CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
GOA RAHASIA


__ADS_3

Empat orang pendekar merangkak menaiki tebing yang curam. Tebing itu berada di perbatasan antara wilayah daratan dengan lautan. Keadaan tebing yang menjorok melampaui batas pantai, menjadikan mereka harus waspada dengan terjangan ombak dan curamnya bebatuan yang menjadi bagian tubuh tebing.


Dari keempat orang yang sedang merayap badan tebing, ilmu kanuragan Nimas Ayu Palupi yang paling rendah. Raja muda ular yang merupakan suami Nimas Ayu, mengikatkan tali antara dirinya dengan Nimas Ayu. Beberapa kali tubuh Nimas Ayu terperosok, dan dengan susah payah raja muda ular harus menarik dan menahan berat badan istrinya. Bahkan beberapa kali raja muda ular mengubah wujudnya ke bentuk aslinya, sosok ular yang besar, demi menyelamatkan Nimas Ayu.


Perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga. Candani Paramita dengan ringan memanjat bebatuan tebing dengan handal. Tidak ada kendala sama sekali. Hanya beberapa kali harus menghindari jebakan alam yang sengaja dipasang di tebing itu sebagai perlindungan bagi rahasia yang disimpan di dalam goa yang menjadi bagian dari tebing itu.


Lintang Samudera sampai lebih dulu di goa yang dituju. Harga diri memaksanya untuk menjadi pemimpin jalan. Tidak mungkin dirinya membiarkan istrinya untuk menyisir jebakan setiap jengkal yang ada di badan tebing, meskipun Lintang Samudera menyadari bukan suatu hal sulit bagi Candani Paramita untuk mencapai tujuan dengan cara yang cepat. Dan istrinya menghargai usahanya, membuat dirinya bisa sedikit berbangga sebagai seorang suami. Candani Paramita sampai di mulut goa tidak lama setelahnya.


Raja muda ular dengan susah payah merengkuh tubuh Nimas Ayu Palupi yang menjadi basah kuyup oleh keringat. Wajah gadis itu pucat pasi, rasa ketakutan memancar jelas di matanya. Ini merupakan pengalaman pertamanya harus mendaki tebing curam dengan hanya menggunakan tangan saja, jika saja tidak ada tali yang mengikat antara dirinya dan raja muda ular, mungkin sekarang dirinya sudah terhempas jatuh terbawa deburan ombak.


Nimas Ayu membiarkan raja muda ular memeluknya dengan erat, dirinya yang sudah kehabisan tenaga jatuh lunglai tanpa bisa melawan lagi. Dengan telaten raja muda ular membersihkan keringat yang bercampur dengan pasir yang melekat di tubuh Nimas Ayu.


Lintang Samudera iri dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Seorang suami yang telaten menolong kelemahan istrinya. Tapi lihatlah dirinya, tubuh istrinya Candani Paramita tidak kekurangan suatu apa, bahkan istrinya merayap di tebing layaknya cicak.


"Nimas, apa sudah bisa melanjutkan perjalanan? Kita harus menelusuri goa ini secepatnya. Saat air pasang sebagian dari goa ini akan tertutup air laut," Candani Paramita membuka pembicaraan.


"Bisa Kang Mbok, raja muda ular akan menolongku," jawab Nimas dengan sayu.


Keempat orang itu berjalan menyusuri goa. Kali ini Candani tidak membiarkan suaminya Lintang Samudera untuk memimpin jalan. Terlalu berbahaya.


"Kakang Lintang sebelumnya aku minta maaf. Untuk penelusuran goa ini aku yang memimpin. Tapi aku membutuhkan bantuan kakang."

__ADS_1


"Baiklah," jawab Lintang Samudera dengan berat hati. Kerlingan mengejek tampak dari raut wajah raja muda ular. Disentilnya telinga raja muda itu dengan keras, sehingga mengeluarkan suara pekik tertahan. Candani hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya. Apapun keadaan suaminya tetaplah menempati urutan pertama di hatinya. "Pertolongan dalam bentuk apa, katakanlah!"


"Kakang berjalan di paling belakang. Bagaimanapun keselamatan raja muda ular dan Nimas Ayu merupakan hal yang utama. Jadilah perisai bagi kami berempat dengan menjaga bagian belakang." Candani mengedipkan matanya dan mengecup kedua pipi suaminya lembut. Tentu saja hal ini tidak dilewatkan oleh Lintang Samudera, dengan keras direngkuhnya tubuh Candani Paramita, dan dipagutnya bibir istrinya dengan rakus. Tidak dipedulikannya raja muda ular dan Nimas Ayu yang membuang muka, malu. Ciuman panas itu berlangsung cukup lama. Kalau tidak dihentikan oleh Candani, mungkin laki-laki ini kebablasan entah kemana.


