CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PERSIAPAN PERANG


__ADS_3

Tidak bisa dibiarkan. Lintang Samudera mengikat Saka Sangkara, sebelumnya dikuncinya titik-titik yang menjadi pusat tenaga dalam pemimpin maling ini. Dirinya tidak mungkin meninggalkan Saka sendirian di lautan, kesalahan yang dilakukan maling satu ini sangat fatal. Akhirnya dibawanya Saka Sangkara serta.


Saka tersenyum samar. Dirinya memang sengaja menyerahkan diri. Sebenarnya hanya untuk kabur apa sulitnya, semua sudah direncanakan dengan matang olehnya. Demi berdekatan dengan kekasih idamannya, apa salahnya jika sedikit babak belur.


Lintang Samudera bergerak cepat menyusul Apsara dan Senopati Laut Muda. Saat dirinya sampai semuanya sudah terlambat.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


"Kau kira aku bodoh!" ucap Lintang Samudera dengan tatapan mengejek.


"Apa maksud perkataan mu?" Saka mencoba mencari arti tersirat dari ucapan Lintang Samudera.


"Tidak. Tidak ada," jawab Lintang Samudera.


Saka tidak menyangka Senopati yang dipanggil dengan nama Laut Muda menutup kedua matanya dengan selembar kain hitam yang terikat kencang di kepala. Pandangannya hanya berisi kegelapan.


"Hai apa yang kalian lakukan padaku, Lintang Samudera apa ini caramu memperlakukan tawanan?" tanya Saka panik. "Hai Lintang Samudera sialan, lepaskan aku."


Saka mencoba melakukan perlawanan, kedua tangannya yang terikat mencoba mencari sela untuk melepaskan ikatan. Tapi sayang ikatan mati di tangannya bukannya mengendor tapi malah tambah kuat. "Sialan!" umpat Saka.


"Lintang Samudera jangan berbuat gila!"


Saka tidak menyadari jika Lintang Samudera dan Senopati Laut Muda sudah lama pergi. Yang ada bersamanya sekarang hanyalah Apsara.


Apsara merasa ada niat tersembunyi yang disembunyikan pemuda yang bernama Saka ini. Wajah tampannya yang cukup menarik hati wanita, bentuk gagah tubuhnya mirip Lintang Samudera. "Ah mungkin hanya perasaanku," tawar Apsara.


Setelah jauh melampaui perbatasan, Saka pun dilepaskan begitu saja.

__ADS_1


"Aku hanya disuruh untuk melepaskan mu," teriak Apsara dengan melaju. "Cari perempuan lain. Jangan mengejar wanita yang bukan bagian mu!" Imbuh Apsara terus melaju


Saka menggeleng-gelengkan kepalanya dengan apa yang menimpanya. Dirinya tidak mau ambil pusing dengan segala yang terjadi. Tapi niatnya untuk menggoda Ratu Samudera pupus sudah.


Jika tidak dipertemukan dalam keadaan seperti sekarang ini, mungkin dirinya dan Lintang Samudera bisa bersahabat baik. Saka pun membawa kakinya melangkah ke tempat gurunya. Dirinya sekarang bebas, tidak terikat dengan siapapun. Dihirupnya udara dalam-dalam melalui hidungnya, lalu dikeluarkannya perlahan dari mulut.


"Aku bebas." Saka memandang lurus ke depan, ke arah Apsara pergi. "Lintang Samudera, semoga kita jumpa lagi dalam keadaan yang berbeda," batin Saka. Pemuda inipun melenggangkan langkahnya ke padepokan guru Wigata.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


"Malingnya berhasil kabur. Dan salah satu maling yang merupakan pemimpin para maling, aku lepaskan begitu saja." Ucap Lintang Samudera tidak berani menatap sorot mata sang ratu.


"Maksudnya?" Ratu Samudera meminta penjelasan, bukan sekedar jawaban yang sangat ringkas.


"Tidak tahulah. Saka nama pemimpin maling itu. Rupa wajahnya sangat disukai kaum wanita. Jadi aku tidak ingin wanitaku ikut-ikutan seperti itu." Lintang Samudera menyapu wajahnya dengan tangannya.


Lintang Samudera menarik istrinya dan meletakkan kepala istrinya di pangkuannya. Diletakkannya keningnya hingga berlekatan dengan kening sang istri.


"Mungkin aku cemburu, mungkin juga aku takut kehilangan. Melihat Saka rasanya seperti melihat diriku sendiri. Aku takut kau akan jatuh cinta untuk kedua kalinya, dan lelaki yang beruntung itu bukan aku." Lintang Samudera mencium kening istrinya. "Aku melepaskannya agar kau tidak berjumpa dengannya," imbuhnya.


