
Dua pemuda berusia sepantaran itu saling berhadapan. Saling menatap dengan pandangan tajam. Lintang Samudera menatap dengan tatapan penuh kemarahan. Dan Saka menatap lawannya dengan pandangan jijik, jijik karena pemuda tampan yang ada di hadapannya ini bersedia menjadi suami seorang ratu tua. " Sangat menjijikkan," umpatnya kepada Lintang Samudera.
Lintang Samudera tidak menanggapi perkataan lawannya. Dirinya merasa geli mendengar hinaan lawannya yang ternyata bernama Saka. "Kalau sudah bertemu istriku, dan kau berani jatuh cinta kepada istriku sang ratu samudera...."
Perkataan Lintang Samudera dipotong dengan cemoohan lawannya. "Aku, aku jatuh cinta pada istri tuamu, tidak mungkin. Wajah dan tubuhku ini sangat berharga. Tidak mungkin aku persembahkan masa mudaku dan wajah tampan ku ini kepada seorang perempuan tua. Aku lebih menyukai perawan-perawan cantik yang berseliweran di kerajaan ini, dibanding nenek tua yang jadi istrimu itu."
"Syukurlah, aku harap kau menepati ucapan mu, jangan pernah jatuh cinta kepada istriku."
Puih... Saka meludah. "Makan itu istri tuamu!"
Selendang Baruna melayang-layang di udara. Warnanya yang di putih bersih menerangi malam yang gelap. Selendang itu menghampiri Lintang Samudera dan jatuh tersampir di pundak laki-laki itu.
Saka terpaku. Siapa yang tidak mengenal selendang Baruna. Selendang sakti milik sang ratu samudera. Salah satu pusaka suci kerajaan Segaralaya. Dan selendang itu sekarang tersampir patuh di pundak laki-laki yang menjadi suami ratu samudera, berarti cinta ratu samudera benar-benar tulus untuk laki-laki ini. "Sebuah cinta suci yang sejati," ucap Saka di dalam hati.
"Pergilah dari tempat ini, sebelum kalian dibunuh oleh prajurit pengawal kerajaan!" perintah Lintang Samudera
__ADS_1
🔸🔸🔸🔸🔸
Hari yang cerah. Pasukan berkuda telah bersiap dengan busur dan panah di samping kudanya. Para prajurit berbaris rapi dengan tombak dan pedangnya.
Dayang-dayang membawa bahan makanan untuk bekal di perjalanan. Di sisi lain hati mereka bergembira, bisa puas memandang wajah suami sang ratu samudera. Dayang-dayang saling berbisik berisik saat melihat Lintang Samudera berjalan dengan gagah di samping sang ratu.
Ratu Samudera Sanura memandang sekilas ke arah para dayang yang sedikit pun tidak melewatkan pandangan dari apapun yang dilakukan oleh suaminya. Dirinya sekarang sudah bisa menerima kenyataan bahwa suaminya menjadi pujaan para wanita di seluruh wilayah kerajaannya. Bukan hanya semua tingkah laku sang ratu samudera yang jadi panutan, bahkan para wanita dari wilayah Segaralaya berbondong-bondong mencari pasangan hidup yang seperti seorang Lintang Samudera. Sang ratu berusaha lapang dada, dengan rela membiarkan kawulanya yang wanita memuja suaminya. "Tapi awas sampai merebut suamiku, aku blejeti perempuan manapun yang berani menyentuh suamiku," ucap Ratu Samudera dalam hati, dengan tatapan mata yang menjadi sangar.
Lintang Samudera menatap tatapan cemburu yang sekilas muncul di mata istrinya, digenggamnya tangan sang ratu. Dan apa yang dilakukan Lintang Samudera kepada sang ratu samudera semakin membuat para dayang berisik memujanya. Membuat hati sang ratu pusing.
Para dayang semakin berisik, mereka tersenyum-senyum kesengsem tidak jelas. Para prajurit menjadi jengah melihat tingkah para dayang. Para prajurit itu merasa diri mereka tidak kalah tampan dengan Lintang Samudera, tapi kenapa hanya Lintang Samudera yang membuat para dayang tertawa gila. Bahkan putri para punggawa yang sedang berdiri di sebelah sana ikut-ikutan tertawa gila dan memuja Lintang Samudera dengan senyum-senyum kesengsem sendiri, jadi gila.
