CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
RAJA DAN RATU ULAR


__ADS_3

Nimas Ayu Palupi membelalakkan matanya. Dirinya tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh ayahandanya. "Apakah ayahanda tidak salah ucap?"


"Tidak anakku puteri bungsu. Ayahanda serius."


"Apa Kang Mbok Candani dan Kakang Lintang Samudera mengetahuinya juga?"


Raja Citraloka menjawab pertanyaan putrinya dengan anggukan kepala.


Nimas Ayu seketika berlari mencari keberadaan Candani Paramita dan Lintang Samudera. Dicarinya pasangan suami istri itu di berbagai tempat tapi ditemukan. Nimas Ayu menghentikan langkahnya. Di hadapannya berdiri raja muda ular yang akan dinikahkan dengan dirinya.


Mereka saling bertatap mata. Raja muda ular tersenyum mencoba menyapa. Dengan cepat Nimas Ayu berlari kembali.


Di taman bambu dilihatnya Candani Paramita dan Lintang Samudera sedang berbicara serius.


"Kakang Lintang dan Kang Mbok Candani, kenapa kalian tidak memberitahukan ku mengenai masalah perjodohan ini. Kenapa kalian merahasiakannya?" Tangis Nimas Ayu pecah. Tidak disangkanya dirinya dijebak oleh orang-orang yang sangat dipercayainya. Rasa marah, ditipu, sakit hati, semua beradu menjadi satu.


Candani menarik tangan Nimas Ayu dan membawanya duduk diantara dirinya dan Lintang Samudera.


"Kami tidak menjebakmu. Kau sendiri yang mengatakan akan mengikuti kemanapun aku pergi," ucap Candanu memulai pembicaraan.


"Kang Mbok jangan bercanda," rengek Nimas Ayu dengan air matanya. "Aku belum ingin menikah, aku masih ingin sendiri. Kenapa kalian seenaknya menjodohkan aku dengan raja muda ular."


"Kami tidak menjodohkanmu dengan raja muda ular," balas Lintang Samudera. "Kami hanya mendapat perintah untuk membawamu serta ke kerajaan ular."


"Aku tidak mau menikah dengan raja ular itu. Aku mau menikah dengan manusia, aku ingin mencari pasangan hidupku sendiri."


"Dengarkan Kang Mbok bicara ya. Yang merencanakan perjodohan ini Guru Jagratara. Kang Mbok hanya diperintahkan untuk membawamu ke kerajaan ular dan menikahkanmu dengan raja muda ular. Mengenai apa sebabnya terjadi perjodohan ini, Kang Mbok juga tidak tahu sebab musababnya."


Sedu sedan masih terdengar, tapi Nimas Ayu menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung.


"Setahuku nenek buyut dari raja muda ular juga seorang manusia, karenanya raja muda ular bisa merubah wujudnya menjadi manusia seutuhnya," jelas Candani Paramita.

__ADS_1


"Kang Mbok, aku tidak mencintai raja muda itu. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai, seperti Kang Mbok Candani dan Kakang Lintang.


"Kalau begitu mulai sekarang belajarlah untuk mencintai raja muda ular. Nimas Ayu, tidak mungkin Guru Jagratara akan mencelakakannu, beliau mengatur perjodohan ini pasti karena ada kebaikan di dalamnya. Cobalah direnungkan." Candani tidak sampai hati melihat Nimas Ayu dalam keadaan kebingungan.


Di sela rimbunnya pohon bambu. Seorang pemuda mengikuti pembicaraan yang sedang berlangsung. Dia terus menatap ke arah Bimas Ayu. Dia mendekat perlahan ke arah tiga orang yang sedang larut dalam pembicaraan.


Nimas Ayu mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang. Saat dilihatnya wajah yang mendekat, dirinya langsung berlari.


Candani memandang raja muda ular. "Kejar gadismu itu, taklukkan dia."


Raja muda ular pun berlari mengikuti langkah Nimas Ayu Palupi yang berlari jauh. Dilihatnya gadis itu duduk di sebuah tumpukan kayu kering.


"Larimu cepat sekali, dan ini jauh sekali. Hampir di perbatasan dua alam," raja muda ular membuka pembicaraan.


"Pergi kamu, aku mau sendiri."