"Kakang kalau aku mati apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ratu Samudera.


Lintang Samudera langsung melepas dekapan di tubuh istrinya. "Mati, siapa yang akan membunuhmu, apakah kau berencana meninggalkanku? Jika kau mati aku ikut mati. Jika kau terluka berat tapi kau mau berusaha untuk sembuh, aku pun akan berusaha untuk menyembuhkan mu, apapun bahaya yang ada aku selalu menjadi perisai mu."


Mati, tidak, tidak akan dibiarkan istrinya mati. Apapun caranya Ratu Samudera tidak diperbolehkan meninggalkannya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ

__ADS_1


Bala tentara Segaralaya mempersiapkan diri untuk peperangan. Keberhasilan pencurian mutiara laut dari tempatnya merupakan peringatan keras bahwa peperangan besar akan terjadi tidak lama lagi. Peringatan yang tidak bisa diabaikan.


Prajurit kesatuan gunung laut berlatih tempur di wilayah gunung dan pegunungan laut. Dengan gesit mereka menaklukkan sukarnya medan yang ada. Batu-batu licin menjadi salah satu penghalang, pendakian yang begitu berat tidak membuat prajurit dari kesatuan gunung laut patah semangat dan menciut nyalinya.


Prajurit dari kesatuan permukaan laut dengan senjata-senjata di tangan berlatih pertempuran dengan kawan sendiri. Senjata mereka saling beradu berdentang, di permukaan laut diutamakan mereka yang memiliki olah ilmu beladiri tinggi. Karena di permukaan ini peperangan yang besar akan terjadi, meskipun bisa saja peperangan terjadi di kedalaman lautan.


Ratu Samudera puas dengan latihan-latihan yang dilakukan bala tentaranya. Dirinya tidak menyalahkan siapapun atas keberhasilan pencurian mutiara laut. Sesuatu yang harus terjadi pastilah terjadi. Tapi dirinya yakin siapa yang memegang teguh kebenaran akan memperoleh keberhasilan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan baik itu pasukan iblis, pasukan siluman, pasukan daratan, atau apapun asal pasukannya. Menang kalah sudah biasa. Tapi memenangkan kebenaran dari kejahatan dan niat busuk musuh merupakan hal berbeda yang luar biasa.


Senjata-senjata diasah. Di tempat pembuatan senjata selalu terdengar suara dentangan siang maupun malam. Para pembuat senjata tidak kenal lelah untuk membuat senjata yang tajam dan mumpuni. Dentang palu dengan bijih besi yang terus-menerus berbunyi menjadi salah satu pertanda bahwa peperangan kali ini merupakan peperangan hidup dan mati.


Di gerbang istana Segaralaya terjadi sebuah keributan. Saka memaksa masuk dan ingin jadi prajurit Segaralaya. Kali ini dirinya datang dengan terang-terangan tidak dengan cara menyusup atau cara busuk lainnya. Rasa rindunya pada Ratu Samudera membuatnya mengambil keputusan senekad ini.


"Dasar bocah nekad." Apsara memandang kejadian itu dengan bersedekap tangan di dada.


"Hei pemimpin maling, apa yang kau lakukan di gerbang istana Segaralaya?" tanya Senopati Laut Muda.


"Aku hanya ingin jadi prajurit itu saja. Kenapa dipersulit? Lihat pemuda-pemuda jelek dan bodoh itu, dengan mudah bisa menjadi prajurit Segaralaya, kenapa aku tidak boleh?" Tanya Saka berapi & api.


"Karena kau pemimpin para maling!" Suara Lintang Samudera memasuki pendengaran semua orang, masuk tanpa permisi. "Apa perlu mu kesini maling?"


"Hai kawanku Lintang Samudera, apa kabar? Jangan galak-galak, aku cuma menyapa kawan lama." Saka menyeringai. Tidak ada lagi permusuhan atau dendam kepada Lintang Samudera, yang ada hanyalah persaingan. Pun Ratu Samudera tetap setia kepada Lintang Samudera, Saka pun tidak peduli, yang utama dirinya sudah berusaha memperjuangkan cinta butanya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Peperangan besar hampir terjadi ya readers. Tapi tidak mungkin author menyuruh prajurit langsung gebug-gebugan sendiri, nanti tidak seru. Jadi para readers ikut mempersiapkan diri juga yaaaa. Siapkan senjata perangnya. Jangan lupa!!!!!!


Love you all

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2