
Selesai sudah gaun yang di pesan oleh Sasmita, mbak Dian melihat gaun yang sedang terpampang indah di depannya saat ini.
"Ra, karya kamu memang benar-benar bagus, saya sampai kagum melihat gaun ini," ucap mbak Dian melihat Rara.
"Makasih mbak, saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk pelanggan," ucap Rara.
"Tapi saya masih penasaran dengan orang yang memesan gaun ini," ucap mbak Dian.
"Saya punya nomor telpon, saya hubungin dia dulu mbak," ucap Rara.
"Iya Ra," ucap mbak Dian.
Rara mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Sasmita, Rara ingin mengatakan kalau gaun yang ia pesan sekarang sudah siap di pakai.
"Hallo, dengan mbak Sasmita, gaun yang mbak pesan sudah jadi mbak," ucap Rara.
"....."
"Baik mbak, nanti mbak tinggal kirim lokasi apartemen mbak yah," ucap Rara lagi.
".....".
"Baik mbak," ucap Rara lalu panggilan telpon mati.
"Gimana Ra?" Tanya mbak Dian.
"Katanya gaunnya di anter saja ke apartemen nya mbak," ucap Rara.
"Kok gitu sih, baru kali ini ada pelanggan gitu," ucap mbak Dian.
"Mungkin saja dia lagi sibuk mbak, jadi gak bisa ke butik langsung," ucap Rara.
"Yah, mungkin saja begitu Ra," ucap mbak Dian.
Dalam hati mbak Dian masih heran dengan pelanggan yang sekarang, mbak Dian melihat Rara yang sedang merapikan gaunnya dan memasukan ke dalam kotak besar.
"Biar aku minta pegawai saja yang anter yah," ucap mbak Dian.
"Gak usah mbak, biar saya saja yang anter. Takut nanti gaunnya ada kekurangan, jadi saya bisa memperbaiki nya," ucap Rara.
"Oh, iya kamu hati-hati yah," ucap mbak Dian.
"Iya mbak, kalau gitu saya permisi dulu," ucap Rara pergi sambil membawa gaun itu.
Mbak Dian melihat kepergiaan Rara, mbak Dian membuang jauh-jauh pikiran yang tidak-tidak, takut nanti menjadi zouzon.
****
Sasmita terlihat sedang menelpon seseorang di sebarang sana.
"Kamu tau kan pekerjaan kamu?" Tanya Sasmita.
"Tau bos," ucap seorang pria di seberang sana.
"Baik, kau datang ke apartemen ku sekarang, dia sebentar lagi akan datang," ucap Sasmita.
"Baik bos, saya akan segera ke sana sekarang," ucap pria itu yang tidak lain adalah orang bayaran Sasmita, untuk menjebak Rara.
Sasmita lalu mematikan sambungan telponnya, sambil tersenyum licik Sasmita membayangkan kalau ia akan kembali bersama lagi dengan Angga.
"Tinggal tunggu waktu yang tepat," ucap Sasmita seorang diri.
****
Di lain tempat Rara baru saja tiba di depan apartemen yang ditinggalkan oleh Sasmita, Rara melihat gedung yang tidak terlalu tinggi itu.
Taksi yang ia naikin juga sudah pergi, Rara lalu mengirim pesan pada Sasmita, mengatakan kalau ia sudah berada di bawa sekarang.
Rara lalu masuk ke dalam lift setelah membaca pesan dari Sasmita, lift membawa Rara menuju unit apartemen Sasmita sambil membawa gaun itu.
Ting...
Rara keluar dari dalam lift dan berjalan menuju unit apartemen Sasmita, Rara menekan bel beberapa kali tapi tidak ada yang membuka pintu.
"Unit nya emang ini kok," ucap Rara seorang diri.
Rara mencoba menekan bel lagi, dan Rara menunggu di depan pintu.
****
Mobil Angga baru saja tiba di halaman butik, siang ini Angga akan mengajak sang kekasih makan siang di luar.
"Selamat siang pak Angga," sapa para karyawan butik.
"Siang, apa Rara ada di dalam?" Tanya Angga.
"Bu Rara sedang pergi pak, mengantar gaun lelangan," ucap karyawan butik.
"Pergi, kemana?" Tanya Angga.
__ADS_1
"Saya juga gak tau pak, hanya Bu Rara yang tau alamatnya," ucap karyawan butik.
Perasaan Angga semakin tak tenang, Angga mengambil ponselnya dalam mobil dan mencoba menghubungi Rara, panggil pertama di angkat tapi Angga mendengar suara teriakan lalu panggilan telpon mati.
"Hallo, sayang, hallo," ucap Angga dengan raut wajah panik.
Angga mengecek lokasi Rara saat ini, dan Angga mengumpat marah melihat lokasi Rara saat ini. Jelas Angga tau di mana itu.
Tampa berkata apa-apa, Angga langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari butik, Angga mengendarai kecepatan mobilnya lebih tinggi agar ia bisa cepat sampai di sana.
Dalam perjalanan Angga menghubungi Reyhan dan Ilham juga, dan mereka sekarang sedang menuju lokasi.
