CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
LATIHAN PERANG


__ADS_3

Latihan perang di hutan belantara sudah dimulai sedari pagi. Suara bende yang ditabuh membangkitkan semangat semua prajurit. Tentu saja itu bukan bende Mataram yang jika ditabuh akan membangkitkan semangat juang prajuritnya hingga berkali-kali lipat. Bende yang digunakan sekarang hanya bende biasa yang jika ditabuh menghasilkan suara cukup keras. Kerajaan laut Segaralaya juga memiliki sebuah bende yang hebat, meskipun tidak sehebat bende Mataram. Bende Mataram yang berasal dari bagian kerajaan masa lampau.


Latihan peperangan di dalam hutan ini lebih banyak menggunakan apa yang tersedia di alam untuk senjata dan pertahanan. Para prajurit tidak dibekali dengan senjata, setiap prajurit harus bisa menggunakan apa yang tersedia di hutan sebagai senjata dan perlindungan.


Bahkan para Senopati ikut serta dalam latihan perang ini. Mereka ikut memanjat pohon, berguling-guling di rimbunnya semak, harus ikut serta bertarung dengan alam yang sulit ditaklukkan.


Untuk asupan makanan selama latihan perang berlangsung, harus memakan apa yang tersedia di dalam hutan. Harus bisa bertahan hidup. Kayu-kayu berubah menjadi pedang yang tumpul, berubah jadi busur dan panah dadakan, bahkan berubah menjadi tameng. Segala batu, tanah, air, api, semuanya digunakan untuk latihan peperangan. Jika para prajurit tidak melakukan latihan ini dengan sepenuh hati, maka bisa dipastikan sang ratu akan murka besar. Bahkan suami sang ratu, Lintang Samudera ikut serta dalam latihan ini. Lintang Samudera ikut berguling-guling di tanah, ikut dengan susah payah membuat pertahanan dan penyerangan dengan para prajurit yang jadi kelompoknya.


Sang ratu memperhatikan dengan seksama latihan perang ini. Semua sama di hadapan mata sang ratu, pun itu suaminya sendiri. Saat Lintang Samudera kesusahan untuk membuat pertahanan, sang ratu hanya menatapnya.


"Seraaaaaannnggggg!!!"


"Bertahaaaannnn!!!"


Panah-panah tumpul beterbangan menyerang lawan, para prajurit yang menjadi sasaran panah bersembunyi di balik pohon-pohon besar. Yang tidak sempat bersembunyi harus rela berguling-guling di tanah. Serangan berganti menjadi adu tanding, senjata-senjata kayu berbunyi berderak. Sulur-sulur pohon dijalin berubah menjadi senjata yang mematikan. Teriakan-teriakan menggema memenuhi hutan, perintah-perintah disalurkan dengan suara keras, dan saat penyergapan selalu dilakukan dengan suara hening.


Kelompok prajurit yang menang berteriak ramai, mereka membusungkan dada. Yang kalah dengan lapang dada menekuk muka.


Di ujung sebelah sana, di tempat persembunyian Saka dan teman-temannya, ikut terbawa suasana peperangan yang menegangkan. Saka tidak percaya bahwa Lintang Samudera suami Ratu Samudera, harus ikut serta dalam latihan peperangan, belepotan dengan tanah dan lumpur, harus bersusah payah membuat senjata. Dan sang ratu hanya memandangnya tidak peduli.


"Luar biasa!" gumam Saka dengan suara pelan tapi masih bisa didengar orang yang ada di sampingnya.


"Kenapa? Heran suami sang ratu diperlakukan sama di dalam keprajuritan?" tanya salah seorang teman Saka. "Sekarang sudah tahu salah satu alasan Ratu Samudera sangat mencintai suaminya?"


Saka terdiam tidak menjawab. Sangat tegas, sang ratu sangat tegas. Di dalam keprajuritan semua dihormati dan diperintah sesuai bagiannya masing-masing. Bahkan Lintang Samudera hanya memiliki jabatan prajurit biasa.

__ADS_1


Melihat Saka terdiam, teman Saka kembali mengajukan pertanyaan. "Kenapa? Sudah mulai mengagumi Ratu Samudera? Sudah jatuh cinta? Sudah mau ganti nama dari Saka Sangkara menjadi Saka Samudera?" ledek temannya yang selalu bicara seenaknya.


Saka tidak peduli dengan ledekan teman-temannya. Jiwa dan raganya terlalu takjub dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


🔸🔸🔸🔸🔸


Latihan perang sudah usai. Para prajurit beristirahat dan memakan makanan yang disediakan para dayang. Akhirnya rasa lelah terbayarkan dengan nasi sebakul yang berdiri gagah di hadapan para prajurit.


