CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
MEMADU KASIH


__ADS_3

Sebuah lukisan alam yang indah. Pepohonan memanjang sepanjang sungai. Terdapat sebuah rumah kecil di pinggir sungai itu, dan terdapat sebuah rumah lagi di sebelah sana. Ikan-ikan tanpa sungkan bolak-balik berenang. Damai. Itulah yang dirasakan. Ikan yang berenang tanpa rasa takut itu menandakan tidak pernah ada yang menggangu kehidupan mereka. Entahlah, dimana lagi kini mereka berada. Nyasar kemana.


Candani Paramita menghirup dalam-dalam udara sore hari yang mengalir sejuk ke tempat itu. Dari gunung Anaga, mereka membawa langkah kuda terus ke selatan. Dengan sendirinya tanpa dikomando kuda-kuda yang mereka tunggangi berhenti tepat di tempat itu, seperti ada yang mengarahkan. Hanya anehnya, Jaladhi dan kudanya tidak bisa memasuki tempat itu. Seolah-olah tempat itu hanya mengijinkan orang-orang tertentu yang diinginkan oleh pemilik tempat itu untuk menjadi tamunya.


Tampak seorang laki-laki yang sudah cukup umur mendatangi Candani Paramita dan Lintang Samudera.


"Maaf, Tuan. Karena kami sudah berani masuk tempat ini tanpa ijin," Lintang Samudera menyapa dengan sopan.


"Tidak apa-apa. Memang pemilik tempat ini yang mengundang kalian. Mari masuk!" perintah kakek tua itu.


Yang dimaksud masuk oleh kakek tua bukanlah selayaknya masuk ke sebuah rumah, melainkan masuk ke wilayah yang ditabiri oleh tabir pembatas khusus, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memasuki tempat itu. Itupun atas ijin yang empunya.


Candani dan teman-temannya melewati sebuah taman yang seolah-olah taman itu menjadi pintu masuk utama ke tempat itu.


"Silahkan duduk," pinta kakek tua. "Nimas, bantu kakek menyiapkan makanan untuk tamu-tamu."


Nimas Ayu Palupi memandang raja muda ular. Saat suaminya mengangguk, Nimas pun patuh dan mengikuti langkah kakek tua.


Nimas Ayu menata makanan di atas meja. Diikutinya semua perintah yang keluar dari mulut kakek tua.


"Silahkan dimakan!" perintah kakek tua.


"Baik, Kek." Candani dan Lintang Samudera menjawab sopan.


Suara makanan yang beradu dengan gigi terdengar pelan. Semua menikmati makanan yang tersedia dengan penuh sukacita. Perut yang memang sudah kelaparan, dan hidangan ikan bakar yang menggoda, menjadikan seluruh makanan yang ada di meja habis, tandas, ludes, berpindah semua ke dalam perut.


"Bagaimana makanan nya, apakah enak?"

__ADS_1


"Enak, Kakek."


"Syukurlah kalau kalian suka makanan orang tua yang sudah renta ini." Kakek tua itu terbatuk pelan. "Kalau begitu kakek pamit. Kakek hanya diberi tugas untuk menyambut kedatangan kalian. Apapun yang kalian lakukan di wilayah ini, sudah mendapat ijin dari si empunya. Jadi silahkan tinggal di tempat ini selama beberapa waktu."


"Kakek bolehkah kami menjumpai pemilik tempat ini?" Candani memberanikan diri bertanya.


"Mungkin kalau sudah waktunya, pemilik wilayah ini akan mengunjungi kalian. Rawatlah tempat ini dengan baik." Si kakek pun berlalu pergi.


🔸🔸🔸🔸🔸


Senja yang indah. Ikan-ikan berlarian. Matahari senja mulai pulang, dan bulan disertai pasukannya sudah bersiap-siap menggantikan pekerjaan matahari.


Lintang Samudera memeluk istrinya dari belakang. Merasakan kulit lembut Candani Paramita. Melabuhkan beberapa ciuman lembut di pipi dan leher putih istrinya.


Lintang Samudera tidak puas hanya dengan mencium pipi. Dihadapkan nya wajah istrinya tepat di depannya. "Istri idaman," bisiknya di telinga Candani.


