CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PENYELAMATAN


__ADS_3

"Bagaimana cara untuk keluar dari tempat ini?" tanya Lintang Samudera.


"Aku belum menemukan cara untuk keluar dari tempat ini. Tapi tidak mungkin sama dengan cara masuknya," jawab Candani.


Candani sedari tadi mengelilingi tempat itu tapi tidak menemukan jalan keluar. "Mungkin sebaiknya kita masuk ke dalam gua. Aku yakin pintu keluarnya ada di dalam goa."


Candani Paramita dan Lintang Samudera memasuki goa pengantin secara perlahan. Kunang-kunang berbaris beriringan dengan rapi memberikan cahaya kepada dua orang yang saling mencintai itu. Akhirnya mereka tiba di tempat Nimas Ayu Palupi yang tengah duduk bersandar di dada suaminya.


"Nimas," sapa Candani dan Lintang Samudera bersamaan.


"Kang mbok Candani, Kakang Lintang Samudera. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu suamiku untuk menemukanku."


"Sudahlah. Sudah sepantasnya saling membantu," ucap Candani Paramita. "Nimas, apa kau tahu jalan keluar dari sini?"


"Jalan keluar. Bukannya langsung saja ke mulut goa."


"Sepertinya hal itu tidak bisa dilakukan. Goa ini sudah menutup jalan dan pintu masuknya. Jika kita keluar lewat pintu goa maka hasilnya akan sama, kembali ke goa ini lagi," jelas Lintang Samudera yang sudah berulang kali mencari jalan keluar, tapi hasilnya kembali lagi di pintu masuk goa.


Candani mengamati semua yang ada di dalam goa. Dilihatnya aliran air. Air mengalir dari atas, tapi asal muasal yang menjadi penyebab air mengalir tidak diketahui keberadaannya. "Apakah harus ke atas?"gumamnya dalam hati.


"Lihat di sini ada undak-undakan yang terbuat dari batu," kata salah seorang penjaga yang menjaga Nimas.

__ADS_1


Candani menaiki undak-undakan itu, dan benarlah ternyata mengarah keluar ke suatu tempat. Akhirnya semuanya secara perlahan menaiki undak-undakan dan keluar dari sebuah pintu yang ternyata ada di bagian atas. Tapi ternyata itu bukanlah pintu keluar goa melainkan pintu memasuki ruangan goa yang lain.


Nimas Ayu terlihat sangat payah. Raja muda ular dengan penuh kesabaran dan ketelatenan membantu istrinya.


Candani berjalan di depan memimpin semuanya. Bukan tanpa alasan, jika tiba-tiba dari arah depan muncul musuh yang tidak terduga maka Candani dengan sigap cepat langsung menghadapi bahaya yang ada.


Nimas Ayu memandang kunang-kunang yang terus mengikuti mereka. Diulurkan nya kedua tangannya dan dengan senang kunang-kunang itu mengerumuni kedua tangan Nimas Ayu.


"Kunang-kunang tunjukkan jalan untuk keluar dari goa!" perintah Nimas Ayu. Dan tanpa di aba-aba kunang-kunang itu memimpin jalan di depan.


Semuanya mengikuti arah tujuan kunang-kunang. Dan benarlah setelah cukup lama melangkah tampaklah sebuah pintu keluar.


"Kunang-kunang kembalilah ke dalam goa. Terima kasih sudah diantar," Nimas pun melepaskan kunang-kunang itu untuk kembali ke dalam goa.


🔸🔸🔸🔸🔸


Perjalanan keluar hutan ternyata tidak mudah. Mata-mata penasehat Osadha berkeliaran di mana-mana saling bekerjasama dengan anak buah iblis Pratangga.


Candani dan teman-temannya berjalan dengan bersembunyi dari satu pohon ke pohon yang lain.


"Jika terus-terusan seperti ini kita semua tidak akan selamat. Raja Muda lebih baik kau bawa Nimas Ayu dan kedua penjaganya untuk keluar dari hutan ini. Dan secepatnya kembali ke istana ular. Urusan di sini cukup aku dan suamiku Lintang Samudera yang menghadapi," Candani Paramita memberikan saran.

__ADS_1


"Tapi Ratu Samudera tidak mungkin aku sebagai penguasa wilayah ini membiarkan kalian menghadapi bahaya sebesar ini."


"Sudahlah Raja Muda tidak usah bersusah payah merasa malu. Bukankah itu tujuanmu memanggilku dan istriku kesini?"


