
Raja kerajaan Abyudaya, Raja Akusara tiba-tiba berada di tengah pasukannya. Melihat satu-persatu prajuritnya mati, hatinya dilanda rasa bersalah. Setiap suara jeritan yang keluar dari mulut prajuritnya terdengar sangat menyayat hati. Permukaan laut berwarna merah darah, darah prajuritnya yang tidak berdosa, darah dan nyawa yang terbuang sia-sia demi memenuhi nafsu keserakahan segelintir manusia.
Permaisurinya Gasita Anjali memaksa untuk memberikan bantuan kepada Segara Pitu. Awalnya dirinya menolak, tapi karena bujuk rayu dan tipu daya Gasita Anjali, akhirnya dirinya pun mengiyakan. Beberapa waktu lalu dirinya secara tidak sengaja berjumpa raja Citraloka. Raja Citraloka menceritakan semuanya tentang Ratu Samudera dan tentang Segara Pitu. Rasa sesal melandanya karena telah terhasut oleh perkataan Gasita Anjali, hatinya terguncang merasakan malapetaka besar yang menimpa bala tentara Abyudaya. Sedikit waktu yang ada dimanfaatkannya untuk menyusul ke lautan. Disaksikannya separuh pasukannya sudah mati yang lainnya pun menunggu mati. Nasib pasukannya hanya ada satu 'Mati' . Dipapahnya beberapa prajurit yang merayap-rayap menuju pantai dengan luka-luka sayatan pedang yang cukup panjang di tubuh mereka, dipapahnya dengan rasa iba dan prihatin. Hatinya menangis menyaksikan prajuritnya mati sia-sia. Rasa bersalah menguasai dirinya.
"Tuan Senopati aku mohon lepaskan prajurit Abyudaya," pinta Raja Akusara sembari bersimpuh.
Senopati Laut Muda menatap orang yang sedang bersimpuh di depannya. "Siapa tuan?"
"Aku Raja Akusara dari kerajaan Abyudaya. Aku mohon lepaskan prajurit ku. Aku berjanji menarik semua prajurit ku. Aku mohon lepaskan prajurit ku yang sama sekali tidak memiliki kesalahan. Semua ini terjadi karena kesalahan ku yang bodoh ini," pinta Raja Akusara dengan tetap mata iba memelas penuh penyesalan.
"Bangkitlah Raja Akusara. Jangan bersimpuh di depan ku. Seorang raja tidak pantas bersimpuh di hadapan seorang senopati rendahan seperti ku."
Raja Akusara pun bangkit dari duduk simpuhnya. Dirinya pun mengulang permintaannya.
Prajurit kerajaan Abyudaya kondisinya sudah sangat mengenaskan. Mereka berbaris tertunduk di hadapan rajanya. Wajah-wajah yang telah mati seolah-olah dikorbankan untuk mati tergenang terbawa arus laut, untuk menenangkan nafsu angkara Gasita Anjali.
__ADS_1
"Prajurit Abyudaya maafkan raja mu ini yang sudah mengorbankan kalian. Mari kita pulang ke Abyudaya. Aku yakin Ratu Samudera bijaksana dan bersedia melepaskan kita semua." Ditatapnya satu-persatu prajuritnya dengan miris. "Senopati tolong lepaskan kami. Kami mengaku kalah dan memilih mundur."
Senopati Laut Muda mengingat pesan sang ratu "jika musuh mengaku kalah dan memilih mundur maka harus dilepaskan" .
"Baiklah aku lepaskan. Kembalilah ke kerajaan mu dan jangan ikut campur urusan kerajaan orang lain. Kami tidak pernah mengganggu kerajaan mu, jadi jangan ganggu kerajaan Segaralaya."
"Tuan Senopati saat perang sudah usai, aku dengan sukarela akan menghadap Ratu Samudera dan memohon kebijaksanaannya atas kekeliruan yang sudah dilakukan oleh pasukan kerajaan Abyudaya," ucap Raja Akusara bersungguh-sungguh.
Senopati Laut Muda mengangguk lalu memerintahkan prajurit pengendali ombak untuk mengantarkan Raja Akusara dan sisa pasukannya ke pantai.
Beberapa prajurit pengendali ombak menciptakan gugusan ombak yang mengantarkan raja Akusara dan pasukannya ke daratan. Diayunkannya kedua tangan para prajurit pengendali ombak itu ke depan dan belakang, laut yang tadinya tenang secara perlahan muncul gugusan ombak yang kian lama kian besar. Para prajurit pengendali ombak terus mengayunkan tangannya dan berhenti ketika Raja Abyudaha dan pasukannya telah sampai daratan.
🔸🔸🔸🔸🔸
Raja Suteja Thani yang merasa kemenangan ada di depan mata, seketika langsung cemas. Karena kemenangan itu akan segera musnah. Pasukan Segaralaya benar-benar tangguh, ditambah pasukan ular dan pasukan siluman gunung Pandan Wangi. Meskipun jumlah pasukan Segaralaya dan sekutunya lebih sedikit dibanding pasukan Segara Pitu, tapi Suteja Thani tidak habis pikir bagaimana mungkin pasukannya secara perlahan terkalahkan. Nyali pasukan Segara Pitu mulai surut. Tapi dirinya patut bertenang hati, pasukan siluman dan iblis yang menjadi sekutunya masih bertahan, meskipun secara perlahan mulai masuk pintu kekalahan.
