CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
AMUKAN


__ADS_3

Selendang Baruna bersama-sama tongkat Lintang Samudera melesat terbang tinggi menuju langit menjemput kedahsyatan kekuatan petir. Kedua senjata sakti itu terus berputar-putar di angkasa raya, menggiring kilatan-kilatan petir yang berkelana di langit. Selendang Baruna berputar-putar membentuk sebuah lingkaran yang makin besar dan makin besar, tongkat milik Lintang Samudera menangkap ujung-ujung kilatan petir, lalu menangkapnya, memasukkannya dalam pusaran selendang Baruna.


Mahogra tidak membiarkan kedua senjata sakti itu mengumpulkan kekuatan dahsyat yang mampu meluluhlantakkan dirinya. Dengan kekuatan luar biasa yang tersimpan di dalam dirinya, Mahogra meluncur menuju angkasa raya menyusul dua senjata sakti yang sedang berusaha menaklukkan petir. Ditatapnya dua senjata sakti itu.


Selendang Baruna dengan penuh murka melemparkan petir yang sudah berada dalam genggamannya. Dengan bantuan tongkat Lintang Samudera, kumpulan petir yang memiliki kekuatan dahsyat itu terlempar menyerang dan mengejar guru iblis Mahogra. Terus mengejar tidak membiarkan lawan terlepas. Mahogra kalang kabut. Sepasang senjata ciptaan dewa mengepungnya, murka. Suara petir menggelegar bertubi-tubi memenuhi alam raya. Membangkitkan hawa takut yang menyeruak isi hati penghuni alam semesta. Langit yang awalnya cerah berubah menjadi hitam kelam menakutkan. Pergerakan selendang Baruna di langit yang bergerak dengan sangat cepat, tampak seperti ular naga api penguasa angkasa yang sedang murka kepada musuh yang hendak mengobrak-abrik kedamaian sendi-sendi kehidupan.


Suara petir terus menggelegar di langit. Mahogra tidak mau dirinya menjadi bulan-bulanan kedua senjata itu. Dengan kekuatan api yang dimilikinya, ditangkapnya petir yang terus-menerus melibasnya. Saat petir-petir itu tertangkap, dengan sepenuh tenaga di arahkannya petir-petir itu ke arah bumi, menyerang sesuatu yang tampak biru dari angkasa, lautan. Petir-petir itu menukik tajam menuju lautan raya, berkilat-kilat melahirkan rasa takut yang teramat dahsyat di kalangan penghuni lautan. Prajurit Segaralaya yang berjaga di permukaan laut merasa takjub menyaksikan pertarungan dua senjata sakti milik sang ratu dan suaminya, melawan guru para iblis. Rasa takjub itu membuat mereka menganga lebar, awan berputar-putar seperti diaduk oleh adukan raksasa, memunculkan awan hitam pekat yang terus-menerus mengeluarkan auman menggelegar yang berasal dari kumpulan petir-petir yang disatukan. Saat petir-petir itu secara tidak sengaja menimpa wilayah daratan, sebuah ledakan besar membahana menggema menghancurkan yang dikenainya hingga luluh lantak. Sebuah gunung mati di daratan mengalami nasib naas. Saat petir-petir itu menghantamnya, separuh tubuh gunung terpental hancur terburai ke udara, melahirkan serpihan hujan yang berasal dari hamburan tanah.


Saat petir-petir itu menukik tajam menuju permukaan laut, tanpa di aba-aba para prajurit Segaralaya yang berjaga di permukaan laut berlari lintang pukang menyelamatkan diri menuju wilayah daratan. Menyelamatkan satu-satunya nyawa yang melekat di badan. Dalam sepersekian waktu sebelum petir-petir itu mencapai permukaan laut, selendang Baruna dengan kecepatan penuh melesat menghadang petir-petir itu. Sebuah benturan dahsyat terjadi. Selendang Baruna menjadikan dirinya sebagai tameng atas amukan kekuatan petir. Bagaikan sehati tongkat Lintang Samudera tidak membiarkan selendang Baruna berjuang sendiri, kedua senjata itu kembali bersatu menggagalkan serangan petir Mahogra. Sedikit terlambat. Suara ledakan dahsyat menggelegak di permukaan laut. Mematikan ikan-ikan yang sedang berlari mencari perlindungan. Beberapa prajurit yang terlambat mencapai wilayah daratan harus terpental jauh, tubuhnya melayang di udara, prajurit yang selamat berbondong-bondong berusaha mencapai tubuh kawannya yang menunggu mati.


Selendang Baruna dengan sedikit waktu yang ada mengumpulkan petir-petir itu, menahannya, agar ledakan tidak terjadi kembali. Saat kumpulan petir sudah berada dalam pusaran selendang Baruna, tongkat Lintang Samudera memegang kendali dan mengarahkan sang petir ke langit. Mahogra yang sedang meluncur ke lautan terpaksa harus menghindari hantaman balik kekuatan petir. Kumpulan petir-petir itu kembali ke angkasa meledak membahana di angkasa, menggelegar seakan-akan hendak meruntuhkan kekuasaan langit. Langit kembali tenang, sang petir kembali menjadi pengelana di langit biru.


