CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Taman yang hanya berisikan pohon bambu berderit terbawa hembusan angin. Di sekitar taman tersebut terdapat tempat peristirahatan kecil yang terbuat dari bambu yang disusun, dihidangkan di hadapan tempat peristirahatan tersebut sebuah kolam air yang berisikan bunga-bunga teratai.


Taman bambu ini merupakan salah satu tempat dari beberapa tempat yang tidak bisa dijangkau oleh keris Sarpa Hastha, bahkan ilmu pandang batas yang dimiliki keturunan Ki Estungkara pun tidak mampu menjangkaunya.


Taman bambu ini benar-benar terawat dengan baik. Raja muda ular mempersilahkan tamunya untuk duduk di tempat peristirahatan. Tapi tempat itu sangat kecil bagi ukuran Ular Buraksa. Dengan malas Ular Buraksa mengistirahatkan badannya di rerumputan hijau yang tampak asri. Nimas Ayu langsung terlelap berbantalkan tubuh Ular Buraksa yang melingkari tubuhnya.


"Raja muda ular, apa rencanamu berikutnya?" tanya Lintang Samudera. "Bagaimana caramu membuat rakyatmu bisa menerima kembalinya pelindung sejati Ular Buraksa?"


"Aku memiliki caraku sendiri. Esok akan aku kabarkan kepada segenap rakyatku mengenai kembalinya pelindung sejati Ular Buraksa."


"Ya carilah cara. Jangan sampai pelindung sejati kalian kabur lagi. Ular Buraksa sudah mengalahkan egonya, sekarang giliran kalian mengalahkan keegoisan kalian. Kalau rakyatmu tidak mau menerima kembalinya Ular Buraksa, akan aku bawa ia ke kerajaanku," ucap Candani Paramita.


"Kerajaan, siapa wanita galak yang duduk di hadapannya ini," ucap raja ular muda di dalam hati. "Ehmmmm, kerajaan, maksudmu kau pejabat dari rajamu?"


Candani Paramita tersenyum sinis. "Jangan dikira hanya kau yang punya kerajaan. Aku risih dengan kepongahan kalian. Kalian harus belajar menunduk. Menunduk seperti kau menunduk pada guruku Guru Jagratara."


"Itu bukan pongah. Kami bangsa ular hanya memiliki rasa bangga yang berlebihan, maklum kami termasuk golongan yang kuat."


Candani Paramita rasanya ingin secepat mungkin menendang mulut raja ingusan yang tidak tahu malu. "Bangga apanya, kuat apanya, diperbudak ratusan tahun, dari hidup sampai mati. Apa yang dibanggakan? Bangga sudah menjadi budak seorang manusia beserta anak keturunannya."


Raja ular muda terdiam. Entahlah, dirinya sangat menyukai wanita galak yang ada di hadapannya. Dia pun tersenyum hambar.


Tatapan matanya beralih pada Nimas Ay Palupi yang tertidur pulas berbantalkan tubuh ular Buraksa. Diselusurinya wajah dan tubuh gadis itu dengan matanya. "Seorang gadis muda yang cantik dan manis," ucapnya dalam hati. Dia pun tersenyum cerah.


Candani dan Lintang Samudera mengikuti arah pandang raja muda ular, memahami makna senyum tersembunyi dari raja muda tersebut.

__ADS_1


🔸🔸🔸🔸🔸


Esok hari, rakyat kerajaan ular berkumpul di lapangan yang sangat luas. Semua usia berkumpul, tidak terkecuali bayi pun ikut berkumpul.


"Rakyatku semua, pelindung sejati bangsa ular telah kembali. Jadi mulai sekarang, kita bisa melawan keganasan keturunan Mpu Adhigana dan keganasan keris sarpa hastha serta pecut sahasra agni."


Suara berisik memenuhi lapangan. Semuanya berbisik kebingungan menerima berita dari raja muda mereka.


Seekor ular dengan ukuran terbesar dari semua jenis ular, dengan gagahnya melangkah pelan didampingi seorang gadis muda, ular dan gadis tersebut berjalan ke sisi raja muda ular.


