
Sebuah desa yang sejuk menyambut kedatangan Candani Paramita dan teman-teman seperjalanannya. Suasana pedukuhan yang damai menjadi pertanda bahwa penghuni pedukuhan ini terjamin kesejahteraannya, dan terjaga keamanannya.
Nimas Ayu Palupi menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, memenuhi dadanya dengan udara pagi yang begitu menenangkan. Raja muda ular tidak melewatkan pemandangan apik yang terpajang di hadapannya. Gadisnya yang sedang menikmati udara pagi tampak seperti bidadari jelita yang sedang menyapa hari.
Raja muda ular melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nimas Ayu, membuat gadis itu menoleh. Dan saat tatapan mata bertemu, dua hati bicara tanpa kata. Hembusan angin yang sejuk menemani mekarnya bunga-bunga di dalam hati dua orang yang sedang kebingungan untuk membedakan antara cinta dan rindu.
Raja muda ular mencium bibir Nimas Ayu dengan lembut. Hati gadis itu melompat-lompat hendak meninggalkan pemiliknya, tersihir oleh sentuhan lembut yang memberikan kesenangan tersendiri di dalam hati.
Ciuman kembali mendarat di bibir Nimas Ayu, makin lama makin dalam. Tidak ada penolakan. Nimas Ayu berbalik menghadap Raja Muda Ular, dan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Raja Muda Ular mengulum dan bermain di bibir istrinya yang merah merona, mencurahkan segenap suka dan cinta. Tubuh menyatu dalam pelukan, bibir menari-nari memberikan rasa ingin dan ingin yang sukar untuk ditolak.
"Apa sudah mulai jatuh cinta?" tanya raja muda ular sambil memegang kedua pipi gadisnya.
Nimas Ayu mengangguk malu.
"Apa sudah bersedia menjadi permaisuri kerajaan ular ?"
Nimas Ayu kembali menganggukkan kepalanya. Dan kemesraan di pagi itu berlanjut. Mengikuti debaran hati yang minta disentuh dan dicumbu.
🔸🔸🔸🔸🔸
Riuh ramai tawa canda penduduk menyambut acara selamatan bersih desa sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang melimpah. Meskipun musim kemarau tapi persediaan air di pedukuhan tersebut masih mencukupi, dan tidak mengurangi hasil panen.
Anak-anak kecil berlarian. Dan para ibu-ibu sibuk menata makanan yang disediakan untuk acara selamatan tersebut.
__ADS_1
Di balik rumah-rumah penduduk, beberapa pasang mata tampak sedang mengawasi keadaan. Mereka harus memata-matai orang-orang yang menyusup ke Kerajaan Abyudaya. Dengan tepat mereka mengintai pergerakan orang-orang yang menjadi pusat perhatiannya. Mereka hanya disuruh mengintai, berjaga, dan melaporkan hasil pengintaian nya kepada pimpinan prajurit yang ditunjuk. Orang-orang bersenjata bersembunyi di rerimbunan pepohonan, semak, pohon-pohon besar, dan tempat-tempat lainnya yang dapat melindungi tubuh mereka dari pandangan.
Sekelebat bayangan bersembunyi dari satu rumah berpindah ke rumah yang lain. Menuju tempat Candani Paramita berada. Jaladhi yang mengetahui hal itu secara perlahan mengingsar duduknya.
"Kemana arah angin tertuju?"
"Dari baruna timur menuju barat daya."
Kalimat sandi sudah sesuai. Dipastikan yang mendekati mereka merupakan mata-mata dari Segaralaya.
"Katakan, ada kabar apa?" Senopati Jaladhi bertanya sambil pura-pura mengumpulkan sampah yang bertebaran.
"Mata-mata Kerajaan Abyudaya tersebar merata di pedukuhan ini, lihatlah bayangan-bayangan di beberapa rumah. Hati- hati, beberapa penduduk yang ikut serta di acara selamatan, merupakan prajurit pilihan dari Kerajaan Abyudaya. Dan banyak prajurit yang sudah mengepung desa ini."
Jaladhi mendekati Candani Paramita dan Lintang Samudera. "Kita sudah dikepung oleh mata-mata dan prajurit dari Kerajaan Abyudaya. Beberapa orang yang berbaur bersama penduduk merupakan prajurit pilihan dari kerajaan ini."