Kuda berpacu dengan kencang membelah jalan. Para kawula Segaralaya segera minggir dan memberi hormat ketika mengetahui yang sedang berkuda adalah ratu mereka. Sang ratu berhenti sejenak menyapa kawulanya dengan senyum sumringah di wajahnya, setelah itu dirinya melambaikan tangan kepada segenap kawulanya yang berdiri berjajar rapi. Lalu dilanjutkannya perjalanan.
Hutan belantara yang cukup besar terhampar luas di hadapan sang ratu samudera. Para prajurit yang beriringan segera berpencar berjaga di tiap sisi. Para panglima dan Senopati segera turun dari kudanya.
__ADS_1
Nun jauh di sana masih di dalam hutan, di sebuah tempat yang sangat tersembunyi, beberapa orang mengintip apa yang sedang dilakukan sang ratu samudera di dalam hutan belantara.
"Wanita cantik itu siapa?" tanya Saka dengan tatapan mata terpukau tidak berdaya.
"Itu Ratu Samudera Sanura yang kau bilang ratu tua," jawab salah seorang teman Saka.
Seluruh tubuh Saka bagai tersihir, diam terpaku menatap keindahan seorang wanita yang diakuinya cantik luar biasa. Tatapan mata Saka bergeser sedikit, di samping sang ratu dengan penuh percaya diri, Lintang Samudera duduk tegak di atas kudanya. Ratu Samudera hendak turun dari kudanya. Lintang Samudera dengan cepat turun dari kuda, lalu memegang tangan istrinya dan memeluk pinggang sang ratu. Sang ratu dan suaminya saling berpandangan dan tersenyum penuh cinta.
Di seberang sana, Saka menatap sang ratu dengan pandangan takjub. Saat sang ratu samudera memegang tangan suaminya, saat suami sang ratu dengan bebas memeluk pinggang sang ratu, semua pemandangan itu tidak lepas dari tatapan mata Saka.
Bala tentara Segaralaya berbaris rapi. Para Senopati dengan gagahnya berdiri di depan barisan pasukan. Lintang Samudera segera ikut berbaris dengan deretan para Senopati. Dengan rendah hati dirinya berbaur dengan pasukan Segaralaya. Hari ini akan diadakan latihan perang di dalam hutan belantara ini. Para prajurit harus siap berhadapan dengan hutan belantara yang bisa saja menjadi musuhnya atau menjadi sahabatnya.
Sang Ratu Samudera berjalan mengelilingi pasukannya. Para prajurit dengan gagah memberi hormat kepada ratunya, sang panglima perang tertinggi kerajaan laut Segaralaya. Sang ratu berbicara dengan suara lantang memberikan pengarahan dan semangat yang makantar-kantar membangkitkan jiwa prajurit untuk siap menjalankan kewajiban bela negara. Dengan penuh semangat, para prajurit menjawab ajakan sang ratu untuk membela kerajaan Segaralaya dengan sepenuh jiwa dan raga. Isi dada para prajurit Segaralaya bergemuruh dengan semangat makantar-kantar. Ratu mereka yang hanya seorang wanita dengan gagah berani membela dan melindungi kerajaan Segaralaya. Pesona kecantikannya bukan hanya kecantikan yang menempel di wajah, tapi disertai jiwa kepemimpinan yang agung, jiwa seorang ksatria wanita yang pilih tanding. Janji setia bala tentara Segaralaya yang diucapkan bersama-sama bergemuruh mengisi seluruh hutan, menerjang pepohonan tua raksasa, terbawa angin, menggema ke seluruh hutan.
Di ujung sana di tempat persembunyiannya, Saka menatap sang ratu dengan takjub. Pesona kecantikan, wibawa, kepemimpinan, berpadu menjadi satu dalam diri sang ratu samudera. Mulut Saka terkunci, mata dan hatinya ikut terkunci. Keindahan yang terpajang di hadapannya sekarang ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Semua yang ada di diri Ratu Samudera Sanura membuat seorang Saka tersihir takjub. Jantungnya berdegup kencang, dan degupan itu melahirkan rasa sakit di hati disertai rasa rindu yang sangat indah.
__ADS_1