
Keempat lawan Candani Paramita langsung menggunakan ilmu tingkat tinggi mereka. Mereka sudah diwanti-wanti bahwa lawannya memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Walaupun wanita tapi termasuk dalam jajaran satria yang pilih tanding.
Di arena pertempuran tiba-tiba seolah-olah Candani ada dimana-mana. Gerakannya begitu cepat memutar mengelilingi lawan-lawannya di tiap sisi. Keempat lawannya sudah berkeringat dingin. Mereka tidak pernah menyentuh apapun. Senjata mereka hanya mengenai tempat-tempat kosong, hanya menerjang angin. Sedang mereka sendiri sudah terluka dimana-mana.
Arus ombak seperti menghajar mereka bertubi-tubi, kadang keempat lawan Candani Paramita merasa akan ditenggelamkan ke dasar laut dikarenakan ada tekanan udara yang begitu kuat, begitu kuatnya sampai rasanya dada mereka kehabisan nafas. Terus berdebur melemparkan mereka ke batu karang meluluhlantakkan tulang-tulang. Pertempuran berlangsung di daratan akan tetapi ombak yang bergulung-gulung mengamuk menghantam mereka tanpa henti, memutar menenggelamkan semua yang ada di sekitarnya. Tanah ikut bergetar. Pohon-pohon roboh tanpa diaba-aba. Rumput-rumput di sekitar sudah rebah rusak tak ada bentuknya. Tumpas segala yang ada.
Rasa putus asa mulai melanda lawan-lawan Candani Paramita. Merasa sayang dengan satu-satunya nyawa yang mereka miliki. Harus mati di negeri orang, tidak dikenal tidak diingat. Pupus tanpa nama.
Matahari sudah beranjak tinggi. Pertempuran yang tadinya di pinggir desa perlahan-lahan bergeser ke tepi sungai. Arus sungai begitu deras. Hujan lebat melanda. Tanah becek menyembur ke baju-baju mereka yang sedang bermain-main dengan nyawa. Hilang warna, hilang bentuknya. Badan terluka, dada terasa sesak. Hanya seorang wanita yang menjadi lawan mereka, wanita kebanyakan tidak akan berani melawan mereka, dengan satu gertakan istri dan anak gadis siapapun bisa direbutnya, dijadikan pelayan nafsu bejad mereka, dan ayah ataupun suami dari wanita-wanita yang mereka permainkan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menerima maka dia hidup atau melawan maka dia mati. Tapi wanita yang satu ini dengan kecantikan tiada tara dengan senyuman yang mampu membuat laki-laki bertekuk lutut seketika, disertai warna kulit kuning Langsat yang bersinar menyelubungi segenap tubuhnya, wanita ini dengan semua kelebihannya, meskipun telah dikeroyok, hanya dengan satu sapuan tangannya telah menjadikan lawannya hancur segala daya upayanya. Telah meluluhlantakkan harga diri mereka. Kesaktian mereka bukan tandingan Candani Paramita salah satu pilihan yang diciptakan Sang Maha Pencipta.
Di saat keempat nyawa lawan Candani sudah di ujung tanduk, tiba-tiba terdengar jerit dan tangis menyayat dari seorang wanita yang diseret-seret rambutnya. Kedua tangan wanita itu memeluk erat bayinya yang menangis tiada henti.
"Lepaskan aku. Toloooooong, tolong aku, selamatkan anakku, siapapun tolong aku dan anakku dari laki-laki biadab ini, toloooooong," wanita itu melolong-lolong penuh kegetiran. Menyayat hati siapapun yang mendengar.
__ADS_1
Salah satu tangan perampok itu memukulkan cambuknya ke arah bayi dari perempuan itu. Dengan gerak cepat ditutupinya bayinya dengan kedua tangannya, hingga tangannyalah yang terluka dan berdarah. Tidak dipedulikannya bajunya yang telah robek dimana-mana, rasa sakit dari luka-lukanya ikut terabaikan.
"Ayo cantik layanilah aku dengan baik. Maka dirimu dan anakmu aku pastikan selamat." Perampok biadab itu terlihat puas melihat mangsanya yang lemah.
Candani berlari dengan cepatnya ke arah perampok bejad yang sudah semena-mena terhadap wanita dan balita. Dengan satu gerakan tangan dipukulnya kepala laki-laki itu. Korbannya langsung tewas seketika. Remuk isi kepalanya.
