
pesawat baru saja tiba, seorang gadis cantik berkacamata hitam turun dari pesawat. bersama kedua orang tuanya dan juga sang kakak, senyum mengembang di bibir gadis cantik itu.
"tidak ada yang berubah semua masih sama," ucap gadis itu dalam hati sambil tersenyum.
gadis itu yang tak lain adalah Rara, Raihan dan kedua orang tuanya. Mereka baru saja tiba di Indonesia, setelah menempuh perjalanan jauh dari Italia ke Indonesia.
Raihan melihat kebahagiaan terpanjang di raut wajah sang adik, apalagi Rara akan segera bertemu dengan sang calon suami yaitu Angga.
Rara yang memakai sweater putih dan juga dipadukan dengan celana jeans pensil, dan jangan lupakan tas branded miliknya yang sedang tergantung di lengannya.
"udah nggak sabar ya mau ketemu calon suami," ucap Raihan sambil tersenyum melihat sang adik.
"nggak juga kok," ucaplah Rara melirik sang kakak.
Raihan mendekati sang adik dan mengajak rambut Rara dengan gemes, membuat Rara berdecak kesal karena rambutnya berantakan, dan itu karena ulah sang kakak.
"Masih cantik kok," ucap Raihan tersenyum tanpa dosa.
di ruang tunggu bandara, terlihat seorang pria tampan dan berseragam polisi sedang duduk di salah satu kursi. Sambil memegang buket bunga yang begitu besar.
pria itulah adalah Angga, Angga sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang kekasih.
senyum terbit di bibir Angga kalah melihat gadis yang selama ini ia rindukan, sedang berjalan ke arahnya bersama sang kakak dan kedua orang tua mereka dengan tersenyum manis.
"kakak Angga," teriak gadis itu dan langsung memeluk Angga dengan erat.
Angga memeluk gadis yang ia rindukan itu dengan erat, sambil mencium rambut Rara beberapa kali.
papa Andi, mama Lara dan juga Raihan tersenyum melihat pemandangan itu, akhirnya Rara dan Angga dipertemukan kembali setelah sekian lama terpisah oleh jarak.
Angga melepaskan pelukannya dari Rara dan melihat wajah cantik gadis itu sambil tersenyum, Angga lalu memberikan buket bunga yang sedari tadi ia pegang untuk sang kekasih.
"buat calon istriku, selamat karena sudah menjadi sarjana, maaf tidak bisa hadir pasti kau mengartikan," ucap Angga mengusap kepala Rara dengan lembut.
"makasih kak, bunganya cantik banget," ucap Rara sambil mencium aroma bunga yang wangi itu.
"sama-sama, seperti kamu yang selalu cantik," ucap Angga kembali memeluk Rara lagi.
"adik gue mulu yang dipeluk, lo nggak kangen sama gue," ucap Raihan Yan berdiri tak jauh dari Angga dan Rara.
Angga dan Rara melihat ke arah Raihan sambil tersenyum, Angga lalu memeluk pria yang seumuran dengannya itu, Raihan juga membalas pelukan sang sahabat.
"gue sama Ilham kangen banget sama lo," ucap Angga memeluk sang sahabat dengan erat.
"sama bro gue juga," ucap Raihan lepas kan pelukannya dari Angga.
Angga berganti memeluk kedua orang tua Rara, papa Andi terlihat menepuk punggung calon menantunya itu dengan sayang.
Angga melihat kedua orang tua Rara yang sebentar lagi akan menjadi kedua orang tuanya juga.
"om, tante saya izin bawa Rara ke rumah, mama sudah menunggu," ucap Angga melihat kedua orang tua Rara bergantian.
"iya nak Angga," ucapan pak Andi dan mama Lara hanya mengangguk saja.
"terima kasih Om, tante," ucap Angga melihat Rara. Angga lalu melihat ke arah Raihan sang sahabat.
"sorry bro adik lu gue culik dulu," ucap Angga sambil terkekeh geli.
"jangan lupa pulangin ntar sore," ucap Raihan.
__ADS_1
"pasti bro," ucap Angga.
mereka lalu berpisah di parkiran bandara, Raihan dan kedua orang tuanya pulang menggunakan mobil jemputan, sedangkan Rara naik mobil bersama Angga.
Angga mengemudikan mobilnya sesekali melihat ke arah Rara, Rara duduk sambil memeluk buket bunga besar itu.
"aku kangen banget sama kota Jakarta," ucap Rara sambil melihat keluar kaca mobil.
"jadi cuma sama kota Jakarta aja, nggak kangen sama aku," ucap Angga melirik ke arah Rara.
"enggak, kan udah sering teleponan sama kakak," ucap Lara sambil menahan senyum.
tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Angga pun memasuki gerbang rumah besar keluarga Wilantara. Mama Sofia terlihat sudah menunggu kedatangan Angga dan juga Rara di depan pintu utama, senyum terbit di bibir Mama Sofia kalau melihat gadis yang selama ini ia rindukan turun dari mobil bersama sang putra.
"Rara," panggil mama Sofia dan langsung memeluk Rara dengan erat.
"Mama kangen banget sama kamu sayang," ucap Mama Sofia di sela pelukan mereka.
"Rara juga mah," ngucap Rara dengan senang.
Mama Sofia melepaskan pelukannya dari Rara dan melihat wajah gadis cantik itu, pandangan Mama Sofia lalu tertuju pada sang putra yang sedang berdiri di dekat kedua wanita itu.
"sayang, calon istri kamu tambah cantik aja ya," ucap Mama Sofia sambil tersenyum gali.
"mama bisa aja," ucap Lara sambil melihat ke arah Angga.