"Aku Buraksa pelindung sejati bagi segenap ular di alam semesta ini. Kalian semua mengetahui tentang masa laluku yang kelam. Sebelumnya aku meminta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan di masa lalu. Atas semua nyawa ular yang terbunuh oleh tanganku." Sejenak ular buraksa berwajah sayu. Di sini dirinya sudah kembali, bersama kaumnya, di alam kaumnya. Menjadi bagian dari kaumnya


Suara ular buraksa menggema lantang. Ditatapnya satu persatu wajah rakyat ular. Mungkin keluarga mereka ikut terbunuh sewaktu dirinya murka. Ular Buraksa menunduk, mengucapkan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya.


Ular-ular yang ada di lapangan terdiam seketika. Suara bising yang berdesing hilang tertelan kekalutan atas semua kejadian yang ada.


"Bagaimana rakyatku semua, apa keputusan kalian semua?" tanya raja ular muda. "Pelindung sejati ular Buraksa mengijinkan kalian untuk mengadilinya atas kesalahannya yang telah lalu," lanjut raja ular muda.


Seekor ular yang sudah tua maju ke depan. "Raja ular muda untuk sementara biarlah kami menepis semua dendam dan rasa sakit hati di masa lalu. Yang utama sekarang selamatkan dahulu bangsa ular. Tanpa pelindung sejati, bangsa ular seperti memiliki rumah tapi tidak ada atapnya, kita terkena petir, badai, api, dan bencana lainnya. Mengenai dendam masa lalu, akan dihitung setelah pelindung sejati menjalankan kewajibannya. Aku kira rakyat ular yang lainnya sekata dengan ku."


Raja muda ular mengedarkan pandangannya ke segenap rakyatnya. Mencoba mencari sanggahan atas perkataan ular tua tersebut.


"Aku setuju dengan perkataan ular tua. Yang utama sekarang keselamatan bangsa ular. Untuk masalah dendam masa lalu dikesampingkan dahulu," timpal ular yang lain.


Suar berisik mulai terdengar kembali. Mungkin ular-ular itu sedang bermusyawarah untuk memberikan keadilan bagi ular buraksa.

__ADS_1


Sesaat hening kembali melanda. Salah satu ular maju ke depan raja muda ular dan mengucapkan sesuatu. Setelah mendengar perkataan ular tersebut raja muda ular tersenyum cerah.


"Kepada semua rakyatku, ucapan terima kasihku tiada terhingga atas ketulusan kalian yang bersedia menunda dendam masa lalu pada pelindung sejati ular Buraksa. Untuk saat ini kita semua bersama-sama membela dan menyelamatkan bangsa ular."


Ular Buraksa menunduk hormat kepada semua ular yang ada di lapangan. Dia berjanji dalam hati akan mengorbankan jiwa raga demi keselamatan bangsa ular.


🔸🔸🔸🔸🔸


Nimas Ayu Palupi terus berada di dekat ular Buraksa. Nimas Ayu tidak tahu apa maksudnya dirinya dibawa ikut serta ke kerajaan ular.


Tidak ada yang bercerita padanya. Ular Buraksa juga tidak mengatakan apapun, pun ular Buraksa bicara, dirinya juga tidak memahami bahasa ular. Kecuali saat raja muda ular berubah wujud menjadi manusia, bahasa yang digunakan raja muda ular sama dengan yang digunakan manusia.


Suatu hari di saat matahari mulai redup. Nimas Ayu dipanggil untuk berjumpa seseorang.


"Ayahanda raja bagaimana bisa ada di kerajaan ular?" tanya Nimas Ayu.


"Duduklah, ada yang ingin ayahanda bicarakan denganmu," jawab raja Citraloka.


Nimas Ayu mengerutkan keningnya. "Ada apa, sepertinya penting?"


"Sangat penting." Raja Citraloka memandang wajah putrinya. Perintah yang diberikan Guru Jagratara terasa begitu berat. Rasanya dirinya tidak rela untuk melepaskan Puteri bungsu. "Anakku Nimas Ayu, ayahanda minta kesediaan mu untuk menikah dengan seseorang."


Nimas Ayu menatap ayahandanya tanpa berkedip. Menikah. Menikah dengan siapa, semua lamaran ditolak olehnya, apakah ayahandanya menerima lamaran orang lain tanpa sepengetahuannya.


Raja Citraloka merasakan kebingungan yang menimpa puteri bungsunya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Rasa tak rela masih menghinggapinya. "Ayahanda akan menikahkanmu dengan raja muda ular.

__ADS_1


__ADS_2