****
"Tolong lepaskan saya, saya mohon," ucap Rara dengan berderai air mata.
"Ayolah sayang, kita bersenang-senang dulu," ucap pria suruhan Sasmita.
"Aakkhhh," teriak Rara saat tangannya di cekal oleh pria itu.
"Tolong," teriak Rara dengan keras.
"Percuma saja kau berteriak, tidak ada yang bisa menolong kamu di sini, di sini cuma ada kita berdua saja," ucap pria itu menarik paksa tangan Rara.
"Lepaskan saya, hizk..." Ucap Rara sambil terisak-isak.
"Tolong," teriak Rara lagi.
Rara mengigit tangan pria itu, lalu berlari tapi kekuatannya tidak seberapa.
Rara mengambil benda yang ada di sana dan melemparnya ke arah pria itu, membuat ruangan itu terlihat berantakan seperti kapal pecah.
Pria itu menarik tangan Rara lagi dan membantingnya ke sofa, Rara ketakutan dan gemetaran sambil terus menangis dan...
Prankk...
Suara tendangan pintu langsung terbuka, seorang berseragam polisi langsung masuk dan memukuli pria Yanga akan bersiap melecehkan calon istrinya itu.
Rara bangun dari sofa dan langsung memeluk sang Kaka dengan erat sambil menangis, sedangkan Angga sudah kesetanan memukuli pria itu sampai babak belur, untung saja Ilham dengan cepat menyadarkan Angga.
"Stop, kita bawa bajingan ini ke kantor," ucap Ilham.
Angga berdiri dan melihat wajah lebam pria yang sudah terkapar di lantai itu, lalu pandangan Angga beralih melihat sang kekasih yang begitu berantakan.
Angga dengan cepat memeluk Rara dengan erat, air mata mengalir dari pelupuk mata Angga melihat kondisi calon istrinya yang terlihat ketakutan dan rapuh.
"Kamu gak papa kan, apa dia menyakitimu?" Tanya Angga melihat wajah Rara.
"Maaf kan aku yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, maafkan aku," ucap Angga dan kembali memeluk Rara lagi.
Reyhan dan Ilham melihat pasangan yang sedang berpelukan itu, saat ini Reyhan juga begitu marah melihat adiknya hampir di lecehkan oleh orang jahat.
"Ini bukannya apartemen Sasmita?" Tanya Ilham.
"Iya, dan ini semua pasti ulah wanita licik itu," ucap Angga dengan emosi.
"Apa, Sasmita jadi semua ini adalah ulahnya," ucap Reyhan dengan rahang mengeras menahan amarah.
"Kita pergi saja dari sini, dan bawa orang itu," ucap Angga.
Mobil yang membawa mereka saat ini, sedang menuju kantor polisi di mana Angga dan Ilham bertugas.
Rara menceritakan semuanya, kalau ia datang ke apartemen itu hanya untuk mengantar gaun yang di pesan oleh Sasmita, Rara tidak tau kalau itu semua hanyalah pancingan agar Rara mau datang ke sana.
"Wanita itu harus di kasih pelajaran, biar dia heran," ucap Reyhan.
"Iya, dia harus merasakan dinginnya penjara akibat perbuatannya yang menjijikan itu," ucap Angga juga.
Tak berselang lama, mobil yang membawa Rara dan yang lain tiba di kantor polisi, Rara harus menjelaskan semua pada pihak kepolisian tentang kejadian barusan terjadi.
"Bawa di ke dalam tahanan," ucap Angga pada bawahannya.
"Siap pak," ucap bawahan Angga.
Status Sasmita saat ini sudah buron, Angga tidak main-main untuk memasukan Sasmita dalam penjara.
"Kita langsung pulang aja yah?" Tanya Angga.
"Iya kak, tapi aku mau telpon mbak Dian dulu," ucap Rara.
"Iya," ucap Angga.
Selesai menelpon mbak Dian, Rara dan Angga langsung masuk ke dalam mobil, Angga akan mengantar Rara pulang ke rumah sedangkan Reyhan kembali lagi ke kantor.
Dalam mobil Rara terus memeluk lengan Angga sambil menyadarkan kepalanya, Angga mengusap kepala Rara dengan pelan mengunakan sebelah tangannya itu.
****
Sasmita tiba di apartemen nya, dan melihat kondisi di dalam sana berantakan seperti akal pecah, pandangan Sasmita tertuju pada gaun yang ia pesan itu.
__ADS_1
"Akhirnya gaun gue sama Angga udah jadi," ucap Sasmita sambil tersenyum.
"Jangan bergerak," ucap dua orang polisi di depan pintu apartemen Sasmita.
Sasmita melihat ke arah pintu, dan tersenyum melihat polisi datang, yang di kiranya adalah Angga.
"Angga sayang kamu datang, aku udah menduga kalau kamu bakalan kembali padaku sayang," ucap Sasmita mendekati dia polisi itu.
"Tangkap dia," ucap salah satu polisi.
"Siap," ucap polisi Yanga satunya dan langsung memborgol Sasmita.
