CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PERANG KESATU


__ADS_3

Pasukan siluman, iblis, jin, setan, dan entah apa itu namanya yang berasal dari kubu Segara Pitu sudah tidak sabar lagi menanti adu baku hantam dengan lawan. Tenaga mereka sudah penuh lalu untuk apa menunggu persiapan *****-bengek yang tidak jelas arahnya. Selama beberapa waktu mereka hanya menunggu dan menunggu, semuanya begitu lambat bagi mereka. Mereka tidak bersedia ikut melakukan latihan perang gabungan bersama dengan pasukan Segara Pitu. Dengan congkaknya mereka menepuk dada "pasukan kami jangan disamakan dengan pasukan Segara Pitu yang bisanya hanya menangis dan kencing di celana." Pasukan Segara Pitu menelan ludah dengan perkataan kasar sekutu mereka. Berbeda dengan sekutu dari Segaralaya yang selalu bahu-membahu melakukan latihan perang bersama, saling mengisi dan membantu kekurangan masing-masing.


Memanglah terasa bedanya, sekutu Segara Pitu bersedia membantu dikarenakan adanya iming-iming balas jasa yang tidak murah, Raja Suteja Thani dengan sembrononya menggadaikan apa yang bisa digadaikan. Mungkin karena hal itu, sekutu Segara Pitu meremehkan keberadaan pasukan Segara Pitu sendiri.Berbeda dengan sekutu Segaralaya, mereka membantu dikarenakan keinginan sendiri bukan karena paksaan atau ajakan, semata-mata karena ingin membalas budi, sehingga tercipta kerjasama yang harmonis di setiap latihan perang yang diadakan.


Raja Suteja Thani harus bersabar menghadapi sekutu-sekutunya yang sangat bernafsu untuk memulai peperangan. Sekutunya yang menanti janji-janji gilanya.


🔸🔸🔸🔸🔸


Mata-mata dari kedua belah pihak berseliweran mencari dan membawa berita. Mereka menyelinap, mengendap-endap, mengintai, demi mendapatkan sebuah berita terbaru yang bisa disuguhkan kepada atasannya.


"Lapor Panglima Senopati Biru Loka pasukan lawan sudah melakukan persiapan matang untuk melakukan penyerangan. Mereka semua sudah berkumpul di alun-alun Kerajaan Segara Pitu, semua sudah siap dengan senjata terhunus. Menurut kabar yang kami terima saat matahari mulai turun maka pasukan Segara Pitu segera berangkat ke perbatasan Segaralaya."


"Terima kasih untuk laporannya. Lanjutkan tugasmu!" perintah Panglima Senopati Biru Loka.


"Siap laksanakan." Mata-mata itupun kembali membawa kudanya melawan angin.


Dengan cepat Panglima Senopati Biru Loka menyampaikan kabar terbaru kepada sang ratu. Di balai keprajuritan para petinggi pasukan berkumpul bersama sang ratu membahas rencana pertempuran yang sebentar lagi akan terjadi.


Pasukan Segaraya mulai mengatur barisan. Dengan sekali seruan seluruh pasukan berduyun-duyun menata barisan dengan rapi dan terarah, sesuai dengan yang dilakukan saat latihan. Semua senjata sudah keluar dari sarungnya, siap menembus tubuh lawan.

__ADS_1


Para Senopati dengan penuh kesiagaan memberikan arahan dan memantau setiap prajurit yang berada di dalam kesatuannya. Satupun tidak ada yang luput dari pengamatan mereka.


Ratu Samudera ditemani Lintang Samudera dan para panglima senopati mengamati kesiapan tempur pasukan Segaralaya. Jika pasukan Segara Pitu sore ini menuju perbatasan, maka pasukan Segaralaya harus menyambut kedatangan mereka. Setelah segala sesuatunya siap Ratu Samudera menghampiri pasukannya. Komando atas pasukan ular dan pasukan siluman dari gunung Pandan Wangi beralih menjadi satu komando di tangan Ratu Samudera.


Ratu Samudera berdiri dengan gagah di hadapan semua prajurit. Tanpa di aba-aba seluruh prajurit serentak berjongkok dengan lutut kiri menyentuh tanah, lutut kanan sejajar dengan pinggang, tangan kanan mengepal erat di depan dada.


"Hormat kami Panglima Perang Ratu Samudera!" Suara seluruh pasukan dari berbagai kesatuan bergemuruh membelah pagi hari yang cerah. Suaranya membahana bergelora mengalahkan suara petir dari langit. Bahkan ombak-ombak di lautan seketika berdebur keras saling menghantam dengan ombak yang lain dan kemudian berbaris membentuk barisan ombak, angin di lautan berputar menggulung air dari kedalaman lautan terus ke atas hingga mencapai permukaan laut dan terus ke atas dan akhirnya gulungan air yang besar itu pecah dengan suara membahana pecah di udara, alam ikut serta memberikan penghormatan kepada sang panglima perang wanita, pelindung samudera.


