
Baluh Jingga merasakan hentakan yang begitu keras di dalam hatinya. Apa yang terjadi hari ini dalam seumur hidupnya baru sekarang ia saksikan. Posisi wanita sebagai makhluk lemah yang bisa dengan semena-mena diperlakukan. Makhluk kurang ajar, berani-beraninya menganiaya seorang perempuan sedangkan dirinya lahir dari rahim perempuan. Biadab.
"Duh Gusti Yang Agung dimana letak keadilan?" Tatapannya masih tajam, sisa-sisa kejadian tadi pagi masih melekat di matanya. Mayat-mayat berserakan baik penduduk maupun perampok durjana itu sendiri. Harga nyawa begitu murah bahkan tidak berharga sama sekali. Seperti kawanan semut yang diinjak dan langsung mati. Bunuh membunuh. Angkara murka. Seberapapun penjahat mati jika keserakahan masih ada di muka bumi ini maka selamanya penjahat itu akan tetap ada.
Apsara terus menatapnya. Didekatinya gadis muda itu. Mereka saling berhadapan sambil duduk di atas dingklik ( kursi kecil dan pendek ). Dipandanginya wajah ini, matanya, bibirnya, lekuk tubuhnya, kulitnya yang putih bersih, telah lama ia melewatkan keindahan alami ini. Dirinya melihat sosok pendekar wanita yang gagah perkasa dalam diri Baluh Jingga. Gadis muda yang sehari-harinya memasak, mencuci baju, dan melakukan pekerjaan rumahan lainnya, serta sangat pemalu ternyata dalam dirinya tersimpan jiwa kekesatriaan. Membinasakan apapun yang berani mengusik kedamaian hatinya.
" Sudah jangan dipikirkan lagi. Setiap yang hidup pasti mati. Hanya cara kematian tiap orang berbeda jadi jangan dipikirkan lagi. Manusia hidup memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ada kejahatan maka akan ada keberanian dari kebaikan yang menumpasnya. Bergabunglah dengan penduduk membantu membereskan kekacauan ini."
Mereka berdua membubarkan diri dan membaur dengan orang-orang. Balih Jingga menggabungkan dirinya dengan perempuan dan anak-anak. Sedang Apsara ikut bergotong royong memakamkan mayat-mayat yang berserakan. Baik mayat dari penduduk setempat yang meninggal, maupun mayat sekawanan rampok biadab itu. Yang sudah mati hanya tinggal raganya saja, mau dia berbuat jahat saat mati tinggallah onggokan daging saja. Hilang semua kesombongannya sebagai manusia. Hanya tinggal jasad yang kembali ke tanah yang akan membusuk seiring waktu.
" Kang Mbok Candani. Kang Mbok ada di mana?" Baluh Jingga berteriak, merasa aneh karena saat awal memasuki desa ini dirinya masih berdampingan dengan Kang Mboknya. Setelah diingat-ingat itulah saat terakhir ia melihat Candani Paramita. Waktu sudah menunjukkan sore hari bahkan malam mulai turun tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Candani Paramita.
" Kakang, Kakang Apsara, Kakang Jaladhi dimana Kang Mbok Candani?" Baluh Jingga bertanya dengan penuh kekalutan. Air mata mulai menetes di wajah ayunya.
" Kang Mbok Candani ada dimana? Jangan tinggalkan aku. Aku ikut. Kang Mbok!" Dia berlari ke jalanan desa, suaranya melengking memecah senja diiringi tangis kehilangan menyayat hati.
" Kang Mbok tunggu aku. Aku ikut. Kau dimana. Jangan pergi." Air matanya semakin mengalir deras.
" Aku sendirian Kang Mbok Candani, jangan tinggalkan aku." Baluh Jingga berjalan menyusuri jalanan desa. Mulutnya tak henti-hentinya menjerit memanggil-manggil menjadi perhatian segenap penduduk yang hendak membersihkan diri.
Pasukan Kelana dan segenap warga penduduk yang ada berusaha membantumencari Candani Paramita. Sepertinya belum saatnya mereka mengaso merebahkan badan dan pikiran. Apsara terus berada di samping Baluh Jingga, tidak sampai hati ia melihat gadis ini berlari-lari tak tentu arah.
Hari sudah gelap jejak-jejak sudah tidak tampak lagi. Dalam remang malam terdengarlah suara ringkik kuda.
__ADS_1
" Antari," gumam Jaladhi.
" Antari dimana tuanmu kenapa datang sendiri?" Antari mengangkat kakinya tinggi-tinggi, meringkik tidak mau berhenti, dia berlari tak tentu arah. Jaladhi dan beberapa orang lainnya segera mengambil kuda-kuda mereka. Diikutinya derap langkah Antari yang membimbing mereka ke sebuah tempat.
