CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
GORA


__ADS_3

Pinggala tidak terima dirinya dikalahkan. Dia pun menyerang Candani Paramita dengan membabi-buta. Ilmu beladiri atau apapun itu tidak ada gunanya digunakan di hadapan gadis muda yang menjadi lawannya ini. Pinggala terseok-seok dan jatuh tersungkur. Diangkatnya kepalanya pelan. Seluruh tubuhnya rasanya remuk. Jika dirinya menggunakan sihir darah, sepertinya gadis di hadapannya ini mampu mengendalikan darah yang mengalir di dalam tubuh makhluk hidup. Hanya saja gadis muda ini tidak mau menggunakannya. Ilmu itu memang terlampau jahat, masuk dalam jajaran ilmu hitam yang kejam.


Dari kejauhan tampak raja muda ular bermain kucing-kucingan menghadapi gadis Ramaniya. Karena rasa marah yang tak tertahan gadis itu bergerak serampangan. Padahal jika gerakan gadis Ramaniya tertata dengan baik, serangan-serangannya sangat mematikan.


Candani Paramita mengambil pedang emas milik kakek tua Pinggala. Dilemparkannya pedang emas itu kepada raja muda ular.


"Hati-hati menggunakan pedang emas itu, pedang itu sudah dilumuri racun kalajengking yang mematikan," ucap Candani sambil berteriak.


Mendapatkan sebuah senjata yang bagus untuk menemaninya berkelahi, raja muda ular pun menjadi sumringah.


Raja muda ular memutar-mutar pedang emas dengan lihainya. Pedang emas beracun melawat sarung tangan perak beracun. Dua racun yang sangat mematikan berjumpa untuk bertempur. Menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.


Pedang dan sarung tangan perak saling beradu, berdentang pelan. Gadis Ramaniya dengan cepatnya menyerang bagian-bagian tubuh penting dari raja muda ular. Mengarahkan racun yang berbahaya demi merenggut nyawa. Raja muda ular melawan dengan sangat tangguh. Setiap serangan gadis Ramaniya ditangkis dan dihindarinya dengan ketepatan perhitungan.


Langkah raja muda ular makin cepat dan makin cepat. Ia ingin segera mengakhiri pertarungan yang tiada akhir itu. Kakinya terus menyerang ke depan, terus mengejar, tidak memberikan lawan kesempatan untuk menyelamatkan diri. Pedang raja muda ular menari-nari menjadi malaikat pencabut nyawa. Raja muda ular terus menerjang, menyerang. Dengan geraknya yang trengginas terus mendesak gadis Ramaniya untuk mundur dan mundur. Membuat gadis itu jatuh terjerembab di atas tanah. Kantung yang menggantung di tubuh gadis itu terpental terlepas jatuh.


"Lepaskan sarung tangan perakmu? Atau aku bunuh kau sekarang juga," ancam raja muda ular dengan ujung pedang yang tepat mengarah ke jantung gadis Ramaniya.


"Cepat lepaskan," bentak raja muda ular dengan suara keras.


Gadis Ramaniya bergeser mundur, dilepaskannya sarung tangan perak. Diletakkannya sarung tangan itu di atas tanah.


🔸🔸🔸🔸🔸


Ruh Lintang Samudera bergerak menelusuri jagad raya. Mencari setitik cahaya yang bisa menyelamatkan dirinya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Sebuah suara yang begitu menenangkan menyapa ruh Lintang Samudera.


"Ruh ku terpenjara di ruang yang tidak berpintu. Semuanya hitam dan kelam. Aku ingin kembali ke ragaku," ucap Lintang Samudera.


"Langsung kembali saja. Itu ragamu, lalu apa masalahmu?" jawab suara itu lagi.


"Aku tidak tahu pintunya," Lintang Samudera kebingungan. Benar itu adalah raganya. Tapi bagaimana caranya kembali ke raga.

__ADS_1


"Asal yang ada di alam semesta ini tidak ada. Dan semua yang terjadi atas ijin Sang Pencipta. Lepaskan semua harap dan ingin. Hanya ada Sang Pencipta."


Lintang Samudera mengikuti arahan suara yang menenangkan itu. Tidak ada harap, tidak ada cemas, tidak ada takut, tidak ada memiliki, tidak ada ingin. Hanya Sang Pencipta. Dipasrahkannya semuanya. Hidup ataupun matinya.


Ruh Lintang Samudera hanya tinggal ruh, ruh yang merupakan salah satu setitik kecil dari ciptaan Sang Pencipta. Milik Sang Pencipta.


Ruangan gelap itu menjadi terang. Banyak cahaya menyinari. Empat dinding yang memenjarakan ruh Lintang Samudera musnah dengan sendirinya. Ruh Lintang Samudera terbang. Dilihatnya adik seperguruannya Nimas Ayu Palupi sedang berusaha mengajak raganya berbicara. Tapi raga Lintang Samudera hanya diam tidak berkutik dengan tatapan kosong.


