
Malam harinya di dalam kamar milik Reyhan, Angga terlihat sedang bersiap-siap mengemasi semua barang-barang miliknya, besok ia kan kembali ke Indonesa dan akan berpisah untuk sementara waktu bersama dengan sang kekasih.
"Udah gak usah sedih gitu, gue percaya sama loh. Kalau loh pasti bisa setia sama adek gue," ucap Reyhan duduk di sisi ranjang sambil tersenyum.
"Tapi berat bro, loh belum ngerasain sih," ucap Angga lesu.
"Lebay loh, loh di sakitin mantan gak gini-gini amet, ini cuma LDR aja kok," ucap Reyhan.
"Itu beda bro, gue cinta banget ama adek loh," ucap Angga.
"Iya gue tau itu, ini ujian dalam hubungan kalian, jadi kalian harus kuat jalanin ini semua," ucap Reyhan.
Angga membuat nafasnya dengan kasar, lalu melihat ke arah sahabatnya itu. Membuat Reyhan mengernyit keningnya heran.
"Kenapa loh liatin gue gitu?" tanya Reyhan.
"Loh harus jagain calon istri gue, biar gak di gangguin bule-bule sini," ucap Angga.
"Iya-iya, loh tenang aja, serahin semua sama gue," ucap Reyhan.
"Benar loh, awas saja loh kecolongan yah," ucap Angga.
"Iya gak akang, loh gak percaya gue banget sih," ucap Reyhan.
Clekk...
Angga dan Reyhan melihat ke arah pintu yang terbuka, di sana Rara berdiri dan sudah mengunakan piyama tidur, yang terlihat begitu cantik di mata Angga.
"Sayang, belum tidur ini udah jam 11 malam loh," ucap Angga.
"Belum, aku belum ngantuk," ucap Rara masuk lalu duduk di dekat Angga dan Reyhan.
"Belum ngantuk apa gak bisa tidur, secara kan besok pacar mau balik Indonesa," ucap Reyhan.
"Ihh, kaka apaan sih, sana kaka keluar aja," ucap Rara.
"Terus kalau kaka keluar, tinggal kalian berdua dong di sini, nanti ketiganya setan," ucap Reyhan.
"Masa sih, kaka nih ngarang aja deh," ucap Rara.
"Di bilangin gak percaya," ucap Reyhan.
"Kalau pengen berduaan sana di balkon saja, kaka mau tidur dulu ngantuk," ucap Reyhan.
"Sayang, ayo ngobrol di balkon saja," ajak Angga.
Mereka pun pergi ke arah balkon, sedangkan Reyhan sudah membaringkan tubuh di tempat tidur, karena Rey sangat lelah seharian mengurus ini, itu di kampus.
"Sayang, liat deh bintangnya indah yah," ucap Angga melihat ke atas sana.
__ADS_1
"Iya sayang, coba deh liat bintang yang itu, bentuknya 7," ucap Rara.
"Yang mana sayang, oh yang itu yah," tunjuk Angga.
"Iya yang itu, bagus yah?" tanya Rara.
"Iya, indah seperti gadis yang sekarang berdiri di depan aku," ucap Angga melihat ke arah Rara.
"Jaga hati sama matanya yah," ucap Angga.
"Sayang juga yah di sana," ucap Rara.
"Itu pasti sayang," ucap Angga membawa Rara ke dalam pelukannya.
Bintang-bintang menjadi saksi kisah cinta mereka.
"Rasanya aku tak ingin malam ini cepat berlalu, agar aku bisa memeluk kamu terus gadis cerewet ku," ucap Angga.
"Mungkin 3 tahun lagi baru bisa seperti ini lagi sama kamu bang," ucap Rara dalam hati.
"Udah malam, sekarang tidur yah," ucap Angga melepas pelukan mereka.
"Iya, sayang juga yah," ucap Rara.
"Iya sayang," ucap Angga mencium kening sang gadis, sebelum mereka berdua masuk.
"Mau di anter ke depan pintu kamar gak?" tawar Angga sambil tersenyum.
"Yah udah, ayo," ucap Angga membuka pintu kamar.
Angga mengantar sang gadis sampai depan pintu kamar, Rara masuk ke dalam kamar lalu Angga kembali ke dalam kamar Reyhan lagi. Angga melihat Reyhan sudah berada di alam mimpi sekarang, Angga berbaring di samping Reyhan tapi Angga belum bisa memejamkan matanya sampai jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari.
🍀🍀🍀🍀
Keesokan paginya....
Semuanya sudah berkumpul di meja makan, sarapan juga sudah tertata dengan rapi di atas meja, papa Andai, mama Lara, Angga dan juga Reyhan sudah menempati kursi masing-masing, tinggal Rara yang belum bergabung di sana.
"Sayang, adik kamu lama banget sih," ucap mama Lara.
"Bentar lagi juga keluar ma, mama tau lah Rara," ucap Reyhan.
Dan benar saja tak lama kemudian pintu kamar Rara terbuka, Rara keluar masi mengenakan piyama tidur semalam.
"Sayang, belum mandi?" tanya mama Lara.
"Belum ma, badannya Rara lagi gak enak ma," ucap Rara.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Angga berdiri dari kursi, dan mendekati Rara.
__ADS_1
"Mungkin masuk anggi sayang," ucap Rara.
"Yah sudah ayo duduk dulu, pelan-pelan," ucap Angga menuntun Rara duduk di kursi kosong yang ada di dekatnya.
"Coba dek," ucap Reyhan meletakan telapak tangannya di jidat sang adik.
"Aduh benar, adek demam ma, pa," ucap Reyhan.
"Yah sudah kamu sarapan dulu yah, biar mama bikinin tes dulu," ucap mama Lara.
"Parah nih bro, gak bisa pulang kalau gini," ucap Reyhan sambil terkekeh.
"Ini sayang di minum dulu teh nya yah," ucap mama Lara.
"Makasih yah ma," ucap Rara.
"Ini pelan-pelan minumnya sayang, masi panas ini," ucap Angga.
"Iya," ucap Rara.
"Kenapa bisa demam gini sih, semalam perasaan gak deh," ucap Angga.
"Aku juga gak tau, bangun tadi udah ngerasa gak enak badan," ucap Rara.
"Apa karena nak Angga mau balik Indonesa yah?" tanya papa Andi sambil tersenyum geli.
"Iih, papa apaan sih," ucap Rara menunduk malu.
Mama Lara menyenggol lengan sang suami. Mama Lara takut putrinya itu akan merajuk nanti, mama Lara melihat putrinya sedang di perhatianin oleh Angga, bahkan Angga dengan pelan menyuapi Rara.
"Manja banget," ucap Reyhan.
"Makanya punya pacar, biar tau indahnya pacaran," ucap Angga sambil tersenyum.
"Lebay loh berdua," ucap Reyhan.
"Bilang aja kalau kaka iri kan sama kita," ucap Rara meledek sang kaka.
"Gak, kaka gak iri sama kalian," ucap Reyhan.
"Terus kenapa sampai sekarang kaka gak nyari pacar, padahal kan kaka ganteng," ucap Rara.
"Kaka tuh gak mau buru-buru dek, memili pasangan itu harus benar-benar siap menerima kekurangan kita," ucap Reyhan.
"Kaya kamu ini, udah berada dengan orang yang tepat," ucap Reyhan lagi.
"Ayo makan lagi, terus minum obat," ucap Angga.
Rara terus memakan sarapan yang di suapi oleh Angga. Sepertinya hari ini Angga batal balik Indonesa, mungkin esok hari.
__ADS_1
Next....