CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
SEPASANG MATA TERSEMBUNYI


__ADS_3

Candani dan Lintang Samudera mengikuti arah sampai kemana sungai ini mengalir. Apakah berujung ataukah tidak ada ujungnya. Jika berujung dimanakah ujungnya, jika tidak berujung di mana asal muasalnya.


"Apakah kita akan menemukan ruang bawah tanah lagi?" tanya Lintang Samudera.


"Mungkin saja," jawab Candani singkat. "Kakang, dimana raja muda ular dan Nimas Ayu? Aku belum melihat mereka dari pagi."


"Mereka sedang sibuk," jawab Lintang Samudera asal.


"Sibuk? Maksudnya?" heran Candani. Sibuk tapi tidak muncul sama sekali. Kesibukan seperti apa itu.


Lintang Samudera tertawa melihat kepolosan Candani Paramita. "Mereka sedang sibuk dengan urusan suami istri."


Candani mengernyitkan keningnya.


"Mereka mungkin sedang sibuk"bercinta". Lintang Samudera tersenyum nakal.


"Ah urusan itu." Candani pun tersipu malu.


Suasana hening kembali.


"Candani," panggil Lintang Samudera.


Candani Paramita hanya berdiri diam menatap sebuah pohon besar yang ada di depannya.


"Candani," Lintang Samudera menyentuh pundak istrinya.


"Iya, Kakang. Ada apa?"


"Ada apa dengan pohon ini? Sampai-sampai aku panggil beberapa kali tapi kau tidak mendengar," rajuk Lintang Samudera.


"Suami tampanku merajuk. Maaf." Candani menyusutkan badannya di pelukan suaminya, lelaki belahan jiwanya.


Lintang Samudera tidak melewatkan kesempatan yang ada. Ditundukkannya wajahnya dan diciumnya bibir istrinya dalam. Mereka pun hanyut dalam rasa itu. Semakin dalam dan dalam.


🔸🔸🔸🔸🔸


"Sebenarnya ada apa dengan pohon tadi?"

__ADS_1


"Ada yang aneh dengan pohon tadi. Sepertinya ada sebuah keris peninggalan orang sakti yang tertanam di pohon itu," jawab Candani.


Lintang Samudera mendesah. Ketinggian ilmu istrinya menjadikan dirinya sedikit rendah diri. Meskipun sebenarnya Candani tidak pernah tidak menghormatinya. Hanya saja rasa rendah diri itu sering muncul dengan sendirinya.


"Kakang kenapa diam?"


"Tidak apa-apa. Bisa ajari aku jurus seperti yang kau lakukan di bawah kaki gunung Anaga?"


"Bisa saja. Itu mudah," jawab Candani. "Dari semua yang ada di alam semesta ini, apa yang mau Kakang Lintang panggil dan kendalikan?"


Lintang Samudera terdiam. Mencoba berpikir.


Gerimis pertama setelah musim kemarau yang panjang mulai turun ke bumi. Membasahi dedaunan dan tanah-tanah yang gersang.


"Bagaimana kalau air hujan yang sedang turun?"


"Bisa. Ayo dicoba!" perintah Candani.


"Caranya?" jawab Lintang Samudera kebingungan.


"Karena Kakang baru tahap belajar sepertinya dengan posisi duduk sila lebih baik. Suatu saat kalau ilmu Kakang sudah mencukupi dengan posisi apapun bisa dilakukan."


"Bentuk apa yang ingin Kakang bentuk. Bentuk air hujan menjadi apapun yang Kakang inginkan. Bentuk menggunakan kekuatan yang berasal dari alam bawah sadar."


Lintang Samudera memusatkan pikiran menyatukan raga dan jiwa, memasuki batas-batas alam yang tidak tampak. Di dalam alam bawah sadarnya air hujan yang sedang berjatuhan dari langit dikumpulkan satu persatu. Air hujan yang turun secara merata saling ribut berebut mengikuti perintah dia yang dengan kekuatan batinnya memanggil keberadaan mereka untuk menyatu.


Air hujan seolah-olah ditampung dalam satu wadah. Karena merasa berat saat memusatkan beban air dalam sebuah wadah besar, Lintang Samudera menjadikan air itu membentuk memanjang, meliuk-liuk berjalan mengikuti arahannya.


Air hujan yang turun deras di depan halaman pondok itu seakan-akan berhenti turun ke bumi. Mereka berada dalam penguasaan kekuatan batin Lintang Samudera. Memanjang dan memanjang. Lintang Samudera merasa kewalahan mengendalikan air hujan yang terus-menerus bertambah. Dalam alam bawah sadarnya Lintang Samudera sudah tidak sanggup lagi menahan beban air yang ada.


