Angga, kak Rey," panggil gadis cantik yang masih memaki celemek.
Angga melihat ke arah suara yang sering ia rindukan itu, senyum indah terbit di bibir Angga kalah melihat senyum manis Rara yang sedang memegang kotak kue.
"Hay, ngapain bengong situ. Sini," ucap Rara mengajak kedua pria tampan itu.
"Ke sana yuk, calon istri loh udah manggil tuh," ucap Reyhan mengajak Angga.
Angga dan Reyhan pun mendekati Rara, Rara meletakan kue nya di atas meja, lalu melepaskan celemek nya dan memberikan pada bibi.
"Dek, ini kue kamu yang buat?" Tanya Reyhan melihat sang adik.
"Iya lah kak, coba aja pasti rasanya gak kalah enak sama buatan kafe," ucap Rara dengan bangga sambil tertawa.
Angga yang duduk di dekat Rara mengacak rambut gadisnya itu, membuat Rara megurucut kesal karena selalu saja di acak di rambut.
"Ayo Kaka di cobain dulu, mau aku siapin gak?" Tanya Rara.
"Boleh," ucap Angga.
Rara mengambil sendok dan menyuapi Angga sepotong kue, Reyhan yang duduk di depan mereka hanya memakan kuenya sambil menggeleng kepala, bagaiman tidak adiknya begitu romantis bersama Angga sambil suap-suapan.
Sedangkan dirinya, aduh pacar aja gak punya. Padahal Reyhan punya wajah tampan.
Angga dan Rara melirik ke arah Reyhan yang menikmati kuenya, dengan jahil Rara mengambil coklat lalu mengolesi ke pipi sang Kaka. Membuat Reyhan kaget karena ada sesuatu yang dingin di pipinya.
"Dek, kamu tuh yah," ucap Reyhan menjewer telinga sang adik.
"Aauu, ampun kak sakit," aduh Rara sambil memegang telinganya.
"Makanya jangan jahil," ucap Reyhan.
"Sini, aku liat," ucap Angga.
"Berdarah gak kaka?" Tanya Rara melihat wajah Angga.
"Ih, lebay banget deh kalian berdua," ucap Reyhan kembali mengambil kue lagi, lalu memasukan ke dalam mulut.
"Kak Rey iri sama kita," bisik Rara dengan pelan di telinga Angga.
Angga merangkul pundak Rara agar mendekat ke Rara, Rara emang paling bisa membuat Kaka nya kesal.
"Sayang, mama pergi yah," ucap mama Lara yang sudah terlihat siap dengan ders se lututnya.
"Iya ma, hati-hati yah," ucap Rara.
"Iya sayang, Nga, sayang mama pergi dulu yah," ucap ucap mama Lara pada Angga dan Reyhan sang putra.
"Iya ma, hati-hati, iya tante" ucap Reyhan dan Angga.
__ADS_1
Mama Lara berlalu, mama Lara akan pergi arisan bersama teman-temannya.
Reyhan terlihat beranjak dari duduknya.
"Kak, mau ke mana?" Tanya Rara melihat sang Kaka.
"Mau ke kamar, kalian lanjut pacaran aja," ucap Reyhan berlalu begitu saja.
"Kaka mau makan kue lagi gak?" Tanya Rara.
"Udah gak, pengen ngobrol aja sama kamu," ucap Angga mencubit hidung mancung Rara.
"Ish, jangan cubit-cubit hidung aku," ucap Rara menatap Angga.
"Kenapa?" Tanya Angga.
"Nanti gak mancung lagi," ucap Rara sambil tertawa.
"Kata siapa gitu heemm," ucap Angga.
"Kata aku lah," ucap Rara lalu beranjak dari duduknya.
"Ngobrol di ruang tengah aja yuk kak, sekalian nonton," ucap Rara.
"Ayo," ajak Angga juga.
Rara dan Angga pergi ke ruang TV, karena tadi mereka sedang duduk di meja makan.
****
Ilham mengambilkan air putih untuk sang istri, semenjak hamil anak ke dua, Feli sering mual-mual sepanjang hari. Membuat Ilham sang suami tidak tega melihat itu.
"Masi mual, kita ke dokter lagi aja yah," ucap Ilham mengelus pundak sang istri.
"Udah gak kok mas, mualnya juga udah hilang," ucap Feli memberikan gelas yang sudah kosong pada sang suami.
"Sayang, jangan bikin mama sakit yah," ucap Ilham dengan lembut sambil mengelus perut sang istri.
Bocah kecil yang baru berumur hampir dua tahun sedang berguling-guling di atas ranjang, bocah kecil itu sedang asik bermain boneka robot.
"Mamama obo," celoteh bocah kecil itu.
Ilham dan Feli melihat ke arah anak pertama mereka. Semakin hari bocah kecil itu semakin aktif saja, untung saja tidak rewel semenjak Feli hamil anak kedua.
"Sayang sini sama papa nak," ucap Ilham mengambil anaknya itu, untuk duduk di pangkuannya.