Ruh Lintang Samudera terus terbang. Dilihatnya istri cantiknya yang sangat menawan sedang bertarung dengan eloknya. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar terbawa angin. Gerakan-gerakan perkelahian Candani Paramita bagaikan tarian perang yang sedang dilakukan oleh Dewi Peperangan. Indah dan tepat sasaran. Ruh Lintang Samudera tersenyum. "Istri cantikku, aku rindu."


Rasa rindu yang luar biasa kepada Candani Paramita, membawa ruh Lintang Samudera secepatnya kembali kepada raganya. Mata yang kosong itu kembali hidup.


"Kakang Lintang?" seru Nimas Ayu.


"Aku sudah kembali. Ayo, kita temui istriku dan raja muda ular!" ajak Lintang Samudera.


Lintang Samudera dan Nimas Ayu berjalan menuju tempat perkelahian. Saat mereka sampai di tempat itu, sedang terjadi sebuah perkelahian yang luar biasa.


Dengan kemampuan sihir gadis Ramaniya, bulu-bulu hewan buas itu berubah menjadi beberapa ekor hewan buas yang jenisnya sama dengan hewan peliharaan gadis Ramaniya.


"Gora serang semua musuh-musuhku!" seru gadis Ramaniya dengan suara nyaring.


Sepuluh hewan buas berbulu lebat dengan gigi-giginya yang tajam, tatap mata nyalang, kuku-kuku kaki yang mencakar bumi, sepuluh hewan buas itu menyerang Candani Paramita dan raja muda ular.


Dengan gesitnya hewan-hewan buas itu melompat dan mencakar. Gerak mereka begitu terarah, cakar-cakar mereka melayang siap melukai siapapun yang berani melukai tuannya.


"Sihir apalagi ini," batin Candani Paramita.


Perkelahian semakin memanas. Candani memberikan arahan melalui tatap mata kepada raja muda ular. Perkelahian pun terpecah menjadi dua kubu, mempermudah pergerakan Candani dan raja muda ular.


Pedang emas yang dimiliki raja muda ular berputar-putar melayani serangan-serangan hewan bertaring tajam. Seperti telah terlatih sepuluh hewan buas itu mampu mengatur penyerangan demi penyerangan dengan teratur, tidak saling bertubrukan, tidak saling menimpa teman sendiri.


Candani mengamati dan mempelajari cara penyerangan yang dilakukan oleh sepuluh hewan buas itu. Begitu terlatih dan teratur.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" lirih Candani.


"Raja muda ular sembilan hewan lainnya merupakan hewan jadi-jadian, amati, cari yang aslinya. Hewan buas yang sebenarnya yang mengendalikan perintah," seru Candani.


Sepuluh hewan buas itu, sekeras apapun dihantam dan ditendang, seberapapun luka-luka parah yang diperoleh, tetap bangkit kembali dan bangkit kembali. Seolah-olah luka-luka itu tidak ada dan tidak dirasa. Mereka menggeram keras dengan gigi-gigi tajam yang meminta korban.


Candani melompat tinggi, merayap cepat di sebuah pohon tinggi. Dilihatnya semua pemandangan dari atas pohon itu. Raja muda ular pun melakukan hal yang sama.


"Itu dia!" teriak Candani Paramita.


Seekor hewan buas dengan bulu halus hitam, dengan tatapan nyata, dengan kesangaran seringainya.


"Apa butuh bantuan?" Lintang Samudera menyelinap masuk ke dalam arena pertarungan.


"Kakang Lintang Samudera!"


"Iya istri cantikku. Aku sudah kembali."


"Hai, kawan!" sapa raja muda ular.


Lintang Samudera dan raja muda ular bertarung melawan sembilan hewan buas lainnya. Sedangkan Candani Paramita sibuk mengarahkan hewan buas yang menjadi pemain utama.


Setelah beberapa waktu lamanya saling menyerang dan melawan. Hewan buas yang menjadi lawan Candani Paramita melompat tinggi menerkam. Candani tidak menghindar. Hanya menunggu. Saat hewan buas itu dalam posisi masih di udara, Candani mengarahkan tendangan tajam dan keras ke arah perut hewan itu. Hewan buas itupun terpental jauh lalu menimpa sebuah pohon besar. Sebelum hewan buas itu bangkit kembali, Candani kembali hendak memberikan sebuah pukulan tajam mematikan ke arah kepala hewan buas itu. Tapi saat ditatapnya sayu pandang hewan buas itu, Candani pun menghentikan serangannya.


"Gadis Ramaniya hentikan sihirmu. Atau aku bunuh hewan peliharaanmu," perintah Candani Paramita.


Gadis Ramaniya mendengus marah.


"Cepat hentikan," bentak Candani.


"Ramaniya hentikan sihirnya. Istri Lintang Samudera bukan lawanmu. Jangan kau korbankan Gora," ucap Pinggala dengan rasa khawatir.


Dengan penuh kekesalan gadis Ramaniya menarik sihirnya. Sembilan hewan buas lainnya menghilang tanpa di aba-aba. Menyatu kembali dengan raga Gora.

__ADS_1


__ADS_2