Pandang mata Ratu Samudera menatap tajam menyapu setiap tatap mata prajuritnya. Dengan langkah tegap berwibawa dilaluinya prajuritnya dari ujung ke ujung, memastikan kesiapsiagaan dari setiap kesatuan pasukan Segaralaya. Nafas prajurit Segaralaya berirama sejajar dengan semangat juang di dalam dada, bersatu padu menopang dan melindungi kebesaran Kerajaan Segaralaya.


Pasukan ular dan pasukan siluman gunung Pandan Wangi begitu terpukau dengan suguhan pemandangan yang ada di depan mata mereka. Baru sekali ini mereka melihat dengan mata kepala sendiri sang Panglima Perang Ratu Samudera. Perpaduan kecantikan, wibawa, kebijaksanaan, dan keperkasaan, saling berbaur mengisi satu sama lain, menciptakan sebuah kekaguman maha dahsyat yang menarik bagi siapapun yang melihatnya.


Raja muda ular maju ke hadapan Ratu Samudera. Dengan suara keras membahana dirinya menyerahkan komando pasukan ular kepada Ratu Samudera. Begitu pun dengan Raja Siluman Gunung Pandan Wangi.


"Tidak ada tinggi dan rendah, semua sama. Hormati seluruh lapisan yang ada di Segaralaya. Jangan memandang rendah sesuatu, pandanglah segala sesuatunya dengan kebersihan hati. Begitupun dengan lawan dari Segara Pitu, jangan meremehkan kekuatan mereka, karena saat kita meremehkan kekuatan lawan, maka sesungguhnya kita sudah dikalahkan saat itu juga."


Sorak-sorai suara prajurit memecah langit melampiaskan isi hati atas sesorah Ratu Samudera. Hati mereka, pikiran mereka, dicurahkan, di baktikan, untuk keluarganya, untuk rakyat, karena keluarga dan rakyat bersatu dan membentuk menjadi Segaralaya.


"Hidup Segaralaya!"

__ADS_1


"Hidup rakyat Segaralaya!"


"Hidup Ratu Samudera!"


Semangat gempur bala tentara Segaralaya memuncak bergelora di jiwa dan raga.


Isi hati pasukan ular dan pasukan siluman gunung Pandan Wangi ikut bergemuruh, mereka merasa benar-benar merupakan bagian dari bala tentara Segaralaya yang memiliki tugas dan kewajiban untuk ikut serta mempertahankan kedaulatan Segaralaya dan ikut melindungi rakyat Segaralaya.


"Hidup pasukan ular!"


"Hidup pasukan siluman gunung Pandan Wangi!"


Hingar bingar suara pasukan Segaralaya menyambut dukungan Ratu Samudera untuk pasukan sekutunya, yang dengan rela hati meninggalkan tempat tinggalnya, meninggalkan rumahnya, demi ikut serta membantu Segaralaya.


Rakyat berduyun-duyun melepas kepergian bala tentara Segaralaya. Dilepasnya dengan doa yang tiada henti.


Derap langkah pasukan berkuda diiringi derap langkah prajurit. Di depan mereka kuda-kuda yang gagah dengan pasti membawa langkah panglima perang Ratu Samudera disertai suaminya di samping kanan, raja muda ular dan raja siluman Pandan Wangi di samping kiri. Di belakang barisan Ratu Samudera dengan tidak kalah gagahnya berbaris pasukan berkuda para panglima senopati, dan para petinggi dari kesatuan-kesatuan prajurit Segaralaya lainnya.


Gudang makanan prajurit di buka lebar. Persediaan makanan prajurit dijaga khusus oleh pasukan yang kuat. Perang tanpa adanya makanan sama saja dengan bunuh diri, mencari mati.

__ADS_1


Sementara itu di perbatasan terjadi hiruk pikuk tersendiri. Pasokan anak panah diperbanyak, bahan-bahan makanan yang dikirim dari gudang kerajaan sudah mulai berdatangan. Tempat peristirahatan prajurit sudah disiapkan. Beberapa barak tambahan dibuat mendadak, tempat-tempat peristirahatan darurat sudah banyak yang berdiri. Prajurit perbatasan selangkah pun tidak berani meninggalkan tempat tugasnya kecuali saat pergantian prajurit. Seratus penjaga gerbang berbaris rapi siap dengan ilmu pusaran air yang tersimpan di dalam diri masing-masing. Gerbang Segaralaya yang tertutup hanya bisa dibuka dengan ilmu pusaran air yang dimiliki seratus prajurit yang memiliki tugas khusus membuka dan menutup pintu gerbang.


Mata-mata Segara Pitu tidak mampu menembus penjagaan perbatasan yang begitu rapat. Tapi mereka tidak perlu khawatir tidak akan mendapat berita. Ada beberapa mata-mata Segara Pitu yang sudah bermukim lama di Segaralaya, bahkan logat bahasa yang mereka gunakan sudah menyamai penduduk setempat. Dari mereka Segara Pitu mendapat berbagai kabar berita, bahkan sampai ke hal remeh temeh mereka kabarkan.


__ADS_2