Cinta Sejati Abdi Negara

Cinta Sejati Abdi Negara
Rara Dalam Bahaya


__ADS_3

Dua anggota polisi sedang menikmati makan siang mereka di sebuah restoran, mereka adalah Angga dan Ilham.


Setelah menjalankan tugas razia, keduanya langsung pergi ke restoran favorit mereka, untuk mengisi purut yang sudah mulai keroncongan.


"Jadi kemari loh sama Feli habis dari puncak?" tanya Angga.


"Iya," ucap Ilham.


"Ngapain aja di sana?" tanya Angga lagi.


"Gak usah kepo deh," ucap Ilham kembali menguyah makanan nya.


Angga hanya tersenyum melihat wajah Ilham, baru kali ini Ilham terlihat serius kalau sedang mengobrol dengannya. Biasanya anak itu selalu saja jahil dan penuh canda.


"Kabarnya Rara sama Rey gimana?" tanya Ilham.


"Baik, tapi kata Rey akhir-akhir ini ada mobil yang tak di kenal sering mengikuti Rara," ucap Angga.


"Rey udah tau siapa orangnya?" tanya Ilham.


"Belum, Rey juga masi menyelidiki orang itu," ucap Angga.


"Gue tau loh pasti kuatir, tapi semoga aja semua akan baik-baik saja," ucap Ilham menguatkan Angga.


Keduanya lanjut menghabiskan makan siang mereka, karena habis ini mereka harus kembali bertugas lagi.


"Kali ini loh yang traktir yah," ucap Angga.


"Iya-iya," ucap Ilham.


Angga tersenyum menang melihat sang sahabat, sedangkan Ilham yang duduk di depan Angga hanya menatap Angga dengan kesal.


Di sisi lain...


"Pa, mama kuatir sama Rara pa," ucap mama Lara.


"Semoga saja tidak akan terjadi sesuatu ma, kita sebagai orang tua juga pasti akan merasakan kuatir," ucap papa Andi.


"Tapi papa udah minta Rey buat selalu jagain adiknya ma," ucap papa Andi.


"Iya pa," ucap mama Lara.


Papa Andi terlihat memeluk mama Lara dengan erat, biar gimana pun mereka pasti kuatir dengan keselamatan putri mereka di negara orang.


"Sudah jangan sedih yah, kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja," ucap mama Lara.


Mama Lara hanya mengangguk saja, dan melepaskan pelukannya dari papa Andi.


****


Seorang bocah kecil sedang bersiap ikut sang aunty pergi bekerja, bocah kecil itu tak mau di tinggal.


"Aku sudah keren gak aunty?" tanya bocah kecil itu yang tak lain adalah Akas.


"Ponakan aunty ini emang keren deh," ucap Lishi merapikan rambut Akas.


"Makasih yah aunty, nanti kita jadi kan makan es krim di kedai?" tanya Akan menatap wajah sang aunty menantikan jawaban.


"Jadi dong sayang, kan aunty udah janji sama Akas," ucap Lishi mencium pipi gembul Akas.


"Hore, ayo aunty kita pergi sekarang," ajak Akas sudah tak sabaran.


"Kita harus pamit dulu sama ayah dan bunda dan juga dik bayi sayang," ucap Lishi.


"Iya yah, Akas lupa" ucap bocah kecil itu sambil tertawa geli.


"Iih, kamu ini, ayo," ajak Lishi mengandeng tangan bocah kecil itu.


Akas kecil selalu saja ikut kemanapun sang aunty pergi, entah itu ke kantor jalan-jalan dan pergi belanja. Karena sesuai janji Lishi pada bocah kecil itu, hanya ke Itali saja Akas tidak ikut, karena bocah kecil itu masi terlalu kecil untuk pergi ke luar negri.


Apa lagi Lishi tidak terbiasa membawa anak kecil pergi jauh-jauh, tampa ada kedua orang tuanya ikut bersama.


"Ayah, bunda," panggil Akas.


Sang ayah dan sang bunda melihat putra pertama mereka yang sudah rapi dan wangi, apa lagi Akas mengunakan celana panjang dan juga sweater warna hijau tua, membuat penampilan bocah kecil itu terlihat tampan dan mengemaskan.


"Aduh anak bunda ganteng banget sih," ucap sang bunda mengusap kepala sang putra.


"Jangan bunda, nanti rambut Akas gak rapi lagi," ucap Akas mengingatkan sang bunda.


Lishi dan kedua orang tua Akas hanya tersenyum mendengar celotehan bocah kecil itu, Akas memang terdengar lucu kalau sedang berceloteh tiada henti.


Selesai berpamitan pada sang ayah dan sang bunda, Akas dan Lishi pun masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah. lishi mengendarai mobilnya sendiri, dengan Akas yang menjadi teman dan duduk di samping kursi kemudi.


"Duduk yang manis yah sayang, kita berangkat," ucap Lishi setelah memakaikan sabuk pengaman untuk bocah kecil itu.


"Oke aunty," ucap Akas dengan semangat.