Candani membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkannya pada tubuhnya. Ciuman yang lembut lama-kelamaan berubah menuntut. Lintang Samudera memuaskan diri dengan tubuh istrinya, tapi di sisi lain dirinya harus menahan diri atas apa yang menjadi haknya sebagai seorang suami.


Sepasang suami istri itu telah berpindah ke pondok sebelah barat, melanjutkan apa yang sudah dilakukan di tepi sungai.


Sedangkan Nimas Ayu Palupi dan raja muda ular yang tinggal di pondok timur tepat di samping sungai memiliki kesibukan sendiri.


🔸🔸🔸🔸🔸


Nimas Ayu merasa canggung berada di kamar yang sama dengan raja muda ular. Laki-laki ini memang suaminya, tapi rasanya aneh kalau harus berduaan saja.


"Mau kemana?" Raja muda ular dengan cepat meraih tubuh Nimas Ayu yang hendak kabur. " Mau kabur ya?" tanyanya menggoda.

__ADS_1


"Siapa yang mau kabur. Aku cuma mau ke pinggir sungai, menemani kang mbok Candani Paramita."


"Benar berani melihat yang sedang terjadi di pinggir sungai?" Raja muda ular mulai menciumi rambut hitam istrinya.


"Jangan-jangan...." Bayangan kejadian di pondok bambu kerajaan ular kembali menari diingatan Nimas Ayu Palupi.


Raja muda ular mengangguk. " Betul sekali. Jadi sekarang, ayo kita sibuk dengan urusan kita, tidak perlu usil urusan orang lain."


Separuh baju Nimas Ayu sudah terlepas. Raja muda ular tidak mampu menahan dirinya lagi. Antara nafsu sebagai seorang laki-laki, dan harapan segera memiliki keturunan saling beradu menguasai dirinya. Dan saat Nimas Ayu memberinya ijin untuk memiliki seluruh tubuh gadis itu, raja muda ular pun tidak sungkan lagi.


Diselusurinya seluruh tubuh Nimas Ayu. Bibir raja muda ular menari-nari di setiap bagian tubuh istrinya. Mereguk kenikmatan pernikahan. Meminum dan memakan apa yang ada di tubuh istrinya.


Bahkan raja muda ular beberapa kali menunjukkan wujud aslinya, seekor ular besar berwarna coklat disertai dengan warna kuning. Raja muda ular membelit tubuh Nimas Ayu Palupi dengan tubuh ularnya, terus membelit tidak mau melepaskan.


Nimas Ayu awalnya kaget ketika raja muda ular berubah ke wujud aslinya sebagai seekor ular besar. Apalagi saat ular itu melilit tubuhnya yang sudah tidak tertutup pakaian sedikit pun, hampir-hampir saja Nimas Ayu berteriak minta tolong. Tapi saat raja muda ular menenangkannya dengan membelai-belai seluruh wajahnya dengan menggunakan kepala ularnya, Nimas Ayu pun kembali tenang. Bahkan dengan berani Nimas Ayu mengelus seluruh wajah ular suaminya, dipegangnya pula bagian tubuh ular suaminya dari ujung ke ujung. Memberikan kesadaran utuh bahwa suaminya seekor ular. Mau tidak mau Nimas Ayu harus membiasakan diri dengan kehadiran suaminya dalam wujud aslinya.


Malam semakin larut, dan percintaan sepasang suami istri itu belum selesai. Sebuah malam yang panas yang akan melahirkan benih-benih masa depan.


Raja muda ular terus memandangi wajah Nimas Ayu yang tidur kelelahan. Dengan sabar istrinya ini mau menerimanya apa adanya.


"Kenapa melihat terus?" tanya Nimas Ayu sambil terus memejamkan mata.


"Kau tidak takut dengan wujud asliku."


Nimas Ayu membuka matanya lebar-lebar. "Takut sekali, sampai aku mau berteriak."


"Kenapa tidak jadi teriak?" tanya raja muda ular penasaran.

__ADS_1


'Tidak tahu. Saat kau mengelus seluruh wajahku dengan kepala ular mu, aku jadi tenang lagi."


__ADS_2