"Secepatnya berkemas. Jangan menimbulkan kecurigaan. Jangan sampai mereka tahu bahwa kita sudah mengetahui keberadaan mereka," Candani memberi perintah.
Lintang Samudera mendekati raja muda ular dan Nimas Ayu Palupi. "Berkemas."
Saat acara selamatan bersih desa selesai, beberapa orang mengantarkan Candani dan teman-temannya ke banjar desa tempat mereka menginap.
"Tuan hati-hati. Tuan dan teman-teman tuan sudah dikepung. Maafkan kami karena tidak memberitahu dari awal. Kami diancam."
__ADS_1
Lintang Samudera menatap ke penduduk yang mengantarkannya ke banjar desa. "Apa ada jalan keluar dari desa ini tanpa diketahui?"
"Tidak ada. Semua jalan sudah dikepung."
"Baiklah bapak, terima kasih atas bantuannya." Lintang Samudera segera masuk ke banjar desa. "Bagaimana, kita sudah dikepung?"
"Aku gunakan ilmu sirep." Saat malam menukik tinggi, udara di desa yang sudah dingin menjadi semakin dingin. Muatan udara membawa hawa kantuk luar biasa. Tiap-tiap penduduk tertidur dengan pulasnya. Kecuali mereka orang-orang yang memiliki ilmu batin yang tinggi, mampu merasakan muatan aneh yang mengikuti aliran udara. Candani Paramita tidak membiarkan hal itu terjadi. Dengan segenap kekuatan batinnya disebarkannya pengaruh ilmu sirep dalam jangkauan wilayah yang cukup luas, bahkan hingga keluar dari wilayah desa.
Hewan-hewan yang tertidur langsung terbangun, begitu merasakan kehadiran gejala alam yang tidak sewajarnya. Hewan ternak membuka matanya lebar-lebar. Bahkan cacing yang sedang bersembunyi muncul ke permukaan. Burung hantu dengan tenang menyaksikan adegan semilir angin yang memaksa orang-orang yang terkena pengaruhnya semakin terbuai dalam tidur.
Udara dingin terus mengalir, menjelajahi rumah demi rumah, melewati sawah dan ladang, menyeberang sungai, bahkan hingga ke bukit-bukit kecil di sekitar desa.
Saat awal ilmu sirep baru diterapkan, Candani memerintahkan pasukan kelana untuk membawa Nimas Ayu pergi terlebih dahulu. Tingkat ilmu batin Nimas Ayu dan pasukan kelana tidak akan sanggup menghadapi dahsyatnya kekuatan ilmu sirep yang dikerahkan oleh Candani Paramita. Mereka akan ikut terpulas tidur saat ilmu sirep mencapai puncak kekuatannya. Bahkan Lintang Samudera berkali-kali harus menajamkan kekuatan batinnya agar tidak jatuh tertidur.
Dengan sigap pasukan kelana mengawal Nimas Ayu pergi, disertai pula oleh raja muda ular yang tidak sampai hati melepaskan istrinya untuk pergi sendiri.
Tempat ronda tampak sepi. Orang-orang bergelimpangan tumbang terpulas dalam tidur. Meskipun dibangunkan, mereka akan tertidur kembali. Para prajurit telik sandi dan prajurit Kerajaan Abyudaya yang diperintahkan untuk menangkap Candani Paramita dan teman-temannya ikut tidur lelap dengan posisi tidak selayaknya. Senjata-senjata tergeletak di tanah.
Malam semakin dingin. Para orang-orang suci yang sedang larut dalam semedinya langsung terbangun, merasakan adanya muatan lain yang menyertai gerakan angin yang berhembus tidak sewajarnya.
Di sudut desa, seorang laki-laki tua berdiri mengamati kepergian sekelompok orang yang bergerak mendahului. Di belakang laki-laki tua itu berbaris para tetua ilmu hitam. Mereka setengah mati berusaha memusatkan kekuatan batin, mencoba melawan dahsyatnya ilmu sirep yang menyerang. Dengan penuh perjuangan dua diantaranya mampu menyelamatkan diri dari ilmu sirep yang menyerang. Tapi empat lainnya terkapar lelap hanyut dalam tidur, tidak sadarkan diri
"Ilmu sirep yang luar biasa dahsyat. Hanya orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi yang mampu mengerahkan ilmu sirep sekuat ini," ucap salah seorang dari tetua ilmu hitam yang mampu menyelamatkan kesadarannya.
__ADS_1