
Gemuruh langkah mengisi hari. Penduduk Segaralaya yang mendengar suara itu dengan berani membuka pintu dan berlari ke arah asal suara. Beberapa penduduk lagi memilih bersembunyi di tempat persembunyian yang sengaja dibuat untuk bisa digunakan di saat-saat genting.
Barisan pasukan yang berjumlah ribuan menghadirkan rasa kebanggaan dan pesona yang membuncah isi hati setiap mata yang melihatnya. Rasa itu begitu menghentak-hentak isi dada, ikut bergemuruh bersamaan dengan derap langkah pasukan dengan genderang yang ditabuh mengikuti setiap langkah prajurit.
Para penduduk berduyun-duyun melihat apa dan siapa yang telah berani membawa pasukan secara terang-terangan ke wilayah Segaralaya. Apakah Segara Pitu memiliki keberanian sebesar itu? Sepertinya tidak mungkin. Untuk melintasi perbatasan Segaralaya, para penyusup yang berasal dari Segara Pitu harus melalui pasukan yang berlapis-lapis pertahanannya, dan kebanyakan mati karena tersambar tajamnya anak panah prajurit perbatasan. Sepuluh ribu pasukan panah berjaga dengan gagah berani, busur di tangan, anak panah terhimpun rapi di punggung, anak-anak panah siap melesat membunuh siapapun yang berani menerjang wilayah perbatasan.
Segaralaya berada dalam penjagaan siaga satu. Seluruh kerjasama dengan Kerajaan Segara Pitu sudah diputus, kerjasama dagang berbagai hasil bumi dan lainnya dialihkan ke wilayah Kerajaan lain yang menjadi kerajaan bagian Segaralaya. Rakyat Segara Pitu meronta menyalahkan Raja Suteja Thani yang semena-mena berusaha meruntuhkan keberadaan Segaralaya yang merupakan salah satu kerajaan besar di wilayah lautan. Berani menyerang Segaralaha berarti harus berani menanggung kehancuran di depan mata.
"Itu pasukan siapa, Pak? Berani masuk wilayah Segaralaya di pagi hari," tanya Walih kepada suaminya.
"Itu pasti pasukan bantuan dari kerajaan lain. Lebih baik kita langsung menuju arah kedatangan pasukan untuk memastikan siapa mereka." Suami Walih menggamit tangan istrinya dan membawa kedua anaknya untuk ikut serta menyambut pasukan yang datang dengan suara gemuruh, yang menjadi pertanda jumlah pasukan yang begitu banyak.
Panglima Senopati Sawu Banyu dan Panglima Senopati Biru Loka telah bersiap menyambut kehadiran pasukan yang berjumlah banyak itu. Hati mereka pun ikut bergemuruh menyapa kedahsyatan pasukan yang berada di bawah bendera kerajaan ular.
Raja muda ular datang dengan membawa bala tentaranya. Kawula ular bisa terbebas dari perbudakan yang dilakukan oleh segelintir manusia semata-mata karena bantuan Ratu Samudera Sanura dan suaminya Lintang Samudera. Sebagai bentuk balas budi dikerahkannya pasukan untuk membantu peperangan yang akan terjadi antara Kerajaan Laut Segaralaya dan Kerajaan Segara Pitu.
__ADS_1
Raja muda ular berdiri dengan gagah di depan pasukannya. Para pembawa bendera kerajaan ular dengan tegap dan kukuh menggenggam kayu yang menopang umbul-umbul kebesaran kerajaan ular. Bala tentara ular dengan senjata di tangan siap menghancurkan siapapun yang berani menginjak-injak wilayah Segaralaya.
Bala tentara dan kawula Segaralaya meledak-ledak isi hatinya. Ratu mereka Ratu Samudera beserta suaminya dalam perjalanan pengembaraan yang terakhir kali telah berhasil menyelamatkan satu bangsa yaitu berhasil menyelamatkan bangsa ular dari perbudakan seorang manusia keji, sebuah perbudakan yang telah dilakukan selama beratus-ratus tahun lamanya. Dan kini para bala tentara ular berduyun-duyun menuju Segaralaya dengan satu maksud ikut berperang membela Segaralaya, hidup atau mati demi kehormatan sebuah negeri yang penguasanya dengan sukarela telah membebaskan kehormatan bangsa ular.
"Selamat datang raja muda ular dan segenap bala tentaranya?" Sapa Panglima Senopati Sawu Banyu dan Panglima Senopati Biru Loka. "Ratu kami telah menunggu kehadiran raja muda ular di balai pertemuan," lanjut Panglima Sawu Banyu.
"Raja Muda Ular pasukan yang dibawa sangat luar biasa. Isi dadaku ikut bergemuruh keras melihat kesatuan-kesatuan yang ada di pasukan ular." Ucap Senopati Biru Loka yang merasakan pesona luar biasa di dalam hatinya.
Raja muda ular menyambut hangat sapa dari panglima Senopati kerajaan Segaralaya. Setelah menyerahkan kepemimpinan pasukan pada salah satu panglima senopati nya, dirinya pun bersegera menuju balai pertemuan. Menyapa sang Ratu Samudera dan menyapa punggawa dari kerajaan Segaralaya.
Bala tentara ular ditempatkan pada sebuah lapangan besar, di sana telah dibangun markas prajurit sebagai tempat tinggal para prajurit ular selama berada di kerajaan Segaralaya.