Lintang Samudera pamit kepada Senopati pimpinannya. Dirinya pergi menemui sang ratu yang sedang duduk santai menikmati gemericik air sungai. Melihat kedatangan Lintang Samudera, para prajurit jaga dan dayang pengiring segera menjauh dan membalikkan badan. Saat sang ratu sedang berduaan dengan suaminya, merupakan hal tabu jika melihat dan mendengarnya.


Lintang Samudera meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Bagaimana, lelah?"


"Sangat lelah. Aku harus bergelantungan di pepohonan, berguling-guling di lumpur, tapi aku suka sudah menjadi bagian prajurit Segaralaya," jawab Lintang Samudera sembari memejamkan kedua matanya.


"Aku melihat semuanya. Ternyata suamiku tidak pernah mengecewakan," puji sang ratu.


Lintang Samudera terheran-heran bahkan air tawar dan air asin bisa terpisah dengan damainya. Kalau bukan ciptaan Sang Pencipta pasti sudah campur aduk tidak jelas.


Apa yang dilakukan Lintang Samudera tidak luput dari pandangan Saka. Rasa iri menguasai pemuda ini. Dadanya berdegup kencang, panas menyaksikan pemandangan mesra yang terpampang sangat jelas di depan matanya.


"Lintang Samudera akan aku rebut istrimu sang ratu samudera."


🔸🔸🔸🔸🔸


"Guru Wigata, aku ingin memiliki Ratu Samudera?" ucap Saka Sangkara di hadapan gurunya.

__ADS_1


Sang guru tidak menjawab hanya tersenyum-senyum.


Saka Sangkara menunggu jawaban dari gurunya. Setelah lama terdiam akhirnya sang guru bicara. "Lalu bagaimana dengan Kerajaan Segara Pitu?"


"Aku sudah berjanji untuk membantu mereka, maka aku akan tetap memenuhi janjiku," jawab Saka penuh kepastian.


"Jadi maksudmu, kau akan tetap mencuri mutiara laut yang ada di kerajaan Segaralaya?" tanya Guru Wigata.


"Janjiku hanya membantu mencuri mutiara laut, selebihnya bukan urusanku. Bagaimanapun janji tetap janji." Saka memandang ke kedalaman mata gurunya. Mencoba membaca isi hati sang guru.


"Baiklah. Kalau begitu selesaikan urusanmu dengan kerajaan Segara Pitu, lalu kau kejarlah ratu samudera. Tapi bukankah sang ratu sudah memiliki suami?" tanya Guru Wigata kembali.


"Akan aku bunuh Lintang Samudera. Sang Ratu Samudera harus menjadi milikku," jawab Saka Sangkara berapi-api.


Guru Wigata tertawa. Dirinya rindu jiwa muda. Mengejar cinta. Seandainya dulu dirinya punya nyali untuk mengejar wanita yang dicintai tentu akan beda keadaannya. "Tapi sudahlah itu hanya bagian dari masa lalu," ucap Guru Wigata di dalam hati. Istri yang menemaninya sekarang pun seorang wanita baik-baik. Apalagi sudah memberinya dua orang anak.


"Tidak mudah untuk mendapatkan hati ratu samudera. Bukankah selendang Baruna milik sang ratu sudah patuh pada Lintang Samudera?" tanya Guru Wigata kepada murid kesayangannya.


"Benar Guru. Aku bahkan pernah melihat sendiri selendang itu terbang dan jatuh tersampir di pundak Lintang Samudera," jawab Saka.


"Cinta suci sang ratu sudah diberikan kepada Lintang Samudera. Sang ratu sangat mencintai suaminya. Tidak mungkin baginya untuk berpaling hati," Guru Wigata memberi penjelasan, memberi pengertian kepada muridnya.


"Tekad ku sudah bulat. Lintang Samudera harus mati," ucap Saka Sangkara tegas.


"Baiklah guru mendukung mu. Tapi harus kau pikirkan baik-baik, jika Lintang Samudera meninggal bisa saja sang ratu samudera hanya ingin jadi pertapa. Atau mungkin kau dapatkan tubuhnya tapi tidak hatinya. Atau bisa saja tidak mendapat apapun."

__ADS_1


Cinta Saka Sangkara tidak bisa ditawar lagi. Berkali-kali dirinya jatuh cinta, tapi baru sekali ini jiwa dan raganya bertekuk lutut pada seorang wanita, bahkan pada pandangan pertama.


__ADS_2