
"Nak Lintang tolong carikan kembang mawar putih yang mekar dan kelopaknya harus bersusun delapan. Petikkan sebanyak delapan buah," perintah Ki Danasura.
"Di halamanku ada beberapa yang sedang mekar. Kau petiklah segera. Untuk kekurangannya cari di sekitar rumah penduduk siapa tahu ada pohon kembang mawar putih yang sedang mekar. Kalau masih belum cukup juga coba ke bibir hutan. Di sana ada sebuah taman bunga."
"Lekaslah jangan berlama-lama," perintah Ki Danasura.
"Baik Ki."
Di depan rumah Ki Danasura, Lintang Samudera menemukan empat kembang mawar putih berkelopak delapan susun yang sedang mekar. Dipetiknya pelan jangan sampai rusak susunan bunganya. Dengan hati-hati diserahkannya bunga itu ke Ki Danasura.
Ada dua orang penduduk yang menanam bunga itu. Dan yang sedang mekar hanya tiga, dia pun memperoleh bunga itu tanpa kesulitan. Untuk sisa satunya dicarinya di bibir hutan. Hujan deras belum berhenti. Basah kuyup seluruh badannya.
Benar juga di bibir hutan ini ditemuinya sebuah taman bunga. "Kalau hari terang pemandangan di sini pasti sangat indah," gumamnya dalam hati. Tadi sore karena panik dirinya tidak melihat keberadaan taman bunga ini. Dalam keadaan gelap gulita dicobanya menyusuri bunga demi bunga. Dan ada satu yang sedang mekar.
"Malam Nyai. Bolehkah aku minta bunga mawar itu?" pinta Lintang Samudera dengan sopan.
__ADS_1
"Anak muda, aku tidak akan memberikan bunga itu secara gratis. Bunga mawar ini terlalu berharga. Dan ketahuilah segala sesuatu di alam semesta ada harganya. Makin berharga nilainya makin tinggi harganya. Hendak kau hargakan berapa bungaku itu?" ucap seorang nenek yang telah lanjut usia.
"Aku tahu siapapun yang membutuhkan bunga ini, dirinya pasti dalam bahaya yang besar," lanjut nenek itu.
"Nyai, aku tidak punya apa-apa. Hanya memiliki sedikit uang untuk bekalku di perjalanan dan sebuah tongkat. Selain itu aku tidak memiliki harta lagi."
Wanita setengah baya itu tersenyum mengejek. "Tidak punya apa-apa. Berani-beraninya meminta bunga mawarku yang berharga. Serahkan tongkatmu!" perintah wanita tua itu gusar.
"Apakah Nyai menginginkan tongkat ini?" tanya Lintang Samudera.
"Tentu saja. Bungaku ini sangat berharga. Kau berani memintanya tentu harus berani menunjukkan harganya."
Tapi apalah arti sebuah tongkat. Apa juga arti senjata sakti jika tidak mampu menolong yang membutuhkan. Gurunya sudah menyerahkan tongkat ini kepadanya.
"Baiklah Nyai. Ambillah tongkatku ini."
__ADS_1
"Bagus anak muda. Hatimu seluas samudera. Petik kembang mawar putih itu. Hati-hati jangan sampai gugur kelopaknya. Karena tiap susun kelopak mawar putih memiliki fungsinya masing-masing. Rontok satu kelopak hilang juga satu manfaatnya," jelas wanita tua itu.
Lintang Samudera memetik bunga itu dengan pelan. "Nyai terima kasih untuk bantuan bunganya."
"Tak mengapa hanya bunga tak merepotkanku."
Lintang Samudera bergegas pergi. Setiap detik waktu yang berlalu bernilai nyawa kekasih hatinya.
"Anak muda, tunggu!"
"Ada apa Nyai, adakah yang lainnya?" tanya Lintang Samudera.
"Ambillah tongkatmu. Aku tidak memerlukannya. Sampaikan salamku kepada ayahmu Ki Yasa Rasendriya," ucap Nyai itu.
"Kalau boleh tahu nama Nyai siapa? Agar saat Bopo guru bertanya nama Nyai, aku bisa menjawabnya." tanya Lintang Samudera penasaran. Hanya orang-orang tertentu yang mengenal tongkat ayahnya yang sekaligus gurunya itu.
__ADS_1
"Kau penasaran anak muda," jawab wanita tua itu sambil terkekeh-kekeh. "Namaku Nyai Niti Padmarini. Malam sudah larut pergilah cepat!" perintah Nyai Niti Padmarini.
"Baiklah Nyai. Akan aku sampaikan salam Nyai ke Bopo Yasa Rasendriya." Lintang Samudera pun bergegas pergi.