Kini mereka berada di pinggir sungai. Aliran sungai ini sedang deras karena beberapa hari sebelumnya hujan turun berhari-hari membuat aliran sungai ini meluap. Bahkan siang tadi hujan deras mengguyur dan berhenti saat menjelang sore. Antari meringkik gelisah, sepasang kakinya menghentak-hentak tanah. Dia berlari pelan ke kanan dan ke kiri seolah-olah minta tolong kepada siapapun untuk menolong tuannya.
Kepala desa Kedungwuni mendekati Antari. Lalu dielusnya Antari dengan pelan untuk meredakan kegelisahan kuda itu.
" Kuda baik tenanglah. Hari sudah malam. Besok kita cari lagi tuanmu. Saatnya istirahat. Sekarang kita kembali ke desa dulu, mengasolah dan penuhi tenagamu agar besok bisa mencari tuanmu lagi," ucap kepala desa menenangkan.
Antari perlahan-lahan mulai tenang, walaupun rasa gelisah dan ketakutan masih melanda dirinya. Bayu Putra memegang tali kendali Antari. Dibimbingnya kuda itu agar bersedia kembali ke desa.
" Kakang berdua aku tidak mau pulang. Aku mau menunggu Kang Mbok Candani di sini. Kang Mbok pelupa jalan dia pasti tersesat saat mengejar perampok tadi pagi." Baluh Jingga langsung mendudukkan dirinya di sebuah batu yang agak besar di pinggir sungai.
Jaladhi mengangguk. Diapun meninggalkan Apsara berdua dengan Baluh Jingga.
" Baluh ayo kembali ke desa. Istirahat. Aku lihat dari sejak kita sampai di desa ini, sedikitpun kau belum istirahat. Besok kita cari lagi Candani."
" Tapi Kakang kemana sebenarnya Kang Mbok pergi," suaranya terbata-bata menahan Isak tangis.
" Ayo pulanglah. Esok kita cari lagi. Bukankah kita dari pasukan kelana paham betul siapa itu Kang Mbokmu. Tidak semudah itu dia kalah apalagi mati. Bahkan olah kanuragannya di atas kita semua."
Baluh Jingga pun patuh. Pergaulannya selama setahun lebih dengan Candani Paramita telah membuatnya lupa kedudukan Kang Mboknya itu. Pergaulan mereka begitu rapat sudah selayaknya kakak dan adik kandungnya.
__ADS_1
Baluhpun mengalah. Dibawanya kakinya mengikuti langkah Apsara.
Malam semakin dalam. Penduduk sudah beristirahat. Hanya sesekali terdengar suara anak kecil menangis.
Pasukan kelana berada dalam kegelisahan yang besar. Setiap orang terdiam larut dengan pikiran masing-masing. Jaladhi memahami kegelisahan pasukan kecil miliknya. Disuruhnya mereka semua untuk tenang dan pergi tidur beristirahat.
🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠ðŸŒ
Flashback
Saat memasuki desa Kedungwuni, pasukan kelana langsung memencar bertindak dengan sigap berkelahi dengan kawanan perampok yang jumlahnya tidak sedikit.
Candani Paramita sendirian dirinya hendak melangkahkan kudanya untuk bergabung membantu menghajar perampok yang sudah kehilangan jiwa kemanusiaannya, tiba-tiba dari keempat sisi muncul empat orang berkuda yang langsung mengepungnya.
"Siapa kalian dan ada perlu apa?" tanyanya menyelidik.
Tiba-tiba keempat orang tersebut menyerang bersama. Candani Paramita berusaha menjauh dari garis pertempuran.
"Ada apa ini?" Dirinya berusaha untuk memperjelas keadaan.
Tanpa menjawab mereka berempat melanjutkan serangannya. Dari sebelah kanan lawannya menyerang dengan gencarnya. Tombaknya menyerang dari segala arah seolah-olah tombak itu memiliki mata. Gerakannya begitu cepat. Permainan tombak yang hampir sempurna.
Lawannya yang berada di ketiga sisi lainnya menyerang tidak kalah gencar. Mereka bersenjatakan pedang. Candani Paramita melayani pertarungan ini. Tubuhnya melenting ke atas, menghindar ke samping, dan menyerang ke berbagai sisi. Perhatiannya harus ia arahkan keempat sisi. Keempat orang ini menyerangnya tanpa ampun, seolah-olah memiliki dendam kesumat pada dirinya. Pertarungan mereka begitu dahsyat menandakan ketinggian ilmu pada diri masing-masing. Candani Paramita bertempur dengan tangan kosong, bukan menjadi kebiasaannya untuk berkelahi dengan menggunakan senjata, kecuali keadaan tidak memungkinkan maka dikeluarkannya salah satu senjatanya dari begitu perbendaharaan senjata yang ia miliki.
__ADS_1