"Apa yang kalian lakukan, lepaskan saya, saya akan laporkan kalian sama pacar saya Angga, lepaskan saya," teriak Sasmita dengan keras, karena ia di bawa paksa oleh dua polisi itu.
"Gaun ku, gaun ku ketinggalan lepaskan saya," ucap Sasmita dengan marah.
Sasmita di bawa ke kantor polisi, Sasmita seperti orang yang memiliki gangguan jiwa, karena terkadang suka tertawa sendiri dan memberontak.
"Hey lepaskan saya bodoh," ucap Sasmita lagi.
Ilham yang melihat Sasmita yang sudah berhasil di ringkus oleh bawahan pun langsung saja mendekat.
"Ilham panggil Angga mereka sudah membawa saya dengan paksa Ilham," ucap Sasmita melihat Ilham.
Ilham melihat Sasmita dengan heran, Sasmita seperti memiliki gangguan jiwa, dia berbicara bukan seperti Sasmita yang ia kenal dulu.
"Bawa di ke dalam tahanan," ucap Ilham.
"Hey Ilham, kau apa-apaan sih, aku akan mengadukan mu pada Angga Ilham, kau lihat saja nanti," ucap Sasmita sambil berteriak-teriak di bawa masuk ke dalam tahanan.
Ilham hanya menggeleng kepala mendengar teriakan Sasmita, Ilham pergi menuju ruangan kerjanya.
****
Angga dan Rara berjalan masuk setelah tiba di rumah, mama Lara sudah menunggu putrinya di depan pintu.
"Sayang kamu gak papa kan, apa orang jahat itu berhasil melukaimu nak?" Tanya mama Lara dengan raut wajah kuatir.
"Aku gak papa kok ma, untung saja Kaka sama kak Angga juga kak Ilham cepat datang," ucap Rara.
Mama Lara memeluk putrinya itu dengan erat, sambil menahan tangisnya karena putri kesayangannya itu hampir saja mengalami pelecehan.
"Mama gak usah sedih yah, Rara kan gak papa ma," ucap Rara berusaha menenangkan sang mama.
"Iya, kalian pasti belum makan kan, ayo kita makan siang dulu," ucap mama Lara.
Angga dan Rara mengikuti mama Lara menuju rumah makan, di sana semua menu sudah tersaji dengan begitu rapi.
Angga melihat Rara yang duduk di dekatnya, Angga sudah bulat tekatnya akan segera melamar Rara dan menikahi kekasihnya itu.
Angga tidak mau kejadian barusan terjadi lagi, akan akan melindungi Rara mulai saat ini dari orang-orang jahat.
"Kak ayo makan, Kaka mau aku ambilkan menu mana?" Tanya Rara melihat Angga.
"Yang itu sama sayur buncis aja," ucap Angga.
Rara mengambil menu makan saing untuk Angga, mama Lara yang melihat itu begitu senang biakan main.
Angga tersenyum melihat wajah cantik Rara, Rara lalu memberikan piring yang sudah berisi menu makan siang untuk Angga.
Hanya mama Lara, Angga dan Rara yang makan siang bersama. Karena papa Andi jam segini sedang berada di kantor.
****
Mbak Dian yang mendengar Rara dalam bahaya pun langsung saja kaget, ia sudah menduga dengan pelanggan yang tak biasa.
Mbak Dian juga merasa bersalah karena sudah membaurkan Rara pergi sendiri, coba kalau ia ikut pasti ia bisa membantu Rara, dan Rara tidak akan mengalami pelecehan seperti ini.
"Kasian yah mbak Rara, ternyata wanita itu cuma mau modus saja," ucap karyawan butik.
"Iya, tau gitu kita gak layaniin dia kemarin," ucap karyawan yang lain.
Tapi katanya wanita itu udah berada di kantor polisi, kan pacarnya mbak Rara polisi," ucap karyawan butik.
"Bagus kalau gitu, biar dia jera di balik jeruji besi," ucap karyawan butik yang satunya.
"Udah capek-capek buat gaun eh malah gak di ambil sama wanita itu," ucap karyawan butik lagi.
"Iya kita kan bisa nilai selama ini lelangan selalu ambil barang di butik, gak pernah tuh minta di anterin ke tempat tinggal mereka," ucap karyawan butik yang lain.
"Di jadikan pelajaran saja, semoga kedepannya gak ada lagi kejadian yang seperti ini," ucap mbak Dian yang baru saja kelaur dari ruangannya sambil menenteng tas branded miliknya.
"Iya Bu Dian," ucap semua karyawan butik.
"Sekarang lanjut kerja kalian lagi yah, saya mau ke rumah Rara dulu. Saya mau nmelihat kondisi Rara," ucap mbak Dian.
"Baik Bu Dian," ucap semua karyawan butik.
Mbak Dian kelaur dari butik dan langsung masuk ke dalam mobilnya yang sedang terparkir di luar butik. Mbak Dian akan pergi melihat kondisi Rara, karena biar bagaimana pun Rara adalah bawahannya.
__ADS_1
Mobil mbak Dian keluar dari parkiran butik.
Next...