Bocah kecil yang wajah nya sangat mirip dengan Ilham, membuat Feli menjadi gemes sendiri setiap hari kalau di tinggal bertugas oleh sang suami.
"Papapa," panggil bocah laki-laki itu.
Ilham mencium putranya dengan bertubi-tubi membuat bocah kecil itu terkikik geli, karena sang ayah menciumnya terus menerus.
"Mas, aku pengen makan bakso yang gede-gede," ucap Feli dengan manja.
Ilham berhenti mencium sang putra, lalu melihat istrinya sambil tersenyum. Ilham lalu mendudukkan sang putra di atas ranjang, dan mendekatkan boneka robot miliknya.
"Mau mas beliin sekarang?" Tanya Ilham mengelus wajah sang istri.
"Iya, tapi beli nya dua yah," ucap Feli.
"Iya, kalau gitu mas pergi beli dulu yah," ucap Ilham mencium kening sang istri, sebelum keluar dari dalam kamar mereka.
Ilham selalu mengutamakan keluarga kecilnya, seperti pulang kantor Ilham langsung ke rumah, karena ia begitu kangen dengan istri dan juga anak mereka.
__ADS_1
Seperti sekarang Ilham selalu menuruti kemauan sang istri saat hamil anak kedua mereka.
Feli bermain dengan putra mereka saat sang suami sudah pergi membeli makanan kesukaannya.
****
Seorang wanita masuk ke salah satu ruangan, lalu memberikan memberikan berkas pada seorang gadis.
"Maaf Bu Lishi ini berkas yang ibu minta," ucap wanita yang bernama Susan.
"Taruh saja si meja San, makasih yah," ucap Lishi yang terlihat sibuk dengan laptop di atas meja.
"Sama-sama Bu Lishi, kalau begitu saya permisi dulu Bu," ucap Susan lalu kembali keluar dari ruangan kerja Lishi.
Lishi mengambil berkasnya dan membacanya, besok Lishi ada rapat di kantor Johan Group. Lishi lalu meminta sekertarisnya untuk masuk ke ruangannya.
Clekk...
"Lia tolong kamu periksa berkas kerja sama kita dengan Johan Group yah," ucap Lishi kembali fokus dengan lap top lagi.
Padahal saat ini jam sudah menunjukan pukul 4 sore.
"Baik bu, besok kita juga ada rapat bersama mereka," ucap Lia.
"Iya, kamu atas saja semuanya yah," ucap Lishi melihat ke arah Lia.
"Siap bu Lia, kalau begitu saya permisi dulu yah," ucap Lia yang mendapat anggukan dari Lishi.
Semenjak menjadi direktur di perusahaan keluarga mereka, Lishi begitu sibuk. Tidak punya waktu banyak bersama ponakan kesayangannya Akas, Akas sudah beberapa kali merengek minta di ajak jalan-jalan sama maminya itu, tapi karena pekerjaan Lishi yang lumayan banyak, membuat Lishi belum bisa mengajak Akas jalan-jalan.
Lishi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sepuluh menit lagi jam lima sore, Lishi membedakan mejanya lalu menyusun semua berkas-berkas yang ada di atas meja.
Setelah itu Lishi mengambil jasnya dan memakainya, Lishi keluar dari ruangannya dan melihat meja Lia sekertarisnya sudah kosong, pertanda kalau Lia sudah pulang.
Lishi berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai dasar, kantor yang memiliki lantai 15 itu, adalah tempat Lishi bekerja saat ini.
****
Kediaman Johan...
Reyhan masuk ke ruangan kerja sang papa, terlihat papa Andi sedang memeriksa berkas yang di bawakan oleh asistennya ke rumah.
Rayhan duduk di kursi yang ada di depan sang papa, tidak di kantor tidak di rumah papa Andi pasti selalu bekerja.
"Ada apa papa manggil Reyhan?" Tanya Reyhan melihat sang papa.
Papa Andi meletakan berkas yang ia pegang di atas meja, lalu tersenyum melihat sang putra yang saat ini duduk di depannya.
"Sudah siap memimpin rapat di kantor besok?" Tanya papa Andi.
Reyhan tersenyum lalu mengangguk dengan mantap, ini adalah kali pertama Reyhan akan bekerja di kantor milik mereka besok, dan akan di kenal sebagai calon direktur juga oleh sang papa.
"Klien kita kebanyakan gadis-gadis cantik loh," ucap papa Andi sambil tersenyum geli.
Reyhan mengernyit keningnya dengan heran melihat sang papa, lalu papa Andi kembali berkata lagi.
"Siapa tau ada yang cocok buat anak papa yang jomblo ini," ucap papa Andi sambil terkekeh geli.
"Papa sengaja yah?" Tanya Reyhan sambil tersenyum.
"Adik mu akan segera menikah, kau jangan kalah darinya," ucap papa Andi.
"Yah-yah, Reyhan akan mencari jodoh nanti," ucap Reyhan sambil tersenyum dan mengangguk kepala.
__ADS_1
Setelah obrolan selesai, Reyhan melaut dari ruangan kerja sang ayah, Reyhan langsung pergi ke kamarnya Yang ada di lantai dua.
Next....