CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
SINGO BADI


__ADS_3

Keadaan bekas Adipati Singo Badi sungguh sangat mengenaskan. Wajahnya yang biasanya selalu beringasan berubah menjadi pucat pasi karena tidak pernah terkena cahaya. Kemewahan yang selalu menyertainya yang menjadi simbolnya sebagai seorang adipati hilang sudah. Yang ada sekarang hanya seorang tawanan bernama Singo Badi, lengkap dengan ketidakberdayaannya. Wajah tirus pucat, badannya yang berisi mulai kurus.


Singo Badi yang tampak kuyu itu membuang nafas berat.


"Bagaimana Singo Badi, sudah berubah pikiran? Atau kau menunggu hukuman mati?" tanya Lintang Samudera.


"Aku belum ingin mati. Hartaku terlalu sayang kalau ditinggal," jawab Singo Badi dengan seenaknya. Taringnya sudah hilang, untuk apa unjuk keberingasan lagi. Meskipun dirinya gila harta, selama ini dirinya selalu setia kepada pemerintahan yang dipimpin oleh Ratu Samudera Sanura. Hanya karena bujuk rayu jabatan, dan sogokan emas berlimpah membuat dirinya berpaling. Belum lagi suguhan para gadis-gadis muda yang disodorkan oleh raja kerajaan Segara Pitu Raja Suteja Thani, hal itu membuatnya berpaling. Menjual harga dirinya. "Suteja Thani sialan," umpatnya geram.


Lintang Samudera acuh dengan umpatan Singo Badi, dirinya tidak peduli, nasi sudah jadi bubur. Singo Badi menyesali pengkhianatan yang dilakukannya. Ayahnya selalu berpesan 'meskipun jadi orang brengsek, jangan pernah tinggalkan kesetiaan', dan sekarang dirinyalah orang brengsek yang tidak punya harga lagi. Sudah brengsek dibarengi dengan menjual kesetiaan.


"Aku akan bekerjasama, tapi aku mohon lepaskan anak dan istriku?" jawab Singo Badi.


"Anak dan istrimu meskipun di penjara tapi selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh Ratu Samudera. Kau tidak usah khawatir," pinta Lintang Samudera.


Singo Badi sedikit mencibirkan bibirnya. "Karena kebodohan ku anak dan istriku berada dalam bahaya."


Singo Badi akhirnya membuka semua kebusukannya dalam menjual hal-hal rahasia tentang istana Segaraya. Dari semua yang terdapat di dalam istana, prajurit, senjata. Meskipun tidak semua hal diketahuinya, tapi hal rahasia yang dijual Singo Badi sangat membahayakan keselamatan istana Segaralaya.


"Lalu siapa teman makar mu yang masih bercokol di wilayah kerajaan Segaralaya?" tanya Lintang Samudera menyelidik.


Wajah Singo Badi langsung menegang ketika Lintang Samudera menanyakan hal itu.


"Selain mereka yang tertangkap, siapa lagi yang namanya belum tercium oleh kami?" bentak Lintang Samudera. "Sudah jawab jangan bertele-tele?" bentaknya keras.


Singo Badi masih tetap menutup mulut. Wajahnya yang pucat pasi kian menegang.

__ADS_1


"Kalau kau masih sayang dengan anak istrimu maka cepatlah bicara. Aku mulai bosan dengan sikap bisu mu." Lintang Samudera mulai malas menunggu kebisuan Singo Badi. "Maaf karena sikapmu yang keras kepala ini, anak dan istrimu harus menerima akibatnya. Akan aku lepaskan anak dan istrimu, biar mereka ditangkap dan dibunuh oleh prajurit Segara Pitu," ancam Lintang Samudera sambil berlalu pergi.


Singo Badi menggeliat dari diamnya. Saat Lintang Samudera akan membuka pintu penjara, Singo Badi pun berlari dan memohon dengan duduk berlutut di lantai penjara. "Aku beritahukan rahasia ini, tapi aku mohon selamatkan anak dan istriku. Karena saat rahasia ini terbongkar, anak dan istriku bisa langsung dibunuh," Isak Singo Badi.


"Akan aku sampaikan kepada Ratu Samudera." Lintang Samudera akhirnya duduk kembali dan mendengarkan semua cerita Singo Badi. Setelah dirasa cukup Lintang Samudera segera pergi meninggalkan penjara yang ditempati Singo Badi. Sebelum meninggalkan Singo Badi, Lintang Samudera memenuhi permintaan Singo Badi untuk membuatnya babak belur, hal ini dilakukan demi keselamatan Singo Badi sendiri. Lintang Samudera pun memukul Singo Badi di semua bagian tubuhnya, hingga muncul lebam di hampir semua bagian tubuh Singo Badi.


"Prajurit jangan pernah terangi penjara Singo Badi sampai dia buka mulut!" perintah Lintang Samudera dengan suara keras sampai terdengar dari ujung ke ujung.


Prajurit jaga melihat Singo Badi tersungkur dalam keadaan lebam di tubuhnya. "Dasar pengkhianat!" umpat mereka dengan rasa jijik.


Lintang Samudera bergegas keluar dari penjara Singo Badi.


