CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
RUH RIMBA


__ADS_3

Pergeseran lempeng bumi mengakibatkan terjadinya gempa bumi. Meskipun tidak parah, tapi terjadi kerusakan kecil di beberapa tempat. Tidak mungkin pemindahan lembah yang cukup luas tidak mengakibatkan kerusakan, meskipun sedikit pasti akan meninggalkan bekas.


Candani tidak tahu asal muasal gurunya. Entah dari mana asalnya, atau di mana kampung halamannya. Semua abu-abu. Tidak ada penjelasan. Sudah jadi kebiasaannya tidak bertanya banyak hal kepada Guru Jagratara, jadi ada yang bertanya apa dan mengapa, jawabnya pun menjadi kenapa. Gurunya seolah-olah berasal dari negeri antah berantah.


Di sinilah sekarang dirinya dan rombongan nya berada. Pohon. Pepohonan tua. Sebuah hutan tua yang bagaikan tidak pernah tersentuh tangan manusia.


"Sudah berapa tahun hutan ini tidak tersentuh?" Bisik hati Candani Paramita.


Sebuah tangan merengkuh pinggangnya. Sekarang Candani mulai terbiasa dengan adanya suaminya. Pelukan, sentuhan-sentuhan hangat, bahkan usapan kepala yang diberikan menghadirkan isi rasa yang berbeda. Dan di sinilah tangan itu berada, melingkar erat di sisi pinggang kanannya.


Rombongan kecil itu berjalan pelan menyisir hutan. Siang hari tapi terasa senja. Rapatnya jalinan pepohonan menjadikan sinar matahari kesulitan untuk menembus hutan ini.


Bahkan akar-akar merambat dalam ukuran besar. Saling terjalin antara akar pohon yang satu dengan pohon yang lainnya. "Apa yang Guru Jagratara sembunyikan di sini," pikir Candani penasaran.


"Kang Mbok?" Sapa Baluh Jingga memecah sunyi.


"Iya Baluh," jawab Candani Paramita.


"Apakah nanti malam tidak akan terjadi serangan seperti dini hari tadi?"


"Seharusnya tidak ada. Karena yang dicari penyerang sesuatu yang menjadi bagian lembah Chedana." Candani memutus kata-katanya. "Tapi alangkah baiknya, jika berjaga-jaga," lanjutnya.


"Kang Mbok Candani, pepohonan di sini agak aneh?" Nimas Ayu Palupi ikut serta berbicara.

__ADS_1


"Maksud Nimas?"


"Pohon-pohon ini seperti punya jiwa sendiri. Mereka hidup. Maksudku bukan tumbuh pada umumnya pohon. Punya jiwa seperti manusia," Nimas Ayu tampak berpikir berusaha mencari perumpamaan yang sesuai, tapi akhirnya dia pun terdiam.


"Kakang Lintang Samudera, bagaimana menurutnya?" tanya Candani.


Lintang Samudera mencoba berpikir. "Aku rasa yang dikatakan Nimas Ayu ada benarnya. Pepohonan ini khususnya hutan ini punya ruh nya sendiri, memiliki jiwa. Tapi jiwa itu seperti apa dan bagaimana, entahlah." Balas Lintang Samudera sambil mengangkat kedua bahunya.


Suara rombongan anj**g hutan menyalak memenuhi rimba. Baluh Jingga berpegang erat pada lengan suaminya.


"Tidak ada apa-apa," ucap Apsara kepada Baluh Jingga. Dipeluknya erat pundak istrinya itu.


"Hutan ini berbicara. Hutan ini memanggilku. Sebenarnya rahasia apa yang tersimpan di hutan ini?" Candani memejamkan kedua matanya. Mencoba merasakan panggilan yang tidak diketahui asal muasalnya.


Semua terdiam. Alam yang berkuasa. Sepi. Desiran angin menggoyang dedaunan menimbulkan bunyi kemerisik.


"Ini, ini sebenarnya tempat apa." Ucap Nimas Ayu dengan perasaan ngeri. Dia beringsut mendekati Lintang Samudera dan Candani Paramita.


"Ayolah istirahat dulu." Pinta Lintang Samudera di sela suasana yang sepi sunyi.


Tidak ada jawaban. Tanpa diberi aba-aba masing-masing mencari tempat untuk istirahat.


Nimas Ayu memilih duduk di akar pohon yang lumayan besar, bentuknya melintang dari bawah, bahkan akar ini melintang hingga di badan pohon.

__ADS_1


Baluh Jingga merasa lapar. Dilangkahkan kakinya ke deretan rerimbunan pohon buah-buahan diikuti oleh Apsara.


"Baluh jangan sembarangan memetik segala yang ada di hutan ini. Kalau kau ingin memetik buah atau apapun, permisi dulu dengan penunggu hutan ini." Lintang Samudera mengingatkan.


Baluh menghentikan langkahnya. Dipandangnya sekeliling. Seram. Ditatapnya suaminya sebagai bentuk permohonan. Dielusnya perut buncitnya. Khawatir.


🔸🔸🔸🔸🔸


Sore gulita. Pepohonan nampak seperti raksasa malam. Bergoyang pelan tertiup angin. Menimbulkan bunyi kemerisik.


Sinar bulan dan bintang tidak mampu menembus pepatnya barisan pohon raksasa tua. Hutan ini memiliki dunianya sendiri. Tidak terpengaruh dunia lainnya.


"Kakang Lintang jangan-jangan di sini penghuninya raksasa semua." Keluh takut Nimas Ayu.


Bergidik Nimas Ayu memandang sekitar tempat peristirahatan mereka. Bahkan akar pohon tempat ia bersandar bernapas. Bukan bernapas karena adanya suara angin, tapi benar-benar bernapas, menarik udara lalu dikeluarkan kembali.


"Kebanyakan melamun, dikira sekarang zaman pewayangan," ucap Lintang Samudera kepada Nimas Ayu.


"Siapa tahu hutan ini tempat bersembunyi anak keturunan Prabu Rahwana. Lihat pohon-pohonnya, tinggi-tinggi dan besar-besar." Nimas Ayu menarik napas sebentar. "Bahkan tadi akar pohon tempat aku istirahat bergerak dan bernapas," lanjut Nimas Ayu.


Pembicaraan Nimas Ayu Palupi berlalu begitu saja, tanpa ada yang memperhatikan. Malam berjalan dengan sangat pelan seperti siput yang sangat sedikit bergeser.


Meskipun rombongan kecil ini bukan termasuk orang-orang penakut, tapi percayalah, menyaksikan tarian pohon raksasa disertai dengan suara lolongan yang menyayat hati, membuat bulu kuduk berdiri. Apalagi langkah hewan-hewan lainnya. Dengarlah. Sreek....sreeekkkk....sreeekkk. Entah sebesar apa hewan itu, gesekan badannya dengan tanah sampai menimbulkan bunyi senyaring itu.

__ADS_1


Dan itu dengarlah, suara bala tentara tikus menerjang gelapnya malam. Bersuara gaduh memenuhi rimba.


__ADS_2