Mobil yang di kendarai oleh Lishi pun keluar dari gerbang rumah mereka, Akas duduk manis di kuris samping kemudi sambil bermain Onet di tap miliknya, sedangkan aunty sedang fokus menyetir.


****


Sasmita terus menghubungi Angga, tapi Angga tidak mengangkat telpon dari wanita jahat ini.

__ADS_1


"Ngapain sih nih orang nelpon terus, bikin gue gak mood aja," ucap Angga.


"Siapa?" tanya Ilham.


"Sasmita," ucap Angga.


"Mau apa lagi dia, kali ini dia gue lepasin karena gue masi kasian sama dia, biar gimana pun dia teman kita waktu sekolah dulu, tapi kalau di bikin kelakuan lagi, gue gak akan tinggal diam," ucap Ilham dengan serius.


"Nga, Ham nanti tolong berikan laporan pada pak Hendra yah, gue lagi buru-buru aja urusan," ucap salah satu anggota polisi.


"Iya, hati-hati loh," ucap Angga.


"Iya makasih yah," ucap anggota itu lalu pergi dari ruangan mereka.


Angga membuka laporan yang di berikan oleh teman sesama anggotanya tadi, sedangkan Ilham masi duduk di kursi dekat Angga.


"Loh mau jemput Feli?" tanya Angga melihat Ilham.


"Iya, dia lagi di kantor katanya mau pulang ke rumah, jadi selain aja," ucap Ilham sambil mengutak atik ponsel miliknya.


"Kalau gitu gue anter laporan dulu sama pak Hendar, loh kalau mau duluan gak papa," ucap Angga.


"Barengan aja kita, nanti berpisah di perempatan," ucap Ilham masi sibuk dengan ponselnya.


"Oke, kalau gitu loh tunggu bentar yah, gue mau ke ruangan pak Hendar," ucap Angga beranjak dari duduknya.


"Oke," ucap Ilham.


Angga pergi ke ruangan atasannya, untuk memberikan laporan hari ini. Sedangkan Ilham menunggu di ruangan mereka, karena Feli juga masi ada kerjaan di kantor jadi ia pulang sedikit telat.


"Pak Angga," sapa anggota yang lain.


"Iya pak," balas Angga dengan ramah dan sopan.


Memang seperti itu kalau berada di kantor, bertemu dan saling sapa.


Angga melihat dua polwan yang sedang berjala ke arahnya.


"Pak Angga mau ke ruangan pak Hendra yah?" tanya salah satu polwan yang menaruh hati pada Angga.


"Iya bu," ucap Angga.


"Kalau begitu barengan saja pak, kita juga mau ke ruangan pak Hendra, iya kan bu," ucap polwan itu melihat rekannya.


"Iya pak Angga benar," ucap salah satu polwan juga.


Angga berjalan duluan di depan, membiarkan dua polwan itu berjala di belakang, karena Angga memang tak terlalu dekat dengan mereka.


****


Mobil yang di kendarai oleh Ilham berhenti tepat di depan lobby kantor Feli, Ilham yang sedang mengunakan kacamata hitam turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor.


Karena Feli sudah mengatakan minta di jemput langsung ke ruangan kerja nya di lantai paling atas, yaitu di lantai 20.


Ilham.yang masi mengunakan dinas polisi berjalan menuju lift tampa melepas kacamata hitam miliknya.


Banyak karyawan wanita yang menatap Ilhan dengan kagum, dan saling bisik-bisik, tapi Ilham tak menghiraukan bisikan para karyawan itu.


Ilham masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai paling atas, Ilham memasukan sebelah tangannya ke dala saku celana nya.


Ting...


Pintu lift terbuka, Ilham keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah pintu yang ada di depannya itu. Ilham sangat yakin kalau itu adalah ruangan kerja sang kekasih.


Ilham melangkah pelan ke arah pintu itu, lalu Ilham mengetuk nya.


"Maaf pak, cari siapa yah?" tanya seorang wanita yang keluar dari ruangan samping.


Ilham berbalik belakang dan melihat wanita yang sedang membawa berkas itu, Ilham melepaskan kacamata hitam miliknya lalu melihat wajah wanita itu lagi.


"Saya cari Feli, apa dia ada di dalam?" tanya Ilham.


"Dengan pak siapa dan ada urusan apa yah," ucap wanita itu.


"Sa..." ucapan Ilham terpotong karena Felis udah membuka pintu dari dalam.


"Sayang, kok kamu gak masuk sih kenapa berdiri di sini?" tanya Feli melihat Ilham dengan senang.


"Bu Feli, saya ingin memberikan berkas yang harus di tandatangani bu," ucap wanita itu yang tak lain adalah sekertaris Feli.


"Oh iya, kamu letakan saja di atas meja kerja saya yah," ucap Feli.


"Baik bu Feli," ucap wanita itu masuk ke dalam ruangan Feli.


"Kenapa gak langsung masuk sih?" tanya Feli.


"Ini udah mau masuk," ucap Ilham mengacak rambut sang kekasih.


"Ih, rambut aku nanti rusak," ucap Feli.


"Gak papa, masi cantik kok," ucap Ilham berjalan masuk bersama Feli.


"Saya permisi dulu bu," ucap sekertaris Feli.

