
Santika Darliah mendera kudanya agar berlari kencang. Tiga orang anak buahnya yang berasal dari gunung Wadas Putih mengikutinya di belakang.
Dilupakannya urusan Suteja Thani. Apa pedulinya dengan rencana makar Kerajaan Segara Pitu. Tanpa bantuan Segara Pitu dirinya pun tidak kekurangan apapun. Masalah suami merupakan hal yang mudah. Tinggalkan Suteja Thani lalu mencari suami baru. Apa susahnya.
Darliah dan rombongannya berpacu dengan waktu. Dibutuhkan waktu hampir dua puluh hari lamanya untuk bisa sampai ke gunung Wadas Putih. Tapi mereka tidak langsung ke gunung Wadas Putih, sesuai permintaan ayahnya, Darliah mencari tempat baru untuk upacara ritual persembahan yang dilakukan ayahnya. Sekarang harus lebih tersembunyi.
"Genta kenapa pegunungan yang sebelumnya bisa diserang, apakah orang-orang bodoh itu tidak mematuhi perintahku?" tanya Santika Darliah dengan memperlambat langkah kudanya.
"Mereka mencari korban persembahan dari masyarakat sekitar," jawab Genta.
"Dasar bodoh, goblok. Tidak punya otak. Berulang kali sudah aku peringatkan, cari korban dari daerah lain agar tidak diserang oleh penduduk sekitar," umpat Santika Darliah geram.
"Apa orang-orang bodoh itu sudah merasa sakti pilih tanding sampai berani-beraninya mengambil korban dari penduduk sekitar. Cuma bisa bermain dengan api dan paku sudah merasa tak terkalahkan. Otak mereka di dengkul. Kebanyakan mandi darah jadi goblok. Orang sakti ada di mana-mana. Kebanyakan tingkah orang-orang goblok ini," cerocos Darliah tanpa henti.
Ketiga orang di belakang Santika Darliah diam tidak menjawab. Memang orang-orang di pegunungan Asmoro yang salah. Dan sekarang karena kebodohan mereka hampir saja keberadaan gunung Wadas Putih diketahui. Darliah harus mencari daerah lagi yang lain sesuai permintaan ayahnya.
"Kemana kita sekarang Nyai?" tanya Genta.
"Kita ke Kerajaan Abyudaya. Kita selusuri daerah pegunungannya," jawab Darliah. "Di mana orang-orang tidak tahu diri itu sekarang berada?"
"Maksud Nyai?" timpal Genta.
"Genta, apa kamu juga ketularan bodoh karena kebanyakan keramas pakai darah?" Bentak Darliah tidak sabar. "Siapa lagi kalau bukan manusia-manusia bodoh dari pegunungan Asmoro yang sudah merasa dirinya paling sakti."
"Mereka semua sekarang ada di Gunung Wadas Putih Nyai."
Santika Darliah dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Abyudaya. Kuda kembali berpacu dengan kencang menyelusuri jalanan berdebu.
🔹🔹🔹🔹🔹
__ADS_1
Suteja Thani duduk terpaku kebingungan. Jika Darliah sudah memutuskan untuk pergi, maka akan sulit untuk merayunya kembali. Mau tidak mau dirinya harus ke gunung Wadas Putih menemui ayah Darliah.
Dari kejauhan selir baru Suteja Thani datang mendekat.
"Kakang Raja apakah ada masalah penting yang membuat Kakang Raja tidak enak hati. Apakah ini mengenai selir Darliah?" tanya selir barunya. "Bukankah ada aku yang bisa menggantikan keberadaan selir Darliah," ucapnya selembut mungkin sambil memegang tangan Suteja Thani. Masih terngiang di kedua matanya dengan permainan panas Suteja Thani. Membuatnya menginginkannya lagi dan lagi. Dan dirinya girang bukan kepalang saat Suteja Thani lebih memilihnya daripada Darliah yang menurut kabar yang diperolehnya selir Santika Darliah merupakan selir kesayangan raja.
Suteja Thani menepis pegangan tangan selir barunya itu. "Kau ingin membantu permasalahanku, hah?" tanya Suteja Thani dengan suara keras. "Bawa Darliah kembali ke kerajaan ini, bisa, hah?" Bentak Suteja Thani. Muak dirinya melihat wajah selir barunya ini. Gara-gara dia dirinya ditinggalkan Santika Darliah.
"Kau bisanya cuma bersolek dan merayuku, tapi Darliah tugas seberat apapun bisa dijalankannya. Seribu perempuan sepertimu bisa kudapatkan dimana pun. Kau mau membantuku, iya ? Dengan pangkat ayahmu yang hanya Senopati, kau ngelunjak mau naik jadi permaisuri? Kau ingin membantuku bukan, berikan aku pasukan segar sepapan dengan barisan yang berisikan orang-orang sakti, bisa kau lakukan itu, dasar perempuan bodoh," bentak Suteja Thani murka.
"Prajurit bawa ayah selir bodoh ini kemari?""
