
Mata itu. Siapa pemilik mata itu. Manusia kah, siluman kah, jin, atau hewan buas penghuni tempat ini. Candani Paramita berpikir dalam, mencoba menemukan titik temu dari pertanyaannya.
Hujan sudah berhenti. Tanah menjadi basah. Banyak lumpur di mana-mana. Candani mendatangi arah di mana ia tadi melihat sepasang mata yang bersembunyi di balik rimbun pepohonan. Diingatnya bahwa saat sepasang mata itu mengintip, hujan sedang turun dengan lebatnya. Dicarinya jejak yang tertinggal. Di tanah yang becek ditemuinya jejak langkah kaki kecil, kaki seekor hewan yang tidak memiliki berat badan besar, hewan ini juga tidak sedang mengandung, ataupun membawa berupa beban. "Ada perlu apa sampai hewan ini sengaja mengintip ke tempat ku," ucap Candani dalam hati.
Diikutinya jejak langkah yang tertinggal. Candani terus melangkah mengikuti jejak kaki yang tertinggal di tanah. Jejak itu berhenti di sebuah gunung kecil buatan. "Sepertinya yang ada di tempat ini semuanya merupakan buatan tangan manusia, luar biasa hebat," ucap Candani Paramita pada diri sendiri.
"Sedang bicara dengan siapa?"
Candani sedikit kaget. Tidak disangkanya Lintang Samudera sudah ada di belakangnya.
"Kenapa tidak mengajakku?" Kembali Lintang Samudera bertanya.
"Aku merasa curiga dengan pemilik tempat ini. Jika dia memang memiliki kepentingan dengan kita, seharusnya setelah kita memasuki tempat ini, orang itu atau entah siapa secepatnya menemui kita." Candani terdiam sejenak.
"Lalu?"
"Tapi ini, orang itu sama sekali tidak mau keluar. Malahan menyuruh hewan peliharaannya untuk mengintip kita. Lihat jejak yang tertinggal?" tunjuk Candani kepada Lintang Samudera.
Lintang Samudera memperhatikan sebuah jejak yang tidak begitu dalam itu.
"Lihat Kakang!" Candani menunjukkan segumpal bulu berwarna hitam bercampur putih.
"Bulu hewan apa ini? Aku tidak pernah melihatnya." Lintang Samudera menggeleng pelan, merasa aneh dengan yang ditemukan oleh istrinya.
"Aku juga tidak tahu ini bulu hewan apa. Tapi setahuku, hewan ini tidak terdapat di kerajaan-kerajaan daratan yang pernah aku lalui, hewan seperti juga tidak ada di kerajaan laut," jelas Candani Paramita.
"Dari mana asal hewan ini?" tanya Lintang Samudera.
"Guru Jagratara pernah menggambarkan bentuk hewan ini. Hewan ini hidup di wilayah yang dingin di negeri-negeri nun jauh di sana, sangat jauh," ucap Candani sembari menunjuk tangannya ke tempat-tempat yang memang sangat jauh.
"Coba Kakang perhatikan semua hal yang ada di sini? Semuanya buatan. Dari sungai, gunung buatan yang ada di hadapan kita ini. Bahkan pohon yang sesaat tadi aku perhatikan jangan-jangan merupakan pohon buatan juga."
"Baiklah mari kita cari jawaban atas semua hal yang terjadi di sini." Lintang Samudera menggamit tangan istrinya.
"Kakang?"
Lintang Samudera memalingkan wajahnya. "Kenapa?" ucapnya.
"Perasaanku tidak enak." Candani khawatir sesuatu hal buruk akan terjadi menimpa dirinya dan Lintang Samudera.
"Ayo. Kita cari bersama-sama!" Lintang Samudera kembali menggenggam tangan Candani Paramita.
Setelah berjalan beberapa puluh langkah, di perbatasan antara sungai dan gunung buatan, ditemukan sebuah pintu rahasia. Pintu itu berupa sulur-sulur tanaman yang menutupi kaki gunung yang menjadi batas akhir panjangnya sungai.
__ADS_1
Tampak seekor hewan seperti yang dikatakan Candani Paramita, hewan itu tampak berjaga-jaga di depan pintu yang berupa tanaman itu. Seolah-olah mengerti apa tujuan tamunya, hewan itu membawa tamunya ke dalam kaki gunung, yang ternyata merupakan sebuah ruangan yang sangat indah.
Seorang gadis yang sangat cantik sedang tertidur di sebuah ranjang yang indah di ruangan itu.
Lintang Samudera tanpa disadari mendekati gadis itu. Wajah gadis itu begitu mempesona, seperti seorang putri tidur yang sedang menantikan kehadiran kekasih hatinya.
Putri tidur itu tiba-tiba membuka matanya.
"Kekasihku akhirnya kau datang. Akhirnya kau menemuiku Kakang." Suaranya begitu lembut, bibirnya yang mungil kemerahan sangat sepadan dengan wajahnya yang cantik jelita.
Gadis itu merebahkan kepalanya di dada Lintang Samudera. Tanpa sadar Lintang Samudera pun memeluk gadis jelita itu.