"ayo kita masuk sayang," ajak mama Sofia menggandeng tangan Rara masuk ke dalam rumah.
"kalau udah sama Mama aku dianggurin," sindir anggap berjalan di belakang kedua wanita itu.
Mama Sofia hanya melirik Rara sambil mengedipkan sebelah matanya, pertanda saat ini sang putra sedang kesal.
Mama Sofia mengajak Rara duduk di salah satu sofa di ruang tengah, Angga pun juga ikut duduk di sofa yang tek jauh dari yang diduduki Rara dan sang mama.
****
dengan pelang lishi mengambil jaket itu, jaket yang masih sama tak ada yang berubah meskipun sudah begitu lama.
di saat sedang merindukan pria itu, Lishi akan melihat jaket milik Raihan. Entah apa tujuan Reyhan, ia tidak mengambil jaket itu saat Lishi ingin mengembalikannya.
Lishi di kaget kan dengan tangan mungil yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, tanpa melihat saja Lishi sudah bisa menebak siapa pemilik tangan itu.
"Mi, aku cariin ternyata mami di sini," ucap bocah kecil yang berseragam TK.
"Sayang, kamu udah pulang?" tanya Lishi berbalik melihat sang bocah kecil itu.
"Iya mi, aku cariin mami ternyata di sini," ucap Akas berdiri di depan sang mama.
Lishi melihat jidat Akas yang sedikit memar, jemari Lishi terangkat untuk mengusap jidat Akas.
"Sayang kenapa ini bisa terluka?" tanya Lishi melihat Akas.
Akas terlihat terdiam sejenak, lalu menunduk kepalanya. Membuat Lishi menatap bocah kecil itu dengan heran.
"Ada apa?" tanya Lishi dengan suara lembut.
"Aku tadi jatuh mi, aku gak liat jalan baik-baik," ucap Akas menatap sang mami dengan raut wajah sedih.
"Ayo sini, ikut mami," ucap Lishi mengajak bocah kecil itu.
__ADS_1
Lishi mengambil kota pk3 dari dalam lemari, lalu mengobati luka memar yang ada di jidat Akas, Lishi mendudukkan Akas di atas ranjang.
"Lain kali hati-hati yah," ucap Lishi setelah selesai mengobati ponakannya itu.
"Iya mi," ucap Akas.
Bocah kecil itu lalu turun dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar maminya untuk berganti pakaian.
Lishi kembali melihat jaket yang sedang tergeletak di atas ranjang, Lishi mengambilnya dan menghirup aroma khas pria itu.
Meskipun sudah bertahun-tahun, tapi wangi parfum Reyhan tidak pernah hilang dari jaket itu.
****
Reihan terlihat membuka pintu balkon kamarnya, pria itu keluar dan menghirup udara dengan pelan.
Reihan melihat gumpalan awan putih di atas sana, Reihan menerawang jauh. Raihan bertanya dalam hati apakah dia masih bisa bertemu dengan Lishi atau tidak, karena sudah bertahun-tahun lamanya, tak mungkin Lishi tidak menemukan tambatan hatinya.
lamunan Reihan buyar saat sang Mama memanggilnya dari dalam kamar, Raihan berbalik dan melihat sang Mama sedang berdiri di ambang pintu balkon sambil tersenyum.
"Uda apa mah?" tanya hanya Raihan.
"kamu lupa ya habis minta buatin apa sama mama," ucap Mama Lara sambil tersenyum.
Raihan baru ingat kalau iya minta dibuatkan jus pada sang mama, Raihan lalu mengajak sama Mama turun ke lantai bawah.
****
Angga dan Rara saat ini sedang berbincang di depan kolam renang. Angga tak henti-hentinya menatap wajah cantik Rara, membuat Rara tersipu malu.
"Kenapa sih, Kaka liatin aku terus?" tanya Rara.
"Suka aja, habis kamu cantik banget sih," ucap Angga tersenyum menggoda.
"Sejak kapan Kaka jadi tukang gombal gini," ucap Rara sambil meminum es lemon.
"Sejak saat ini, aku juga sering dengar Ilham suka gombal sama istrinya," ucap Angga Masi tidak melepaskan tatapannya dari Rara.
"jadi kakak ketularan kak Ilham yah?" tanya Rara setelah meletakan gelas yang sudah kosong.
"Gak juga kok," ucap Angga.
"Mau ke mana?" tanya Angga melihat Rara yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya.
"Mau liat mama dulu," ucap Rara.
"Kok Kaka di tinggalin sih?" tanya Angga.
"Kaka mau ikut, apa mau di sini aja?" tanya Rara berbalik melihat Angga.
Dengan cepat Angga beranjak dari duduknya dan mengikuti Rara yang sudah masuk ke dalam, Mama Sofia tersenyum melihat Rara dan Angga.
Rara yang melangkah terlalu cepat, membuat kakinya sedikit tersandung Dan hampir saja terjatuh kalau saja Angga tidak dengan cepat menarik tangannya.
posisi keduanya saat ini Angga sedang memeluk Rara dengan begitu dekat, membuat Mama Sofia tersenyum jahil dan menggoda keduanya.
"Aduh, udahan tatapannya," ucap Mama Sofia tersenyum geli.
Angga dan Rara dengan cepat menjauh, karena malu dilihat oleh Mama Sofia. Angga melirik sang kekasih yang hanya menunduk malu karena kejadian barusan.
__ADS_1
Rara bisa merasa wajahnya yang mulai memanas, dan Rara sudah bisa menembak kalau wajahnya saat ini sudah sama seperti kepiting rebus.
Next...