"Dimana Senopati Laut Muda?" tanya Lintang Samudera pada salah seorang prajurit jaga.


"Ada di penjara atas," jawab prajurit.


"Ada apa Kakang Lintang Samudera?"


"Senopati Laut Muda perketat penjagaan di penjara dasar laut. Tambahkan dua kali lipat. Perketat juga penjagaan di tempat penyimpanan mutiara laut," pinta Lintang Samudera dengan suara berbisik.


Senopati Laut Muda memahami perintah Lintang Samudera. Dirinya bergegas memanggil prajurit khususnya untuk berkumpul.


Di tempat lain, tepatnya di dasar laut, Saka dan teman-temannya mulai bergerak. Mereka mengarahkan langkah mereka ke tempat penyimpanan mutiara laut.


Saka meminta teman-temannya untuk tetap mendekati tempat penyimpanan mutiara laut. Sedangkan dirinya pergi menuju tempat para hewan-hewan raksasa dari dasar laut. Dicarinya hewan-hewan itu, setelah itu satu persatu hewan-hewan berukuran besar itu dilempar dengan batu-batu yang cukup besar, beberapa lainnya dipecut menggunakan beberapa tanaman sulur laut yang sudah dijalin menjadi satu.

__ADS_1


Hewan-hewan besar itu murka besar keberadaannya diganggu. Dengan cepat mereka mengejar Saka Sangkara. Hewan-hewan raksasa bawah laut itupun berlari murka. Disepaknya apapun yang ada di hadapan. Para prajurit dibuat kalang kabut. Para prajurit yang sudah mahir menjinakkan hewan-hewan itu segera mengambil ancang-ancang. Mereka segera mengambil tindakan cepat. Dikepalkannya tangan mereka lalu di arahkan ke bagian kepala hewan-hewan itu, dihantamnya ke kepala hewan-hewan itu. Hewan-hewan raksasa dasar laut itupun pingsan. Para prajurit segera mengikat hewan-hewan itu dan menariknya bersamaan ke sebuah lapangan luas, menunggu sampai mereka sadar. Keadaan dasar laut sedikit berantakan karena ulah hewan-hewan raksasa.


Sementara itu teman-teman Saka mulai beraksi. Tapi sayang prajurit penjaga mutiara laut tetap di tempat, satupun tidak ada yang pergi. Melihat kenyataan di depan mata, Saka mengacak-acak rambutnya. Sia-sia usahanya membuat keributan.


"Setan alas. Kurang ajar!" umpat Saka.


Di tengah-tengah keributan yang masih berlangsung, Saka dan teman-temannya mencoba menyelinap meninggalkan tempat penyimpanan mutiara laut.


Lintang Samudera memeriksa keributan yang terjadi. Anak buah Senopati Laut Muda bergerak tanggap. Para prajurit penjaga mutiara laut tetap diam di tempat, tidak terpancing keributan yang diciptakan. Sesuai perintah Senopati Laut Muda "apapun yang terjadi jangan tinggalkan penjagaan!".


Senopati Laut Muda mengangguk kepada Lintang Samudera. Setelah kekacauan berhasil diselesaikan, mereka berdua menuju markas prajurit pengawal istana.


Panglima Senopati Biru Loka dan Sawu Banyu menyambut kedatangan kedua tamunya setelah mendapat laporan dari prajurit suruhan Senopati Laut Muda. Lintang Samudera segera menjelaskan hal sebenarnya mengenai adanya Senopati dari barisan pengawal raja yang berkhianat.


"Kakang Lintang Samudera selesaikan masalah ini dengan senyap, jangan sampai tercium oleh pengkhianat lain yang masih bersembunyi di sini!" pinta Biru Loka.


"Baik Panglima Senopati Biru Loka," jawab Lintang Samudera. Setelah memberi hormat kepada kedua panglima Senopati, dirinya dan Senopati Laut Muda bergegas menuju tempat orang yang dituju.


"Ratu Samudera tidak salah memilih suami. Lintang Samudera tidak gila hormat dan pandai menempatkan diri," puji kedua panglima Senopati.


Senopati Nala Gupta duduk dengan tenang di kursi penjagaan. Saat terjadi keributan di dasar laut dirinya tersenyum penuh maksud. Tanpa disadarinya dari arah belakang ada seseorang yang berusaha memukul bagian lehernya dengan keras, Senopati Nala Gupta menyadari adanya serangan. Dengan cepat dirinya menanggapi serangan yang ada. Tapi karena dalam keadaan tidak siap, Senopati Nala Gupta berhasil dijatuhkan.


"Kakang Lintang Samudera apa maksud semua ini?" tanya Senopati Nala Gupta.


"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku ingin menghajar mu," jawab Lintang Samudera sekenanya.

__ADS_1


Senopati Nala Gupta berdiri berang. Tiba-tiba pukulan keras mengenai tepat di lehernya dan membuatnya pingsan seketika. Senopati Laut Muda dengan cepat membereskan keributan yang telah terjadi.


Senopati Nala Gupta bangun dalam keadaan terikat. Dirinya tidak memahami bagaimana caranya bisa berpindah tempat.


__ADS_2