Lintang Samudera begitu terpesona dengan wajah jelita di hadapannya. Senyumnya, kecantikan wajahnya, suara lembutnya, keindahan tubuhnya, semua itu membuat dirinya hanya duduk terpaku, patuh pada semua perintah yang keluar dari bibir yang indah itu.
"Selamatkan aku, Kakang! Tolong aku. Aku sakit. Aku sangat merindukanmu." Gadis itupun terisak di dalam pelukan Lintang Samudera.
Hati Candani Paramita terasa begitu sakit. Suaminya yang menjadi belahan jiwanya, di depan matanya memeluk wanita lain.
"Kakek, apa maksud semua ini?" tanya Candani Paramita begitu melihat lelaki tua yang pernah dijumpainya.
"Inilah maksudku. Cucuku yang memanggil kalian semua."
"Apa yang sudah kalian lakukan pada suamiku?" Suara Candani Paramita bergetar menahan marah.
Gadis jelita itu memandang Candani Paramita dengan pandangan kebencian.
"Aku mencintai suamimu. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya. Cintaku begitu besar padanya. Berikan suamimu padaku!" perintah gadis itu.
Wajah gadis itu yang semula lembut berubah menjadi bengis. Hilang sudah kecantikan yang tadi sempat dikagumi oleh Candani Paramita.
"Kau sudah menyihir suamiku?"
"Semua akan aku lakukan demi mendapat laki-laki ini. Wajahnya yang sangat tampan, matanya yang tajam, senyumnya yang sangat menawan, semua dari dirinya membuatku gila." Gadis penyihir itu membelai wajah Lintang Samudera dengan penuh kekaguman. Menyusuri wajah itu dengan penuh kehati-hatian.
"Akhirnya kau menjadi milikku Kakang Lintang."
Pemandangan menyakitkan kembali terpajang di hadapan Candani Paramita. Gadis penyihir itu kembali memeluk tubuh Lintang Samudera dengan erat. Sangat erat.
"Keluarlah kalian, jangan terus bersembunyi!" perintah kakek tua.
Raja muda ular dan Nimas Ayu Palupi keluar dari persembunyiannya. Mata mereka terpaku melihat seorang gadis jelita yang dengan penuh keserakahan terus-menerus memeluk Lintang Samudera.
"Pergilah kalian dari tempat ini. Atau aku akan meracuni kalian dengan racun tanaman yang ada di tempat ini," perintah kakek tua.
__ADS_1
"Baiklah, kami akan pergi. Tapi sebelum pergi, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan," ucap Candani. Mata Candani tidak henti-hentinya melihat ke arah suaminya.
"Jangan pikirkan suamimu. Dia akan dirawat dengan sangat baik oleh cucuku. Apa pertanyaan mu?"
Candani mengalihkan pandang matanya pada laki-laki tua yang ada di hadapannya.
"Dimana pemilik asli tempat ini?"
"Kau memang pintar. Pemilik asli tempat ini sudah aku tipu. Dan aku ubah wujudnya menjadi sebuah pohon besar. Dia begitu bodoh, karena bantuannya juga aku bisa memanggil Lintang Samudera kesini," kakek itupun terkekeh menghina.
"Siapa nama kakek dan siapa pula nama cucumu?" tanya Candani menyelidik.
"Kau kira aku bodoh. Setelah mengetahui namaku, maka kau akan mengejar ku hingga ke ujung dunia." Pandang mata laki-laki tua itu berubah menjadi kejam.
Candani tertawa keras. "Apa kau takut padaku? Apa yang kau takuti dariku? Percayalah kakek tua, aku hanya ingin mengenalmu dan cucumu, selebihnya bukan urusanku."
"Lalu suamimu?"
"Bukankah kakek mengatakan bahwa cucumu akan menjaga suamiku dengan baik." Candani bermain kata dengan laki-laki tua yang ada di depannya. Tidak ingin menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya.
Mata laki-laki tua itu kembali menatap Candani Paramita.
"Namaku Pinggala. Dan nama cucuku Ramaniya."
"Baiklah, kami pergi. Gadis Ramaniya, jaga suamiku Lintang Samudera dengan baik," ucap Candani Paramita.
"Dia akan jadi suamiku. Dan hanya suamiku." Ramaniya tidak melepas pelukannya dari Lintang Samudera.
Pandangan Lintang Samudera begitu kosong. Dia mengikuti apapun yang menjadi kehendak Ramaniya.
Candani membalikkan badan, pergi bersama-sama Nimas Ayu dan raja muda ular.
"Kakang Lintang Samudera kembalilah padaku. Cepatlah sadar, jangan tinggalkan aku sendiri," suara lirih Candani Paramita berbisik pelan di dalam hatinya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Para readers semua, mohon bantuannya untuk vote dan like ya. Vote dan like dari para readers merupakan support yang besar bagi author.
Bagi yang belum vote, mohon bantuannya untuk vote ya. Yang belum like, mohon bantuannya untuk memberikan like ya.
Masukkan novel ini menjadi salah satu novel favorit para readers semua.
Terima kasih untuk para readers semuanya.
__ADS_1
Love you all. Semoga para readers semuanya senantiasa dalam keadaan sehat wal Afiat. Amin