__ADS_1
Di sisi lain Saka Sangkara bertarung menghadapi Pangeran Kawiswara. Hati Pangeran Kawiswara tidak terima dengan kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Membuatnya mbalelo dari ayahnya, mbalelo dari kekuasaan Segaralaya.
Saat kepanikan melanda Segara Pitu, muncullah seseorang yang mereka tunggu-tunggu. Seorang sakti mandraguna, dia sang guru para iblis, Guru Mahogra, satu-satunya manusia yang bisa menjadi lawannya hanyalah Guru Jagratara. Tapi di peperangan kali ini, Guru Mahogra muncul tanpa didampingi lawan yang sepadan dengannya.
Mahogra dengan bengisnya meraung-raung menghempaskan pasukan ular yang sudah hampir berhasil menumpas pasukan iblis. Belum puas dengan pasukan ular, Mahogra melibas pasukan siluman Gunung Pandan Wangi dengan sekali sapuan. Seketika mayat-mayat bertebaran dari dua pasukan yang terkena kebengisan Guru besar iblis Mahogra. Banyak diantaranya luka parah dan tertatih-tatih untuk menyelamatkan sebuah nyawa.
Atas perintah Ratu Samudera pasukan ular dan pasukan siluman Pandan Wangi bergegas menyingkir menyelamatkan diri.
Sang ratu yang dari awal peperangan terjun melawan pesilat-pesilat tangguh dari pihak musuh, dengan gerak cepat melepaskan diri dari lawannya, dan segera berlari menuju Mahogra yang masih bebas sendiri tidak memiliki lawan. Dengan gerak yang tidak kalah cepat Lintang Samudera sudah berada di samping istrinya. Selendang Baruna sudah berpindah ke tangan, tongkat Lintang Samudera sudah bersiap menghadapi serangan.
"Ha...ha...ha... sepasang tikus mempersembahkan nyawa kepada ku. Majulah! Dengan sekali injak aku pastikan kalian mati seketika." Suara tawa Mahogra kembali membahana menabrak gunung-gunung di samudera. Suara tawanya membawa kidung kematian. Prajurit dari kedua belah pihak seperti berada di ambang kematian. Suara tawa itu membuat jantung berdetak lebih kencang, dan mematikan simpul-simpul saraf. Sebelum terlambat dan mematikan pasukan yang dibelanya, Mahogra dengan cepat menarik ilmu swara parusa, sebuah ilmu yang mengandalkan kekuatan batin yang tinggi yang kemudian diluapkan dalam bentuk tawa yang berkepanjangan.
Ratu Samudera dan Lintang Samudera mengambilalih tugas Guru Jagratara. Dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, sang ratu dan Lintang Samudera menerjang sang Mahogra. Selendang Baruna mengeluarkan seluruh daya kekuatannya, menggempur dan melibas lawan. Bebatuan besar di dalam laut meledak keras saat bersinggungan dengan selendang Baruna. Tongkat Lintang Samudera bergerak berpadu padan sempurna dengan selendang Baruna. Tongkat itu mampu memberikan tekanan yang cukup ditakuti oleh Mahogra.
Tiga orang sakti digdaya sedang bermain-main dengan kekuatan alam semesta. Mahogra bukanlah seorang manusia biasa, asalnya entah dari mana, hanya Guru Jagratara yang mengetahui. Setiap kibasan tangan Mahogra berubah menjadi dewa kematian, kibasan tangannya membawa hawa panas yang sangat tinggi seperti panas yang keluar dari letusan gunung berapi. Apapun yang terkena libasan tangannya seketika hancur hangus kehilangan bentuk. Hawa panas mulai menguasai wilayah lautan. Ratu Samudera tidak membiarkan hal itu terjadi. Selendang Baruna dipasangkan dengan tongkat Lintang Samudera berhasil membentuk bola-bola es yang makin lama makin banyak memenuhi lautan, bola-bola es itu terus bermunculan meskipun kedua senjata mematikan itu sedang beradu dengan tangan Mahogra.
__ADS_1
Mahogra bertarung bagaikan kabut dan asap. Jasadnya tidak tampak. Begitu cepatnya gerakan Mahogra hanya meninggalkan bayang-bayang. Ratu Samudera dan Lintang Samudera dengan telaten menghadapi guru iblis Mahogra. Meskipun ilmu mereka berada sangat jauh di bawah Mahogra, dengan keteguhan niat dan tekad dihadapinya tangan mau sang Mahogra.
Mahogra melepaskan tendangan mautnya, tendangan itu berhasil mengenai lawannya. Ratu Samudera dan Lintang Samudera terpental jauh menabrak tubuh sebuah gunung laut yang sudah mati. Batu-batu berguguran ke dasar laut. Tabrakan yang menimpa gunung itu mengakibatkan dasar laut bergetar. Mahogra berlari mengejar lawannya. Saat dirinya hendak kembali melancarkan tendangan mautnya, sepasang senjata yang tuannya tengah bertarung menyelamatkan hidup, secara bersamaan menggulung dan menyerang tubuh Mahogra. Selendang Baruna dan tongkat Lintang Samudera seakan-akan memiliki nyawa. Kedua senjata mematikan itu terus memburu lawannya.