
Bertahun-tahun tidak bertemu, ketiga sahabat yang sempat terpisah jauh akhirnya bisa di pertemukan kembali.
Rara, Lia dan Amel, tiga sejoli yang berteman dari SMA sampai saat ini, ruang VVIP di salah satu restoran begitu ramai.
"Sumpah gue kangen banget sama loh berdua," ucap Rara tak henti-hentinya bersorak senang.
"Yeh loh pikir cuma loh aja, kita juga lagi iya gak Li," ucap Amel melihat Lia.
"Iya, Amel benar Ra, kita rindu ngumpul-ngumpul gini," ucap Lia sambil meminum jus yang ada di dekatnya.
"Li, kok loh gak ngajak anak loh sih, gue kan pengen liat wajahnya yang lucu itu," ucap Rara.
"Anak gue lagi sama mertua gue, loh tau kan gue sama kak Bima kerja," ucap Lia.
"Tapi anak loh pendiam banget yah, di tinggal gak rewel," ucap Amel.
"Iya, gue juga sering kasian sama dia, di tinggal terus," ucap Lia.
"Nanti kapan-kapan ajak ke rumah yah, gue pengen banget main sama anak loh," ucap Rara.
"Iya-iya Ra, makanya cepat nikah sama kak Angga, biar punya Beby juga," ucap Lia tersenyum melihat Rara.
"Loh berdua tenang aja, gak lama lagi gue sama kak Angga bakalan nikah kok," ucap Rara dengan.
"Iya-iya m, yang bakalan jadi nyonya Wilantara," ucap Lia dan Amel bersaman.
"Loh berdua kompak banget sih," ucap Rara menatap kedua sahabatnya itu.
"Iya dong," ucap Lia.
Rara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya itu, ia ada janji bersama salah satu disainer ibu kota, Rara melihat kedua sahabatnya itu.
"Guys, maaf yah gue harus pergi dulu, ada janji sama Desainer," ucap Rara.
"Iya, kita juga udah mau cabut, nanti kapan-kapan kita nongkrong lagi yah," ucap Amel.
"Iya pasti, gue cabut duluan yah," ucap Rara yang mendapat anggukan dari Lia dan Amel.
Rara keluar dari dalam ruang VVIP itu sambil membawa tas branded miliknya, Rara melihat ponselnya. Ada satu motif dari Angga sang kekasih, Rara membuka dan melihat isi Chet dari Angga.
"Sedang apa?" Isi pesan dari Angga.
"Lagi di mobil, habis ketemu Lia dan Amel, ini mau ketemu Desainer," isi pesan Rara.
Rara melihat ke luar jendela, suasana ibu kota Jakarta begitu panas hari ini, setelah mobil yang di naikin oleh Rara tiba di salah satu butik terkenal, Rara turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam.
Rara di sambut dengan ramah oleh karyawan butik.
"Dengan ibu Rara?" Tanya karyawan butik itu.
"Iya mbak," ucap Rara.
"Mari iku saya Bu, ibu Dian sudah menunggu di dalam," ucap pelayan itu dengan ramah.
"Baik mbak, terimakasih," ucap Rara kemudian mengikuti karyawan butik masuk ke salah satu ruangan.
Clekk...
"Silahkan Bu, ini adalah ruangan Bu Dian," ucap karyawan itu.
"Oh, iya terimakasih yah mbak," ucap Rara.
__ADS_1
"Iya bu, sama-sama kalau begitu saya permisi dulu," ucap karyawan butik.
"Ra, mari silahkan masuk," ucap Dian desainer terkenal.
"Iya Bu, terimakasih," ucap Rara berjalan masuk dan duduk di kursi yang ad di depan Bu Dian.
"Gimana kembali lagi ke tanah air?" Tanya Bu Dian sambil tersenyum.
"Menyenangkan Bu, sudah bertahun-tahun di negara orang," ucap Rara tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Kita langsung ke pembahasan kerja yah, gak papa kan?" Tanya Bu Dian.
"Iya Bu, gak papa kok silahkan," ucap Rara mengangguk.
Bu Dian dan Rara membahas soal pekerjaan, sesekali kedua wanita itu tertawa karena di selah membahas pekerjaan, keduanya juga terlihat bercanda.
Hampir satu jam Rara berada di ruangan Bu Dian dan membahas pekerjaan, sekarang Rara pamit pada Bu Dian.
"Makasih yah Ra udah mau datang ke sini," ucap Bu Dian mengantar Rara sampai depan butik.
"Sama-sama Bu, kalau gitu saya permisi dulu yah," ucap Rara.
"Iya Ra, hati-hati yah," ucap Bu Dian.
Rara mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan butik, Bu Dian melihat sampai mobil Rara menghilang dari pandangannya.
****
Lishi dan sekertaris keluar dari dalam mobil, saat ini mereka sudah tiba di kantor Johan Group.
Kedua wanita itu berjalan masuk ke dalam kantor, mendekati resepsionis yang berjaga di depan.
"Permisi, saya Lishi perwakilan dari kantor Diamon Group," ucap Lishi.
"Baik terimakasih," ucap Lishi.
Lishi dan sekertaris itu masuk ke dalam lift, Lishi menekan angka 25 setelah masuk ke dalam. Benda kotak itu pun membawa Lishi dan sekertaris nya menuju lantai 25.
Ting...