Raja muda ular akhirnya menuruti permintaan Candani Paramita dan Lintang Samudera.


🔸🔸🔸🔸🔸


Candani dan Lintang Samudera mengambil arah di mana mata-mata penasehat Osadha berpencar. Mereka berdua sengaja tidak menyembunyikan diri.


"Siapa?" tanya salah seorang mata-mata.


Candani dan Lintang Samudera segera berlari dengan sangat cepat. Mereka berdua berusaha mengalihkan perhatian mereka yang sedang berusaha menemukan keberadaan Nimas Ayu Palupi. Saat di rasa sudah cukup jauh, Candani dan Lintang Samudera menghentikan langkahnya. Tapi ternyata mereka sekarang berada di tempat iblis Pratangga.


"Kau Ratu Samudera!" Tanpa di aba-aba iblis Pratangga mengeluarkan serangan dahsyatnya. Bulu-bulu tajam iblis Pratangga beterbangan mengeluarkan aroma busuk dari racun yang ada di dalamnya. Candani sangat membenci bau busuk ini.


"Dasar iblis sialan." Candani mengeluarkan selendang Baruna. Diputarkan nya selendang itu ke berbagai penjuru, angin ribut berebut membawa lari bau busuk yang dikeluarkan oleh bulu-bulu tajam iblis Pratangga. Tanpa jeda selendang Baruna terus menyerang, melilit dan menghempaskan apapun yang menghalangi. Iblis Pratangga tidak bisa dibiarkan mengeluarkan kekuatannya. Di sisi lain Lintang Samudera menghadapi begitu banyak lawan. Anak buah iblis Pratangga mengepungnya. Dengan kemahiran ilmu beladiri nya Lintang Samudera berhasil memusnahkan lawannya satu persatu. Bukan tanpa sebab Lintang Samudera mengamuk sedemikian mungkin. Dirinya melihat kesulitan yang dialami Candani Paramita. Jika iblis-iblis rendahan ini berhasil disingkirkan maka dirinya bisa secepatnya membantu istrinya bergumul dalam kancah pertempuran dengan iblis Pratangga.


Di sisi lain selendang Baruna terus mencari kesempatan untuk bisa melilit dan menyingkirkan iblis Pratangga. Tubuh iblis Pratangga yang mengeluarkan hawa panas menjadikan sekeliling arena pertempuran mulai dikuasai hawa panas itu. Dan Candani khawatir hutan belantara yang lebat itu akan terbakar habis oleh ulah iblis Pratangga.


Tanpa mereka sadari tempat pertempuran mereka bergeser ke sebuah lapangan rumput yang sangat lebar. Pergerakan Candani Paramita menjadi lebih bebas, begitupun dengan iblis Pratangga.

__ADS_1


Iblis Pratangga terus mendesak lawannya. Tidak ada tanda-tanda kemenangan dari pertempuran ini. Kegigihan iblis Pratangga demi mendapat mustika pelindung sejati membuatnya pantang menyerah. Candani Paramita melompat setinggi tingginya dikerahkannya kedahsyatan selendang Baruna. Sebuah cahaya putih bergerak berputar-putar sangat cepat menerjang tubuh iblis Pratangga. Sang iblis yang sedang larut dalam ketidaksabaran tanpa disadari terbawa pusaran cahaya putih yang diciptakan oleh selendang Baruna. Putaran cahaya putih itu membuatnya bergulung-gulung tanpa ampun mengikuti pusaran angin. Hawa panas yang keluar dari tubuh iblis Pratangga semakin bertambah panas, dikarenakan kemarahan yang memuncak dari si iblis. Hawa panas itu berubah jadi api yang ikut tergulung pusaran cahaya putih. Seberapapun menghindar cahaya putih itu tidak mau melepaskan lawannya. Bahkan pusaran yang tadinya kecil berubah menjadi sebuah pusaran yang cukup besar bahkan disertai dengan kabut tebal yang mampu mendinginkan api dan hawa panas dari tubuh iblis Pratangga. Kabut tebal itu awalnya hanya tipis-tipis saja, tapi lama-kelamaan menebal dan makin banyak. Menutupi pandangan dan menimbulkan hawa dingin bedinding yang membuat kulit kedinginan bahkan hingga menembus tulang.


Iblis Pratangga berusaha melepaskan diri dari pusaran cahaya putih, belum lepas dari pusaran itu, sekarang muncul lagi gumpalan-gumpalan kabur putih yang ikut terbawa pusaran cahaya.


__ADS_2