__ADS_1


"Iya," ucap Feli.


Feli mengajak Ilham duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Feli, Feli juga ikut duduk di dekat Ilham.


Ilham melihat-lihat ruangan Feli yang terlihat begitu rapi dan simpel, pandangan Ilham tertuju pada foto besar di dekat kursi kerja Feli.


Di mana di dalam foto itu Feli tersenyum manis memeluk kedua orangtuanya, keluarga yang bahagia.


"Mau minum gak, biar aku ambilkan?" tanya Feli.


"Gak usah, udah selesai kerja kan? Kita langsung pergi aja yah," ucap Ilham.


"Iya, aku ambil tas dulu yah," ucap Feli dan Ilham hanya mengangguk saja.


Ilham dan Feli lalu keluar dari dalam ruangan Feli, bersamaan papa nya Feli yang keluar dari dalam lift.


"Papa," ucap Feli yang sedang memeluk lengan Ilham.


"Loh, kalian," ucap pak Surya menunjuk sang putri dan Ilham.


"Hallo om, saya Ilham," ucap Ilham menyalami punggung tangan pak Surya.


"Jadi kalian berdua pacaran?" tanya pak Surya melihat Feli dan Ilham duduk di sofa yanga d adi ruangan kerja Feli.


Karena kedatangan pak Surya, Ilham dan Feli pun tak jadi langsung pergi. Mereka kembali masuk ke dalam rumah Feli bersama pak Surya.


Dan di sini lah mereka, sekarang sedang di interogasi oleh pak Surya.


"Iya pa, iya om," ucap Feli dan Ilham bersama.


"Sejak kapan?" tanya pak Surya.


"Udah lama pa, iya kan sayang udah lupa juga kita kapan," ucap Feli menatap Ilham sambil tersenyum.


Pak Surya menatap Ilham yang hanya diam saja, lalu pak Surya melihat sang putri yang terlihat begitu bahagia.


"Iya om, udah lama kita pacaran," ucap Ilham.


"Gak ada tanda-tanda mau nikah gitu?" tanya pak Surya.


Ilham dan Feli saling pandang, lalu melihat ke arah pak Surya lagi sambil tersenyum.


"Insyaallah secepatnya om," ucap Ilham.


"Benar yah, om tunggu loh," ucap pak Surya.


Pak Surya lalu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya itu, sudah jam 5 sora.


"Kalau gitu papa pamit pulang dulu, sana kalian juga pergi kalau pengen jalan-jalan," ucap pak Surya sambil senyum.


Ketiganya pun keluar bersama dari dalam ruangan Feli, masuk ke dalam lift pun bersama. Mereka berpisah di lobby kantor, karena Feli dan Ilham masuk ke dalam mobil Ilham, sedangkan pak Surya masuk ke dalam mobil nya.


****


Di belahan dunia lain, terlihat dua orang pria sedang melihat seorang gadis dan sang teman mengobrol di kantin kampus.


"Itu orang nya, loh harus bisa bikin dia hancur, karena dia dan kaka nya udah ikut campur masalah gue," ucap salah satu pria itu.


"Oke, loh tenang aja, yang penting uang lancar," ucap salah satu pria itu.


"Loh tenang aja, nanti gue transfer yang penting kerjaan loh beres," ucap pria itu.


"Ra, cabut yuk udah gak ada mata kuliah kan," ucap Keni sahabat Rara.


"Iya, ayo," ucap Rara juga.


Kedua gadis itu pergi dari kantin setelah membayar pesanan mereka tadi, mereka pergi ke arah parkiran di mana mobil Keni sedang terparkir.


"Pulang bareng gue yah, kaka loh gak jemput kan?" tanya Keni.


"Gak tau juga yah, gue telpon kak Rey duku yah gak papa kan," ucap Rara.


"Iya," ucap Keni.


Rara menelpon nomor sang kaka, tapi tak ada jawaban, Rara terus menelpon tapi tak ada jawaban dari sang kaka.


"Gimana, gak di angkat?" tanya Keni.


"Gak di angkat sama kak Rey, kak Rey di mana yah," ucap Rara.


"Yah udah loh pulang bareng gue aja yah," ucap Keni dan Rara hanya mengangguk saja.


Kedua gadis itu masuk ke dalam mobil Keni, mobil itu lalu keluar dari gerbang kampus. Dan tak lama kemudian, mobil hitam juga menyusul mereka keluar mengikuti mobil yang di naikin kedua gadis itu.


Rara melihat dari kaca spion depan, di mana mobil hitam yang biasa mengikuti nya beberapa hari ini berada di belakang mobil Keni sekarang.


Rara mengirim pesan pada sang kaka, tapi pesan belum juga di liat oleh Reyhan di seberang sana.


"Aduh kak Rey kemana sih, aku takut banget," ucap Rara dalam hati sambil melihat ke arah kaca spion.


Mobil Keni melaju di jalan yang sedikit sepi, membuat ketakutan Rara semakin bertambah saja, Rara tak henti-hentinya melihat ke belakang melihat mobil hitam yang biasa mengikuti nya.


Next...

__ADS_1


__ADS_2