Lishi keluar dari dalam lift di ikuti oleh sekertarisnya, Lishi mencari ruangan Rapat yang di katakan oleh resepsionis tadi.
"Maaf ruang rapat di mana yah?" Tanya Lishi pada karyawan yang baru saja lewat.
"Ibu belok kanan nanti dapat ruangan di paling pojok," ucap karyawan itu.
"Oke, terimakasih yah," ucap Lishi.
"Iya Bu, sama-sama," ucap karyawan itu.
Lishi dan sekertaris berjalan ke arah yang di katakan oleh karyawan tadi.
"Eh dengar-dengar di rapat nanti bos bakalan ngenalin anak nya yang baru kembali dari Itali loh," ucap karyawan yang berjalan berada di depan Lishi.
"Iya, gue dengar-dengar juga gitu, nanti bakalan di kenalin jadi pemimpin perusahaan Johan juga," ucap karyawan yang lain.
"Gue jadi penasaran, seganteng apa sih anaknya bos itu," ucap karyawan.
"Iya gue juga penasaran banget," ucap yang lain.
Lishi melewati para karyawan itu, tujuan Lishi ke kantor Johan adalah untuk menghadiri rapat.
__ADS_1
Lishi dan sekertaris tiba di depan pintu ruang rapat, sekertaris Lishi membukakan pintu dan mempersilahkan bosnya masuk, Lishi duduk di salah satu kursi urutan ke lima dari kursi utama.
Satu persatu semua peserta rapat masuk dan duduk di kursi yang sudah di siapkan. Lishi sedang sibuk dengan ponselnya, bukan bermain melainkan sedang mengecek email.
Clekk...
"Silahkan bos," ucap sekertaris papa Andi, mempersilakan sang bos dan putra dari bosnya itu masuk.
Papa Andi dan juga Reyhan berjalan menuju kursi yang sudah di siapkan, Reyhan melihat semua peserta rapat. Dan pandangan berhenti tepat di salah satu kursi yang sedang di duduki oleh seorang gadis yang sedang menusuk melihat ponselnya.
Meskipun tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, tapi rasanya tak asing dengan gadis itu.
"Bu," bisik sekertaris Lishi, karena Lishi sedang di tatap oleh Reyhan.
Mendengar sekertaris memanggil, Lishi pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pria yang sedang berisi di depan sana.
Deng...
Pandangan Lishi dan Reyhan bertemu, keduanya saling tatap cukup lama, jantung keduanya berdetak dengan cepat.
"Rey," panggil papa Andi memegang lengan sang putra.
"Eh, iya pa," ucap Reyhan kaget melihat sang papa.
"Ada apa, kamu baik-baik saja kan?" Tanya papa Andi menatap wajah sang putra.
"I-iya pa, Reyhan baik-baik aja kok," ucap Reyhan tersenyum lalu melihat ke arah Lishi lagi.
"Baik, sebelum rapat kita mulai, saya ingin memperkenalkan putra saya, yang akan menjadi pemimpin di perusahaan ini," ucap papa Andi.
Tepuk tangan terdengar dari para peserta rapat, Reyhan melihat Lishi yang hanya diam saja, lalu Reyhan menempati kursi yang ada di dekat sang papa.
Papa Andi lalu mulai memimpin rapat, di sela dapat berjalan, Reyhan sesekali mencuri pandang ke arah Lishi, membuat Lishi salah tingkah kala pandangannya dan Reyhan bertemu.
Hampir dua jam, rapat pun selesai. Semuanya saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat datang untuk Reyhan pemimpin baru di perusahaan Johan Group.
"Selat datang," ucap Lishi mengulurkan tangannya ke arah pria yang ia rindukan selama ini.
"Terimakasih, akhirnya kita bertemu lagi," ucap Reyhan tersenyum kecil.
Lishi hanya mengangguk dan salah tingkah, jantung Lishi dan Reyhan tak henti-hentinya berdetak.
Lishi dan sekertaris lalu keluar dari ruangan rapat, meninggalkan perserta rapat lain di dalam ruangan itu. Antara percaya dan tidak, sekarang Reyhan berada di dekat Lishi saat ini.
"Astaga, ini benarkan gue gak salah liat dan gak lagi mimpi," ucap Lishi memegang kedua pipinya dengan pelan.
"Bu Lishi gak papa kan?" Tanya Sekertaris Lishi.
"Gak kok, saya gak papa," ucap Lishi sedikit gugup, membuat sekertaris Lishi menatap heran dengan bosnya itu.
Saat Lishi dan sekertaris bersiap akan masuk ke dalam lift, tiba-tiba Reyhan menghentikan keduanya.
"Tunggu," ucap Reyhan di belakang mereka, Lishi dan sekertaris berbalik dan melihat Reyhan berada di jarak empat meter.
Reyhan berjalan pelan mendekati Kishi dan sekitarnya, pandangan Reyhan Masi tertuju pada Lishi. Membuat Lishi salting karena terus di tatap oleh pria tampan itu.
"Aku harap kamu masihasi ingat sama aku," ucap Reyhan saat jarak keduanya tinggal setengah meter saja.
"Bagaimana aku bisa lupa, kalau kamu meminta aku agar selalu ingat sama kamu," ucap Lishi tersenyum melihat Reyhan.
Reyhan tersenyum melihat ke arah lain, Reyhan mengingat perkataan konyolnya dulu, saat Lishi akan mengembalikan jaket miliknya.
__ADS_1
Next....