Adegan ciuman sudah selesai. Perjalanan pun dilanjutkan. Candani dan Lintang Samudera yang berciuman, tapi raja muda ular dan Nimas Ayu yang berubah memerah warna wajahnya. Sepasang suami istri yang ada di hadapan mereka ini memang tidak sungkan dan tidak tahu malu untuk menunjukkan kemesraan di hadapan mereka. Iri. "Tapi apa daya," batin raja muda ular


Dengan penuh kehati-hatian Candani Paramita memimpin di depan. Lampu-lampu oncor yang terpasang di tempat itu dinyalakan, jalanan goa yang gelap pun berubah terang. Kini mereka memasuki bagian goa yang sisi-sisi dindingnya mengeluarkan lendir berwarna hijau, dan bau busuk yang menyengat keluar dari lendir itu.


"Ini lendir yang bercampur dengan bisa ular yang sangat berbisa. Lendir ini berasal dari sebuah tanaman beracun yang ada di kerajaanku," jelas raja muda ular.


"Maksudmu?" tanya Lintang Samudera.


Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan penuh kehati-hatian. Setelah berjalan dua ratus meter, mereka dibingungkan oleh tiga jalur yang terhampar di hadapan.


"Kakang Lintang jalur mana yang harus ditempuh?" tanya Candani.


"Aku tidak tahu. Tapi harusnya dari ketiga jalur ini ada tanda yang menunjukkan tempat yang dituju." Lintang Samudera berjalan ke depan Candani Paramita. Oncor yang ada di dinding goa dicabutnya satu, diarahkannya cahaya oncor bambu yang dipegangnya ke ketiga jalur goa. "Raja muda ular apakah mengetahui tentang ketiga jalur ini?"


"Aku tidak tahu. Keberadaan goa inipun aku tidak tahu. Kalau bukan Guru Jagratara yang memberikan pengarahan, aku benar-benar buta mengenai cara untuk menyelamatkan rakyatku."


Lintang Samudera menatap istrinya memintanya untuk menemani. Saat memasuki bagian depan jalur kiri muncul suara bising dan serangan mendadak dari sosok yang tidak tampak. Candani menyadari bahaya yang ada. Dengan tangkas dipeluknya tubuh suaminya, dan dengan cepat dirinya melompat mundur dari jalur kiri sambil terus memeluk tubuh Lintang Samudera.

__ADS_1


"Apa tadi, serangannya sangat kuat?" tanya Lintang Samudera. Dadanya berdegup kencang. Hampir saja nyawanya melayang tanpa sebuah pertarungan.


"Itu sosok iblis yang kekuatannya cukup tinggi. Dia iblis yang tadinya menempati khayangan, tapi karena keserakahan dan kejahatan yang dilakukan, dia pun dibuang dari kemuliaan khayangan, dan berubah dari penghuni khayangan yang suci menjadi iblis sakti yang bengis. Kita harus hati-hati dengan keberadaannya," jelas Candani Paramita.


"Tapi apakah kedatangan kita sudah disadari oleh iblis itu? tanya Nimas Ayu.


"Tidak. Hawa yang keluar dari tubuhku berasal dari laut jadi sama dengan hawa ombak yang sering memasuki goa ini," jawab Candani Paramita.


"Tapi bukankah tadi Kakang Lintang Samudera juga ikut masuk. Apakah iblis tadi tidak menyadari perbedaan hawa yang masuk ke jalur kiri?" lanjut pertanyaan Nimas Ayu.


"Ehm...ehm." Candani Paramita berdehem pelan. "Karena Kakang Lintang Samudera suamiku karenanya hawa tubuhnya tidak tercium."


Nimas Ayu mengangguk tidak paham.


"Maksudnya aku ini suami dari ratu laut, jadi kami sudah biasa bertukar air liur saat berciuman, dan saat bercumbu rayu, kami ini sudah bertukar keringat. Jadi wajar kalau hawa yang ada di tubuhku sama dengan hawa Candani," Lintang Samudera menjelaskan dengan rinci. Membuat Nimas Ayu membuang muka. "Bertukar liur," gumamnya dalam hati.


Candani Paramita mencubit pinggang suaminya dengan keras.


"Tapi iyakan," tanya Lintang Samudera nakal menggoda istrinya. Candani menutup mukanya.


Lanjut ke jalur tengah. Kali ini Candani masuk sendiri. Lintang Samudera dilarang untuk mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2