Sementara itu Ratu Samudera dan Lintang Samudera tertatih-tatih mengangkat badan. Seluruh tubuh mereka rasanya hancur remuk. Dasar lautan berguncang, nasib baik tidak menimbulkan gempa. Saat sebuah ledakan besar terjadi di lautan, tubuh mereka kembali terhempas menimpa bebatuan.


Suara tawa kembali menguasai lautan. Merontokkan jantung, mematikan simpul-simpul saraf, yang tidak mampu membebaskan diri dari cengkeraman suara itu hanya tinggal menunggu mati.

__ADS_1


"Masih hidup ternyata kalian berdua. Aku bunuh kalian berdua. Dengan keberadaan kalian di dunia ini telah menjadi penghambat bagi para iblis untuk menguasai dunia."


Lintang Samudera yang sudah mampu bangun, berdiri gagah menantang, disusul Ratu Samudera di sampingnya.


"Apa kau kira wajah-wajah jelek para iblis layak menjadi penguasa? Kalian berkuasalah dengan para demit di alam demit, tidak usah mengganggu kekuasaan di alam nyata," timpal Lintang Samudera yang mampu membuat panas telinga lawannya.


Guru iblis Mahogra mengeluarkan dengusan kasar. "Mulutmu sama lancangnya dengan mulut Jagratara. Akan ku sobek mulut lancang mu itu!"


"Sobeklah jika kau mampu." Setelah memberikan sebuah jawaban tantangan, Lintang Samudera dan Ratu Samudera kembali bersiap-siap.


Selendang Baruna sudah kembali ke tuannya, begitu juga dengan tongkat Lintang Samudera. Kedua senjata kembali mengadu nyali bersama para tuannya.


"Kali ini tidak akan aku biarkan kalian lolos. Apalagi senjata-senjata sialan itu. Aku hancur lumatkan kalian semua hingga tidak ada sisa!" Serapah guru iblis Mahogra.


Setelah mengucapkan sumpah serapahnya, guru iblis Mahogra sudah melesat bagai seleret sinar menerjang musuhnya. Dirinya tidak lagi menahan-nahan kekuatannya. Segaralaya mau hancur, Segara Pitu ikut serta hancur apa pedulinya. Selagi para iblis berkuasa, semua penghuni semesta ini musnah pun tidak mengapa.

__ADS_1


Hawa panas yang berasal dari kesaktian Mahogra seketika menguasai lautan. Mahogra dengan kekuatan penuh menghantam dasar lautan dengan satu tangannya. Dasar lautan bergoyang keras, sebuah retakan lebar terbentuk, gempa bumi besar melanda seluruh wilayah samudera. Hawa panas yang menguasai lautan membuat air seakan-akan mendidih. Ikan-ikan kecil mati kelojotan.


Ratu Samudera dan Lintang Samudera menyerang guru iblis Mahogra dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Meskipun serangan mereka berdua tidak ada artinya, tapi mereka berdua tetap bertahan.


Ratu Samudera merasakan panik luar biasa saat gempa besar terjadi karena pukulan dahsyat Mahogra. Ditambah air laut yang semakin memanas. Ikan-ikan kalang kabut mencari perlindungan.


"Kakang tolong gunakan senjata kita untuk menahan hawa panas. Jika hawa panas ini dibiarkan, kehidupan laut sudah dipastikan cepat atau lambat akan segera musnah. Selamatkan kehidupan laut!" pinta Ratu Samudera sambil berteriak keras.


Lintang Samudera nenyisih dari pertarungan. Selendang baruna dan tongkat miliknya sudah berada di kedua tangan Lintang Samudera. Disatukannya kekuatan dua senjata sakti itu dengan kekuatannya. Diundangnya hawa dingin. Selendang Baruna berputar-putar, sedangkan tongkatnya tertancap ke bumi. Alam semesta memenuhi panggilan dia sang pemilik tongkat sakti. Hawa dingin mulai menjalar, semakin lama semakin meluas. Ikan-ikan yang sebentar lagi matang karena kepanasan mulai bernapas lega. Kehidupan laut berangsur-angsur pulih.


Di sana


Ratu Samudera bertarung dengan menggila. Antara hidup dan mati. Lawannya hanya tampak seperti bayang-bayang. Terkadang serangannya seakan mengenai tubuh lawan, tapi semua itu semu, yang dikenainya hanyalah bayang-bayang belaka. Mahogra merasa bertarung dengan anak kecil yang lepas dari induknya. Ditambah tidak adanya dua senjata sakti itu menjadikan Mahogra tidak perlu takut melawan Ratu Samudera.


Ratu Samudera menghantam dan menerjang dengan segala kemampuan yang dimiliki. Tendangannya yang membawa sapuan awan dan angin hanya ditanggapi dengan kelitan ringan oleh guru iblis Mahogra. Ratu Samudera terus bertarung dan bertarung, bertahan sampai panasnya air laut kembali ke keadaan semula. Saat kehidupan laut sudah kembali seperti semula, sang ratu sudah kehilangan semua daya kemampuannya. Permainannya sudah usai. Napasnya pun sudah di ujung. Hidup atau mati sudah menjadi ketentuannya.

__ADS_1


__ADS_2