"Nyai apakah tidak mengapa?" tanya Candani lembut.
Wanita itu langsung menangis sesenggukan di pelukan Candani.
Keris itu seketika ditancapkan ke perut Candani. Di saat Candani belum tersadar dengan keadaan keris Sarpa Hastha kembali ditusukkan ke jantungnya. Tapi tidak sampai dalam karena Candani berhasil mendorong musuhnya hingga jatuh.
"Ha...haha..hahaha. Hahaha .......," perempuan itu tertawa dengan keras merasakan kepuasan tiada tara. "Akulah yang akan menjadi ratu dari raja yang berkuasa atas kerajaan Laut Segaralaya. Dan kau Sanura matilah dirimu. Hahahaha."
__ADS_1
Dengan sisa kekuatan yang ada Candani Paramita menyerang perempuan gila yang sudah menusuknya. Lagi-lagi perempuan itu menggunakan bayi di tangannya untuk dijadikan tameng.
"Siapa sebenarnya dirimu, kenapa harus menggunakan tindakan pengecut seperti itu. Siapa yang menyuruhmu?" Darah mengucur deras dari perut Candani Paramita. Menetes membasahi bumi. Tanah yang kecoklatan berubah warna menjadi merah.
"Aku Santika Darliah. Aku Pengecut, mungkin benar. Jika tidak curang dan pengecut mana mungkin aku bisa mengalahkanmu. Kesaktianmu pilih tanding. Hanya dengan kecurangan maka aku bisa menghabisimu. Memanfaatkan rasa ibamu pada perempuan yang akan diperkosa dan anak bayi yang menangis meronta-ronta, bukankah tipu muslihatku luar biasa. Seorang Ratu Agung bisa ditipu oleh perempuan biasa saja sepertiku. Cara yang jujur tidak kuperlukan, yang penting kemenangan, apapun caranya yang penting aku menang. Hahaaaaaa. Inilah aku Ratu yang akan mendampingi raja Segaralaya."
"Kamu apakah dari kerajaan Segara Pitu?"
"Ya benar sekali. Raja Segara Pitu sudah lama merencanakan pemberontakan. Dan dirimu berkali-kali lolos dari kematian. Raja dari Segara Pitu, Raja Suteja Thani sudah bosan menjadikan kerajaannya sebagai salah satu negara bagian dari kerajaanmu. Dia ingin menguasai tahta Kerajaan Laut Segaralaya."
Candani Paramita sudah mendengar bahwa ada pergerakan makar dari kerajaan bagian Segara Pitu. Karenanya dia menolak saat Ibundanya menyuruhnya mengembara untuk mencari kekasih hatinya. Para Panglima Senopatinya juga tidak berkenan karena sudah mengetahui niat makar Segara Pitu, meskipun belum ditemukan bukti.
Tubuh Candani Serasa dirambati beribu-ribu ular berbisa. Yang melilit tubuhnya dengan begitu kuat. Keris Sarpa Hastha beracun karena jiwa yang ada di dalamnya adalah berbagai jiwa ular berbisa dari bangsa lelembut.
__ADS_1
Tiba-tiba Santika Darliah melempar bayi lemah yang ada dalam gendongannya ke dalam luapan sungai. Candani Paramita dengan sisa kekuatan yang ada langsung terjun ke dalam sungai yang airnya sedang meluap itu. Digendongnya bayi tidak berdosa ini."Dasar perempuan hina," umpatnya dalam hati.
Diapun terbawa arus sungai. Diraihnya tiga buah batang pohon pisang, Candani Paramita memejamkan matanya sekejap memanggil pedang Gentala Handaru. Dalam sekejap pedang Gentala Handaru sudah berada di tangannya. Ditancapkannya pedang di tengah badan pohon pisang itu sehingga tiga batang pohon pisang itu menyatu. Dengan susah payah dinaikinya rakit pohon pisang itu dengan tetap menggendong bayi di tangannya. Dilepasnya selendang yang melilit di pinggangnya, tubuh bayi kecil itu diletakkan di atas tubuhnya lalu diikatkannya selendang ke badannya dan badan bayi kecil itu di atasnya. Lalu pingsanlah Candani Paramita terbawa arus air sungai.