🔸🔸🔸🔸🔸
"Dia baik-baik saja. Sewaktu melahirkan mengalami kesusahan, kesakitan selama berhari-hari tapi akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Istriku luar biasa, adik seperguruan mu itu sangat tabah. Aku sangat beruntung memiliki istri Nimas Ayu Palupi. Anakku kembar laki-laki. Yang satunya akan menjadi penerus ku, yang satunya lagi sudah menjadi pelindung sejati bangsa ular." Raja muda ular berbicara penuh bangga. Bangga dengan Nimas Ayu Palupi, bangga dengan anak kembarnya.
__ADS_1
"Berkat bantuan Ratu Samudera dan bantuan mu, kami bangsa ular bisa terlepas dari perbudakan di hidup dan mati kami," lanjut raja muda. "Kami bangsa ular berhutang budi kepada Ratu Samudera dan kepadamu. Kalian berdua sepasang suami istri yang luar biasa." Kejujuran tampak dari tiap kata yang diungkapkan oleh raja muda ular.
"Sudahlah. Saling tolong menolong sudah menjadi kewajiban. Tidak perlu membicarakan hutang budi. Ratu Samudera pasti tidak setuju jika kau terus-menerus membahas masalah hutang budi," ucap Lintang Samudera.
"Kakang Lintang Samudera pasti berat menjadi suami seorang ratu? Bagaimana apakah rakyat dan prajurit Segaralaya bisa menerima keberadaan mu?" tanya raja muda ular yang mengerti isi hati sahabatnya itu.
"Raja Muda Ular, Kakang Lintang Samudera sangat diterima oleh rakyat Segaralaya. Lihatlah para dayang-dayang di sana yang selalu mencuri pandang ke suami sang ratu ini. Kaum wanita di Segaralaya mengagumi dia ini, Mengagumi Lintang Samudera ini." Tiba-tiba Senopati Laut Muda ikut serta dalam pembicaraan. " Maaf langsung nyelonong ikut bicara. Kenalkan aku Senopati Laut Muda?"
Ketiga orang itu berbicara dengan riuh ramai. Raja muda ular langsung terbahak saat mendengar Lintang Samudera sering dikejar-kejar para gadis.
"Kakang Lintang hati-hati dengan wajah tampan mu itu, jika tidak dijaga bisa menimbulkan malapetaka," ledek raja muda ular. Mereka bertiga pun kembali tertawa keras. Raja muda ular dengan mudah bisa langsung akrab dengan Senopati Laut Muda.
🔸🔸🔸🔸🔸
Ratu Samudera dan raja muda ular mengerahkan pasukan untuk melakukan latihan perang bersama. Pasukan dari kerajaan ular belum terbiasa untuk bertempur di wilayah lautan, meskipun di dalam keprajuritan tentara ular terdapat kesatuan tempur air.
__ADS_1
Pasukan ular dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan tata perang. Dengan penuh semangat mereka berbaur dengan para prajurit Segaralaya. Latihan-latihan pertempuran dilakukan hampir setiap hari. Di beberapa sisi prajurit ular melawan prajurit Segaralaya di permukaan laut. Pedang-pedang kayu terhunus saling menyerang. Dengan lincah para prajurit ular menyerang lawan latihannya. Tendangan, hantaman, sapuan, hunusan pedang, terus mengejar prajurit Segaralaya. Harga diri Segaraya sedang dipertaruhkan di latihan ini. Para prajurit Segaralaya dengan sigap menghadapi terjangan serangan prajurit ular yang terus menghantam bagai badai, mereka berkelit, menghindar, dan balik menyerang dan terus menyerang. Tidak ada kata kalah atau mengalah. Meskipun hanya latihan tapi setiap prajurit diperintahkan untuk menganggap ini sebagai perang sungguhan. Sapuan prajurit ular sangat berbahaya, sapuan yang disertai racun mematikan harus mati-matian dihadapi oleh prajurit Segaralaya. Dengan kelincahan akalnya, prajurit Segaralaya menghindari sapuan racun, air bergulung-gulung menimpa para prajurit ular, serangan racun hanya mengenai serangan balik berupa gugusan ombak yang berbalik menyerang tiada henti.
Sementara di hutan laut latihan perang dimenangkan oleh pasukan prajurit ular. Hutan dengan segenap isinya merupakan rumah asli para ular. Segencar apapun prajurit Segaralaya menyerang prajurit ular, dengan gerak cepat semua serangan itu dipatahkan. Meskipun kalah telak tapi prajurit kesatuan hutan laut dari Segaralaya tidak patah arang. Pasukan ular dengan mudah berkelit-kelit diantara pepohonan memberikan serangan mendadak yang sangat mematikan, mereka bahkan muncul dari berbagai sisi. Pepohonan, semak belukar, lorong-lorong tanah, semua yang ada di hutan merupakan benteng pertahanan yang kuat bagi kesatuan prajurit ular, semua penyerangan bisa dilakukan dari berbagai sisi, dan semua bagian dari hutan itu sendiri menjadi senjata yang sangat luar biasa yang bisa digunakan oleh prajurit ular. Kesatuan prajurit Segaralaya kalah telak. Semua usaha telah dicurahkan tapi tidak membuahkan hasil sama sekali. Mereka hanya bisa bertahan menghadapi kedahsyatan daya tempur pasukan ular di hutan. Ratu Samudera mengetahui hal ini, dengan cepat sang ratu meminta secara khusus kepada raja muda ular untuk melatih prajurit kesatuan hutan laut Segaralaya. Hal ini disambut dengan gembira oleh raja muda ular dan pasukannya. Mereka bangga karena pasukannya menang telak di latihan pertempuran hutan laut.