"Baik Raja." Prajurit jaga langsung mencari orang yang diminta rajanya.
Selir baru itu menangis sesenggukan. Dia kebingungan. Baru semalam Suteja Thani memuji dan merayunya dengan kata-kata manis, dan sekarang perlakuan kasar yang diperolehnya. Dirinya memang sudah berkhayal terlalu tinggi. Dia tidak mungkin bisa membantu Suteja Thani menyediakan pasukan segelar sepapan. Urusan politik, pemerintahan, apa yang dia tahu.
Senopati yang merupakan ayah dari selir baru raja langsung menghadap. Dilihatnya anak perempuan nya menangis tersedu-sedu. Dirinya sudah mengetahui bahwa kemarahan selir Santika Darlian berawal dari putrinya ini. Raja tidak menegur saja sudah beruntung. Dan ini, apa yang sedang dilakukan anaknya. Sedang ngelunjak kamukten.
"Ampuni atas kelancangan anak hamba. Hukum hamba yang sudah salah dalam mendidik anak hamba."
"Menghukummu! Apa dengan menghukumi Darliah akan kembali." Bentak Suteja Thani kepada senopatinya.
"Paduka Raja untuk menebus kesalahan putri hamba. Hamba bersedia mengikuti paduka Raja mencari selir Darliah, dan hamba akan meminta maaf secara khusus kepada selir Darliah atas kesalahan putri hamba," ucap Senopati memohon pengampunan.
"Ajari anakmu ini bagaimana caranya untuk hidup menjadi selirku. Kalau dia di sini hanya untuk menyingkirkan selir-selir lainnya, bawa pulang anakmu sekarang juga. Baru tidur satu malam denganku sudah ngelunjak setinggi ini tingkah lakunya." Suteja Thani berlalu pergi meninggalkan ayah dan anaknya itu.
◼️◼️◼️◼️◼️
Suteja Thani meninggalkan Kerajaan Segara Pitu dengan membawa tujuh orang serta. Dimintanya kepada permaisuri dan Mahapatih untuk mewakilinya mengurus masalah pemerintahan selama kepergiannya. Disampaikan kepada segenap pejabat bahwa dirinya sedang melakukan semedi di waktu yang tidak bisa ditentukan.
__ADS_1
Suteja Thani tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang memperhatikan. Mereka telik sandi dari Kerajaan Laut Segaralaya. Keberadaan para telik sandi Segaralaya disembunyikan nama dan wajahnya membuat kesulitan bagi lawan untuk menyelidiki keberadaannya. Mereka bisa menyamar menjadi nelayan, pedagang, pelayan, atau apapun itu bentuknya. Dua ekor kuda terbaik mengikuti perjalanan Suteja Thani, mengikuti kemanapun dia pergi.
Setelah menempuh perjalanan tanpa henti selama hampir dua puluh hari. Suteja Thani akhirnya sampai di gunung Wadas Putih.
Mendengar suara derap kuda, para penghuni gunung Wadas Putih menjadi hiruk pikuk. Tiap orang siaga di tempat persembunyian untuk melakukan pencegatan.
"Berhenti. Siapa namamu dan apa keperluanmu?"
"Semilir angin laut menuju ke tujuh penjuru." Suteja Thani mengucapkan sebuah sandi.
"Wanita cantik berkelana dengan singa," jawab lawan bicaranya.
Dipersilahkan Suteja Thani ke ruang tunggu untuk menanti kehadiran Ki Estungkara.
"Apa keperluanmu kesini Suteja Thani?" tanya Ko Estungkara. "Dan mana anakku" lanjutnya.
Tanpa basa-basi Suteja Thani menceritakan tentang perlakuannya kepada Santika Darliah.
"Dari awal aku sudah mengatakan kalau anakku itu liar. Anakku tidak akan mengganggu kehidupan asmaramu dengan para selir-selirmu selagi kau memenuhi apa yang dia mau. Apa keinginan anakku terlalu memberatkan sehingga membuatmu harus sekasar itu kepadanya?" Tanya Ki Estungkara tidak terima anaknya diperlukan secara kasar.
"Tidak Ki, sangat tidak memberatkan. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah memperlakukan Darliah secara kasar. Dimanakah Darliah?"
"Anakku sedang pergi mendapat tugas dariku. Aku hargai niat baikmu. Jika dia mau kembali akan aku antarkan Darliah ke Segara Pitu."
"Tolong saya Ki," pinta Suteja Thani memelas.
"Anakku tidak suka bergonta-ganti pasangan, tapi saat dia sudah kecewa dia lebih memilih mencari suami baru."
"Tolonglah saya Ki, aku mohon."
__ADS_1
Ki Estungkara terdiam sejenak menimbang permintaan Suteja Thani. "Baiklah aku akan membantumu. Setelah selesai tugasnya akan aku antarkan dia ke Segara Pitu."
Suteja Thani tersenyum samar. Setelah selesai segala urusannya, dirinya berpamitan untuk secepatnya kembali ke arah Kerajaan Segara Pitu.