"Dan aku ingin menemanimu," jawab raja muda ular ringan.


"Siapa juga yang mau menikah denganmu, aku hanya menuruti perintah Guru Jagratara. Kalau aku tidak menurut, Guru Jagratara tidak akan bersedia untuk menolongku dan kaumku."


Keadaan hening.


"Begini saja Nimas Ayu, kita menikah dulu, untuk mematuhi perintah Guru Jagratara. Hitung-hitung kau sedang membantu kebebasan bangsa ular," raja muda ular memberikan tawaran.


Nimas Ayu memandang raja muda ular, yang dipandang hatinya berbunga-bunga. Banyak sekali bunga yang tiba-tiba mekar di hati raja muda ular.


"Tapi aku tidak mencintaimu, dan aku juga belum ingin menikah," jawab Nimas Ayu.


"Tapi apakah kau tidak bersedia membantuku, tidak kasihan kepada rakyatku. Dan yang utama, apakah tidak ingin membantu sahabatmu ular Buraksa agar bisa kembali diterima di tengah kaumnya," raja mud ular mengeluarkan ucapan manisnya. Mengiba.


Nimas Ayu mengingat kesedihan sahabat barunya ular Buraksa. Ditatapnya raja muda ular. Lumayan tampan.

__ADS_1


"Baiklah aku bersedia menikah denganmu dengan tujuan untuk membantu ular Buraksa agar diterima kembali di kalangan bangsa ular, tapi setelah ular Buraksa diterima oleh bangsa ular, aku akan meninggalkanmu," jawab Nimas Ayu menyetujui.


"Tidak masalah. Aku akan tetap menghormatimu dan tidak akan berlaku kurang ajar. Semua ini aku lakukan semata-mata demi keselamatan rakyatku."


Nimas Ayu mendekati raja muda ular. Dirinya sudah kembali seperti sedia kala. Raja muda ular tersenyum samar.


"Berarti setelah kita menikah, apa yang aku lakukan?" tanya Nimas Ayu.


"Jadi istriku. Kalau kau masih ingin bermain, bermainlah sesukamu. Yang utama masih dalam batas kewajaran. Aku seorang raja, bagaimanapun juga semua mata memperhatikanku dan orang-orang terdekatku. Yang penting saat di hadapan rakyatku dan pejabat kerajaan berlakulah layaknya seorang istri dan permaisuri yang baik."


"Baiklah, aku ikuti keinginanmu. Ehm bukankah kau tidak mencintaiku, lalu kenapa dengan mudahnya setuju untuk menikah denganku?" tanya Nimas Ayu penasaran.


Raja muda ular pura-pura terbatuk. "Anggap saja aku mencintaimu, mudah bukan?" jawab raja muda ular.


Raja muda ular tidak mau berdebat lagi dengan Nimas Ayu. Diajaknya gadis itu untuk menemui raja Citraloka.


🔸🔸🔸🔸🔸


Raja Citraloka manggut-manggut mendengar penjelasan raja muda ular dan putrinya. Dirinya paham bahwa raja muda ular bersiasat untuk menundukkan hati putri bungsunya. Menjadi seorang raja sedari kecil bukanlah hal yang mudah, banyak siasat licik dan permainan keji yang mengintainya. Jika raja muda ular tidak cerdik, tentulah sedari lama dia sudah kehilangan mahkotanya. Dan putri bungsunya tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki, sehingga tidak bisa membaca siasat raja muda ular di balik semua perkataannya.


Pernikahan dilaksanakan dengan khidmat mengikuti tradisi kerajaan ular. Sepasang raja dan ratu itu saling mengikat janji setia.


Raja muda ular tersenyum cerah, dan Nimas Ayu tersenyum karena mengira semuanya hanyalah permainan semata.


Candani dan Lintang Samudera saling bertatapan dan tersenyum. "Sepertinya adik kecil kita ini akan menjadi ratu yang baik di kerajaan ular ini.


"Benar istriku. Raja muda ular memang bermulut manis dan pandai menipu," balas Lintang Samudera.


"Terus kau apa, kau juga pintar memikatku."


"Betulkah," jawab Lintang Samudera sambil melirik nakal. "Aku rindu bibir ini dan juga rindu merengkuh tubuh ini."

__ADS_1


__ADS_2