"Lepas penguasaan atas air hujan yang sedang turun, pusatkan pada air yang sudah terbentuk."


Sebuah perintah yang berasal dari alam bawah sadar membimbing Lintang Samudera untuk mengendalikan kumpulan air hujan yang terbentuk.


Ruh Lintang Samudera berdiri di dekat gumpalan air yang telah diciptakannya. Merasa heran dan takjub atas apa yang sudah diciptakannya.


"Buka mata. Dan tetap kendalikan air yang sedang meliuk-liuk itu."

__ADS_1


Lintang Samudera membuka kedua matanya. Dalam keadaan sadar terus dikendalikannya penguasaan atas air hujan yang sedang meliuk-liuk seperti ular panjang yang sedang terbang menarikan tarian hujan.


Raja muda ular yang melihat hal itu langsung berlari mendekat. Begitu terpesona dengan tarian yang sedang dimainkan oleh sekumpulan air hujan. Matanya mengerjap tidak percaya. Gerakan air itu begitu lentur, menari-nari di depan pondok. Dan seketika byuuuurrrrr..... Air pun turun menimpa tubuh raja muda ular. Rasa terkesima raja muda ular ambyar dengan sebuah guyuran air.


"Hei apa-apaan ini?" Raja muda ular tidak terima dirinya basah kuyup karena hasil keisengan Lintang Samudera. Dengan susah payah berlindung dari hujan dengan menggunakan dau pisang, dan dengan isengnya Lintang Samudera membasahi sekujur tubuhnya.


Ditariknya tubuh Lintang Samudera. Dan akhirnya mereka berdua bermain hujan-hujanan. Tanpa dikomando dua sahabat yang baru saja menjadi sahabat itu, berkelahi di bawah air hujan. Mengeluarkan kemampuan yang mereka miliki. Tangan beradu dengan tangan dan kaki beradu dengan kaki. Saling menendang, menghempas, dan menghindar.


Di balik rerimbunan pepohonan di samping pondok, tampak sepasang mata menatap tajam. Saat mata itu bertemu pandang dengan tatapan mata Candani Paramita, pemilik mata itupun lari.


"Siapa itu?" teriak Candani Paramita.


Lintang Samudera dan raja muda ular berlomba-lomba mengejar pemilik mata yang sedang mengawasi keberadaan mereka.


Setelah lama mencari akhirnya mereka berdua kembali dengan kondisi basah kuyup, dan kaki yang kotor oleh lumpur.


"Ratu Samudera, siapa yang sedang mengawasi kita?" tanya raja muda ular.


"Aku tidak tahu," jawab Candani Paramita.


Candani mendekati suaminya dan membersihkan tubuh suaminya dengan kain kering. Mendapat perhatian manis dari isterinya, Lintang pun tersenyum.


"Kira-kira siapa?" Lintang Samudera mengulang pertanyaan raja muda ular. Sebenarnya terasa aneh bagi Lintang Samudera saat dirinya harus menanyakan ini itu kepada istrinya. Dimana-mana seorang istri bergantung pada suaminya. Tapi keadaan dirinya terbalik, seolah-olah terus-menerus berada dalam perlindungan istrinya. Lintang Samudera pun menunduk malu dan merasa rendah diri.


"Dimana-mana laki-laki yang memimpin, tapi aku setiap saat selalu bergantung pada seorang istri." Lintang Samudera berkata pelan.


Candani menggenggam tangan suaminya.


"Sekarang belum saatnya. Tapi jika waktunya sudah tepat, aku yang akan banyak bergantung pada diri Kakang."


"Maksudmu? Adakah sesuatu yang kau rahasiakan?" tanya Lintang Samudera.


"Tentu saja ada. Tentang jati diri Kakang. Suatu saat Kakang sendiri yang akan menemukan jati diri Kakang yang sebenarnya."


"Dan apakah itu?" Lintang Samudera merasa penasaran dengan jati diri yang disampaikan istrinya. Bukankah dirinya putra dari Bapa guru Yasa Rasendriya.


"Sudahlah jangan dipikir. Semuanya akan terbuka pada waktunya."

__ADS_1


Raja muda ular tertawa geli melihat Lintang Samudera yang merasa rendah diri karena terus-menerus bergantung pada Candani Paramita. Berbeda dengan Nimas Ayu Palupi yang memasrahkan hidup dan matinya di pundaknya. Jika dirinya berada di posisi Lintang Samudera mungkin keadaannya akan sama, malu dan rendah diri.


"Wanita makhluk ciptaan Sang Pencipta yang luar biasa istimewa."


__ADS_2